Eduardo Galeano
Oleh: Jaime Manrique, BOMB Magazine
Karena lagi nganggur, saya iseng-iseng nerjemahin wawancaranya Eduardo Galeano. Dia ini nabi saya dalam Agama Sepakbola. Esai-esai pendeknya tentang sepakbola, yang memikat, bertenaga, tak terduga, terangkum dalam sebuah buku berjudul Soccer in Sun and Shadow. Tapi di wawancara ini Galeano tak sedang ngomongin bola. Ada banyak hal yang ia bicarakan dengan Manrique.
Ini hasil terjemahan pertama saya. Jadi ya… agak berantakan. Sila membaca…
Pikiran saya sempoyongan setelah membaca Upside Down, karya terbaru Eduardo Galeano. Saya menyiapkan 23 topik kuesioner yang akan saya diskusikan dengannya. Saya deg-degan karena akan mewawancarai seorang pemikir yang sangat berani, yang bersinar bagai kembang api. Saya pergi untuk bertemu penulis berkebangsaan Uruguay ini di hotel, tempat dia tinggal selama kunjungannya ke Manhattan.
Galeano adalah penulis terkenal yang paling enjoy yang pernah saya temui. Dia menawari saya secangkir kopi, rokok Prancis yang gelap, dan duduk dengan nyaman di sofa. Kemudian sesuatu terjadi. Alat perekam digital yang biasanya saya bawa bekerja tidak dapat berfungsi. Padahal sehari sebelumnya saya kembali mengetesnya di apartemen. Galeano memutuskan untuk mencoba memahami alat aneh yang saya bawa. Sudah satu jam berlalu. Saya merasa telah sangat melakukan penghinaan, sampai Galeano berkata, “dalam rencana besar terhadap suatu hal, ini tidak masalah. Mari atur ulang jadwal wawancaranya.”
Beberapa hari kemudian di sofa hotel yang sama. Kali ini saya membawa alat perekam kuno. Tinggal memencet sebuah tombol dan berbicara pada microphone untuk memakainya. Saya membuat daftar 23 pertanyaan, dengan beberapa perubahan dari yang pertama saya buat. Karena aktivitas Galeano sering dimulai dengan membaca koran harian, saya memutuskan untuk menyertakan pemilihan presiden di US. Sekali saya menyimpang dari skrip saya, tidak ada kata kembali. Sembilan puluh menit kemudian, ketika saya mengakhiri rekaman dan Galeano selesai bicara, saya sama sekali tidak menanyakan pertanyaan yang telah saya persiapkan. Lagipula, saya kesulitan memahami hal-hal yang dia katakan. Saya sangat terpaku dengan pesona dari asosiasinya yang bebas, dan kualitas kebuasan dari pikiran penuh selidik miliknya. Saya merasa sedang berkendara dengan kendaraan yang berkecepatan tinggi yang tak terkontrol.
Saya telah menyimpan 23 pertanyaan. Suatu hari, saya berharap mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara itu.
George W. Bush sekarang adalah presiden US. Apa yang dapat dilihat dari penduduk Amerika dengan fakta ini — mereka lebih menyenangi dia karena dia anti-intelektual dan mereka jengkel dengan Al Gero karena dia pun, seperti yang mereka bilang, intelejen?
Saya tidak benar-benar bisa merasakan perbedaan yang kuat di antara keduanya.
Bush memperkenalkan dirinya sebagai seorang anti-intelektual.
Saya tidak tahu itu dapat menjadi ciri yang mendasar. Ketika kamu membaca atau mendengar pidato, atau debat di TV, keduanya kebanyakan membicarakan hal yang sama. Untuk isu kebijakan luar negeri ketika debat kedua, mereka berdua, Bush dan Gore, setuju dengan invasi ke Granada, invasi ke Panama, pemboman Irak, dan pemboman Yugoslavia. Mungkin saya tidak dapat merasakan perbedaan karena Bahasa Inggris saya sangat buruk. Di kesempatan yang lain, penggambaran tentang Bush adalah ketika dia akan menerapkan kebijakan domestik yang kuat dalam hal keamanan, dan keamanan telah menjadi obsesi dunia di tahun-tahun belakangan — peningkatan kriminal dan kekerasan di jalanan. Selama perang di Yugoslavia, kelompok psikiater di sini, di US, merekomendasikan orang tua mengajari anak-anaknya agar bisa membedakan antara kekerasan fiktif dan kekerasan yang nyata. Di waktu yang sama, mereka membom Serbia dan saya pikir, jika ada seseorang yang mampu untuk membedakan antara fiktif dan nyata dalam hubungannya dengan kekerasan, maka orang tersebut adalah tukang sulap. Lihatlah berbagai naskah dan kamu akan melihat itu adalah hal yang sama. Saya tidak mengerti, kok kekerasan bisa diterapkan dengan impunitas semacam itu dalam skala besar dari pusat kekuatan semacam US. Penjelasannya, saya percaya, negara tersebut belum pernah diinvasi sejak 1812; dua abad tanpa menderita invasi, dan belum pernah dibom, tapi telah membom banyak negara, menginvasi banyak negara.
Jerman dibom selama Perang Dunia I. Akan tetapi, itu tidak memberi pelajaran bagi mereka. Yugoslavia juga sangat menderita selama Perang Dunia II, dan mereka mengakhirinya dengan membom Bosnia. Menurut saya, tampaknya kekerasan hanya membangkitkan lebih banyak lagi kekerasan.
Tapi ada rasa impunitas di sini ketika menggunakan kekerasan untuk melawan negara lain dan ini berhadapan dengan fakta bahwa negara ini belum pernah dibom. Dan impunitas ini berhadapan dengan kenyataan yang terjadi di dunia hari ini, sebuah dunia yang kekuasannya hanya berkonsentrasi di beberapa tangan. Itu juga harus berhadapan dengan budaya kekerasan yang sedang diberlakukan di empat titik utama dunia. Jadi, saya tidak tahu bila ada sebuah perbedaan besar dalam kesadaran ini antara Gore dan Bush. Saya menggigil ketika mendengar bahwa mereka berdua setuju bahwa penghancuran Granada atau pemboman tentangga yang paling malang di Panama City dapat diterima. Membunuh ribuan orang tidak berdosa.
Mereka berdua adalah pembela imprealisme. Ketika Inggris atau Spanyol atau Roma menguasai dunia, cara berpikirnya sama saja — memaksakan visi imprealis dengan penyerangan.
Tidak akan ada struktur kekuasaan seperti itu hari ini. Dan kekerasan dapat dilakukan dengan lebih banyak cara daripada yang terlihat sebelumnya. Kekerasan tidak hanya tentang membom sebuah negara. Itu juga tentang pemaksaan caramu terhadap suatu negara. Atau, ketika para teknokrat dari IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia mempraktekkan sebuah ekonomi fundamentalis, memaksakan cara “kanan” pada dunia. Faktanya, mereka memerintah pemerintahan negara lain, tapi mereka tidak dipilih oleh siapapun. Dan para Menteri Ekonomi datang berkumpul ke Washington untuk mengemis pengampunan atas setiap keputusan yang diambil. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini yang pertama yang terjadi dalam sejarah dunia. Pertanyaannya, bagaimana organisasi pemerintahan universal ini berfungsi? Apakah mereka diktator yang tak terlihat dalam skala dunia? IMF dijalankan oleh lima negara, Bank Dunia sedikit lebih demokartis, dijalankan oleh tujuh negara. US dijalankan oleh lima negara dengan hak veto di Dewan Keamanan. ICO (Organisasi Perdagangan Internasional) punya hak veto tapi tak pernah menggunakannya. Ini perbedaan mendasar dalam hubungannya dengan periode sejarah yang lain, karena ini menyiratkan pembebanan pada ekonomi politik keuangan yang bebas menindas masyarakat; kebebasan untuk uang di atas kebebasan untuk rakyat, dengan konsekuensi malapetaka bagi sebagian besar kemanusiaan.
Itu prinsip dari buku terakhirmu, Upside Down, tapi banyak orang tidak mengerti tentang tanda globalisasi ekonomi. Saya di Peru belum lama ini dan melihat efeknya, orang-orang yang punya akses ke dolar punya kehidupan yang lebih baik, dan sisanya, 99 persen masyarakat Peru, yang tidak punya akses terhadap dolar dan hidup menggunakan uang lokal, The Sol, telah masuk ke dalam perbudakan untuk bertahan hidup.
Itulah kontradiksi dari dunia hari ini: kamu punya sistem yang membutuhkan pekerja murah, tapi di saat yang sama, butuh penjualan. Dan dalam maksud penjualan, butuh untuk memperbesar pasar. Solusi untuk kontradiksi ini tidak harus dengan membatasi sistem, karena perbedaan antara memiliki dan tidak memiliki terus tumbuh dan tumbuh, mencapai skala dunia. Jumlah dari penduduk internasional sangat jelas — jumlah ini disusun oleh mereka yang menjalankan dunia — tapi kadang-kadang mereka memperlihatkan kebenaran. Pada tahun 1960, perbedaan antara yang berkecukupan dan yang tidak adalah 30 kali lipat. Saat ini, 90 kali lipat. Dalam 40 tahun perbedaanya menjadi tiga kalinya. Kejomplangan terus tumbuh. Kontradiksi sosial akhir-akhir ini ditampilkan dalam berita di bagian Kriminal Jalanan, bukannya di halaman politik di surat kabar. Saya pikir itulah bukti tragedi sehari-hari tentang ketidakadilan sosial di tiap negara. Namun, itu juga merupakan dampak dari sangat tidak adilnya organisasi dunia.
Di dalam Open Viens of Latin America, ditulis 30 tahun lalu, kamu mengatakan bahwa Amerika Latin adalah sebuah bom waktu yang berdenting. Apakah menurutmu bom tentang peledakan?
Kita ambil contoh Haiti — negara paling miskin di Amerika. Mereka adalah negara demokrasi yang baru lahir yang tidak bisa berjalan. Situasi sosialnya seperti bom waktu yang berdenting. Lalu bagimana IMF menolongnya? Para teknokrat IMF melarang subsidi untuk produksi beras nasional. Tentu saja, mereka tidak tidak melarang subsidi untuk produksi beras nasional di US, yang sangat, sangat lebih tinggi. Hasilnya, rakyat Haiti memakan beras Amerika Utara dan para petani Haiti hancur. Orang-orang meninggalkan Haiti dengan perahu kecil yang mudah hancur, dan banyak di antara mereka mati di Laut Karibia, seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu pada 60 imigran dari Haiti — mereka semua adalah petani yang tidak pernah mencapai Florida.
Para petugas keamanan datang ke New York dari beberapa negara Amerika Latin dengan proses yang religius mengikuti keajaiban Guilani, dan belajar darinya. Namun itu hal yang biasa jika kasus kriminal menurun di US, dan tidak hanya New York, karena naiknya ketersediaan lapangan kerja. Hubungan statistik antara naiknya ketersediaan lapangan pekerjaan dan keterjerumusan dalam kriminal bukan hanya karena kesuksesan pribadi dari walikota.
Di Amerika Latin, mitos terhadap pemerintahan “tangan besi” menyiratkan sebuah nostalgia pada diktator militer. Ini sangat berbahaya bagi demokrasi.
Menurut saya, sepertinya banyak negara Amerika Latin yang belum siap dengan demokrasi. Demokrasi menganjurkan sebuah sistem internal untuk perbaikan, sebuah pemerintahan dengan nurani sosial, cukup membuka ruang untuk pertukaran ide yang bebas. Di Kolombia, demokrasi hanyalah nama, dan itu diterapkan untuk mayoritas negara-negara Amerika Latin. Apakah menurutmu demokrasi benar-benar dibutuhkan oleh negara-negara dunia ketiga? Dan kenapa US terobsesi demokrasi?
