Forbidden Feeling (a story)

Somewhere beyond rights and wrongs, there’s a garden. I will meet you there — Jalaluddin Rumi
The first and last Three Months — bw
Mind and Heart — bw
I’m Sorry — bw

-RYU-

24 November 2014

Apa ini?

HR Managerku mengangkat kepala nya saat aku menyerahkan amplop putih, dan berdiri mematung di depannya.

Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaannya. Tak perlu ku jawab pertanyaan itu. Dia bisa membaca sendiri surat pengunduran diri ku.

Kenapa Ryu?” tanyanya sambil melipat surat dan memasukkannya lagi ke dalam amplop seperti semula.

Got better offering, Bu” jawabku. Wajah basa basinya membuatku muak. Aku tak ingin berlama-lama berada di ruangannya.

Pak Andra sudah saya email juga kok, Bu” ucapku sambil berjalan keluar dari ruangannya.

“Ryu, ini kok surat pengunduran diri kamu ditujukan ke Pak Andra? Harusnya kan ke saya?” protesnya.

Aku tak bisa menahan senyum. Aku memang sengaja menuliskan Pak Andra sebagai ‘kepada’ nya, dan dia ‘cc’. selaku HR Manager. Aku sudah memprediksi bahwa dia pasti akan tersinggung dengan caraku. Tapi, apa peduliku?

“Oh..ke ibu ya? Gampang bu, nanti saya ganti” jawabku sambil berlalu, dan tak berniat untuk menggantinya.

-salah besar kalau dia merasa bisa mengintimidasiku- Aku tertawa tertahan di meja resepsionis -mejaku.

Jumat lalu, HR Manager ku menegurnya dengan sinis. Dia bilang, tidak semestinya aku meninggalkan meja resepsionis kosong. Aku tidak terima dengan tegurannya. Bukan tanpa sebab aku harus meninggalkan front desk. Saat itu sudah lewat jam makan siang. Office Assistance yang biasa membantuku sedang keluar kantor, diminta untuk mengantarkan dokumen yang harus dikirim hari itu. Perutku yang didiagnosa maag akut beberapa hari sebelumnya tidak boleh terlambat terisi. Sehingga aku memutuskan untuk pergi makan siang. Tak lama kutinggalkan meja. Hanya setengah jam.

Dan tegurannya yang sinis membuatku ingin melemparkan sepatu ke mulutnya. Tak biasanya aku membalas ucapan dari atasanku. Tapi untuk dia, tak akan kubiarkan, ku jawab terus semua omongannya.

Saya ga nyangka ya Ryu. Maksud saya bicara ini baik. Supaya kamu bertanggung jawab dengan pekerjaanmu” ucapnya, saat aku akan pergi meninggalkan ruangannya. Langkah ku terhenti mendengar ucapannya. Heeeeiiii….aku tidak pernah meninggalkan pekerjaanku terbengkalai. Aku selalu menyelesaikannya, dan aku bertanggung jawab penuh atas pekerjaan yang kukerjakan. Saat itu, ingin rasanya aku menampar mulut ular betina itu.

Baik Bu. Kalau menurut ibu saya salah, oke saya minta maaf. I guarantee you, It wont happen again! Anything else, Mam?” tantangku, kutatap langsung kedua matanya, mengintimidasinya. Dan langsung meninggalkannya tanpa menunggu jawaban saat kulihat dia menundukkan kepalanya, sok sibuk dengan kertas-kertas kerjanya.

“Ryu, ini beneran Pak Bonny lho yang minta aku kontak kamu, dia bilang kemarin ‘coba deh kontak Ryu, mungkin dia bisa’ gitu katanya” Sabtu itu aku mendapat telpon dari Amira, dia adalah admin di kantor lamaku. Sedikit terkejut, karena ga menyangka bahwa Amira ternyata menjadi staff dari Pak Bonny -bos lamaku di kantornya.

“Emm…kantornya di mana Ra? Jauh ya?”

“Nanti ku sms alamat lengkapnya ya. Tapi kamu mau kan? Gabung ke sini?”

“Emm…aku emang lagi butuh pekerjaan sih. Nanti aku diskusikan dulu sama suami ya Ra”

Sebulan kemudian, setelah menjalani proses psikotes dan wawancara oleh HR dan user -Pak Bonny, akupun diterima bekerja di kantor tempat Pak Bonny dan Amira bekerja.

Ryu, ke ruangan saya! sekarang!” perintah Pak Andra begitu melihat aku di pantry pagi itu.

Kamu kenapa siy?” tanyanya saat aku baru saja membuka pintu ruangannya. Dudukpun aku belum, namun tak urung kuberikan senyumku sebelum menjawab pertanyaannya.

Kamu itu! Gak ditambahin kerjaan, cuma dikasih bos baru, kok malah mengajukan resign?” sungutnya, tak sabar melihat aku tak kunjung menjawab pertanyaannya. Namun matanya terlihat maklum.

Pak Andra memajukan posisi duduknya, kedua tangannya menumpu di atas meja. Matanya menuntut penjelasanku.

Aku menegakkan posisi dudukku menyilangkan kakiku, membuat diriku senyaman mungkin sebelum menjawab Pak Andra.

“Gak ada masalah kok Pak. Saya mendapat tawaran pekerjaan yang income nya lebih baik” senyumku.

Pak Andra menyipitkan matanya menuntut penjelasan lebih. Dan aku tak bisa menahan senyum tidak melebar di bibirku.

Bu Yayuk tidak percaya sama saya Pak. Bagaimana saya bisa bekerja dengan atasan yang tidak mempercayai saya?”

Pak Andra memutar matanya mendengar penjelasanku.

Ryu, saya sudah tau bahwa cepat atau lambat kamu akan mengajukan ini. Sebenarnya saya punya rencana untuk menarik kamu menjadi bagian dari tim Sales. Jadi kamu ga perlu report ke Bu Yayuk. Sekaligus tugas kamu adalah menjadi PA saya. Kamu kan tau saya suka mental-mental, ga ada yang tau saya ada di mana. Jadi sepertinya harus ada yang mengingatkan saya, dan yang mencatat kegiatan sehari-hari saya”

Saya sudah merencanakan ini sebelum kamu mengajukan pengunduran diri”

Aku hanya terpaku di hadapan Pak Andra, tak pernah menyangka bahwa dia sudah mempunyai rencana untukku.

“Jadi, bagaimana, Ryu?” tanyanya sambil membuka kedua tangannya.

“Saya sudah memberikan surat pengunduran diri Pak. Saya tak mungkin menariknya kembali”

Kulihat Pak Andra sedikit kaget dengan ucapanku.

“Lagian, saya sudah menerima tawaran pekerjaan dari mantan bos saya di kantor lama dulu Pak” sambungku sambil nyengir.

Pak Andra menghela nafas, sambil tangannya membubuhkan tanda tangan di surat pengunduran diriku.

“Okelah. Kontak saya kalau kamu membutuhkan pekerjaan, mungkin saya bisa bantu”

Sungguh, saat itu, aku benar-benar mengucapkan terima kasih dari hatiku.

“Kantornya jauh banget ya, Sayang?” suamiku memecah kesunyian di dalam mobil siang itu. Kami baru saja meninggalkan sebuah ruko -lokasi kantorku yang baru. Sepanjang perjalanan aku memang terdiam. Memikirkan lokasi yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami.

Aku menatap wajah suami ku tercinta. Menerka apa yang ada di benaknya.

Dia tertawa kecil, seolah tau yang aku pikirkan.

“Ga pa pa, Sayang. Yang penting kamu nyaman bekerja di sana nantinya. Kan kamu sudah hapal sama gaya kerja Pak Bonny. Berapa tahun kamu kerja bareng Pak Bonny?” liriknya dengan senyum di wajah.

Aku tak menjawab. Hanya menatap ke depan, melihat barisan mobil sepanjang jalan tol yang kami lewati. Tiba-tiba saja aku merasa bimbang. Menanyakan kebenaran keputusan yang kuambil. Aku tak seyakin sebelum nya.

Ram -Suamiku, menggenggam tanganku. Seolah tau apa yang kupikirkan. Dia memang selalu memberikan dukungan penuh kepadaku. Pun, saat kukatakan bahwa aku ingin keluar dari kantor dan mencari pekerjaan lain. Bahkan saat kukatakan bahwa Pak Bonny mengajakku bergabung di perusahaan tempatnya bekerja. Dia mendukungku. Dia sangat tau bahwa aku tak mungkin hanya diam di rumah. Meski kulihat khawatir di matanya, namun dia menguatkan ku.

Teringat aku setahun lalu, kala aku bekerja sebagai konsultan HSE. Kantor virtual kami berada di lantai 7 di sebuah gedung tinggi di kawasan Mega Kuningan. Tepat berada di depan Oakwood. Sebagai konsultan, kami wajib untuk mendatangi klien kami dimanapun kantornya berada. Bahkan kami wajib mendampingi klien saat surveyor akan melakukan survey. Kami harus selalu mendampingi klien, sampai sertifikat keluar. Kebetulan sekali klien yang kutangani berkantor di Mega Kuningan juga. Beberapa kali aku ‘selamat’ dari kewajiban untuk mendampingi klien yang akan di survey, karena kebetulan saat itu kapalnya naik dock di daerah Bitung -Sulawesi Utara.

Saat pekerjaan dengan klien ini selesai, aku mendapat tugas untuk membuat company manual sebagai salah satu syarat bagi perusahaan pelayaran untuk mendapatkan ISPS Certificate (The International Ship and Port Facility Security) sebagai aturan yang menyeluruh mengenai langkah-langkah untuk meningkatkan keamanan terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan, sebagai tanggapan terhadap ancaman yang dirasakan dapat terjadi terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan. ISPS Code merupakan bagian dari SOLAS (Safety of Life at Sea) sehingga kepatuhan adalah wajib bagi 148 negara-negara/pihak yang mengakui perjanjian SOLAS. Untuk klien kami yang lokasi kantornya di daerah Kelapa Gading.

Aku si anak rumahan yang tak pernah tau jalan, harus berpetualang ke Jakarta Utara, karena itu adalah kewajibanku sebagai karyawan. Alhasil, selama 2 hari aku selalu tersesat saat pulang. Dan suamiku yang selalu siaga menjemputku dimanapun aku tersesat. Hanya seminggu aku bertahan menangani klien Kelapa Gading ku. Aku memilih untuk menyerah.

5 January 2015

“Nama saya Chrisanda Ryanti, biasa dipanggil Ryu, saya Admin Marine under Pak Bonny.” Perkenalan ku pagi ini. Hari ini awal aku masuk di kantor baru. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ship management, at least di situ lah aku ditempatkan, karenanya nyatanya perusahaan tersebut memiliki berbagai macam bidang usaha.

Rasanya aku ingin segera meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan sesaknya orang-orang yang berdiri menatap ke arahku. Seolah aku adalah beruang yang akan melakukan pertunjukan. Selesai aku memperkenalkan diri. Aku terdiam dan menunduk. Menghindari tatapan berpasang mata. Perasaan tak nyaman menyerbuku. Untungnya saat itu ada 2 orang lagi yang harus memperkenalkan dirinya sebagai newcomer di grup perusahaan tersebut.

Menjelang siang, aku digiring oleh HRD untuk berkenalan secara one-by-one ke seluruh departemen. Tak satupun nama yang kuingat setelah aku meninggalkan partisi mereka. Meskipun saat berkenalan aku berusaha keras untuk mengingat nama mereka. Bahkan saat aku ditempatkan di departemen tempatku, aku tetap tak bisa mengingat nama mereka. Hanya nama Pak Bonny dan Amira yang kuingat, -karena mereka memang sudah kukenal lama.

Sedikit bingung melihat tempat kerja ini. Karena tak tampak ada meja kosong untuk ku dan HSE Admin yang baru -Emily.

“Di sini aja” seorang ibu -aku lupa namanya kemudian berkata sambil berdiri, “Gas, sini bantu pindahin meja aja nih. Biar Ryu bisa duduk di sini, ntar aku duduk di belakang aja, di tempatnya capt. Jess.” Seorang laki-laki kemudian bangkit dan membantu si ibu menarik-narik meja.

‘It’s gonna be a hard work’ itu yang ada di pikiranku saat itu. Kusapukan pandanganku di sekeliling tempatku duduk, melihat tumpukan kardus di bawah meja, yang tampaknya sudah berabad berada di sana, aku terkulai di kursiku.

Panggilan Amira mengejutkanku. Rupanya Senin adalah jadwal meeting departemen, selain Briefing di jam 9 tadi.

Kuperhatikan satu-satu wajah-wajah baru yang akan menjadi rekan kerjaku, di ruang Pak Bonny yang disulap menjadi tempat meeting. Selanjutnya aku lebih banyak diam. Pak Bonny membuka meeting dengan memuji salah satu karyawannya yang telah mengerjakan pekerjaan yang dimintanya dengan baik. Aku melihat sekilas seorang laki-laki yang barusan dipuji Pak Bonny, siapa tadi namanya, ah iya, Gagas -kuingat-ingat namanya Admin Marine juga, tapi lebih ke crewing -noted. Dan meetingpun berlanjut.

Seperti ratusan hari lainnya, aku berusaha untuk beradaptasi di kantor baru. Mencoba mengenal kebiasaan dan budaya kerja di kantor baru. Serta berusaha untuk lebih tau dengan orang-orang nya. Meski boleh dibilang, aku tidak terlalu antusias untuk ‘bergaul’. Aku tak pernah keberatan pulang sendiri ketimbang beramai-ramai ‘numpang’ tebengan. Mungkin jika ada orang yang memperhatikanku, akan menganggap aku penyendiri. Meskipun aku sebenarnya adalah tipikal orang yang ‘ramai’.

Butuh waktu beberapa hari bagiku untuk mengenal orang-orang di sekitarku. setelah beberapa hari aku mulai bisa berbincang. Mas Gagas, laki-laki yang duduk tepat di sebelah kiriku adalah orang yang paling sering kumintai tolong selain Amira.

-GAGAS-

The Beginning

Eh, sebentar lagi ada admin baru yang akan join lho” Amira, rekanku yang juga menjabat sebagai Admin Marine membuka obrolan pagi ini.

Seperti biasa kami sering berbincang mengenai apa saja sebelum mulai serius bekerja, sebagai teman sarapan, minum kopi atau sekedar ngemil gorengan.

Heh, serius? Ada tambahan admin lagi yak? Waah asik asik” sambungku dengan nada excited.

Amira hanya mengangguk sambil tersenyum, “dia dulu anak kesayangan Pak Bonny di perusahaan lama lho, Mas.”

Aku terbelalak tak percaya, seorang Pak Bonny bisa punya anak kesayangan? Aku langsung membayangkan sosok wanita berkacamata, mengenakan stelan blazer rapi, high-heel mengkilat, selalu membawa organizer dengan rambut tergelung rapi berdiri bertolak pinggang dalam pikiranku. Aku menggelengkan kepala mengenyahkan bayangan wanita itu dari kepalaku sambil tersenyum geli.

5 January 2016

Akhirnya tiba saatnya morning briefing. Rutinitas mingguan di kantorku yang bertujuan untuk sharing antar departemen mengenai segala hal berkaitan dengan isu seputar karyawan, project, dan hal-hal lain. Termasuk sebagai media untuk memperkenalkan staff baru. Dan saat team HR memperkenalkan staff baru yang sempat kita perbincangkan beberapa hari lalu, reaksi pertamaku adalah “buset, ni orang apa gantungan kunci?!”. Sangat berbeda dengan bayanganku soal wanita perfect dalam setelan blazer-nya. Hanya satu yang tepat dari bayanganku tentang si anak baru itu, kacamata yang bertengger di hidungnya!

“Nama saya Chrisanda Ryanti, biasa dipanggil Ryu, saya Admin Marine under Pak Bonny.”

Aku masih menunggunya bicara saat diminta untuk memperkenalkan diri oleh HR, namun hanya itu kata-kata perkenalannya.

Selesai morning briefing, aku kembali ke mejaku. Menyiapkan beberapa pekerjaan yang pasti akan ditanyakan progressnya oleh Pak Bonny saat meeting departemen nanti.

Tak lama, kudengar suara dari Mba Dini -HR ku sedang menjelaskan sesuatu. Sepertinya dia sedang mengantarkan anak-anak baru yang memang ditempatkan di departemenku. Benar saja, saat aku mengangkat wajah, kulihat mba Dini, si gantungan kunci, HSE admin dan 1 orang laki-laki yang sepertinya ditempatkan di purchasing.

Gagas” desisku saat mba Dini memperkenalkan anak-anak baru itu. Kulihat si gantungan kunci sepertinya berusaha untuk mengingat setiap nama yang dikenalkan kepadanya. Namun sepertinya itu bukan hal mudah baginya, karena beberapa kali kulihat dia mengerjapkan matanya. Aku geli membayangkannya. Kemudian mereka menghilang ke lantai atas. Aku kembali meneruskan pekerjaanku.

Amira, ini ku tinggal ya” ku dengar Mba Dini berkata pada Amira, di depan tangga. Si gantungan kunci dan Emily -HSE Admin yang baru terlihat bingung untuk posisi duduknya.

“Ra, gw duduk di mana nih?” bisik si gantungan kunci ke Amira. Ah iya, mereka memang saling kenal di perusahaan lamanya dulu.

“Bentar ya Ryu, gw tanya babe dulu” dan Amira langsung melesat ke ruangan Pak Bonny.

Kuperhatikan si gantungan kunci ini dari sudut mataku. Aku tersenyum kecut membandingkannya dengan khayalanku beberapa waktu lalu. Si gantungan kunci ini hanya mengenakan stelan kemeja dan celana jeans, kakinya terbungkus flatshoes. Tak ada blazer, apa lagi high-heel. Dipunggungnya tergendong backpack. Mungkin organizer tersimpan rapi di dalam backpack-nya pikirku. Kecewa, ternyata khayalanku tak sesuai dengan kenyataan.

“Gas, sini bantu pindahin meja aja nih. Biar Ryu bisa duduk di sini, ntar aku duduk di belakang aja, di tempatnya capt. Jess” colekan Mba Vonny membuyarkan lamunanku. Sedetik kemungkinan aku sibuk membantu Mba Vonny menyiapkan meja untuk si Gantungan Kunci.

