
Bukan Harapan Palsu
Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? Aku-kamu-kita hingga lautan dan langit hadir senyata dan se-kece itu. Dua puluh enam sebelum dua puluh tujuh di penghujung dua ribu lima belas di bulan ke dua belas. Saya dan delapan makhluk Tuhan paling nananana melakukan perjalanan-bukan sekedar perjalanan langkah kaki tapi juga hati. Iya dengan mereka saya menjejak. Dari yang paling kiri namanya Bang Anjar, nama lengkapnya belum tau. Hehe. Kemudian adiknya yang termanis dan penuh cinta Resi Putri Fadillah *pakek f bendera* ini serius setiap kali mengeja namanya harus disertai dengan ‘F' bendera. Haha. Lalu gadis berbaju merah lagi seksi nan gokil. Eka Fatimah Harahap *dia batak tapi sukak nyunda* haha. Next si dede gemesh iin yang dengan rela diajak Resi menjejak bersama. Nama lengkapnya juga belum saya tahui. Kemudian Ayu Sasmita Wardani yang cetar tiada tara seperti suaranya saat teriak nama tokoh korea di atas kapal. Haha. Sebelah Ayu adalah makhluk asal cikarang yang bangunnya jam tiga pagi saat kami akan melakukan perjalanan. Haha namanya Rohman nama lengkapnya bisa ditanyakan langsung ke oknum :D. Lalu disampingnya ada Eka Oktaviani my bebeb yang hadir tanpa nanti *uwuwuwuw* wkwk. *apasih gw* sebelahnya itu saya. Kemudian sebelah saya yang saya tunjuk itu si *ekhem* yaa kalian boleh sebut dia Jati Sutrisna. Makhluk Tuhan paling kece juga nananana buat saya wkwk setelah my babeh. *bayar yak Abang tayang* kemudian dihujam kalimat geuleh say (baca:Geli say) oleh Resi. Di hari itu kami bersembilan terdaftar di salah satu trip namanya *piiip* ceritanya sensor. ‘Easyjourneyindonesia' kami mengunjungi satu pulau dari seribu pulau yang ada di kepulauan seribu. Tepatnya di kepulauan seribu utara. Yap Pulau Harapan, pulau dimana pengunjungnya adalah para php haha *becanda ding* sekali lagi tulisan ini hadir semata karna perspektif dan apa yang saya dapatkan dari hasil menjejak dengan mereka ingin saya abadikan supaya saya bisa terus membacanya tanpa kenal waktu dan tempat, ini berharga untuk saya. Meski bukan yang pertama kalinya saya pergi ke pulau. Saya mengambil banyak pelajaran, benar adanya bahwa Tuhan mempertemukan orang-orang yang satu tujuan. Kemudian benar adanya bahwa alam yang akan membuktikan seberapa tangguh kita dan seperti apakah rupa dari isi hati kita. Karna dengan melakukan perjalanan bersama baik di pantai ataupun gunung ataupun di alam bebas kamu akan menemukan rupa dari hati masing-masing sahabatmu, temanmu ataupun pasanganmu. Dan kemudian saya membaca lagi, membaca sembilan hati, sembilan sikap, sembilan karakter, yang berbeda tapi kami di pertemukan karna satu tujuan. serta membaca alam. Semua terangkum dalam perjalanan kemarin. Saya belajar dari mereka semua. Bahwa dimanapun kita berada baik di lautan ataupun gunung semuanya itu masih ada di bumi, maka tetaplah membumikan hati mu, walaupun Allah melangitkan segala impianmu. Semua itu hanya ujian, baik kesenangan ataupun kesedihan. Saya belajar untuk tidak angkuh dimanapun posisi kita seperti apapun kaya nan rupawannya kita. Tetap lembutkan hati, tetap membumikannya bukan jumawa lagi melangitkannya. Lalu dari ombak saya belajar akan banyak tetapi kuat. Bahwa masing-masing kita harus kuat seperti ombak yang bila dikumpulkan maka bisa menggulung apapun. Tidak seperti buih banyak tapi hanya sesaat. Selanjutnya saya belajar dari langit dan lautan itu sendiri bahwa sejatinya lautan dan langit saling mengadakan. Dimana langit bisa memunculkan hujan ketika lautan menguapkannya melalui airnya. Lalu jadilah hujan yang bermuara ke lautan. Dan mereka sama birunya, sama indahnya sama cantiknya. Saya juga menjumpai jingganya langit kemarin sore yang menjadi penutup manis hari pertama perjalanan kami. Darinya saya belajar ketenangan yang eksotis. Langitnya luas tak berbatas namun bertepi. Banyak sekali yang ingin saya tulis namun saya sulit membahasakan detilnya. Saya mencintai Indonesia seperti saya mencintai diri sendiri. Kira-kira begitu suara hati saya saat menyaksikan panorama langit jingga. Tentunya saya juga belajar dari 8 makhluk Tuhan yang paling nananana itu. Belajar tentang menghargai waktu seseorang yang tak akan pernah bisa dikembalikan. Belajar tentang berbagi tanpa mengenal lini. Belajar tentang kebersamaan. Belajar tentang cinta dan kebersamaan bahwa pertemuan merupakan pintu baru untuk lebih banyak membaca lagi, membaca yang bukan hanya buku tetapi segala apapun itu. Termasuk membaca hatimu sendiri. Karna setiap perjalanan yang kita lakukan selalu bermuara pada masing-masing hati kita. Terimakasih telah membiarkan saya membaca apapun itu termasuk membaca kalian, membaca yang bersama kalian menjadi begitu menyenangkan. Mohon maaf bila ada yang kurang bahkan tidak berkenan atas segala yang berasal dari saya. Terimakasih semoga diizinkan menjejak bersama lagi. Kemanalagi kita? Ah, jangan lupa bahagia ya! Salam syukur tiada terukur atas semuanya.
Depok-27 Des 2015. 22:06 WIB diketik sambil mendengarkan lagu Ipank-sahabat kecil 🎶🎧😊