Kerusuhan Mei ‘98

Siapa Saja Dalang Dibaliknya


Sebelum kerusuhan Mei 1998, Soeharto telah memerintahkan menantunya, Prabowo untuk membereskan para aktivis dari mahasiswa, LSM, dan lain-lain yang telah merongrong wibawanya.

- Prabowo melaksanakan dengan melakukan penculikan, intimidasi, dan pembunuhan para aktifis dan mahasiswa “militan” itu, dilaksanakan oleh pendukung setianya seperti Kivlan Zein (dijuluki Mayjen “Kunyuk” oleh Gus Dur), Muchdi, Sjafrie Syamsuddin, Zakky Makarim, dll. Didukung oleh Feisal Tandjung. Sampai pada puncaknya demonstrasi gabungan oleh mahasiswa Trisakti yang sangat menghujat Soeharto dengan tulisan-tulisan di tembok-tembok kampus, jembatan layang Grogol (“$oeharto anjing”, “koruptor bangsa”, “Gantung $oeharto”, dll).

Soeharto habis kesabarannya sehingga menyuruh Wiranto dan Prabowo “membereskan” mahasiswa Trisakti dan menghentikan demonstrasi mereka dengan segala cara.

- Wiranto dan Prabowo menyusun rencana untuk menghentikan demonstrasi mahasiswa dengan cara: pertama-tama Soeharto harus ke luar negeri dulu (Mesir) agar dia punya alibi di mata internasional, bahwa bukan dia penggagas-nya, lalu mereka menyiapkan sniper / penembak jitu di jembatan layang grogol yang menyamar sebagai Brimob dan menembak beberapa mahasiswa Trisakti yang sedang berdemo di kampus -dilaksanakan tanggal 12 Mei 1998.

- Besoknya (tgl 13 Mei 1998) dilaksanakan kerusuhan terbatas sekitar
Trisakti / Daan Mogot dan Kyai Tapa dengan memakai preman-preman, pasukan Tidar (drop out Akabri yang direkrut Prabowo) yang menyamar memakai baju seragam SMA dan jaket almamater Trisakti membakar pom bensin dan toko-toko (lihat laporan Tim Relawan dan TGPF). Mereka sebelumnya sudah berteriak2 memanggil para mahasiswa di dalam kampus untuk bergabung ke jalan, namun ditolak oleh mahasiswa (menurut kesaksian para mahasiswa). Berikutnya pos-pos polisi dibakar juga beberapa buah, untuk membuktikan bahwa “mahasiswa / rakyat” membalas dendam atas “kebringasan polisi menembak mahasiswa”.

- Pos-pos polisi juga dibakar (polisi yang sudah tahu telah mengungsi dan membiarkan pos-nya kosong) untuk menanamkan kepercayaan bahwa “mahasiswa dan masyarakat membalas dendam atas tertembaknya mahasiswa Trisakti”.

- Direncanakan setelah itu kerusuhan dipadamkan dengan korban yang cukup besar (nyawa dan harta benda), sehingga segala demonstrasi mahasiswa akan dilarang secara hukum karena para mahasiswa demonstran itu “telah mengakibatkan ekses kerusuhan”, dan kehancuran aset dan kehilangan nyawa manusia.

- Pada saat itu Prabowo mempunyai rencana / agenda tersendiri untuk mencapai cita-citanya untuk menjadi Pangab dan menggeser Wiranto.

- Hal ini sudah direncanakan jauh2 hari namun saat itulah yang paling tepat untuk dilakukan, bersama-sama dengan gang-nya seperti yang disinyalir oleh Gus Dur sebagai “otak kerusuhan” berinisial ES (Eggy Sudjana), AS (Adi Sasono), Fadli Zon, Gogon (Ahmad Soemargono — KISDI), dll.

- Prabowo segera menghimpun anak buahnya pasukan Tidar, pencak silat Kisdi, preman2 Cengkareng, Tanah Abang, Pemuda Pancasila, dll untuk melaksanakan proyeknya berupa pembakaran Glodok building, Harco, Orion plaza dan sekitarnya juga diperluas sampai ke mall-mall di seluruh Jakarta disertai pembakaran hidup-hidup lebih dari seribu orang untuk mendramatisasi keadaan yang kacau.

- Pemerkosaan terhadap perempuan etnik Cina dilakukan untuk “shock therapy” agar sebagian besar orang Cina kabur ke luar negeri atau bersembunyi. Juga agar jika ada saksi mata orang Cina yang masih hidup, dapat diancam (karena sebagian data2 dirinya, KTP diambil), dipermalukan dll. Setelah itu jika mereka takut kembali, aset-asetnya dapat disita.

- Setelah Prabowo nantinya “berkuasa” akan diterapkan sistem ekonomi rasialis / diskriminatif ala Malaysia, karena dianggap “masyarakat juga membenci orang-orang Cina yang menguasai ekonomi”). Beberapa minggu sebelumnya mereka telah beraudiensi ke UMNO (lihat berita suratkabar akhir April 1998). Bukan kebetulan jika “kerusuhan rasialis” yang direkayasa UMNO / Mahathir adalah tanggal 13 MEI 1969! (lihat tulisan Duncan Campbell, “When Mobs turn on the merchants”). Setelah itu mereka bisa memelihara beberapa oknum pengusaha Cina dan suku-suku lainnya yang mau berkolaborasi (KKN) dengan mereka.

- Tujuan lain Prabowo dengan memperluas kerusuhan adalah untuk
mendiskreditkan Wiranto agar dianggap tidak becus oleh Soeharto dalam mengisolasikan kerusuhan sehingga Wiranto diturunkan dan diganti Prabowo yang seolah-olah melalui anak buahnya Sjafrie Sjamsuddin (Pangdam V Jaya waktu itu) berhasil mengatasi situasi di hari ke-4 dengan berkeliling naik panser.

- Wiranto yang pada waktu kerusuhan tidak mendapat pasukan segera mengontak anak buah setianya Djaja Suparman dari Kodam Siliwangi untuk mensuplai pasukan, dan terbang ke Malang. Sjafrie S telah mengacak-acak keberadaan pasukan Kodam V dan sebagian disuruh berdiam di markas, sementara pasukan Kostrad di bawah kendali Prabowo, sehingga tidak cukup suplai pasukan bagi Wiranto untuk memadamkan kerusuhan yang telah “merembet ke seluruh Jakarta”.

- Soeharto pulang dari Mesir dan langsung memanggil mereka.

- Namun situasi sudah keburu memanas di mana gabungan kekuatan mahasiswa telah bergerak menduduki gedung DPR / MPR

- Ketua MPR Harmoko “berkhianat” bersama-sama dengan wakil-wakilnya (Syarwan Hamid, dll) menganjurkan Soeharto agar turun tahta. Dia sakit hati karena rumahnya di Solo juga dibakar.

- Wiranto berusaha membela dengan mengatakan itu adalah pendapat pribadi Harmoko bukan sebagai ketua MPR.

- Mahasiswa2 dan banyak lagi LSM lain mengultimatum akan mengadakan
demonstrasi besar-besaran tgl 20 Mei 1998.

- Para mentri kabinet mengancam akan mengundurkan diri jika Soeharto terus bertahan.

- President Clinton kemungkinan besar menelepon / mengultimatum Soeharto agar segera turun tahta sebelum terjadi pertumpahan darah yang hebat antara mahasiswa dan tentara. (menurut siaran radio BBC dan Hong Kong yang dipantau pada hari itu). Dengan menyiapkan armada VII nya untuk merapat ke Tanjung Priok.

- Soeharto menyerah dan mengundurkan diri setelah Habibie & Wiranto meyakinkan dia untuk membela dia dan keluarganya jika dia mau mundur.

- Para mahasiswa dan demonstran lainnya dibersihkan, kemungkinan oleh Wiranto / Habibie dari gedung MPR / DPR dengan memakai Pemuda Pancasila, Pencak Silat KISDI, preman-preman yang bersenjatakan golok dan di-back up oleh Kostrad. “Beruntung”, marinir menetralisir keadaan dengan “membantu mengawal” para mahasiswa keluar kompleks MPR / DPR, dengan alasan Soeharto telah lengser keprabon.

- Wiranto yang telah mengetahui apa yang terjadi dan telah mengkonsolidasikan kekuatan / pasukannya, sangat marah dengan Prabowo, dan mengadakan deal / kesepakatan dengan Habibie untuk menyingkirkannya dan mencopot jabatannya sebagai Pangkostrad saat itu juga.

- Prabowo marah dan mengepung istana dan meminta Habibie untuk meninjau ulang keputusannya (lihat wawancara Habibie dengan koran Jerman Der Spriegel), namun Habibie tetap membela Wiranto.

- Mamiek sangat marah dengan Prabowo dan menudingnya “kamu pengkhianat jangan injak rumah saya lagi!” pada waktu ada pertemuan keluarga.

- Sejak itu Prabowo diasingkan oleh keluarganya dan Wiranto, sehingga kabur ke Jordania menemui teman akrabnya Pangeran (waktu itu, sekarang Raja) Jordania

- Prabowo pernah mau pulang pada akhir tahun 1998, namun disindir Gus Dur: “jangan pulang, nanti digebuki preman-preman Cengkareng” (lihat koran terbitan saat itu), maksudnya preman-preman Cengkareng yang dipakai juga buat melakukan kerusuhan itu mungkin akan menagih janji (mungkin belum dibayar atau banyak teman-temannya yang dibunuh setelah misi memperkosa, menjarah, membunuhnya selesai).

- Sekarang dengan jatuhnya Wiranto, Prabowo merasa lebih aman, dan mau mencuci namanya dengan menerbitkan buku.

Lihat betapa rumit permasalahannya dan melibatkan begitu banyak orang. Sehingga memang tidak mudah untuk mengadili Prabowo, karena dia bisa-bisa “menyanyi” / mengaku, dan ujung2nya Soeharto, Wiranto, Feisal Tandjung, dll bisa terkena juga.

Sumber: hidden link

Email me when Chairil Anwar publishes or recommends stories