Menanggapi Hiburan dalam Kampanye Politik

Sepertinya masyarakat harus mulai berhenti menyoroti hal-hal remeh dalam menyikapi kampanye politik belakangan ini. Berbagai permasalahan yang seharusnya bukan menjadi ranah perdebatan politik menyebabkan riuhnya media dan mempertontonkan betapa miskinnya pola pikir publik dewasa ini.

Politik mungkin saja tak melulu serius, tapi perkara yang diperdebatkan seharusnya bukan lagi masalah properti atau tutur kata dengan interpretasi salah kaprah dan jauh dari substansi yang sebenarnya.

Ini bukan lagi membuat politik menjadi bahan bercandaan, tapi mempolitikkan bercandaan. Hal-hal yang semestinya tidak menjadi perhatian, malah dibicarakan dengan serius. Animo masyarakat terhadap dialektika rendahan masih terlalu tinggi, akibatnya sebagian golongan menjadi lebih sensitif dan membesarkan hal tersebut menjadi masalah yang lebih besar.

Kita sepenuhnya sadar terhadap keributan permasalahan substansial yang terjadi belakangan ini, mengenai kasus “prabowo” dan “boyolali” misalnya. Sebagian kelompok menyinggung hal tersebut sebagai sebuah penghinaan besar tanpa memahami substansi politisi tersebut.

Begitupun tentang Jokowi dan motor nya tanpa sen yang menyala masih sibuk dikomentari dengan buruk. Hal ini bukan hanya terjadi sekali duakali tapi dalam periode yang panjang, permasalahan yang dimunculkan tak jauh dari konteks yang sama.

Properti politik hanyalah alat pengalih atensi publik yang dipakai politisi, dalam politik dan kampanye kita semestinya menyoroti hal-hal yang lebih penting. Tentang harapan, janji, orientasi masa depan, perekonomian dan kondisi negara yang cocok dengan menyesuaikan pilihan politisi yang ada di depan mata. Bukan tentang alat, barang, ataupun lelucon.

Yang menggambarkan pribadi seseorang adalah pola pikirnya bukan alat yang digunakannya untuk bekerja.

Karena publik memiliki otoritas pikiran dan dirinya sendiri, dengan atau tanpa manipulasi media.