Cerpen : Kabar Kematian
Teruntuk Istri lamaku, aku sudah terlalu pudar untuk mengingat masa lalu. Tentang kita yang pernah bersatu sampai kenyataan membentengi antara kau dan aku. Aku sudah terlalu renta dan kenangan kita sudah bau tanah, mungkin dalam benakmu sudah terkubur dan tak lagi ingin kau ziarahi. Lucu mengingat kau pernah jatuh kurengkuh tanpa karena, kau pernah merasa teramat bahagia dengan sederhana. Hidup memang begitu keras dan tuhan begitu kasar pada takdirnya.
Terakhir kali kulihat kau di televisi, tak beranjak tua bahkan ketika kusadar kulitku telah mengeriput dan wajahku semakin kusut. Kau tersenyum di depan kamera, gigi mu berjajar begitu rapih, kuingat dulu gingsulmu ketika tersenyum tak henti membuatku hanyut dalam tatapmu.
Nampaknya kau beruntung setelah aku meninggalkanmu dan hidup dipenjara. Meski lulusan SMA, setidaknya kau betulan jadi orang kaya, melawan stigma bahwa pendidikan tinggi ialah pijakan menuju kehidupan berada. Padahal kau cukup modal wajah menggoda, hingga hamil anak majikan yang statusnya berkeluarga.
Pernah terbayang dalam benakku, bisa jadi sebuah harapan atau mungkin saja kemustahilan. Kau memikirkan kabarku, diam-diam mencaritahu hidupku atau berpikir aku telah mati di jalanan sebagai seorang gelandangan. Meskipun jauh sebelumnya dan setelah kepergianmu, aku berpikir untuk mati dijalan sebagai gelandangan dan dikubur sembarangan. Setidaknya dengan begitu, akan terlepas dosamu karena mengkhianati janji tunggumu kala itu. Tapi tuhan nyatanya memang lucu, hidup memang seabstrak itu, bodohnya lagi sampai saat ini aku masih mengharapkanmu. Terikat kenangan dan rindu.
Bisa saja aku datang padamu dengan seikat uang dan membawamu lari dari suamimu, namun hidupku tak sepicik itu sekalipun dunia telah terbalik dan akupun sudah terlalu tua untuk kembali picik. Mungkin senyum palsumu dihadapan pewarta menceritakan segala sedihmu menanti putusan pengadilan atas permainan parlemen yang menggantungkan leher suamimu. Politik begitu belantara, syukur hidupku tak pernah terjun kedalamnya. Hanya jadi penyaksi dibalik berita-berita yang menjadi ombak dengan kapitalis koran sebagai tuhannya.
Setelah keluar dari penjara, aku mencari kabarmu kemana-mana, sayang. Aku mengikuti kabarmu dan keluargamu sejak mampu membiaya hidupku, membeli sebuah rumah dan pensiun jadi gelandangan. Membayar seseorang di dalam rumahmu hanya untuk menjadi surat kabarku setiap harinya, memang agak mahal namun tak akan menghabiskan hartaku hanya untuk itu. Haruskah aku menjadi pahlawanmu? Datang dan memberi sejumlah uang? Atau membayar seorang pengacara bahkan hakim sekalipun?
“Permisi pak, ada seorang wanita mencari bapak.”
Suara izin dan ketuk pintu memecah lamunanku.
Tak biasanya seorang datang tanpa janji, aku tak pernah merasa terganggu sebenarnya. Hanya saja kekhawatiran orang lain terkadang begitu berlebihan. Aku membuka pintu begitu sampai. Seorang wanita menangis ketika aku membuka pintu, derai air mata yang kurindukan. Entah sudah berapa lama tak kutatap wajah itu sedekat ini.
.
“Hidup sebagai istri kedua secara sah tak begitu membahagiakan, uang bukan segalanya. Aku bersyukur setidaknya anakku mampu menyelesaikan sekolahnya hingga akhir. Sempat aku hampir dicerai karena keluarga istri pertamanya, namun anakku menyelesaikan masalahnya.” Ia meneguk tehnya.
“Aku ingin menemuimu sejak lama, aku mencarimu sejak kau keluar dari penjara, begitu sulitnya sampai kuketahui kau berhasil menjadi seorang pengusaha. Aku tak berani menemuimu setelahnya, aku terlalu takut pada asumsimu jika aku datang.”
Aku tak banyak bicara, ia tak pernah menggoda. Begitu ceritanya, lelaki memang bajingan aku pun mengakui hakikatku sebagai lelaki. Tapi baiknya, aku tak pernah memperkosa. Memang kabar burung sejahat itu mengubah citranya seolah sebagai wanita penggoda.
“Aku akan dicerai, setelah kasus itu semakin membesar, keluarga istri pertama suamiku berniat akan membantu menyelesaikan semuanya dengan kekayaannya. Hanya saja aku harus dicerai, anakku tak dapat membantu lagi. Aku akan diusir, beruntungnya sudah kupisah hartaku ketika ia memberiku modal untuk membuka usaha dua tahun yang lalu.”
Ia menyelesaikan ceritanya, juga tangisannya. Aku memeluknya, sudah begitu lama aku merindukannya.
“Pulanglah jika sudah merasa tenang, datang pada suamimu dan peluk ia, temani ia semampumu. Tuhan selalu punya jalan yang lucu, percayalah.”
***
Sudah dua minggu sejak kau datang sore itu, kulihat kau bahagia dengan hadiahku. Kau datang dan menceritakan bantuan dari seorang pengacara, bahagiamu lepas terucap dihadapanku, senyum tulus itu mengembang. Tampak jelas bertahun-tahun pernikahan atas paksaan telah berubah menjadi ketulusan.
Mungkin setelahnya kuharap kau tak menemuiku lagi, kecuali dalam keadaan terluka. Akan kusiapkan bahuku sekuat mungkin meski sadar pohon yang kaku dan kokoh di masa lalu sudah semakin tua dan bisa saja tumbang hanya karena hujan dan angin yang tak begitu kencang.
***
Waktu sudah berlalu sekian hari, dan kau tak mengunjungiku lagi. Pintaku kala itu, memaksamu untuk tak kembali. Aku memandang foto mu lagi pagi ini, masih dengan rindu yang sama. Aku duduk di sofa, dihadapan televisi yang hiruk pikuk bercerita. Kabar berita memang selalu menarik bagi orangtua yang mulai menutup pintu dari dunia.
Masih sembari kuusap fotomu dengan jemari, pemandanganmu nampak ke layar kaca. Hampir kupikir aku tengah berhalusinasi karena terlalu banyak merindu. Namun nyatanya, yang kulihat bersedih dengan pakaian serba hitam dan selendang menggantung mengerudungi kepala itu betulan dirimu, sayangku. Matamu membengkak, wajahmu tampak lusuh dan sembab. Luka apalagi yang terjadi pada cintaku? Sesak melihat kesedihan baru diwajahmu sekalipun hanya kutatap lewar layar kaca. Aku memaku mataku pada televisi, hingga kamera terus bergeser dan menampakkan suasana pemakaman. Wanita pembicara di televisi menyampaikan berita kematian seorang anggota parlemen akibat bunuh diri overdosis anti depresan. Jantungku berdetak, entah rasa apa. Agak tawar dicampur sendu dan sesuatu yang tak dapat didefinisikan.
Aku menatap fotomu lekat-lekat. Lekuk bibirmu hingga payudaramu yang gempal. Aku tersenyum.
