Menyoal Ketepatan Edukasi Kesetaraan

Mei Arism
Mei Arism
Sep 4, 2018 · 2 min read

Akhir-akhir ini media sosial dan informasi digital sedang ramai-ramainya menyoroti perjuangan atas hak kesetaraan gender sebagai bentuk pencerdasan dan peningkatan nilai toleransi dalam masyarakat. Atau lebih jelasnya feminisme era media sosial dalam kondisi yang berapi-api dalam menyebarluaskan pahamnya untuk dapat diterima dan berkembang di masyarakat.

Sebagian orang memanfaatkan momentum tersebut dalam rangka mencapai aktualisasi diri dan perbaikan lebel media sosial yang dimilikinya. Tetap dalam wilayah yang sama, yaitu apresiasi atas ungkapan pikiran yang menjunjung tinggi toleransi atau sekedar memuaskan hasrat dan emosi terhadap ketidakadilan yang terjadi.

Namun dalam realitanya, hal tersebut didominasi oleh kesalahan penempatan sehingga cenderung melepaskan diri dari budaya dan norma yang melekat pada masyarakat.

“Untuk mencapai revolusi terhadap peningkatan toleransi masyarakat harus dipaksa untuk menerima modernisasi ilmu pengetahuan yang ada.”

Bagi saya penerimaan atas ilmu pengetahuan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat tak dapat dilakukan dengan cara-cara yang ekstrem. Kita perlu memahami karakter suatu wilayah, bangsa, dan manusia yang ada untuk mencapai keadaan yang stabil.

Untuk menyusun sebuah rangkaian puzzle, setiap keping harus diletakan ditempat yang tepat untuk mendapatkan jawaban yang sempurna. Akan terjadi kekacauan dan ketidaksempurnaan hasil bila kepingan puzzle tersebut dipaksakan masuk dengan mengubah potongannya. Hal tersebut hanya dapat menghasilkan gambar yang cacat.

Saya memahami kesetaraan hak antara lelaki dan perempuan bukan sebagai sesuatu yang secara keseluruhan harus disamaratakan. Sebab tak ada pengertian keadilan yang sama dengan rata. Lelaki memiliki tempatnya sendiri, begitupun perempuan memiliki tempatnya sendiri. Sebagaimana harimau tak bisa mendapatkan belang yang dimiliki zebra atau sebaliknya.

Kita telah mendapatkan hak moral dalam berkomunikasi, berdialektika, dan membuat kesepakatan. Mengapa tak digunakan dengan sebaikmungkin dalam sebuah relasi antarmanusia? Mengapa harus berteriak dan memaksakan sesuatu yang nilainya subjektif dan kabur?

Dalam kehidupan masyarakat majemuk, ketimpangan hak antargender menjadi permasalahan yang masif. Namun fokus penyelesaian yang tak terarah dengan edukasi para penggerak yang minim menimbulkan kondisi sosial yang chaos. Ada begitu banyak isu ketimpangan gender yang menjadi permasalahan yang jelas mempengaruhi kekacauan secara moral dan materi, namun lingkaran perdebatan dan diskusi masih seputar pembelaan hal-hal yang buram. Berdialektika dan bergerak menuju perubahan yang semestinya dan berdampak pada materi secara makro akan lebih baik dibanding berkutat pada hal-hal yang dapat diselesaikan secara pribadi hanya dengan mawas diri.

Mei Arism

Written by

Mei Arism

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade