Memaknai “Idfin wujudaka fi ardlil khumuli”. Pendamlah dirimu dalam bumi kekosongan.”

Kita sering kali merasa kehausan, mencari air yang akan meluncur di lorong-lorong kerongkongan.

Kerap kali kita lupa, bahwa kita minum bukan karena benar-benar haus akan tetapi hanya karena hawa nafsu.

Kita berlomba mencari cari pembenaran dari tiap-tiap katup mulut manusia, akan tetapi malah lari terbirit-birit ketika manusia lain mulai mengutarakan keburukan kita. Seolah kita ingin mengenyahkan diri dari lingkaran pergaulan atau sosial.


Suatu hari, saya pernah tersudut bahkan tersungkur nyaris terkubur abu kepiluan, pada suatu keadaan yang bisa di analogikan dimana saya menggenggam sebuah apel curian lantas orang-orang menuduh saya mencuri, seolah saya kehabisan kata untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, bahwasanya saya benar-benar tidak mencuri. Malang begitu nasib ini, apa daya sang apel yang ranum memang berada pada genggaman saya.


Tertangkap basah! Atau terciduk, seketika membuat mulut saya kelu. Bulir airmata lah yang dapat menggantikan desau kata-kata. Menyerah, mungkin itu yang bisa saya lakukan ketika tidak berdaya.

Bagaimana saya bisa keluar dari jerat ini? Mimpi buruk yang selalu mengintai setiap detik, rasa takut yang meneror yang terkadang melemahkan setiap sulur urat yang terbentang pada tiap-tiap pembuluh darah.

Apakah diam di pojokan akan membuat perasaan terpojokan akan sirna?

Menutup simpul-simpul pergaulan menutup diri. Setelah kehabisan akal bagaimana menjelaskan yang sebenarnya terjadi.

Jiwa mulai bersiasat, dengan angkuhnya selalu ingin menjadi superior, mulai menjadi orang yang berambisi, ingin melakukan ini itu hanya atas dasar keinginan membuktikan sesuatu hal yang tidak saya buktikan kebenarannya. Mengalihkan saya dari beberapa tuduhan yang tak terelakan.

Semenjak saat itu saya menjadi mahluk yang menjijikan.
Sometimes our life impress the other, but make sure don’t live for impressing people, it makes you tired.

Hal itu memang sangat melelahkan, hidup hanya bersandar pada apa yang akan mereka lihat.

Apa yang saya dapat? Selain diri yang membubung pada kesombongan yang fana?. Miris! Ketenangan tak kunjung saya dapatkan.

Lagi dan lagi saya mulai berontak, mencari keadilan entah walau terasa kecil terlihat dari pelupuk mata, keadilan yang sangat kecil kemungkinannya bakal saya dapatkan.

Hingga suatu malam berbincang tanpa secangkir kopi yang tersaji. Sehingga tiada asap yang mengudara diantara obrolan.

Pada salah satu sahabat, saya mengutarakan kekesalan saya yang sudah klimaks, dia menimpali dengan senyum penuh ketenangan.

Dia balik bertanya, “untuk apa?”

Lebih jauh ia utarakan, bahwa saya terlihat seperti orang yang haus pengakuan. Buat apa capek-capek cari pembenaran.

Lugas, tegas, dan membekas. Saya menghela nafas, mencoba memahami nasehat sahabat. Saya bergegas melupakan niatan saya itu.

Saya yang kala itu menjadi orang yang sangat pesimis, bahkan saya membenci kata-kata yang bijak yang kerap beredar di dunia maya.
I hate quotation.

Sejak kapan? Sejak hidup saya rasa tidak lagi relevan. Karena saya merasa berada dipinggiran.


Hidup telah banyak mengajari, menuntun dengan cara menunjukan apa yang terjadi sehari-hari. Mungkin lewat angin berhembus, atau pertikaian sepasang kucing. Darimanapun itu, hidup akan menjadi guru yang tak terduga mengajarimu tanpa arah dan tanpa gaya.


Stereotype;

Apa itu stereotype? Ibarat nya seperti datang kesebuah kebun, tapi bagi sesiapapun yang kekebun itu berarti mencuri. Walaupun, tidak selalu begitu. Bisa saja dia hanya numpang lewati.