Yah.. dalam realita terdapat standar ganda. Dalam pandangan US, negara demokrasi adalah mereka yang membeli senjata dari US. Negara yang paling sering melanggar hak asasi manusia di dunia adalah Saudi Arabia. Tapi kamu tidak pernah mendengar kritikan resmi terhadap mereka karena Saudi Arabia adalah salah satu pembeli penting senjata-senjata dari US.
Dan produsen minyak.
Itu adalah pertukaran minyak dengan senjata. Hal yang sama juga terjadi pada kediktatoran di sepanjang waktu. Seperti Suharto di Indonesia. Para ahli berkata bahwa dia telah membunuh jutaan orang. Dia juga anak emas dari pemerintahan Amerika Utara. Tidak untuk menyebut Amerika Latin, tentu saja. Lihatlah yang terjadi pada Pinochet. Pinochet mendapatkan tepuk tangan di sini, di US, sebagai penyelamat Chile, pembuat keajaiban Chile — bahkan editorial di New York Times berterimakasih padanya, karena Chile bukan lagi sebuah Banana Republic. Setelah itu, Pinochet menjadi pria yang buruk.
Jika Chile berada dalam bahaya jatuh ke dalam Komunisme, US tidak akan memberikan tepuk tangan pada penangkapan Pinochet. Mereka akan menawari dia untuk bebas secepatnya.
Kalau mereka benar-benar ingin memberlakukan demokrasi di dunia, kenapa US menentang pembentukan pengadilan internasional untuk kejahatan yang dilakukan oleh teroris? Mereka seharusnya menjadi pendukung yang pertama. Dan bukannya menentang itu. Bagaimana mungkin berbicara tentang demokrasi ketika mereka melindungi diktator, dan ketika mereka adalah pusat dari sistem kekuasaan yang antidemokrasi dalam hubungan pentingnya dengan sisa dunia? Kenapa negara penyangkal hak keputusan rakyat, tidak hanya melalui intervensi militer, tapi juga melalui bentuk hegemoni baru, menggunakan teknokrasi internasional yang besar untuk bertingkah seperti bajak laut di era cyber? Mereka tidak punya burung beo di bahu, mereka tidak menggunakan tangan bajak laut; mereka menggunakan komputer. Mereka adalah bajak laut baru di laut dunia.
Para politikus berkata sesuatu, tapi melakukan yang sebaliknya, karena diwajibkan oleh kekuasaan struktur internasional yang mendominasi mereka. Di sini cerita dibicarakan sebagai sebuah lelucon, meskipun itu benar dalam kenyataan: seorang presiden di Amerika Latin datang ke Washington untuk menegosiasikan hutang yang belum dibayar. Ketika dia kembali, dia mengumumkannya pada negaranya, “saya punya kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, kita sudah tidak punya hutang se-Sen pun. Kabar buruknya, dalam 24 jam kita harus meninggalkan negara ini.” Saya kira, jika US ingin memberikan pelajaran tentang demokrasi pada dunia, pertanyaan yang harus sadari: kenapa di sini sangat sedikit masyarakat yang berpartisipasi dalam pemilu? Di Uruguay yang kecil, masyarakat yang berpartisipasi dalam pemilu lebih dari dua kali lipat daripada di sini. Dan kenapa di sini kandidat pemilu tergantung pada keberuntungan yang diberikan oleh korporasi besar? Hanya 2 persen dari populasi Amerika Utara yang berkontribusi, dan dari 2 persen itu, 1 persen yang memutuskan. Yang benar-benar membuat saya panik, ketika saya melihat US menghakimi suatu negara berciri demokrasi atau tidak. Faktanya, masyarakat US, secara umum, sangat tidak paham tentang hal-hal yang terjadi di dunia.
Mereka tidak tertarik
Televisi US yang memberitakan negara luar tidak bekerja sepanjang waktu, dunia lain sangat susah disebut. Dengan menggunakan istilah World Series untuk kompetisi baseball antar negara-negara Amerika Utara yang hanya dua tim dari Kanada, mereka berkata, “Kita adalah dunia.” Itu mendegradasi dunia yang lain. Dunia yang lain, di luar negara ini adalah semacam lubang hitam, sebuah zona ancaman.