Ryu -si gantungan kunci, duduk tepat dihadapanku, dengan posisi menyamping. Dari ujung mataku yang memang menghadap langsung ke arahnya aku lihat Amira memberikan Company Manual, standar untuk setiap newcomer di hari pertama bekerja. Selanjutnya, kulihat si gantungan kunci ini sibuk membaca Company Manual.

Di hari pertama dia masuk bertepatan dengan jadwal departemen meeting, Pak Bonny membuka meeting dengan menyebutkan progress pekerjaanku. Sekilas ku lihat si gantungan kunci melihat ke arahku, karena saat itu Pak Bonny menyebutkan namaku. Selanjutnya si gantungan kunci terlihat lebih banyak menunduk sibuk dengan buku catatannya. Sesekali menengok ke arah orang yang namanya disebut oleh Pak Bonny.

Meski duduk berhadapan, namun aku jarang sekali berbicara dengan si gantungan kunci ini. Sepertinya dia masih berusaha untuk beradaptasi dengan suasana kantor barunya, sehingga tak banyak bicara. Beberapa kali si gantungan kunci bertanya padaku mengenai laptopnya dan meminta contact list dari orang-orang di site yang berhubungan dengan pekerjaannya. Selebihnya kami tak banyak bicara.

Posisi Ryu -si gantungan kunci yang berada tepat di depanku membuatku sering melihat gerak gerik nya. Beberapa kali kulihat dia tertawa terkikik sendiri, aku sampai menajamkan penglihatanku kemudian melihat sekelilingnya dan terakhir melongok, mengintip layar laptopnya. Tak ada yang lucu dari layar laptop yang ditatapnya, sampai aku melihat kabel putih kecil yang menjulur sampai ke telinganya. Haaahhh….kupikir dia bisa berinteraksi dengan makhluk astral, aku bergidik membayangkan kemungkinan itu.

-RYU-

Arrrghhh….kenapa siy laptop ini lemot banget. Aku sibuk menggerak-gerakkan mouse ku. Berharap bisa mempercepat startup si laptop. Harapan yang sia-sia.

“Laptopnya lama ya?” Mas Gagas tiba-tiba saja bertanya mengejutkanku. Mungkin dia khawatir aku bisa kalap dan melempar laptop kantor itu ke tembok di depanku, karena melihat aku menggerak-gerakkan mouse dengan kasar.

Aku hanya menengok ke arahnya dan menggangguk.

“Iya, itu karena pake windows 8. Berat. Ganti aja pake win seven!” anjurnya.

“Memangnya boleh?” tanyaku dengan wajah tak percaya.

“Ini, aku pake win seven. Laptopnya kan sama” jawabnya angkuh. Tak pelak aku melirik pada laptopnya.

Aku hanya tersenyum, berharap dia mau membantuku. Namun dia kembali sibuk dengan pekerjaannya, setelah sebelumnya melirik sinis wajahku. Aku hanya menghela nafas. Kembali mengelus laptopku.

Pekerjaan di kantor baruku hampir sama dengan yang biasa ku kerjakan saat bersama Pak Bonny di Winsmart -kantor lamaku dulu. Beberapa hari ini, aku mulai merapikan sertifikat kapal yang bertumpuk di dalam folder-folder. Membuat list dari masing-masing kapal, validasi sertifikatnya serta ketersediaan sertifikat tersebut di setiap kapal. Pekerjaan yang mudah, tapi sangat ‘njelimet’. Aku ingin memastikan bahwa orang yang mencari sertifikat kapal tertentu bisa langsung melihat ketersediaannya, serta tanggal kadaluwarsanya. Orang tidak harus ke ruangan Pak Bonny untuk mengacak-acak folder sertifikat yang seabrek-abrek. Cukup melihat di laptopku. Idealnya orang lain bisa mengakses file tersebut di share doc.

Langkah selanjutnya aku harus membuat reminder untuk sertifikat yang akan habis masa berlakunya, dan menginformasikan ke pihak terkait untuk perpanjangan. Melihat matrix terdahulu, membuat kepalaku berdenyut. Deretan tulisan dan angka yang diberi warna-warna mencolok sebagai penanda justru sama sekali tidak membantuku. Ku pikir, jika aku bingung membaca matrix ini, bagaimana dengan orang lain? Aku hanya tinggal memikirkan cara membuat formula agar matrix ini lebih enak di baca.

“Sabtu besok masuk ga Ryu?” tiba-tiba saja Mas Gagas sudah ada di sampingku mengejutkanku dengan pertanyaannya. Oh..tidak, dia memang duduk disana. Aku saja yang terlalu asik menatap layar laptop.

“Kalau Sabtu besok ga masuk, laptopnya ditinggal saja, nanti ku install-in win seven di kos an ya, taro aja di lemari depan situ.” Lanjutnya kemudian sibuk menatap layar laptopnya. Aku hanya melongo, sambil mengangguk.

Wah orang ini kayaknya kesambet deh pikirku. Beberapa hari yang lalu saat dia menyarankan untuk mengganti win 8 ku dengan win 7 seperti laptopnya, aku hanya tersenyum penuh harap. Berharap dia akan menawariku untuk membantu. Tapi wajahnya seolah tau, dan dia cuma melirik sinis. Yang membuatku hanya bisa menghela nafas, tak tau lagi harus minta tolong siapa. Mas Andri yang disebelahnya terlalu sibuk dengan tab nya, tak mungkin dia mau membantuku install win 7. Aku hanya pasrah saat itu.

Sekali lagi aku menengok ke arah Mas Gagas, memastikan bahwa tawarannya tidak akan ditariknya kembali. Dia masih sibuk dengan layar laptopnya. Dan aku menghembuskan nafas lega.

Aku masih asik ngobrol dengan Emily sambil menunggu angkot saat pulang, ketika tiba-tiba saja sebuah motor -beserta pengendaranya tentu saja, nyelonong dan hampir saja ban depannya mencium lututku. Aku mendelik kaget. Si pengendara yang ternyata Mas Gagas, senyum-senyum ke arah kami.

“Ada yang mo nebeng ga?” tanyanya masih dengan senyum jahil di wajahnya. Tak urung aku juga jadi ikut tersenyum, melihat kelakukannya.

“Kita kan berdua Mas?” tanyaku. Dan aku langsung menoleh ke arah Emily. “Kamu mau bareng Mas Gagas Mil?” lanjutku ke Emily. Dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Bener nih ga ada yang mau nebeng? Kan Emily bisa di belakang, dan kamu Ryu bisa di depan nih?” tawarnya lagi. Dan saat itu, sungguh rasanya aku ingin melayangkan tinjuku ke wajah cengengesan itu. Ku tendang ban depan motornya.

“Dah sana pulang!” usirku. Mas Gagas pun melajukan motornya meninggalkan aku dan Emily. Hanya satu yang ada di benak ku dia adalah orang yang iseng.

Pagi ini aku terbangun dengan sakit di sekujur tubuh. Kepala ku serasa berputar. Ku coba untuk duduk di sisi tempat tidurku. Namun tubuhku limbung dan hampir terjatuh, jika saja tangan suamiku tak cepat meraih tubuhku.

“Badanmu panas sekali?” serunya saat menangkap lenganku. Aku memang merasa panas di kedua mata dan hidungku. Aku hanya terkulai lemah, menerima segelas air dari nya, meneguk beberapa kali, kemudian merebahkan tubuh kembali.

“Hari ini istirahat saja dulu ya? Whatsapp Pak Bonny, bilang kalau hari ini kamu absen, demam” perintah suamiku, sambil kembali menyelimuti tubuhku yang meringkuk. Aku hanya menggangguk lemah. “Sudah! Kamu ga usah turun, ga usah buat sarapan, istirahat saja” lanjutnya sambil melangkah ke kamar mandi.

Ini bulan keduaku di kantor baru. Dan ini adalah sakitku yang kedua dalam 2 bulan ini. Perutku terasa penuh seolah berpuluh kupu kupu memenuhinya. Aku tak bisa beranjak dari kasur. Setiap mencoba untuk berdiri, kepala ku berdenyut hebat. Bahkan untuk menginformasikan Pak Bonny bahwa hari ini aku terpaksa harus absen pun memerlukan effort yang luar biasa. Layar hp serasa berpendar, tak fokus. Selesai mengetik pesan di aplikasi whatsaap, aku kembali merebahkan diri. Bergelung dalam selimut tebal memeluk guling. Kepalaku masih berdenyut. Ku coba untuk tidur.

‘Lu mo balik lagi ke Ingen ga Ryu?’ sebuah pesan masuk di kotak whatsapp ku. Aku tersenyum membaca pesan tersebut. Segera ku ketikkan balasanku.

‘Serius ya? Sip!’ balasnya. Aku hanya tertawa kecil. Meletakkan smartphone ku dan melanjutkan pekerjaanku.

Posisi dudukku memang tepat berada di depan pendingin ruangan. Seringkali semburan anginnya terasa menghambur di wajahku. Berkali aku memasangnya sedemikian rupa agar anginnya tidak langsung mengenai wajahku. Hari ini, saat menjelang siang, perutku seperti bergejolak. Padahal aku merasa baik-baik saja saat berangkat pagi tadi. 2x sudah aku ke toilet, karena mualnya perutku tak tertahankan. 2x sudah aku mengeluarkan isi perutku yang tak seberapa isinya. Badanku sudah menggigil dan lemas.