Ya begitulah manusia hanya bisa memaki, lebih cepat dari memahami.

Kelewat cepat menghakimi dari pada mempelajari.

Everyone has their own reason behind what he did. Even do bad things

Kesal memang, hal ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang benar-benar peka hatinya. Atau yang merasakan bagaimana rasanya jadi minoritas.

Tapi di bawah sini saya merenungi, dan sesekali bertanya pada lampu tua (hati). Kekesalan saya pada hal diatas sirna seketika.
I believe God didn’t create a stereotype, human did.

Tuhan selalu menunjukan sesuatu dengan cara yang tak terduga. Seperti saya sering melihat Kyai Abdurahman Wahid sering mengutip kata

“Idfin wujûdaka fî ardhi al-humûl. Famâ nabata mimmâ lam yudfan lâ yatimmu natâ’ijuhu (tanamlah keberadaan dirimu di tanah yang rendah/tidak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh dari sesuatu yang tidak ditanam tidak akan sempurna buahnya)” (Ibnu Atha`illah as-Sakandari, al-Hikâm, hikmah No. 11).

Saya mulai merenung, apa yang dimaksud dengan bumi kekosongan? Saya coba memahami nya. Perlahan saya mulai menyimpulkan bahwa, kekosongan itu mungkin meminggirkan segala hingar bingar keramaian, rasa ingin diperhatikan sebagai sumber segala keinginan yang fana, ingin terlihat “wah” dimata sesama entitas di muka bumi.


Perlahan saya mulai memutuskan untuk menggali bumi kekosongan. Saya tidak mengajak siapapun dan suatu apapun, hanya sebuah lampu petromax kecil (kata hati) yang saya harap dapat menerangi setiap derit langkah.

Belum dalam, tapi saya sudah mulai merasakan ketenangan. Disini sepi, kesedihan saya perlahan surut, dikarenakan tiada satupun manusia yang menghina meski saya salah. Bukan ingin lari dan menjadi pengecut, terlalu riuh suara-suara manusia yang menghakimi membuat saya tidak fokus membenahi diri malah sibuk bersedih serta meratapi.

Tidak ada keriuhan dari manusia bukan berarti menjauhi diri saya dari kata perbaikan. Justru disini saya melibatkan Tuhan yang maha penyayang, selalu memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.


Semakin dalam diri ini, saya menemui ketenangan, saya bisa mengejar dan fokus melakukan usaha, semata hanya karna ingin ada kebaikan pada diri saya, ada proses dari tidak baik ke arah baik. Yang pada proses nya saya hanya mengharap ridho Allah. Bagaimana tidak, saya hanya sendirian dibawah sini (bumi kekosongan) membuat saya lupa akan ke-riaan yang bisa timbul setelah melakukan hal baik. Menghela nafas, karena kerap kali melakukan nya tanpa sadar maupun kesadaran dan sesadar-sadarnya. Lalu malu pada akhirnya.

Dibumi kekosongan ini saya merasa sepi namun khidmat. Tidak ada hingar bingar, ingin terpandang A atau B. Atau sampai-sampai nekat menjadi mahluk yang gerah eksistensi.

Di kedalaman ini saya hanya melihat bagaimana prospek kedepannya. Apa efek pada diri saya setelah melakukan sesuatu. Hanya ada saya dan lampu patromax tua yang benar-benar membuat apa yang saya tuju menjadi jelas tanpa embel-embel ingin di puji sebab p(ujian) kita lebih semangat.


Ketika saya disini di kedalaman saya mulai takut dan malu, melakukan hal yang membanggakan pun saya sudah pada tahap takut hal itu membuat saya di gerogotin belatung-belatung kesombongan.


Idfin wujudaka

Simpulan

  • Saya merasa hidup tenang
  • Ujian dan hinaan bukan perkara untuk dirisaukan.
  • Bisa fokus membangun konstruksi diri

Sekian tulisan saya, semoga bermafaat. Mohon dikoreksi apabila ada kesalahan saya hanyalah seorang fakir ilmu.

Like what you read? Give Dianie a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.