OBITUM VINERA: KEMATIAN CINTA DI ERA MODERN

Tulisan ini pernah dimuat di surat kabar BPMF Pijar Edisi 23 Juni 2018.

Kita hidup di dalam dunia yang dijalankan dengan nalar kapitalis. Konsekuensi dari kondisi tersebut ialah segala hasil produksi sosial dan budaya adalah komoditas dan sistem nilai, norma, dan moral adalah sistem yang berbasis profit material. Di zaman modern, komoditas dan sistem nilai itu kemudian menuntun manusia untuk hidup dalam budaya konsumeris yang menyedihkan. Manusia yang dituntun oleh nalar kapitalis-konsumeris senantiasa mereduksi segala hal yang spiritual, menjadi material. Salah satunya cinta.

CINTA DALAM NALAR DAN BUDAYA MASYARAKAT YANG KAPITALIS

Dalam masyarakat konsumeris, cinta selalu diukur dengan rasio-rasio kapitalistik yang tidak memiliki korelasi dengan cinta itu sendiri. Seperti apa yang dituliskan oleh Ahyar Anwar dalam novelnya yang berjudul Infinitum:

bayangkan saja jika seseorang saling mencintai, lalu mereka merasa menemukan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Sesuatu yang setara dengan kehidupan sekaligus kematiannya. Lalu apa yang mereka anggap penting itu justru disederhanakan dengan gagasan-gagasan tentang kehidupan yang material. Akan selalu muncul pertanyaan-pertanyaan tragis dan ironis seperti: ia kuliah di mana? kalau kuliah nanti bisa kerja apa? Ia bekerja di mana?

apa hubungannya pertanyaan-pertanyaan itu dengan cinta? siapapun butuh makan, butuh hidup yang layak, tetapi realitas tidak dapat dibayangkan seperti fragmen-fragmen yang diperebutkan seperti itu. Realitas terlalu dituntun oleh harapan-harapan yang berlebihan dalam cara pandang materialistis dan kapitalis. Sehingga segala hal yang bersifat spiritual menjadi tidak berharga…(Ahyar Anwar. 2010: 321–322)

Aku membayangkan akan bagaimana nasibku; nasib teman-temanku setelah keluar dari fakultas filsafat nanti. Bertemu dengan seseorang, jatuh cinta, kemudian dengan bermodalkan keberanian dan kemampuan retorik yang di atas rata-rata datang untuk meminangnya, dan kemudian pertanyaan-pertanyaan absurd macam itu muncul. Betapa menyedihkan sekaligus menggelitiknya jika seorang sarjana filsafat yang memahami betul cinta secara metafisik harus dikalahkan oleh seorang sarjana teknik yang tiap hari hanya berkutat dengan urusan mesin dan kalkulasi hanya karena sistem nilai yang berlaku di masyarakat dituntun oleh harapan yang diproduksi dengan nalar kapitalistik. Terutama jika seseorang itu berasal dari suku Jawa yang begitu memperhatikan bibit, bebet, dan bobot.

Sejatinya, bobot dalam budaya pernikahan Jawa jauh dari unsur materialistis seperti di era modern. Dalam bobot, terdapat empat hal fundamental yang harus dipenuhi, yakni: Jangkeping warni (kesehatan fisik), rahayu ing mana (baik hati), ngertos unggah-ungguh (mengerti tata krama), dan wasis (ulet). Dari hasil diskusi saya dengan beberapa orang yang mengerti tentang budaya tersebut, bobot berkaitan dengan bibit, yang berarti bahwa bobot tersebut dilihat berdasarkan genetika. Bobot selalu berarti tentang kualitas diri; lebih mengarah ke urusan batiniah ketimbang lahiriah. Akan tetapi, karena nalar manusia dituntun oleh naluri kapitalistik dan materialistis, akhirnya pekerjaan dan pendidikan masuk ke dalam kriteria. Bukan hanya di budaya Jawa saja hal ini terjadi. Di budaya Bugis-Makassar, uang panai’ atau mahar seseorang ditentukan besarannya dari pekerjaan dan pendidikan. Semakin bagus pekerjaan, semakin tinggi kedudukan dan tingkat pendidikan yang dimilikinya, maka semakin mahal pula maharnya. Padahal, sejatinya mahar dalam kebudayaan Bugis-Makassar hanya bertujuan sebagai ajang pembuktian kesiapan.

Pergeseran kebudayaan tersebut terjadi akibat masyarakat dituntun oleh nalar kapitalis yang menyebabkan kebahagiaan cinta selalu diukur dengan rasio materialistik: uang. Bagi masyarakat modern, pernikahan diartikan sebagai konstruk sosial. Karena masyarakat dituntun oleh nalar kapitalistik, tolok ukur pernikahan selalu tentang hal-hal materialistis: pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan sebagainya. Padahal, pernikahan seharusnya berlandaskan cinta; pernikahan adalah relasi cinta.