“Ryu, kamu sakit ya?” tanya Amira saat melihatku memegangi perutku yang terasa kram. “Ih, muka mu pucat banget. Izin aja sama Pak Bonny. Mendingan pulang deh” lanjutnya.

Aku menatap wajah Amira, “Aku ga enak izin terus Ra. kan baru minggu lalu aku ga masuk karena sakit?”

“Lha, dari pada pingsan di kantor?”

Aku terdiam. Amira ada benarnya. Kepalaku berdenyut, badanku lemah. Aku bahkan tak yakin bisa pulang sendiri saat ini. Kulihat sekelilingku. Untungnya tak ada yang memperhatikanku. Segera aku mengetikkan pesan di smartphoneku, dan beranjak ke ruangan Pak Bonny.

“Mas Gagas punya copy kontrak ga?” tanyaku siang ini, saat ku lihat Mas Gagas sibuk dengan smartphone nya. Dia mengangkat kepala dan memandangku dengan serius.

“Ada”

“Aku boleh pinjam? Soalnya aku ga punya, belum dikasih sama HRD. Ga ada yang confidential kan ya? Di kontrak itu ga ter-state nominal gaji kan?” tanyaku.

“Ga tau, kayaknya ga ada. Besok ku bawain ya” jawab nya.

Aku tersenyum membalas ucapannya. Senang rasanya berbicara dengan orang yang tepat. Dia tidak bertanya apa-apa. Sehingga aku tak perlu sibuk menjelaskan.

2 hari yang lalu, aku mendapat telepon dari Pak Nursewan. Yang ternyata adalah HR Manager baru di Ingen, mengantikan Bu Yayuk. Dia memintaku untuk balik ke Ingen, Pak Andra merekomendasikan aku kepadanya. Aku tersenyum lebar mengetahui fakta itu. Dan semalam saat aku mendiskusikan hal ini ke suamiku, dia mendukung aku untuk menerima re-call tersebut. Aku hanya perlu memastikan klausal mengenai pembayaran gaji dan / atau sanksi yang ada jika aku memutuskan kontrak secara sepihak. Karena aku masih terikat kontrak sampai paling tidak 3 bulan ke depan di kantor baru ini.

“Nih Ryu copy kontrakku” Pagi ini mas Gagas memberiku beberapa lembar kertas. “Kamu belum punya copy kontrak ya?” lanjutnya, saat melihatku hanya tersenyum sambil menerima kertas kontrak tersebut dan langsung sibuk membacanya. Aku hanya melihat ke arahnya sambil menggeleng, kemudian lanjut membaca kontrak tersebut. Kuputuskan untuk menyalin 1 copy kontrak tersebut untuk ku baca di rumah setelah mendapatkan persetujuan dari Mas Gagas.

“Ra, rasanya aku mo resign nih. Ga kuat juga ternyata harus ngangkot selama 2 jam di jalan” curhatku pada Amira, saat kita makan siang bersama.

“Ih Ryu, kamu mau kemana?” Emily langsung bertanya mendengar curhatku siang ini.

“Ga kemana-mana Mil. Cuma aku belakangan ini sering sakit. Ini baru masuk bulan ketiga di sini aku udah 3x ke dokter karena sakit. Mending medical bisa di claim?” selorohku.

“Iya Ryu, aku juga kalo memungkinkan mau resign nih. Tapi nunggu kepastian suami dulu. Soalnya masih punya cicilan rumah” Amira menimpali.

“Kantor kita ini di ujung dunia sih” candaku.

“Udah ngomong sama Pak Bonny?” tanya Amira, yang membuatku menghentikan tawa. Iya, itu salah satu masalah juga. Aku belum bilang mengenai keputusan ku ini ke Pak Bonny. Rasanya tak enak, aku harus putus tengah jalan seperti ini. Mundur, menyerah.

Aku hanya menggeleng lemah.

“Sebaiknya kamu ngomong dulu ke Pak Bonny. Biasanya kan Pak Bonny ada masukan tuh” lanjut Amira.

“Iya, rencananya aku mau bicara sama Pak Bonny setelah 1 tugas yang dia kasih ini kelar kok Ra. Mungkin besok” niatku.

Beberapa hari yang lalu, Pak Nursewan sudah mengirimkan Offering Letter untukku. Dan dia memintaku untuk bergabung kembali dengan Ingen secepatnya. Rencanaku adalah menyelesaikan tugas dari Pak Bonny secepatnya dan segera mengajukan pengunduran diri. Egois memang, memutuskan pekerjaan di kantor ini untuk langsung kembali bekerja di kantor sebelumnya. Tapi memang keputusanku keluar dari Ingen hanya karena HR Manager -Bu Yayuk tak suka denganku. Selebihnya aku tak berbohong, kantor baru ini terlalu jauh dari kediaman kami. Aku harus menghabiskan hampir 2 jam menempuh perjalanan dari kantor ke rumah. Sesampainya di rumah pun, tenaga ku sudah terkuras habis. Tak ada lagi keinginan untuk melakukan kegiatan lain, kecuali merebahkan tubuh di kasur empuk. Padahal sebagai seorang ibu, aku masih harus membagi waktu untuk bermain dengan si kecil. Mengajarinya membaca, mewarnai buku bergambar, membacakan cerita atau sekedar menonton film animasi bersama. Selama 3 bulan ini, hampir tak ada waktu bagi si kecil. Aku harus berangkat teramat pagi, sebelum dia membuka mata. Dan tiba kembali di rumah, jam 7 malam, saat dia mengajak bermain, tubuh lelahku sudah tak mampu mengikuti. Seringnya aku jatuh tertidur saat sedang bersama mewarnai buku bergambar.

“Mas Gagas, bisa bantuin aku bikin matrix sertifikat ga? Seperti crew matrix yang Mas Gagas bikin tuh” pintaku sore ini. Dengan sigap Mas Gagas mendekati mejaku. Sambil melihat layar laptopku dia bertanya, “Kamu maunya gimana? Apa aja yang mau ditampilkan di data mu?”

“Aku udah lihat Crew Matrix nya Mas Bagas, tapi formulanya complicated banget. Aku ga ngerti bikinnya Mas” kataku jujur. Aku memang tidak canggih menggunakan program excel.

“Ya udah, kamu maunya apa aja yang ditampilkan?” tanyanya sabar.

“Emmm….jadi aku mau yang nongol itu sertifikat yang masa expirednya maksimal 3 bulan mas. Untuk yang tinggal 1 bulan expired-nya diwarnain merah” jelasku.

“Ryu, kayaknya kalau aku kerjain di kantor ga bisa deh. Soalnya aku juga masih ada kerjaan. Aku bawa aja ya, nanti aku kerjain di kos-an. Kamu kirim aja filenya ya”

“Makasih banyak ya Mas” senyumku lebar. Mas Gagas tidak membalas, hanya tersenyum sambil kembali ke mejanya.

Diantara teman-teman di departemen ini, menurutku Mas Gagas yang paling ringan tangan membantu. Sering sekali aku melihat dan mendengar sendiri, Mas Gagas meninggalkan pekerjaannya sejenak, hanya untuk memeriksa laptop salah seorang teman yang tidak terkoneksi internet. Atau masalah lain yang lebih kompleks. Jika memang bantuannya yang diberikannya tidak bisa dikerjakan saat itu, dia pasti akan tetap membantu dengan mengatakan akan dicek setelah pekerjaan dia selesai. Baik hati, simpul ku dalam hati.

-GAGAS-

Pertanyaan Ryu tadi pagi sedikit aneh buatku. Dia meminjam copy kontrakku. Menanyakan klausal tentang sanksi jika memutuskan kontrak sepihak. Apakah dia bermaksud untuk mengundurkan diri? Aahh…padahal aku baru saja menemukan keasikan baru sejak si gantungan kunci itu datang Januari lalu.

Ya, sejak kedatangan si gantungan kunci dan duduk di depanku, aku punya kesibukan lain selain mengerjakan pekerjaan harianku. Hal itu mengurangi kejenuhan ku di tempat kerja.

Banyak hal yang bisa kuamati darinya. Begitu datang ke kantor, hampir gak pernah absen untuk memulai harinya dengan secangkir “good day coffee”, beberapa cemilan ‘toko swalayan’, dan sebungkus permen mint. Dia selalu membuka sejenak situs berita elektronik, kemudian memulai pekerjaan dengan headset terpasang di telinga, mendengarkan acara radio favorit-nya di pagi hari. Mungkin itu adalah caranya untuk “boost her mood” di pagi hari.

Ketika hari mulai merayap menuju siang, dan dia mulai serius dengan pekerjaan-nya, ada satu hal yang selalu membuatku tersenyum. Seringkali aku melihatnya berbicara sendiri, seolah berinteraksi dengan pekerjaan-nya, kadang berekspresi puas ketika dia berhasil mencari file yang terselip, atau berdecak jengkel ketika ada sesuatu yang gak beres dengan kerjaannya. Dan hal itu sangat menghiburku, menghilangkan sejenak kejenuhan ku dalam mengerjakan rutinitas kerja.

