Semakin Menabung, Semakin….

Timbunan majalah (Foto: imposemagazine.com)

Merugi

Mungkin terdengar aneh dan bahkan mengada-ada. Namun memang faktanya seperti itu. Kita dalam keseharian cenderung didorong untuk menabung. Bahkan pemerintah pun mendorong masyarakatnya untuk menabung entah dengan bentuk apapun.

Tapi pernahkah kita mengamati bagaimana cara kerja menabung. Dalam teori bisnis, aliran uang adalah segalanya. Semakin liquid aset maka akan semakin mudah aset tersebut untuk menghasilkan penghasilan yang lebih. Itulah kenapa kebanyakan aset perusahaan disimpan dalam bentuk dijaminkan.

Lalu apa hubungannya dengan menabung? Artikel ini bermula ketika saya membaca tulisan dari pakar (anti)marketing dari Amerika Serikat, Seth Godin yang membahas tentang perilaku hoarding atau menimbun. Dia menyebutkan bahwa “Hoarding doesn’t work” alasannya adalah semakin kita menimbun semakin kita mendapatkan sedikit keuntungan.

Saat saya membaca itu, saya jadi teringat tentang perilaku kita dalam menabung yang kurang lebih sama seperti menimbun. Bahwa kita cenderung menimbun hal-hal yang tidak perlu. Seperti menimbun barang-barang rusak yang mulanya kita berfikir suatu saat bisa diperbaiki. Atau menimbun memorabilia yang sejatinya tidak terlalu penting untuk disimpan karena akan tergantikan bila terdapat momen-momen yang lebih update.

Seth Godin semakin membuat saya tersentak ketika dia mengatakan,

“ An idea shared is worth more than one kept hidden. Opportunities passed from one to another create connections which lead to more opportunities. Opened doors lead to forward motion.”

Sebuah ide yang dibagikan lebih berharga ketimbang hanya disembunyikan. Kesempatan-kesempatan berpindah dari satu ke yang lainnya menciptakan koneksi yang akan menciptakan kesempatan yang lebih banyak. Membuka pintu untuk bergerak maju.

Inilah yang membuat saya dengan segera memutuskan untuk menulis. Bahkan bila mengingat beberapa tahun lalu saat masih kuliah, karena alasan ini pulalah saya mengawali hidup dengan menulis (meski saat itu saya menulis skripsi, hehe). Setiap pagi.

Berbagi adalah kunci kemanfaatan dari apa yang kita miliki. Menimbun atau menabung bukanlah cara yang tepat untuk memakmurkan lingkungan, ekonomi bahkan diri sendiri. Berbagi dengan apapun yang kita miliki, entah itu uang, ide, bahkan hanya sekadar nasehat.

Namun perlu dicatat, pada titik tertentu menabung tetaplah perlu selama tujuannya jelas. Sudah ditentukan sejak awal. Misal menabung untuk berangkat ibadah, membeli rumah dan sebagainya dengan waktu yang sudah ditentukan pula. Sebab ketika konteksnya sudah seperti ini, menabung telah berubah menjadi sebuah investasi. Investasi yang pada masa yang telah ditentukan, akan memberikan kita manfaat dan keuntungan.

Dalam teori investasi pun sepakat dengan prinsip semakin dibagikan, akan semakin menguntungkan. Bila pernah mendengar tentang bagaimana bunga (interest) itu ternyata cenderung menghambat pertumbuhan ekonomi, memang benar seperti itu adanya. Sebab semakin tinggi bunga, akan mendorong orang untuk semakin tertarik untuk menimbun.

Setiap apa yang kita berikan pada makhluk: manusia, lingkungan, dan alam semesta; akan kembali memberikan timbal balik pada kita. Pertanyaannya adalah, barang apa yang kita berikan pada mereka itu. Kebaikan? atau bahkan kerusakan? Inilah yang kemudian kita harus menjadi kritis dan harus menyadari tentang dampak dari apa yang kita lakukan.


Sebagai penutup, saya sangat menyukai kisah yang sudah sangat populer ini. Sebuah kisah tentang dua serigala yang diceritakan oleh seorang Cherokee pada cucunya.

“It is a terrible fight and it is between two wolves. One is evil — he is anger, envy, sorrow, regret, greed, arrogance, self-pity, guilt, resentment, inferiority, lies, false pride, superiority, and ego.” He continued, “The other is good — he is joy, peace, love, hope, serenity, humility, kindness, benevolence, empathy, generosity, truth, compassion, and faith. The same fight is going on inside you — and inside every other person, too.”
The grandson thought about it for a minute and then asked his grandfather, “Which wolf will win?”
The old Cherokee simply replied, “The one you feed.”

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih telah tersenyum.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.