Ketika Mas Gagah Pergi

KMGP yang merupakan akronim dari Ketika Mas Gagah Pergi adalah sebuah judul cerpen yang ditulis oleh Bunda Helvy Tiana Rosa -kakak kandung penulis Asma Nadia-, dalam sebuah buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama yakni Ketika Mas Gagah Pergi. Pertama terbit tahun 1997, namun terus dicetak ulang hingga mencapai 39x (menurut Wikipedia) dan dibaca jutaan orang hingga saat ini.

Saat ini, cerita KMGP ini berhasil diangkat ke layar bioskop dengan independensi yang tinggi. Karena dana, casting, dan segalanya dikelola sendiri oleh Bunda Helvy dan tim, serta oleh para fans dan donatur dari pecinta karya Mbak Helvy ini. Today, you can watch it in the nearest cinemas in Indonesia 😊

KMGP mengisahkan tentang sebuah keluarga, dengan seorang Ibu, Ayah, serta kakak beradik bernama Gagah dan Gita. Gagah ini diceritakan sebagai tipikal pria idaman wanita hehe dia cerdas, ganteng, seorang model, baik, dan family-man, saangat sayang pada adiknya. Gita sendiri dicerminkan dengan pribadi yang tomboy, manja, ceplas-ceplos, tapi lucu dan sangat disayang oleh keluarganya terutama Gagah, kakaknya.

Gagah dan Gita kakak adik yang kompak. Sering sekali hang out bareng, main, liburan, dan quality time dengan selalu mengantar jemput Gita setiap berangkat dan pulang sekolah, apalagi sejak Ayah mereka meninggal.

Suatu hari, atas dasar keperluan penelitian, Gagah harus pergi ke Ternate. Dengan berat hati, Gita -yang enggan melepas Gagah pergi-, harus merelakan diri untuk ditinggal Gagah dalam waktu beberapa bulan.

Gagah sempat suulit sekali dihubungi. Bahkan Gagah sempat mengalami kecelakaan hingga akhirnya dirawat oleh seseorang bernama Kyai Ghufron. Namun alhamdulillah pulih dan bisa kembali ke Jakarta. Momen yang sangat ditunggu Gita.

Keanehan terjadi saat Gagah kembali dari Ternate. Gagah menjadi sosok yang tak lagi asyik. Dia saaangat membosankan, apalagi bagi Gita. Penampilan fisiknya berubah, ia berhenti jadi model, dan malah menumbuhkan janggut lebat di dagunya. Pakaiannya tertutup, di kamarnya tertempel tulisan arab yang menganjurkan siapapun yang ingin masuk ke kamarnya harus mengucapkan salam. Buku yang ia baca, dan lagu yang ia putar pun berubah, tak lagi satu selera dengan Gita. Nasyid, murottal, selalu diperdengarkan Gagah di kamarnya.

Gita tidak bisa menerima perubahan Gagah ini. Gita seperti kehilangan sosok Gagah yang selama ini sangat menyayanginya dan selalu menuruti keinginannya. Gagah mengaku, ia bertemu seorang Kiyai di Ternate yang bernama Kiyai Ghufron, yang mengajarkannya tentang keindahan Islam dan hakikat hidup manusia sesungguhnya. Sayang, penjelasan Gagah soal ini masih belum bisa Gita terima.

Di tengah ‘perang dingin’ antara Gita dan Gagah, keduanya menjalani hidup masing-masing. Gita lebih sering sendiri. Puasa bicara pada Gagah. Namun Gagah selalu berupaya untuk membujuk Gita kembali, sambil beraktivitas mendirikan sebuah rumah singgah untuk anak-anak kecil dan pensiunan preman di wilayah pinggiran Jakarta yang diberi nama ‘Rumah Cinta’.

Maksud hati ingin menghindar dari kata-kata Gagah yang dinilai Gita kurang masuk akal, ‘sok suci’, dan tidak sesuai dengannya -sampai menganggap Gagah terlibat aliran sesat-, Gita justru dihadapkan dengan orang-orang yang serupa dengan Gagah. Gita bertemu seorang pemuda yang berkhutbah dari bis ke bis, metromini ke metromini, dan busway ke busway. Semakin Gita menghindar, semakin hari Gita menaiki kendaraan yang juga pemuda itu naiki. Hal serupa terjadi pada teman dekat Gita di sekolah, yang mendadak berjilbab, begitu pula Ibu Gita.

Cerpen ini kemudian diakhiri dengan kisah yang tidak terduga sebelumnya. Yang akan lebih baik kalau kita simak langsung dalam cerpen dan filmnya ☺


Dalam film berdurasi 99 menit ini, memang akan kita temukan beberapa hal-hal lucu dan di luar ekspektasi. Film yang ‘dibiayai sendiri’ ini nyatanya bisa menghadirkan aktris dan aktor kenamaan dari mulai Wulan Guritno, Mathias Muchus, Joshua Suherman, hingga Virzha, ‘Kang Mus’, dan Irfan Hakim. Namun memang, tokoh Gagah, Gita, dan Yudi lah yang paling menonjol dan membuat decak kagum. Katanya, Hamas Syahid, pemeran Gagah adalah seorang Hafizh Qur’an. MasyaaAllah.

