[unek-unek] Menuju bangsa Xenophobic

ngerasa nggak? banyak yang berubah tahun 2015 ini? seperti berubahnya stigma terhadap suatu golongan tertentu, memanasnya gesekan antar kelompok yang berseberangan, hingga berujung kepada kekerasan seperti yang baru-baru ini terjadi di Tolikara. Dalam situasi muram seperti ini, dengan absennya satu pihak yang bisa disalahkan dan dianggap bertanggungjawab, apa solusi yang paling cepat?


menyalahkan orang luar


Udah setahun lebih, mulai bergulir isu-isu tentang “tangan-tangan” negara lain yang “berkepentingan” dengan “menunggangi” satu calon presiden tertentu. beberapa partai pun mulai menyalahkan “Konspirasi asing” atas kemelut yang terjadi di internal partainya. seolah orang kita sendiri ga ada salah apapun, semuanya salah orang luar. itu menunjukkan mental inlander / inferioritas yang masih menyisa disini, karena merasa ga mampu menyelesaikan masalahnya sendiri hingga hanya bisa menyalahkan orang luar? ga bisa dipungkiri juga sentimen terhadap satu ras tertentu semakin menajam karena stigma “asing-aseng” yang makin menyebar sekarang ini. Media massa pun mulai merubah penyebutan “Mancanegara” menjadi “Asing”, seolah ingin menimbulkan suatu sentimen terhadap orang-orang dari luar indonesia / foreigners


jadi gini lho, kalo emang ga mau NKRI bubar, mending segera instropeksi diri dan mikir solusinya daripada cuma bisa nyalahin negara lain yang bahkan mungkin ga ngeh atau paling parah ga peduli apa yang terjadi di internal negara ini. kalo kedepannya hanya bisa nyalahin kesana kemari, siap-siap aja negara ini mati gaya dan bubar, karena masyarakatnya menjadi xenophobic. ga hanya kepada orang dari luar indonesia, tetapi juga sesama orang indonesia sendiri yang dianggap “berbeda”


“ bangsa maritim multikultural kudunya luwes bergaul kok jadi xenofobik.. Emang tinggal di padang pasir, siapa aja musuh” -@radixhidayat


-Kolonel Foxtrot