Begitu jelas, bahwa semua orang tua hanya akan mencarikan anak perempuannya suami dan mencarikan anak laki-lakinya istri. Mereka tidak mengerti bahwa suami dan istri adalah sebuah konstruk sosial yang telah diisi dengan ilusi-ilusi rasional yang kapitalistik. Suami yang baik adalah laki-laki yang punya penghasilan tetap, sementara istri yang baik adalah perempuan yang mengabadikan dirinya untuk hidup laki-laki yang mejadi suaminya. Menyeret hidup manusia dalam rumah tangga yang absurd. (Ahyar Anwar. 2010: 264)

Hal ini menyebabkan pernikahan tidak selalu berlandaskan cinta. Kadang pernikahan berlandaskan faktor ekonomi dan politik, seperti dalam cerita Siti Nurbaya karangan Marah Rusli. Dari data yang dirilis oleh kementerian agama, pada tahun 2016 lalu jumlah pasangan yang bercerai tercatat sebanyak 365.633 di seluruh Indonesia. Ironisnya, perceraian tersebut banyak dialami pasangan yang belum genap lima tahun usia pernikahannya. Dari data tersebut 70% penggugat adalah istri. Ada banyak faktor yang membuat mereka menggugat cerai, namun ada 4 alasan utama, yakni: ketidakharmonisan, ekonomi, kehadiran pihak ketiga, dan tidak ada tanggung jawab.

Angka tersebut sebetulnya bukan sekadar persoalan ekonomi, ketidakharmonisan, kehadiran pihak ketiga dan tidak ada tanggung jawab, tetapi karena persoalan eksistensial. Pasangan yang bercerai tersebut tidak menemukan keberadaan cinta dalam pernikahan, sebab pernikahan itu sendiri telah dikonstruksi dengan nalar kapitalistik. Perceraian tersebut menawarkan sebuah jalan keluar. Jalan keluar untuk menemukan kepingan moral spiritual yang hilang dari masyarakat: cinta.

BELAJAR DICINTAI BUKAN MENCINTAI

Pertanyaan yang timbul selanjut ialah, jika nilai sosial dan budaya yang berlaku di masyarakat dikonstruksi dengan nalar kapitalistik yang menyebabkan cinta yang sifatnya spiritual direduksi menjadi material, maka bagaimanakah cara untuk mengembalikan cinta menjadi hal yang spiritual?

Caranya ialah dengan mulai fokus mencintai ketimbang untuk dicintai. Seperti apa yang dituliskan oleh Erich Fromm dalam bukunya Art Of Loving:

Kebanyakan orang melihat persoalan cinta sebagai persoalan dicintai ketimbang mencintai. Bagi mereka, masalahnya adalah bagaimana dicintai, bagaimana menjadi orang yang dapat dicintai. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka mengikuti beberapa jalan. Pertama, yang sering digunakan oleh lelaki, ialah menjadi sukses, menjadi kuat secara fisik, dan menjadi kaya. Jalan lain, yang biasanya digunakan oleh perempuan ialah menjadi atraktif. (Erich Fromm. 1989: 16).

Nalar cinta seperti itulah yang berjalan di masyarakat kita hari ini. Orang-orang berlomba untuk kuliah di tempat yang baik; memiliki pekerjaan yang bagi masyarakat bagus; dan lain-lain. Kita bisa mendapati para mahasiswa baru berfoto dengan slogan Menantu Idaman di selembar kertas dengan memakai almamater kampus pada saat upacara PPSMB. Seolah-olah keberhasilan dalam pernikahan ditentukan berdasarkan di mana seseorang berkuliah. Padahal cinta, terutama cara untuk mencintai tidak pernah diajarkan di kampus.

Aku menerawang jauh ke masa depan di mana aku telah berkeluarga memiliki anak perempuan yang cantik dan pada suatu ketika seorang lelaki datang untuk meminangnya; datang dengan mobil Alphard dan setelan mahal untuk meminangnya. Aku membayangkan betapa kagetnya ia, ketika segala usahanya bertahun-tahun kuliah di jurusan favorit dan kekayaan yang ia kumpulkan dari pekerjaan yang secara status sosial dianggap bergengsi jadi tak bernilai:

Aku tak peduli soal pendidikan, pekerjaan, dan kekayaan yang kau miliki. Tapi, apakah kau benar-benar bisa mencintai anakku? Apa yang kau tahu soal cinta?

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Ahyar. 2010. Infinitum. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Fromm, Erich. 1989. The Art of Loving. New York: Perrenial Library.

Kementrian Agama RI. Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan. Ketika Perempuan Bersikap: Tren Cerai Gugat Masyarakat Muslim. Jakarta, 2016. Cetak.

Choiriah, Muchlisa. “Indonesia Darurat Perceraian!”. Merdeka. 20 September 2016. Web. Diakses pada 29 Mei 2018.

Indah. “Kemenag Bimwin 149ribu Calon Pengantin Sepanjang 2017. Berita Kementrian Agama RI. Kementrian Agama RI, 2018. Web. 29 Mei 2018.