Kekurangan mungkin akan kita temukan, salah fokus misalnya (saya pribadi dan beberapa penonton tergelak dalam tawa saat melihat perubahan penampilan Gagah, khususnya di bagian janggut hehehe). Tapi apalah arti kekurangan dan salah fokus ini ya, karena kembali lagi, toh kesempurnaan cuma Allah yang punya ☺ Film ini sudah dikemas secara apik meskipun dari segi sinematografi mungkin masih kalah bersaing dengan film Indonesia lainnya. Karena memang kita sering dimanjakan oleh film kenamaan, film Hollywood yang didanai sangat fantastis. Bagi yang belum membaca cerpennya, mungkin juga akan sedikit kebingungan dengan scene akhir film ini yang baru akan terungkap di film KMGP 2. Tapi ini membuat kita semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

Meski begitu, film ini patut diapresiasi. Setidaknya, 50% keuntungan film ini dapat jadi sedekah kita -para penonton- untuk anak-anak di Indonesia Timur dan Palestina. Lebih bahagia lagi kalau… kisah ini mampu menginspirasi dan menyentuh hati kita, penontonnya.

Sambil nonton, mungkin sebelumnya atau setelahnya bisa baca cerpennya yaa. Saya ingat persis, baca cerpen ini baru part judul KMGP saja, part lainnya belum karena terbatas waktu dan buku harus segera dikembalikan. Tapi yang paling saya ingat adalah, saya baca buku ini di bis, duduk persis dekat jendela. Waktu itu saya masih pakai jeans ketat hehehe, pikiran saya juga mungkin masih sama seperti Gita dalam memandang perubahan Mas Gagah. ‘Segitunya banget ya perubahan Mas Gagah.’ ‘Memang ada di dunia ini pria sesempurna Mas Gagah?’. Tapi akhirnya…. saya menangis di bis saat baca KMGP sampai habis hehe.

Lama waktu berselang, cerpen Mas Gagah saya lupakan begitu saja. Kehidupan berjalan seperti biasanya. Tak terasa sekarang saya sendiri mengalami sebagian kecil dari apa yang Gita dan Mas Gagah alami. Saya meneguhkan hati utk berjilbab, jadi rok-er, mencoba mengenal mengaji, dan lain-lain. Meski masih jaaaaauh dari kata baik, dan ilmu yang masih minimalis, tapi saya kembali teringat, betapa kisah KMGP ini jadi satu media perubahan yang Allah berikan untuk saya.

Hijrah, jihad, mungkin terdengar ektrem ya. Tapi hijrah itu sesungguhnya dimaknai sebagai ‘pindah’, bisa pindah dari suatu tempat ke tempat lain, atau suatu keadaan ke keadaan lain. Sama halnya dengan jihad. -Hilangkan stereotip bom, granat, dan teroris dalam pikiran kita dulu- karena jihad sesungguhnya dari kita ternyata adalah melawan hawa nafsu, berjuang dalam belajar, berbakti pada orang tua, dan ya.. melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk sekitar dulu kalau memang kita belum diberi kemampuan untuk *misalnya* terjun langsung membantu saudara kita di Palestina. Kita bisa berjihad dengan cara kita sendiri, dengan tentunya sejalan dengan perintah Allah.

Hijrah juga tidak dimaknai harus langsung berjanggut panjang, bersorban, bercadar atau apapun yang saat ini bagi sebagian orang mungkin terkesan saangat ekstrem, apalagi bagi pandangan islamophobia terhadap Islam. Perpindahan ini bisa kita mulai perlahan-lahan. Itu yang saya rasakan beberapa tahun ke belakang. Karena hijrah ini akan berlangsung seumur hidup kita☺

Akhir kata, semoga yang membaca tulisan ini sempat ya menonton KMGP. Terakhir saya nonton, sedikiiit sekali seat yang terisi.

Mungkin manfaatnya belum terasa sekarang, tapi jika kita rela keluarkan kocek untuk film Hollywood, masa kita enggan ya mengeluarkan sebagian sedekah untuk film bernafaskan Islam buatan anak negeri. Hohoho.

Semoga di hari-hari ke depan, 21&XXI masih berkenan mengizinkan KMGP tayang dengan waktu yang lama ditengah persaingan dengan film lain, dan itu bisa terjadi kalau kita langkahkan kaki dan ajak orang terdekat kita nonton film ini atau baca cerpennya.

Sekian. Semoga Allah mengampuni segala khilaf^^

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Asri Nurvadyani’s story.