Beberapa kali, kami berbincang tentang hal-hal di luar pekerjaan. Menyenangkan berbicara dengannya. Dia bisa melotot marah, saat aku tiba-tiba terkikik melihatnya jatuh tertidur di depan laptopnya. Atau kali lain, ngotot dengan argumennya mengenai buah longan. Menurutnya longan itu semacam leci. Saat ku katakan bahwa longan itu adalah kelengkeng dia kukuh dengan pendiriannya. Karena katanya dia ga doyan dengan kelengkeng, tapi cinta mati sama longan. Aku tak bisa menahan tawa melihat pipinya memerah saat ku tunjukan gambar-gambar kelengkeng a.k.a longan yang kudapat dari mesin pencari google. Dan sambil membuang muka dia tetap berpendapat bahwa longan itu adalah leci! Stubborn!!

Entah kenapa, kadang aku bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh si Gantungan Kunci itu. Seperti kejadian tadi siang. Emily menanyakan tentang keberangkatanku ke Jogja. Sebagai perantau, aku memang hanya bisa cuti 3–4 bulan sekali. Karena memang jatah cuti yang hanya 12 hari per tahun. Atau jika nekat melebihi jatah cuti, potong gaji adalah konsekuensinya. Bulan ini aku memang berencana untuk cuti, memenuhi rinduku akan rumah dan keluarga.

“Mas Gagas ke Jogja naik kereta ya?” tanya Emily, sambil menyantap makan siangnya.

“Iya Mil” jawabku sambil menyeduh kopi di depan dispenser.

“Dari stasiun mana Mas?” tanya Emily lagi.

“Senen”

“Kapan berangkatnya, Mas?”

“Rabu” jawabku sambil memperhatikan kedua anak itu yang sedang sibuk dengan makan siangnya.

“Katanya Senen?” lanjutku sambil mataku tak lepas dari wajah Ryu.

Si Gantungan kunci itu menoleh ke arahku, sambil tersenyum bertanya “Kok Mas Gagas tau sih aku mau tanya gitu?”

“Tau lah, mukamu iseng!” jawabku ketus. Kulihat Ryu tertawa.

Meskipun begitu, aku tak pernah bosan mendengarkannya bercerita. Gantungan kunci ini tak sependiam keliatannya. Dia sangat cerewet. Apa saja bisa jadi bahan obrolan buat nya. Itu juga yang membuatku sedikit menyayangkan keputusannya untuk resign. Emmm….itu baru tebakanku saja sih. Karena siang tadi kulihat dia, Amira dan Emily ngobrol-ngobrol. Tak sengaja telingaku mendengar Amira yang menyuruh Ryu untuk berkonsultasi ke Pak Bonny. Kutebak, dia ingin mengajukan pengunduran diri ke Pak Bonny.

Aaahh….aku kecewa, padahal aku baru menemukan keasikan, sebagai selingan pekerjaan. Melihat si Gantungan Kunci ini membuat jiwa isengku sedikit mempunyai pelampisan. Aku senang melihat cemberut mukanya jika kita sedang berargumentasi. Seringnya dia yang kalah dan diakhiri dengan muka cemberut serta balik badan. Puas rasanya bisa menggodanya. Tanpa dia, siapa lagi yang bisa ku isengin?

-RYU-

Sore itu aku mengajukan pengunduran diriku ke Pak Bonny. Beliau nampaknya maklum dengan keputusanku. Alasanku klise, aku terlalu sering sakit sejak bekerja di kantor ini, faktor jarak kujadikan alasan yang menyebabkan badanku sering merasa capek. Pak Bonny sama sekali tidak menahanku. Beliau tau seperti apa aku. 5 tahun menjadi staffnya, dia sangat hapal bahwa aku tidak akan mengada-ada tidak masuk dengan alasan sakit. Pun, jika aku harus melakukan business trip ke tempat yang belum pernah ku kunjungi aku pasti meminta izin nya untuk extend beberapa hari untuk sekedar ‘jalan-jalan’. Beliau tau aku tak akan berbohong. Beliau hanya terlihat kecewa, kerena tim nya tak pernah lengkap. Beliau hanya mencoba memberikanku solusi supaya tidak terlalu capek. Tapi beliau mengerti, sangat mengerti dengan keputusanku.

Sore itu, adalah sore terakhirku di kantor ini. Aku tak berpamitan, toh sebagian besar orang di kantor ini belum ku kenal. Hanya Amira dan Emily yang tau hari itu aku terakhir bekerja di sana. Meskipun begitu, aku masih hutang pekerjaan sama Pak Bonny. Bisa kukerjakan di rumah dan ku kirim via email, Pak Bonny setuju.

Seminggu kemudian, aku resmi masuk lagi ke Ingen. Pak Nursewan menerima ku dengan sangat baik. Saat bertemu Pak Andra, beliau hanya tersenyum dan memberi ucapan “welcome back” Aku seperti merasa pulang.

Hubungan ku dengan teman-teman di pelayaran ini masih berjalan, kami punya grup whatsapp, yang isinya sering error. Bukan…bukan sistem nya yang error, tapi orang-orang di grup tersebut yang error. Kami masih sering saling cela, saling bully dan saling berbagi informasi. Lebih banyak informasi yang tidak penting.

Aku masih sering memberi komentar pada DP bbm Mas Gagas yang romantis -yang sering menumpahkan kerinduannya akan keluarga via DP bbm. Aku sering menggodanya saat dia memasang DP bbm. Komenku hanya dibalas dengan celoteh judes darinya. Yang sering membuatku tertawa.

Kadang kami masih suka berbagi cerita via bbm. Tentang teman, tentang anak, bahkan tentang coklat. Mas Gagas yang kurus itu ternyata doyan makan. Terutama makanan gratis.

Dan siang tadi selepas makan siang, aku mampir ke swalayan. Kulihat coklat vodka, dan aku teringat Mas Gagas. Tanpa berpikir, kubeli 1, buat dia. Kubungkus dengan amplop coklat dan kukirim via expedisi. Sekotak coklat yang tak seberapa.

‘Ryu, ketemuan yuk. Bulan lalu kan ga jadi bukber’ bbm mas Gagas pagi tadi. ku ketik dengan cepat balasannya, ‘Hayuk…siapa aja Mas? ajak Emily dong. Aku kangen nih’

‘Ok, nanti aku infoin anak-anak ya. Yang udah ok, aku, Andri sama Alma ya’

Aku tersenyum membaca BBM Mas Gagas. Aku menyukai idenya untuk ketemuan. Bertemu dengan teman-teman yang sudah lama tak kujumpai merupakan salah satu kesukaanku.

Dan Jumat ini, kami pun merealisasikan rencana untuk ketemuan. Nongkrong di salah satu mall di daerah Jakarta Barat, ngobrol ngalor ngidul menjadi agendanya. Sampai tiba waktunya untuk berpisah. Sedikit kecewa karena ternyata, tidak semua teman-teman bisa hadir saat itu. Tapi cukuplah malam ini menuntaskan rindu pada teman-teman lama.

“Ryu, ada paket buat kamu nih”, resepsionisku memberikan aku sebuah kotak coklat yang ditujukan untuk ku. Aku mengerutkan kening menerimanya, merasa tidak menunggu paket apapun. Ku baca pengirimnya, sontak aku tersenyum melihat si pengirim. Ku buka paket tersebut, dan langsung terbahak melihat sebotol Jack Daniels yang dikirim oleh Mas Gagas.

Ku ketik bbm ke Mas Gagas, ‘Makasih ya, JD nya sudah sampai. Actually, you don’t have to send me this. This is too much for a box of chocolate.’ Dan ku terima emoticon smiley sebagai balasan pesanku.

Sejak saat itu, Mas Gagas dan aku jadi lebih sering berkomunikasi. Lebih sering bertemu. Bahkan saat dia berada di ujung timur Indonesia, dia tetap menemaniku chat. Meski waktu kita berbeda 2 jam. Obrolan kita pun masih tak jauh dari saling mencela. Dia yang lebih banyak mem-bully aku. Meski kadang jengkel luar biasa, tapi aku tak bisa marah dengan sungguhan kepadanya. Mas Gagas menjadi sahabat terbaikku. Dia mau mendengarkan keluh ku. Mau berbagi ilmu. Dan selalu memberikan pesan positif, jika aku mulai merasa ragu dengan diriku.

Because heart can see what the eyes cannot see and a mind cannot understand — Falling (Rina Suryakusuma)

-Gagas-

Pagi ini aku datang ke kantor lebih awal. Melalui jalur yang tak biasa, teryata bisa lebih cepat 15 menit. Aku memang sering merubah-rubah rute perjalanan, agar tak bosan.

Meja depanku masih kosong. Kenyataannya memang aku datang lebih cepat dari yang lain. Bukan hanya meja depanku yang masih kosong, memang ternyata banyak yang belum datang. Hanya ada Emily yang sudah duduk manis di mejanya.

Aku beranjak dari kursiku setelah menyalakan laptop. Tujuanku hanya satu, kantin. Ngopi pagi dan sebatang rokok sebagai sarapan.

Jam 9 aku kembali ke kantor. Meja di depanku masih kosong. Kuedarkan pandanganku ke seluruh lantai 2, hampir semua meja telah terisi. Hanya meja di depanku yang masih kosong. Tak nampak laptop dan cemilan serta secangkir kopi di meja itu. Sakit lagi kah si gantungan kunci itu, pikirku. Tiba-tiba saja aku merasa khawatir. Aku takut pikiranku benar, bahwa si gantungan kunci tak akan kembali ke meja di depanku ini. Aku menatap meja di depanku. Semangatku hilang.

