Semestanya Angkasa.

Saat itu semuanya berubah, tiada lagi obrolan manis di sela-sela kesibukkan dan tiada lagi rindu yang selalu ia tunjukkan.

"Aku masih jadi Bulan yang sama, Angkasa, aku takkan pernah berubah."

Lalu kamu terdiam, ada rasa bersalah yang tersirat di mata mu, ada rasa penyesalan yang luar biasa tepat di pikiranmu. Bahkan, secangkir kopi latte favoritmu yang terus kau teguk selagi gugup, kini tidak terasa apapun selain hampa, dan di hadapanmu, hanya ada aku, lagi-lagi aku yang terus mencoba untuk mengerti perasaanmu.

Semesta mu begitu riuh, begitu rumit. Kamu tidak dapat bergerak. Karena dipenuhi penyesalan dan rasa bersalah.

Kamu tahu perasaan sulit apa yang sedang aku hadapi sekarang?

Melihatmu, terdiam dengan rasa bersalah, karena aku, karena perasaan mu.

Ku coba menarik segala sesuatu hal manis yang terjadi kala itu, harusnya aku tahu, kalau kamu itu cuma bayang-bayang semu.

"Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu. Aku tidak pernah berharap apapun, tiada rasa yang pantas untuk aku miliki."

Lalu kamu menghela nafas, dan mencoba tersenyum.

"Mengenai nya, tak ada yang bisa ku jelaskan" ucap mu.

Aku tidak butuh penjelasan, bukan kah selama ini kita memang tidak pernah jelas? Yang begitu jelas muncul di atmosfir ruang kita ini adalah perasaanku, sedangkan perasaanmu sendiri masih menjadi teka-teki yang perlahan ku tahu jawabannya, semoga malam ini yang terakhir. Terakhir perasaanku ini berterbangan di atmosfir, setelah memastikan seluruh pertanyaan-pertanyaan yang menjadi jawaban-jawaban ragu.

"Justru aku tidak bisa melepasmu." Ujarmu berat, tenggorokanmu tercekat. Ada sesak dan hantaman keras tepat di dada mu.

Aku kembali tersenyum, mencoba untuk tidak melihat tepat kearah mata mu itu, tempat ternyaman yang kuimpikan dimana bayanganku hidup disana, ter-rekam jelas tentangku olehmu, penuh kasih.

"Omong kosong, semuanya tidak bisa. Aku akan hanya jadi penghambat di ranah percintaan mu. Lagi pula, kalau terus begini. Apa ini baik untukku di kemudian hari? Apa ini baik untukmu dikemudian hari?" Tanyaku.

Ada rasa yang kala itu bersamaan menyerang kita berdua, selepas kata-kata itu menguap ke udara; sakit. Rasa sakit karena aku terus melawan rasa yang hidup dalam diriku sendiri, dan rasa sakitmu karena tidak bisa mempertahankan keadaan menjadi sebaik mungkin.

"Aku terus berusaha" ucapmu, kehabisan kata-kata.

"Sudah, tiada lagi yang perlu kau khawatirkan, tiada lagi yang harus kau sesali, tak perlu merasa bersalah. Tak perlu susah payah memaksakan diri, sebab. Aku tidak pernah merencanakan sebuah jatuh cinta, atau merencanakan jatuh cinta untukmu, begitu juga kamu, tak perlu memaksakan atau membuat rencana jatuh cinta. Karena semuanya terjadi begitu saja. Jika aku bisa memilih terhadap siapa aku jatuh cinta, aku lebih baik tidak memilih mu sama sekali, tapi tak apa. Sudah menjadi resiko ku selama ini. Hidup di sampingmu, mengetahui segala sesuatu tentangmu. Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Bukan kah setiap pertemuan sudah diatur? Aku tidak ingin bersedih, yang ingin ku tahu dan sadari, aku bersyukur karena bertemu dan dapat berkembang menjadi lebih baik lagi saat bersama mu, walau tidak selamanya. Tapi aku sangat-sangat berterimakasih. Kau sangat berarti banyak untukku, terimakasih telah hadir dan mewarnai, terimakasih telah mengajarkan banyak hal. Aku senang kamu ada" ucapku.

Ku lepas semua ini. Ada rasa sesak juga lega, selagi aku menarik seluruh perasaan ku yang tumpah-ruah berterbangan di atmosfir.

Semoga kamu lega, Angkasa. Telah ku singkirkan hal-hal yang mengganggu dalam semestamu, termasuk membawa keluar diriku darinya.

"Aku pergi, kamu baik-baik ya" ucapku beranjak dari kursi dan meninggalkannya, tiada sisa tentang diriku. Semuanya telah kubawa.

Aku akan selalu jadi orang yang mengerti, juga akan selalu jadi orang yang paling tahu soal seluk-beluk dirimu dan kehidupanmu, dan akan selalu menjadi orang yang mendo'akan keselamatanmu. Semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya, tentunya ku harap, dengan cerita yang lebih baik.

Lalu aku keluar dari halaman taman kopi itu, selangkah, dan tergeletak.

Tuhan memang baik, ternyata dia tidak membiarkan ku sesak dalam semestaku sendiri, sehingga, ia ikut menghapus rasa dan kenangan yang ada.

Bahkan aku tak mengenal wajahmu, saat aku terbangun[]


20:21,

Typical tuesday night.

Meira,

Teruntuk siapapun yang hendak bersedih, padahal ia sedang tidak sedih.