Sepercik Air: Langit dan Malam dan Kamu dan Nyiur dan Air dan Georg Hegel

Ekapaksi
Ekapaksi
Sep 2, 2018 · 4 min read

Sebagai konteks, tulisan ini diketik sebagai sebuah entri dalam seri tulisan yang berhubungan dengan mata kuliah TKI. Kebetulan, minggu kemarin tugas kami adalah membuat tulisan mengenai lagu Deddy Stanzah, yaitu Sepercik Air. Ada beberapa versi yang di-upload ke YouTube, dan karena saya pribadi belum pernah dengar lagunya (Yeah, I know. I’m one of those damn millennials who can’t appreciate good music.) saya tidak tahu harus pilih versi yang mana. Jadi, saya pilih versi ini.

Oke, buat interpretasi lagu. Itu saja. Sederhana, bukan?

Untuk saya pribadi, tidak semudah itu. Seperti yang sudah saya katakan tadi, I’m one of those damn millennials who can’t appreciate good music. Saya tidak memiliki pengetahuan musik yang memadai untuk mengkritik komposisi sebuah lagu, saya buta musik, dan selera musik saya agak berbeda. Mengutip komentar kakak kelas saya di SMA, selera musik saya mirip anak haram antara weeaboo J-rock doujin music dengan daftar putar poster Daily Stormer. Meskipun demikian, saya masih bisa menikmati musik-musik dari spektrum lain, jadi setidaknya saya masih bisa memberikan satu dua pendapat (walaupun terbatas) mengenai isi dari lagu tersebut.

Aoi Yuuki please step on me.

Impresi awal saya cukup sederhana. Lagunya menenangkan, teduh, damai. Hawa-hawa yang dibawa mirip dengan hawa-hawa yang saya rasakan saat saya bermain J-RPG lama seperti Dragon Quest dan Fire Emblem. Karena itu, setelah lagu selesai diputar, saya ambil smartphone saya, saya main Fire Emblem, dan kemudian lupa bahwa saya sedang mengetik tulisan ini dan baru sadar saya sedang mengerjakan tugas sekitar lima menit sebelum tengah malam.

Setelah mendengarkan lagu tersebut beberapa kali, saya mulai menangkap cerita yang muncul dalam lagi tersebut. Cerita yang saya tangkap pada lagu adalah bagaimana malam, suatu entitas abstrak yang dinyatakan pasti akan datang menggantikan ‘kamu’, langit kemilau yang indah. ‘Kamu’, entah bagaimana ceritanya, berhasil menghentikan malam. Pembunuhan malam ini kemudian diikuti oleh rona kemerahan langit, dan afirmasi bahwa malam yang indah tidak akan datang.

Nah, sebelum lanjut lebih dalam ke interpretasi saya, supaya tidak bingung sebaiknya kita identifikasi komponen-komponen utama dalam cerita di lagu ini. Ada alam yang ditunjukkan dengan sepercik air bening dan nyiur, dewa yang bermain harpa, langit yang seolah ingin membunuh malam (‘kamu’), dan tentu saja, malam.

Di awal lagu dideskripsikan suatu kondisi awal, suatu proposisi awal, berupa langit (‘kamu’) secerah kemilau, dengan dewa yang bermain harpa dan sepercik air bening. Karena langit menggambarkan kondisi awal, atau proposisi awal, kita dapat mengkategorikan langit sebagai suatu entitas dengan sifatnya sendiri, kita sebut saja sebagai tesis. Namun, langit cerah ini juga gelap, karena langit ingin membunuh malam.

Karena malam yang dirujuk dalam lagu ini tidak digambarkan sebagai sesuatu yang jahat (malevolent), saya berpendapat malam tidak sepenuhnya melambangkan hal-hal yang bersifat buruk seperti kematian, depresi, atau nilai T, tetapi sebagai antitesis dari tesis (proposisi awal). Antitesis tidak selalu bermakna buruk; faktanya, antitesis dapat hanya bermakna prespektif kritis (atau dapat dikatakan kritik) terhadap tesis.

Dari sini, kita sudah memetakan dua buah sisi dari cerita, yaitu sisi kamu/langit (tesis) dan malam (antitesis), dan keduanya dapat kita simpulkan akan berlawanan dari cerita langit yang ingin membunuh malam. Dan, di akhir cerita malam akhirnya mati dan tidak akan datang lagi. Langit pun berubah, menjadi merona dalam kemesraan. Saya menginterpretasikan ini sebagai konflik antara tesis dan antitesis, dan berakhir dengan kematian malam. Namun, kematian malam tidak sepenuhnya menunjukkan kemenangan langit, karena langit pun ikut berubah setelah kematian malam. Dapat dikatakan, sebenarnya langit mengalami perubahan setelah kematian malam, dan bukan langit yang dulu lagi. Konflik seperti ini, antara tesis dan antitesis pada akhirnya menghasilkan suatu entitas atau proposisi baru dari kedua pihak, disebut sebagai sintesis. Dan pada cerita ini, hasil dari sintesis adalah langit baru (‘kamu’ baru) yang merona kemerahan karena kematian langit — suatu fajar baru. Sintesis. Heh.

Konsep tesis-antitesis-sintesis ini sebenarnya sudah dikembangkan dari ide-ide filusuf Jerman Georg Hegel (1770–1831) oleh filusuf Jerman Johann Fichte (1762–1814). Konsep ini, yang disebut dialektika, dapat dikatakan mendasari komunikasi dua arah antara dua individu atau lebih yang memegang pendapat berbeda, sesuatu yang akan kita pelajari lebih lanjut di mata kuliah TKI. Jadi ya, saya rasa lagu ini cukup tepat untuk diinterpretasikan dalam mata kuliah ini.

Meskipun demikian, ini hanya interpretasi saya. Interpretasi yang berlandaskan konsep dialektika yang sangat, sangat, sangat terlampau disederhanakan dan saya yakin kurang tepat. Besar kemungkinan interpretasi saya melenceng 180°. Lagipula, filsafat dan musik bukan bidang keahlian saya. Entahlah, kelihatannya saya kebanyakan minum kopi. Berikut saya lampirkan foto Aoi Yuuki sebagai penutup.

Aoi Yuuki please step on me.
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade