Vina
Angin semilir mendayu menyapa wajah ku. Bekas gerimis mengering membawa kesegaran baru. Ah sore ini terasa nikmat sekali. #Vina
Kuselonjorkan kaki ku dan ku senderkan badan ke bangku taman ini. Menatap menerawang diantara daun2 yg menutupi lembutnya mentari sore #vina
Ku tautkan kedua tangan ku di atas dada, dan perlahan2 menutup mata. “This is heaven”, pikir ku dalam hati. #vina
Seuntai senyum menghias wajah ku mengiringi pemikiran tak bertujuan itu. Hening, nikmat sekali #Vina
Seuntai senyum menghias wajah ku mengiringi pemikiran tak bertujuan itu. Hening, nikmat sekali #Vina
Aku menoleh. #Vina yg semenjak tadi duduk diam di samping ku, kini bersuara.
Tatapan matanya lurus ke depan, bibirnya terkatup diam. Bahunya condong kedepan disangga kedua tangan yang tertanam di bangku taman #vina
Kedua kakinya berayun2 menjuntai, maju mundur mengikuti irama angin sore. Mungkin aku tadi aku sempat terlelap dan bermimpi? pikir ku #vina
Aku terus memandanginya, entah untuk apa. Tak lama berselang kepalanya jatuh tertunduk. #vina
Lalu terdengar gumaman lirih dari mulutnya, “You’ve heard me”. Ujarnya, masih tanpa menoleh ke wajah ku. #vina
“HAHAHAHAHA”, entah kenapa respons reflek yg diberikan oleh sanubari ku yang bodoh adalah untuk tertawa lantang. #vina
Ku redakan tawa ku secepatnya. Ku tarik kedua kaki ku dan kutegakkan badan ku. #Vina kini menoleh memandang ku, aku mencoba tuk tersenyum.
Ya, pandangan itu bukan pandangan sedang bercanda, aku tahu. #vina
“ehemmm..ehemm”, ku bersihkan tenggorokan ku yg tidak gatal. Semoga grogi ku hilang dengan hal itu #vina
“Kalau di alam fantasi ku, ucapan itu akan aku jawab dengan, Tentu saja sayang”. Bah, ucapan bodoh apa lagi yg keluar dari mulut ku. #Vina
I’m on a roll today, stupid-stupid brain! #vina
“Oh ya, kenapa begitu?” tanya #vina tanpa ekspresi.
“Karena di alam fantasi ku” sambil telunjuk ku menunjuk ke samping kening ku. “Aku adalah raja, dan tidak ada yg berani membantah ku” #vina
“Lalu kalu di alam ini?” tanya #vina dengan sedikit ekpresi ingin tahu.
Bibir ku terkatup rapat, dahi ku mulai mengerenyit. Aku tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu. #Vina
Ku tatap wajah sahabat karib ku semenjak 3 tahun lalu. Gadis keturunan padang-jerman ini memang cantik luar biasa. #vina
Tidak kalah cantik dibanding sofia latjuba kata salah seorang teman ku, yang aku amini dalam hati. #vina
Kulitnya yang putih, matanya yg tajam, hidungnya yg mancung dan bibir tipis merah jambu membuat wajahnya tampak sempurna. #vina
Wajah yg digilai oleh puluhan pria di kampus ku #vina
Kami, para pria kampus ini, terbagi menjadi dua golongan. #vina
Kaum yg mengikuti dan mengejar2 dia kemana2, mencoba menarik perhatiannya. #vina
Dan kaum terintimidasi-tidak berani menyapa-karena tidak memiliki harapan untuk menjadi pacar #vina
Aku masuk ke kategori yang kedua. Mungkin itu yg menyebabkan akhirnya aku bisa bersahabat karib dengan dia selama 3 tahun ini #vina
Karena aku tahu aku tidak punya harapan. Semua pemikiran itu telah aku matikan #vina
“Hei, sedang apa kalian?”, tanpa menoleh pun aku tahu itu suara sandy. #vina
Suaranya yg keras dan lantang, ciri2 orang pesisir. Bertolak belakang dengan suara #vina yg lembut dan kadang tak terdengar.
Ya, memang suara lembutnya tidak sepadan dengan garis2 keras di wajahnya yg menunjukkan ketegasan #vina
Resiko tinggal di gunung candanya. Saat kami tahu kalau dia tinggal di bogor, bukan masiswi pertukaran pelajar dari jerman. #vina
Aku dan sandy mengenal vina di kelas yg sama. Sandy selalu tampak kikuk, jika berhadapan dengan #vina
Kami pria2 kaum ke-dua memang cenderung seperti itu. Aku saja yg mungkin lebih beruntung karena berhasil mematikan perasaan ku #vina
Hal itu yg menyebabkan vina tampak lebih nyaman berada bersama ku #vina
“I love you, you know”, kata itu kembali terngiang dalam pemikiran ku. Setelah begitu lama terdiam aku masih tak punya jawaban #vina
Bahkan tak tahu harus berbuat apa. Kami bertiga bagai patung marmer pelengkap bangku taman ini #vina
Setiap detik terasa satu abad lamanya. Cahaya lembut matahari sore, telah berubah ke-oranyean. #vina
“Aku benar tidak tahu vina!”, teriak ku dalam hati #vina
Ku tarik nafas dalam2 dan berdiri. Lalu ku kecup keningnya dengan lembut. Sambil ku bisik kan “aku sayang kamu vina” #vina
Lalu aku berjalan pergi, dengan kepala tertunduk dan kedua tangan di dalam saku ku #vina
Terserah lah dia terjemahkan hal itu sebagai apa. Karena aku sendiri tidak paham menterjemahkan cinta mati yg pilu di hati ini. #vina
— End —
Twitter 24 Des 2014