Si gantungan kunci benar resign. Tubuh kecilnya tak mampu bertahan menghadapi lalu lintas yang selalu padat menuju kediamannya setiap sore. Dia menyerah. Aahh…korban bully ku resign. Aku mengeluh kesal.

Aku masih terhibur karena bbm si Gantungan kunci sering muncul di saat-saat yang tak terduga. Ada saja yang di komeninnya. Kebanyakan komennya menyebalkan. Tapi aku senang menerima pesan-pesannya. Aku masih bisa mem-bully nya melalui jalur bbm. Aku bisa membayangkan wajah cemberutnya saat dia mengirimkan emoticon kesal dengan pesanku.

Dan sekotak coklat yang dia kirimkan cukup membuat hariku cerah sabtu ini. Si gantungan kunci itu kadang bisa manis dengan caranya sendiri. Tiba-tiba saja pagi ini aku menerima sekotak paket. Tanpa pemberitahuan. Membuat kejutan manis untukku. Dia sukses membuatku tersenyum.

Meskipun si gantungan kunci itu sudah resign. Namun bbm yang boleh dibilang hampir tiap hari membuatku serasa dekat dengannya. Aku beberapa kali mengunjungi nya di kantor. Awalnya aku nekat ke kantornya untuk memberikan buah tangan yang kubawa dari Sorong. Berbekal alamat kantornya dan tentu saja dibantu google map, aku berhasil menemukan kantor si gantungan kunci itu. Kadang aku hanya sekedar ingin ngobrol dengannya, mencari angin di pinggiran lahan parkir di kantornya. Kadang aku hanya tak ingin dia sakit perut, karena harus mengerjakan pekerjaan sampai melebihi jam 7 malam -aku tau pasti si gantungan kunci ini akan lupa makan saat sibuk mengerjakan pekerjaannya, dan aku membawakan kebab atau burger sekedar untuk mengisi perutnya.

Melihatnya terbelalak dengan mata berbinar saat melihatku datang membawakan burger dan es krim, membuat hatiku membuncah. Membuatku merasa dibutuhkan. Meski beberapa jam kemudian, kembali kita saling cela dan hanya ribut sepanjang obrolan.

Rasanya aku tak pernah merasa keberatan untuk mendatangi kantornya, meski aku harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari kantorku. Berkali kita hanya sekedar makan bakso di kedai bakso dekat kantornya atau ngemil es krim campina di area parkir. Mendengarkan dia bercerita, melihat ekspresi wajahnya, benar-benar menghilangkan kepenatanku. Ya, aku mulai menikmati keberadaannya di hari ku. Aku menemukan Dunia Kecilku di dirinya.

Ada hati yang kujaga agar tak jatuh. Namun, saat di dekatmu, seringnya ia tak patuh — Almost is Never Enough (Sefryana Khairil)

-RYU-

“Wah…aku harus nonton ini nih.” Sontak aku memberikan smartphone ku ke Mas Gagas yang sedang sibuk dengan rokoknya disebelahku. Sore ini Mas Gagas datang ke kantorku, membawakan aku kebab berisi telur.

“Spectre?”

“Iya, 007, nol nol tujuh, zero zero seven”

“Gw juga tau, monyong!”

Aku cuma nyengir melihat mukanya yang judes.

“Yuk!” ajaknya

Aku mengangkat kepalaku dari kebab yang sedang kumakan. Kulihat wajahnya, melihat kesungguhan ajakannya.

“Serius?” tanyaku. Mas Gagas hanya mengangguk menjawabku.

“Aku maunya nonton ini di Imax lhoh”

“Terus? Ya kita nonton di Imax lah. Memangnya kenapa?”

“Imax cuma ada di 4 tempat mas, Gancit, Gading, Summarecon Serpong sama Summarecon Bekasi. Nah yang paling deket itu di Gancit” jelasku.

“Terus emang kenapa kalau di Gancit?” tanyanya memicingkan mata. Menatap tajam ke arahku dengan sikap defense yang kentara sekali.

“Kamu ga takut nyasar?” dan aku tak bisa menahan tawa. Aku terbahak melihat wajahnya.

Tapi bukan Mas Gagas namanya kalau tidak bisa membalas omonganku. “Ya kan ada kamu yang jadi navigator!”

Aku terdiam. Berlagak sibuk dengan kebabku. Berpikir keras apakah laki-laki di sampingku ini serius dengan ucapannya.

“Kamu ijin aja setengah hari. Kita nonton yang jam 2. Enaknya aku ijin setengah hari apa ijin ga masuk ya sama Pak Bonny?”

Aku menegakkan dudukku. Menatap matanya. “Ini serius ya?” tanyaku.

“Ya iyalah. Hari Rabu ya. Udah kamu ijin setengah hari aja! Yuk, aku antar kamu pulang. Udah malam” Ujarnya tanpa menunggu jawabanku.

Gandaria City XXI tidak sepenuh saat weekend. Mungkin karena hari ini hari Rabu dan masih jam kerja pula. Tiket film Spectre sudah di tangan, 15 menit lagi film akan diputar. Aku masih gamang membayangkan berada di sini bersama Mas Gagas.

“Yuk Ci, masuk” gamitnya membuyarkan lamunanku. Apa tadi dia memanggilku? Ci? Cici?

“Apaan siy? Ca Ci Ca Ci? Kayak di Mangga Dua aja?” sungutku sambil mencubit lengannya.

“Hahaha…iya…Gantungan Kunci. Kamu kan Ganciku, Gantungan Kunci-ku” jawabnya sambil mengacak rambutku sekilas. Aku mendelik marah menatap wajahnya. Dia hanya tertawa melihatku.

Huh, tak berperasaan. Nama bagus-bagus diganti seenak udelnya. Aku masih cemberut akibat ulah Mas Gagas.

Tidak ada yang spesial dengan film 007 -Spectre ini. Malah boleh dibilang tidak lebih bagus dari film 007 sebelumnya -Skyfall. Tapi cukup menghibur. Aku selalu menyukai suasana nonton film action di studio Imax. Layar lebarnya membuat aku puas melihat setiap adegan. Aku mengusap-usap tanganku yang terasa dingin. Tiba-tiba saja tangan Mas Gagas mengambil lenganku. Jemarinya menggenggam erat tangan kananku, memberikan kehangatan. Ah, laki-laki ini selalu berusaha untuk membantu orang lain bagaimanapun caranya. Otakku masih berusaha untuk menepis kemungkinan lain, dari perbuatan Mas Gagas. Dia hanya berusaha membantuku mengurangi dingin, seru otak di kepalaku. Tapi mengapa jantungku berdebar lebih cepat? Ku alihkan pikiranku dengan mencoba berkonsentrasi pada film di depanku, namun tak kutarik tanganku. Kubiarkan ia berada di genggaman tangan Mas Gagas yang hangat.

-Gagas-

Ah..bodoh benar. Apa yang aku pikirkan tadi? Menarik tangan dan menggenggam tangan si Gantungan kunci saat menonton tadi? Anak itu pasti sudah geer luar biasa sekarang. Tapi kenapa aku merasa tenang saat menggenggam tangannya? Tangan kecilnya yang dingin.

Tapi sepertinya si gantungan kunci itu tidak terpengaruh dengan perbuatanku kemarin. Whatsapp nya masih saja menjengkelkanku, menanyakan pertanyaan bodoh yang sama sekali tidak penting. Memamerkan sarapannya yang tampak enak. Dan semua itu tak urung tetap membuatku tersenyum menghadapi hari. Semoga kejadian bioskop itu tidak membuatnya berubah terhadap ku.

‘Ci, besok maen ke kos ku yuk?’ ajakku via whatsapp.

‘Ngapain ke kos mu? Emang ada makanan enak?’ balasnya.

‘Ga ada. Tapi ada film Conjuring, hasil download. Kamu kan pasti belum nonton film itu? Kamu kan penakut?’

‘Oke, aku bawain projector ya?’

Aku terkesiap membaca pesannya. Dia setuju. Si gantungan kunci setuju dengan ideku. Senyumku melebar.

Siang ini aku menjemput si gantungan kunci di kantornya. Sesuai kesepakatan kemarin, dia ijin setengah hari untuk nonton film horor di kos-an ku. Oke, ini memang ideku. Entahlah, peristiwa ‘Spectre’ beberapa waktu lalu membuatku ingin terus memegang tangan kecil itu. Merasakan dinginnya telapak tangannya, dan jemari kecilnya. Rasanya menyenangkan berada di dekatnya. Sekedar melihatnya berbicara, yang tak ada habisnya. Aku tak pernah bosan melihatnya.

“Laptop?” tanyanya. “Checked” jawabku sambil mengeluarkan laptopku.

“Projector?” tanyaku. “Checked” jawabnya sambil memberikan sekotak mini projector.

“Wow, kecil banget nih projector. Keren!” pujiku sambil menimbang-nimbang mini projector yang dibawanya.

“Ya, gw juga ogah klo disuruh bawa yang gede Mas” sungutnya. Ku tahan keinginanku untuk mengacak rambutnya karena gemas dengan jawabannya.

Sementara aku menyiapkan peralatan untuk pemutaran film ini, si gantungan kunci sibuk…hah? dia tertidur di kasurku. Astaga, tak kusangka anak itu cepat sekali tertidur. Aku cuma bisa menghela nafas. Membiarkannya ber-istirahat, mungkin dia lelah.

