Ini Akhirnya?

“Siapa yang benar-benar akan mengakhirinya?”

Pertanyaan tersebut selalu muncul di benak saya ketika memikirkan kisah dua anak manusia ini, si gadis sipit dan lelaki yang pernah saya temui di bukit beberapa tahun silam. Kisah yang telah terjalin selama tujuh tahun, namun tidak berlabelkan apa-apa. Kisah yang membuat orang-orang memberikan sebutan si gagal move on untuk si gadis sipit. Kisah yang membuat saya jengkel setengah mati, mana kala ia mengatakan bahwa telah move on namun tetap meladeni si lelaki tersebut.

Saya selalu mengira bahwa si gadis sipit lah yang menjadi jawaban atas pertanyaan saya. Ternyata perkiraan saya salah, bukan si gadis sipit itu yang benar-benar mengakhirinya. Tetapi si lelaki, dengan dua kata yang semula dikira hanya candaan oleh si gadis sipit.

Saya sempat berpikir bahwa mungkin saja kali ini seperti sebelum-sebelumnya. Sementara berakhir, kemudian terjalin kembali. Mungkin saja ini satu fase galau dalam kisah ini, yang akan diikuti fase bahagia kemudian.

Namun lagi-lagi perkiraan saya salah, ketika kutemukan centang dua pada percakapan kedua anak manusia tersebut di telegram. Ditambah dengan cairan bening yang beberapa kali jatuh dari mata si gadis sipit.


“Patah hati?”

Si gadis sipit tertawa sembari menggeleng “tidak mungkin” jawabnya

“Lantas, kenapa kamu menangis?”

“Saya menangis? Kapan?” Alih-alih menjawab pertanyaanku, gadis sipit malah melemparkan pertanyaan sembari menaikkan kedua alisnya.

“Tadi sore” jawabku kalem.

“Oh itu karena kelilipan, Tuan angin” ucapnya yang membuatku tertawa. Gadis sipit ini sepertinya mencoba menipuku. Walaupun tak kasat mata, saya bisa membedakan antara air mata yang jatuh karena kelilipan dan air mata yang jatuh karena si pemilik sedang bersedih.

“Kamu kelilipan sampai matamu bengkak ya?” Sindirku kemudian. Gadis sipit hanya terkekeh sembari menundukkan kepala.

“Hei, jangan bersedih” hiburku.

“Saya hanya perlu ikhlas, kan?” Ucapnya, sembari mengangkat kepala, tersenyum.


Gowa, 19 oktober 2017 – bersama kacang yang kali ini harus benar-benar berhenti mencintai kulit dan ucapan selamat tinggal.