The God Delusion: Khayalan Tentang Tuhan

“For me, it is far better to grasp the Universe as it really is than to persist in delusion, however satisfying and reassuring” — Carl Sagan
Sebuah khayalan tentang Tuhan, begitulah kira-kira apabila judul buku tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ya, buku ini merupakan buku yang cukup kontroversial karena membahas teori ketuhanan dari kacamata seorang ahli biologi. Namun, bagi sebagian orang, hal tersebut juga yang kemudian membuat buku ini menarik untuk dibaca.
Richard Dawkins merupakan seorang biolog yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang ateis. Dalam buku ini, Dawkins berpendapat bahwa kepercayaan seseorang pada suatu Tuhan personal hanyalah suatu khayalan belaka. Kepercayaan tersebut diwariskan turun-temurun dan bertahan terus-menerus dalam kehidupan manusia selama ini. Oleh karena itu, Dawkins mencoba membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Bukti-bukti yang menentang keberadaan Tuhan tersebut yang kemudian menjadi poin penting sekaligus kontroversial dalam The God Delusion.
Pada bagian awal buku tersebut, Dawkins banyak menjelaskan hipotesa tentang Tuhan dan argumen-argumen yang selama ini banyak digunakan untuk mendukung eksistensi Tuhan. Argumen-argumen tersebut tentunya sangat beragam, mulai dari pengalaman pribadi yang bersifat spiritual, keyakinan pada kitab suci, hingga pandangan-pandangan para ilmuwan yang dianggap religius. Keseluruhan argumen tersebut coba ditentang Dawkins dalam salah satu bagian buku. Bagian tersebut berisikan pendapat Dawkins mengenai mengapa hampir pasti Tuhan itu tidak ada.
Asal usul agama serta moralitas pun tak luput dari kritik Dawkins. Dalam bagian pertengahan buku, Dawkins banyak berbicara mengenai asal usul agama — bagaimana agama muncul, apakah agama hanya produk sampingan dari sesuatu yang lain, dsb — hingga hubungan dan pertentangannya dengan moralitas. Sementara dalam beberapa bagian terakhir, Dawkins banyak melemparkan kritik mengenai pendidikan agama. Hal ini berkaitan dengan keimanan dan keyakinan yang ditanamkan para orang tua terhadap anak-anaknya. Ia mempertanyakan mengapa tidak membiarkan anak-anak tersebut memilih apa yang diyakininya sendiri. Selain itu, Dawkins juga mempertanyakan apakah agama benar-benar mengisi celah-celah yang selama ini kita butuhkan.
Pada kenyataannya, membaca The God Delusion tidak serta merta membuat pembacanya menjadi ateis ataupun pro-ateis. Walaupun ditulis dari sudut pandang seorang ateis, banyak hal yang dapat dipelajari dari dalamnya. Dengan mempelajari pemikiran Dawkins, bukan tidak mungkin pembaca dapat lebih memahami makna Tuhan dan agama dalam kehidupan saat ini. Dengan membaca The God Delusion pula, mungkin saja keraguan seseorang terhadap eksistensi Tuhan dapat terjawab;
Apakah Tuhan itu benar ada?
Ataukah hanya khayalan belaka?