Ku usap perlahan lengan si gantungan kunci yang masih terlelap. Wajahnya terlihat letih. Tak tega rasanya membangunkannya. Ku tatap matanya yang terpejam. Tanpa sadar, aku mencium pipinya. Keinginan itu begitu kuat sekedar ingin mencium pipi tembem itu. Dia tetap tak terbangun. Rasanya ingin ku peluk tubuh mungil itu. Yang tak berdaya, karena terlelap.

Suara benturan seng yang menutup jendela kamarku mengagetkan si gantungan kunci. Dia terbangun. Mengerjapkan matanya, “minum” pintanya sambil mengulurkan tangan. Bahkan dalam keadaan setengah sadarpun dia menjengkelkan pikirku gemas.

“Udah tidurnya?”

“Jadi nonton ga nih?” tanyaku jengkel.

Si gantungan kunci hanya tertawa kecil melihat kejengkelanku.

“Ngantuk mas” katanya tanpa ku tanya.

Film mulai berjalan. Si gantungan kunci tak berhenti mengunyah. Coklat silverqueen, astor, chitato semua masuk ke dalam mulutnya. Setengah film berjalan, aku pindah duduk di belakangnya. Entahlah, rasanya menyenangkan bisa mencium bau parfumnya. Berada sedekat ini dengan si gantungan kunci membuatku harus menahan diri untuk tidak memeluk tubuh mungilnya. Berkali dia bergerak mundur menutup wajahnya dengan bantal yang membuatku bergerak menghindarinya.

“Ah..ga lagi lagi deh ya nonton beginian!” gerutunya sambil membanting bantal yang sedari tadi di peluknya, saat film berakhir. Aku terkekeh melihat wajah cemberutnya.

“Bagus kok itu film nya” jawabku sambil membereskan peralatan menonton kami.

“Bagus? Iyalah, nontonnya dari belakangku” sungutnya. Aku terbahak mendengar komentarnya.

Sambil menggulung kabel-kabel projector, aku memperhatikan si gantungan kunci yang mulai terlihat akan merebahkan dirinya di kasurku. Aku geli melihatnya, betapa anak itu hobi sekali tidur. Selesai menggulung kabel, aku ikut merebahkan tubuhku di sebelahnya. Menghirup dalam-dalam wangi parfum nya. Rasanya ingin menghentikan waktu, sehingga aku bisa berlama-lama berada di sebelahnya.

Si gantungan kunci masih saja berceloteh tentang film Conjuring yang barusan saja kita tonton, aku bergerak mendekati wajahnya dan mencium bibirnya. Tiba-tiba saja, tanpa kupikirkan, tanpa kurencanakan. Aku merasakan si gantungan kunci terkesiap dengan gerakanku, namun tanpa kuduga dia membalas ciumanku, beberapa saat kami berpagutan, merasakan manis bibirnya yang tak ingin kulepas. Sampai si gantungan kunci melepaskan bibirnya dari bibirku dan memalingkan wajahnya. Rona kemerahan memenuhi pipinya. Aku masih belum puas menciumnya. Semakin lama justru semakin membuatku menginginkannya lagi dan lagi. Tak pernah terpuaskan rasanya.

Kemudian si gantungan kunci bangkit berdiri menatap wajahku, tepat di mataku. Tak tahan melihatnya, ku tarik pinggangnya dan kupeluk tubuh mungilnya. Dia terlihat ringkih. Membuatku tak ingin melepaskan pelukan. Si gantungan kunci balas memeluk erat tubuhku. Sesaat kemudian dia terisak. Menangis di dadaku. Aku mengerti. Sangat mengerti. Kami tak seharusnya melakukan ini. Dia sudah berkeluarga.

Demikian pula denganku.

You don’t walk into love. You fall in. That’s why it’s so hard to get out — Falling (Rina Suryakusuma)

-RYU-

Astaga Ryu, apa yang kamu pikirkan? Bentak kepalaku. Membalas ciuman Mas Gagas, suami orang? Aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku tertunduk di bawah shower yang mengalir, membiarkan aliran air membasahi kepalaku. Memejamkan mata, terbayang kejadian sore tadi, saat Mas Gagas mencium bibirku. Bahkan dadaku masih berdebar, mengingat moment itu. Masih terasa pagutan bibirnya di bibirku. Aroma rokok dan manis bibirnya masih membekas di bibirku. Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut kami. Tidak ada kata maaf, tidak ada kata menyesal, tidak ada sama sekali, seolah hal itu memang sudah seharusnya terjadi. Namun aku tau, hal itu seharusnya tidak boleh terjadi. Aku hanya bisa menangis di pelukan nya. Mendekap erat tubuhnya. Meletakkan kepalaku yang penuh di dada bidangnya. Enggan meregangkan apalagi melepaskan tanganku yang melingkari tubuhnya.

Kutengok smartphone-ku yang tergeletak di atas nakas. Ingin rasanya kuketikkan perasaanku saat ini ke Mas Gagas. Otakku melarang keras, memaksa tanganku untuk meletakkan lagi smartphone tersebut ke nakas. Kemudian menyuruhku untuk mengistirahatkan badanku. Otakku menginstruksikan aku untuk tidak lagi menghubungi Mas Gagas. Menjauhi dirinya. Akupun merebahkan diri, memejamkan mata, membayangkan kejadian sore tadi saat bibir kami menyatu. Sampai aku terlelap.

‘Ci, ntar sore aku ke kantor ya. Kamu mau kubawain apa?’ pesan mas Gagas siang ini terbaca di kotak whatsapp ku.

‘Es krim aja Mas. Sama rokok yang banyak ya’ ketikku cepat dan segera menekan tombol send. Padahal otaku sudah memerintahkan tanganku untuk tidak mengetikkan balasan atas whatsapp Mas Gagas itu. Tapi hatiku sepertinya mengkhianatiku.

Kami menikmati keheningan malam ini. Mas Gagas datang ke kantorku membawa 2 kaleng Bali Hai dan 2 pak rokok. Nongkrong di smoking area kantorku. Setengah jam berlalu dalam diam. Kami hanya sibuk dengan pikiran kami sendiri serta hembusan asap rokok dari mulut kami masing-masing.

“Yang kemarin…” kataku memecah kesunyian diantara kami, sambil mengambil lagi sebatang rokok dan menyulutnya.

“…apa artinya?” lanjutku. Kemudian menyesap Bali Hai dari kalengku.

Mas Gagas diam, menatapku lama. Menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Aku, memang ingin menciummu. Ingin memelukmu” jawabnya.

“Tapi kenapa?” bisikku lirih.

“Karena…..karena aku sayang sama kamu?”

“Tapi, kita…..kita…”

“Aku tau”

“Bisakah kita hanya menikmati rasa ini?” lanjutnya.

Aku terdiam. Dia terdiam. Kami menciptakan lagi keheningan. Hanya hembusan asap rokok dan suara keretek dari rokok yang terbakar yang terdengar.

Hatiku masih saja mengkhianatiku. Meskipun tau hal ini salah. Tapi aku tetap saja berkutat dalam kebahagian semu yang tak ingin kubagi. Aku menganggap Mas Gagas milikku. Meski tau, bahwa itu anggapan semu. Karena sampai kapanpun hal itu tak akan pernah terjadi. Tapi hatiku seolah tak peduli. Aku tetap menyiram rasa ini. Memupuknya, sampai rasa ini tumbuh semakin subur. Aku selalu merindukan lengan kokohnya yang memelukku. Merindukan dada bidangnya tempat aku meletakkan kepala dan mendengarkan degup jantungnya. Merindukan telapak tangan besarnya yang menggenggam erat jemariku. Aku selalu merindukannya.

“Ci, aku dapat tawaran kerja di tempat lain. Income nya lebih besar” Mas Gagas yang sedang menungguiku lembur di kantor tiba-tiba saja berujar.

“Emmm….dicoba aja Mas. Kesempatan ga datang dua kali” anjurku.

“Tapi posisi ini untuk di Site, Ci” sahutnya lemah.

“Oh, bagus dong. Kamu pasti enjoy. Your work, your adventure! selorohku. Dan saat itu juga, aku tak lagi bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku.

“Aku berat meninggalkan kamu” ujarnya lagi.

Ku tatap mata gelapnya. Aku justru mendorongnya untuk mengambil kesempatan itu. Meskipun hatiku berteriak, memintanya untuk tidak mengambilnya. Untuk tetap berada di dekatku.

No. You’re not. Kamu jangan terlalu nyaman dengan keadaanmu sekarang” bujukku.

Aku sadar, aku bersikap munafik. Tapi aku tau bahwa sebagai kepala keluarga, dia harus menafkahi keluarganya. Dan jika ada tawaran yang lebih baik, dia harus segera menjemputnya.

Cause the hardest part of this is leaving you — Cancer (My Chemical Romance)

-GAGAS-

D’cota café. Aku menghabiskan malam yang penuh penat. Tumpukan pekerjaan dan beberapa ‘complicated things’ sudah cukup buatku membulatkan tekad untuk memberi ruang pada kekosongan.

