Mudik Bersama Bapak.

Menjadi pengawal yang baik untuk Komandan Besar.


Akhirnya mudik. Pulang ke tanah leluhur untuk kedua kalinya. Pertama kali beta pulang kampung dulu sama Mama, status masih anak tunggal karena adik-adik beta dulu belum ada. Seingat beta antara tahun 1997-1998, kira-kira kalau tidak salah ingat badan beta dulu masih setinggi jerigen minyak tanah ukuran sepuluh liter.

Kesempatan kedua. Tangga.

Anjaaaaaaaay.

Eh, maksudnya kesempatan kedua mudik kali ini alhamdulillah bisa pulang bersama Bapak. Jangan tanya soal ukuran jerigen berapa liter untuk takaran badan beta saat ini, ya. Yang jelas, kalau berangkat berdua dengan Komandan Besar ini (baca: Bapak) hitungannya sudah beda-beda tipis saja.

Pembedanya hanya terpaut di warna pada masing-masing kotak rokok kami saja.

Mohon dimaklumi, Pria punya masing-masing selera.

Butuh persiapan yang sangat sangat sangat matang sebelum akhirnya memutuskan untuk mudik. Ribet bosku, sungguh. Mudik ke kampung beta ini tidak seperti teman-teman beta kebanyakan.

Jadi, kalau yang udah namanya pulang kampung gini. 'alat-alat perang' yang harus disiapkan juga banyak. Jangan sampai ada yang lupa. Soalnya kalau ada yang lupa dan mau putar balik, ya itu tadi. Jauh bosku.

Opsinya ada dua, buat kami-kami orang Timur ini jika ingin pulang kampung.

Naik Kapal. Untuk hitungan biaya cukup terjangkau memang. Tapi di perjalanannya, LAMAAAAAAAAA. Kurang lebih tujuh sampai sembilan hari anda harus berada di lautan sebelum sampai di tempat tujuan.

Naik pesawat, yaaaaaaaa ada juga.

Biaya nya beragam. Tergantung momen dan juga kapan berangkatnya.

Untuk lamanya perjalanan, (yakin) satu hari sampai. Intinya sih yakin.

Karena di Indonesia ini masih identik dengan 'percaya aja dulu’, ’yakin aja dulu.'

Kalau keyakinannya nggak kekabul, yang di salahin mah ada aja.

Yakin aja dulu bakal sehari sampai, kalau nggak kesampean, salahin aja pemerintah.

"Semua salah pemerintah, nih! Masa penerbangan ke Indonesia Timur pesawatnya nggak sebanyak dengan rute-rute di Indonesia Bagian Barat. Pemerintah kerja nya apasih? Udah pesawatnya nggak banyak, sekalinya berangkat banyak delay pula! Pemerintah pilih kasih, huft!" — Netizen.

Gitu? HAHAHAHAHA.

Anyway, beta pemuda kelahiran Batam, tapi Bapak dan Mama beta berasal dari Timur. Mereka berdua sama-sama berasal dari desa kecil bernama Desa Bareng di Kepulauan Nusa Tenggara Timur.

Kadang sesederhana itu takdir Tuhan digariskan, jodoh dipertemukan memang tidak jauh dari lingkungan setempat ya. Satu kampung gini contohnya.

NAAAH, untuk sampai di kampung beta ini... DUHAAAAAAAAI GUSTI. Beta sedang ketik ini cerita saja, di bagian ini khusus beta ambil jeda sedikit buat tarik panjang napas dulu sebelum lanjut.

Jadi, untuk gambaran singkatnya saja beta kasih 'spoiler' sedikit ya.

Jadi, beta dari Batam naik pesawat ke Kupang (transit ini ya, tidak ada yang langsung, bosku. Kalau mau langsung tolong beli Jet pribadi) Berangkat tanggal 18 sore, tiba di Kupang malam. (Kalau nggak delay, ya)

Keesokan harinya, tanggal 19 jam dua siang. Beta dari Pelabuhan Bolok di Kupang naik kapal tujuan ke Larantuka.

Ini kitorang harus tunggu ini kapal, karena apa? Jadwal kapal disini juga tidak sebanyak dengan jadwal kapal yang ada di Indonesia bagian Barat sana.

(Salaaaaaaah lagiiii pemerintah, kaan kaan. Tengoklah muncung-muncung gatal netizen ini. Gatal mau komen kan klen, jen?)

Tiba di Larantuka tanggal 20 dini hari jam empat pagi.

Sudah mulai lelah sampai disini? Ini belum ada separuh jalan, kawan-kawan. BELUUUUUUUM ADAAAA. *istighfar*

Kita lanjut lagi ye.

Di Larantuka, tanggal 20 jam empat pagi beta harus tunggu kapal lanjutan lagi di jam delapan pagi untuk ke Lewoleba.

Jenis kapal kali ini sedikit lebih kecil dari yang sebelumnya. Beta naik kapal motor yang perkiraannya bisa muat penumpang 15-20 orang saja dalam sekali jalan.

Perjalanan kurang lebih makan waktu tiga sampai empat jam.

Ini nggak ada istilah 'delay' kalau di laut, tapi pepatahnya orang-orang kapal ini rupanya lebih seram, teman-teman.

Mereka hanya kenal dua istilah saja di sini:

“Mesin kapal yang mati atau isi dalam kapal yang mati.”

Singkat cerita, sampai di Lewoleba kurang lebih jam satu siang.

Kebetulan di Lewoleba beta ada saudara yang buka tempat makan di area pelabuhan Lewoleba. Jadi kami istirahat sejenak disana, merapikan badan dan lainnya.

Setelah charge-full semuanya, beta bersiap berangkat dari Lewoleba menuju Desa Bareng.

Pilihannya, bisa pakai ‘oto’ (sebutan untuk mobil/travel) ataupun bisa menggunakan sepeda motor.

Good news nya, beta tidak berdesak-desakan dengan penumpang lain di mobil yang sama.
Bad news, beta salah pilih transportasi ternyata.

Perjalanannya ini menempuh waktu selama tiga jam. Di atas motor, jalan darat. tiga jam. Duduk. Allahu akbar. Pulang kampung gini amat, gaes.

Dan jangan teman-teman berfikir untuk infrastruktur menuju desa Beta itu sama dengan di Batam, ya. Sudah mulai tercium bau-bau tidak enak ini kalau sudah bahas soal infrastruktur.

(NETIJEN TOLONG TAHAN, TAHAN YAA. JANGAN SALAHKAN SIAPA-SIAPA)

Untuk akses jalannya ada sebagian yang sudah di aspal, ada juga (rata-rata jalan menuju ke pedalaman desa) itu yang masih dalam proses pembangunan.

Sepertiga jalan aspal, separuh hampir menyeluruhnya bebatuan dan berlobang.

Jadi, semakin masuk ke pedalaman kampung, beta merasakan semakin lama semakin asik begitu.

Pegal sih memang, tapi semakin banyak goyangan akibat jalan yang berlobang, ia semakin asik.

Wajar, namanya saja #IndonesiaTimur, bisa di singkat sebagai Intim. Kalau makin kedalam sejatinya memang makin asik, to?
Tapi harus di ingat, lobang-lobangnya harus yang kecil-kecil, semi-semi sempit menuju lebar begitu. Jangan besar sangat, kalau besar itu sumur namanya.

Terlepas dari jalan yang kurang memadai. Sepanjang jalan, beta tidak berhenti memandangi kiri-kanan jalan yang beta lalui. Semuanya indah. Gunung, laut, sabana semuanya tak bisa beta ungkapkan. Sangking tidak inginnya melewatkan pemandangan, beta tidak sempat kepikiran mengambil video ataupun sebarang gambar selama di perjalanan menuju Desa Bareng. Sungguh!

Melelahkan memang, menuju ke kampung halaman. Hanya saja ini terbayar lunas dengan semuanya yang indah dan segala pesona nya yang wah!

Pesona #IndonesiaTimur adalah bukti nyata sedikit dari pecahan surga yang gambaran indahnya bisa kita saksikan di dunia. Ciptaan tangan Tuhan yang cantiknya tidak akan pernah dan tidak akan bisa kita bantah.

(To be continued for the next trip, ada amin?)

Like what you read? Give Farid a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.