Entah sudah berapa botol bir yang kutenggak malam ini. Selama dua jam lebih aku hanya mencoba untuk mengosongkan pikiran dan menikmati dentuman musik yang diantarkan oleh ‘disc jockey’. Tak bisa lagi aku memperhatikan setiap detail keremangan tempat itu, lalu lalang waitress membawa baki yang penuh botol dan gelas, puluhan orang yang menggoyangkan tubuhnya di front stage, dengan kesadaran yang mungkin hanya tinggal separuh dari keadaan normal mereka, semuanya tak terlalu menarik minatku.

Aku hanya duduk di kursi bar, menghisap setiap batang rokok, menikmati beberapa botol Bali Hai dan memejamkan mata. Mencoba memahami kekosongan.

Interview tadi pagi sebenarnya memberikan hasil yang harusnya membuatku senang. Interviewer sepertinya tertarik pada pengalamanku. Boleh di bilang 99% aku diterima di perusahaan tersebut. Tapi mengapa aku justru merasa kosong? Justru merasa tertekan dengan keberhasilan ini? Aku justru berharap tidak diterima di perusahaan tersebut.

Dan dorongan dari si gantungan kunci, untukku meraih kesempatan itu justru semakin membuatku sedih. Tak mengertikah dia, bahwa berat bagiku untuk meninggalkannya. Berat bagiku jauh darinya. Aku baru saja merasakan kegembiraan berada di dekatnya. Aku baru saja bisa mengenal wangi parfumnya. Aku tak rela meninggalkan itu semua.

Ku tatap wajah Ryu dalam-dalam. Wajah yang beberapa bulan ini menemani malamku. Dia masih sibuk dengan bungkusan coklatnya. Berusaha memotong sekecil mungkin coklat itu untukku. Aku hanya tersenyum geli melihat kelakukannya.

Pagi ini dia membolos dari kantornya. Aku sudah mengundurkan diri dari kantorku, sejak perusahaan baru memberikan offering letter minggu lalu. Hari ini, aku memintanya untuk menemaniku. Karena esok aku sudah harus terbang ke Kendari. Aku memang diterima bekerja di sebuah perusahaan tambang. Mereka membutuhkan posisi IT dan aku masuk kualifikasi mereka. Namun posisi tersebut akan ditempatkan di site.

Ku peluk erat tubuh mungil Ryu. Tak ingin kulepaskan. Ku ciumi kepalanya. Ryu balas memeluk erat tubuhku dan menangis di dadaku.

“Jangan pergi” isaknya pelan. Membuat tubuhku menjadi kaku. Kubelai lembut rambutnya. Tubuhnya bergetar dalam pelukanku karena isak tangisnya. Permintaannya mengiris hatiku. Permintaan yang tak bisa kupenuhi, meski aku sangat ingin mengabulkannya. Aku semakin erat memeluknya, menciumin wangi rambutnya.

Kupegangi wajah yang penuh air mata itu. Tak kuasa untuk tak menciuminya. Keningnya, kedua pipinya, mata basahnya, bibirnya.

Kulumat lembut bibirnya. Menghentikan isaknya perlahan. Kuciumi lehernya menyesap aroma wanginya. Melingkari tubuhnya dengan lenganku, mencumbu setiap inci kulitnya. Malam ini aku ingin memilikinya. Tak kupedulikan norma, tak kupedulikan wajah cantik yang menungguku di rumah, tak kupedulikan laki-laki yang memilikinya, tak kupedulikan resiko yang mungkin akan kami tanggung. Aku tak peduli. Aku hanya ingin memilikinya. Meski hanya untuk malam ini. Memenuhi hasratku akan dirinya. Memenuhi rinduku yang rasanya tak pernah bisa terpuaskan.

Some hearts understand each other, even in silence — Almost is Never Enough (Sefryana Khairil)

-RYU-

Aku terbaring diam. Memejamkan mata di atas kasur. Tapi tak tertidur. Masih terbayang jelas kejadian sepanjang hari tadi. Aku menghabiskan hari di kos Mas Gagas. Berbicara, bercanda, berandai-andai, bercinta.

Aaahh….memori itu cepat saja terulang di kepalaku. Aku sudah melanggar semua etis yang ada. Aku sudah melampaui batas. Aku sudah berkhianat. Ya, aku sudah berkhianat pada semua, sejak aku selalu menghapus kotak chat whatsapp ku dengan mas Gagas. Terlebih malam ini. Aku sudah melampaui semua batas yang seharusnya tak ku sentuh.

Ini terakhir kalinya. Karena esok Mas Gagas harus terbang menyeberangi pulau. Dan aku merasa sendiri. Kehilangan. Kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki. Aku merindukan seseorang yang tak akan pernah kumiliki. Tidak kemarin, tidak sekarang, tidak juga nanti. Seseorang yang sampai kapanku hanya menjadi anganku.

“Foto-foto ini, apakah kamu kirimkan ke orang lain?” Ram bertanya padaku sambil menunjukkan folder fotoku. Foto-fotoku dengan gaya sensual yang sering kukirimkan ke Mas Gagas, sebagai pelepas rindu kami.

Aku terdiam, tak menjawab pertanyaan Ram -Suamiku. Kutatap wajahnya. Dia terlihat murung, mata hitamnya sendu. Wajahnya keras, menahan amarah.

Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Tak kuasa untuk berkata jujur, dan tak mampu untuk berbohong. Aku hanya bisa diam.

Aku tak bisa menatap wajahnya, matanya. Aku tertunduk. Perih, terlanjur melukainya. Betapa egoisnya aku.

“Maafkan aku, Dek. Mungkin tak banyak waktuku untuk kamu? Kamu kesepiankah?” pertanyaannya justru membuat air mataku luruh.

Bukan, bukan kamu yang bersalah. Aku yang tak bisa menjaga hatiku, hingga jatuh dan seseorang menggambilnya.

“Kamu…menyayanginya, kalau tidak, tak mungkin kamu kirimkan foto-fotomu ini untuknya” ujarnya lirih, sangat lirih seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Dan isakku menjadi tangis.

-GAGAS-

Pahit dan menyesakkan, itu yang kurasakan. Aku merasa bersalah, sudah egois memikirkan perasaanku sendiri, sedangkan si gantungan kunci disana sedang bergelut dengan kesedihan mendalam -yang jelas aku ikut andil didalamnya.

Whatsapp nya malam ini membuatku jantungku berdetak lebih cepat. Aku seolah bisa mendengarnya bercerita kepadaku, mendengar getir suaranya, mendengar isak tertahannya. Melihat airmata yang meleleh di kedua pipi tembemnya.

Ingin rasanya mengatakan padanya bahwa dia tak sendiri, betapa besar keinginanku untuk ada atas yang dia alami saat ini. Untuk sekedar meminjamkan bahu, memeluknya, mendengarkan nafasnya. Membawanya berlari jauh, menjauhi semua yang mengelilingi kami.

Saat ini juga aku tau, semua sudah berakhir.

PENUTUP

Ryu menutup novel yang sedang dibacanya. Pesawat Garuda Indonesia GA0605 terjadwal mendarat 14.25 dari Kendari. Ryu menunggu di Terminal 3U, Bandara Soekarno-Hatta. Jam digitalnya menunjukkan pukul 14.40. Dia tak beranjak dari kursinya. Hanya duduk terdiam, menatap sekelilingnya. Lalu lalang orang yang berjalan cepat seolah mengejar sesuatu, rombongan laki-laki dan perempuan yang berjalan santai dengan gelak tawanya, pasangan yang saling bergandengan tangan, seorang ibu yang menggandeng bocah perempuan berambut panjang dengan jepit warna biru di kedua sisinya. Melihat anak perempuan itu membuat bibir Ryu melengkungkan senyum. Dia teringat anak perempuannya, Lika.

Ragu-ragu Ryu berdiri, menatap arah kedatangan. Kakinya perlahan melangkah. Namun dia kembali ke kursinya. Dan duduk terdiam. Jantungnya bergemuruh. Buku-buku jarinya memutih karena menggenggam novelnya terlalu erat.

Kembali Ryu berdiri. Kali ini melangkah menuju arah keluar. Saat sebuah tangan merengkuh bahunya. Ryu menoleh, mendapati Gagas berada di sampingnya, tersenyum. Bahunya menyandang tas ransel hitam.

Gagas masih seperti 3 bulan yang lalu. Hanya saja kumis dan jenggotnya tumbuh tak tercukur. Ryu menatap Gagas. Rindunya tak tertahan. Dia memeluk tubuh kurus tinggi disampingnya, terisak.

“Apakah ini bahagia itu Mas?” tanya Ryu tanpa melepaskan pelukan.

Gagas hanya terdiam, memeluk erat tubuh mungil yang dirinduinya. Wajahnya tersenyum. Seolah ada beban berat yang sudah terangkat. Seolah ini adalah yang paling diinginkannya.

“Tapi mengapa aku merindui Lika? Mengapa hatiku masih sakit Mas? Mengapa aku tak merasa tenang? Apakah ini bahagia yang kita inginkan Mas?” Ryu masih terisak dalam pelukan Gagas.

Gagas menggigil. Jantungnya berdegup teramat kencang. Dalam pelukannya Ryu terisak, meletakkan kepalanya di dadanya.

Tiba-tiba saja, Gagas merindukan Aulia -Putrinya, Bintang -Belahan Jiwanya, dan Jogja -Kotanya.

Airmata Gagas menitik jatuh di punggung Ryu yang terisak.

August 27, 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.