Berapa banyak orang yang tahu letak Guatemala di peta? Di Guatemala, 200.000 orang telah dibunuh oleh diktator militer yang didanai, diorganisir, dan didukung oleh Washington DC. Bagaimana mungkin negara ini memutuskan nasib kita, sedangkan masyarakatnya sendiri bahkan tidak tahu siapa kita?
Kita harus berhati-hati dengan globalisasi. Itu bukanlah internasionalisme, namun lebih tepatnya pemaksaan dunia ke arah konsumerisme dan kekerasan.
Nilai terkuat dari US, dan dominasi kelas di dunia, terlihat akan menjadi materialis yang eksklusif.
Mungkin mereka lebih praktis, siapa tahu? Tapi dunia diisi oleh sumber energi lain. Ini adalah kekayaan yang nyata: begitu banyak dunia di dalam dunia, begitu banyak dunia yang berisi dunia! Sumber dari energi dan harapan. Kita tidak dihukum untuk menjalani kehidupan yang mengharuskan kita untuk memilih antara sekarat dalam kelaparan atau sekarat dalam kejemuan. Namun itu tidaklah mudah untuk kembali mengungkapkan beberapa alternatif ini. Mereka tersiksa, katakanlah, pada sebuah krisis pengakuan. Dan sistem kekuasaan dipindahkan oleh dua mesin yang sangat efisien: ketakutan dan ketamakan. Itu bekerja.
Lihatlah, ketika saya menulis Open Veins di tahun 1970-an, ada kepercayaan universal bahwa kemelaratan adalah hasil dari ketidakadilan sosial. Itu adalah perasaan bersama, digemakan oleh “Kiri”. Si “Tengah-tengah” menerima itu, namun “Kanan” membantah itu. Ya, ada ketidakadilan sosial dan itu adalah penyebab kemelaratan. 30 tahun kemudian, ide berubah dengan radikal: sekarang kemelaratan dikatakan sebagai buah dari inefisiensi, dan jika kamu miskin, itu karena kamu pantas miskin, karena kamu inefisien.
Saya tertarik dengan kontradiksi: konsep tentang perbedaan muncul dan dikembangkan di US. Di Kolombia, negara saya, mereka sekarang sedikit berbicara tentang perbedaan, tapi selalu terjadi, di atas semuanya, sebuah masyarakat yang tidak setuju dengan pembaharuan. Bahkan orang intelek adalah para rasis yang terbuka, anti-Semit, orientasi kelas, dan mereka percaya kemelaratan adalah semacam penyakit menular. Dan bahkan saya tidak ingin menyebut bagaimana tenggapan mereka tentang homoksesual! Di US, di sisi yang lain, sebuah perubahan jelas. Namun, kapan saja saya mengunjungi Amerika Latin, kelas intelektual dan yang berkuasa masih rasis, classist, seksis, hompobhia, dan anti-Semit.
Dunia itu tuli dan buta. Kita tidak dapat mendengar suara-suara yang patut didengar, dan kita buta pada pelangi dari perbedaan manusia. Rasisme, elitisme, seksisme, dan homophobia bukanlah, sayangnya, sebuah hak kesedihan dari Amerika Latin. Kamu menemukan tanda-tanda ini di mana-mana. Itu sistemik, dan sering kriminal, penyangkalan terhadap hak perbedaan.
Sebagai tambahan tentang perbedaan, kita dapat melihat itu dalam praktek, dimulai dengan peninjauan solidaritas. Bagi saya, solidaritas itu horizontal, sedangkan kepedulian itu vertikal. Solidaritas dipraktekkan di antara persamaan, lahir dari perhatian yang timbal-balik, kepedulian dipraktekkan dari “yang di atas” kepada “yang di bawah” — dan ini penting untuk digarisbawahi, karena kepedulian dipraktekkan setiap hari sedangkan solidaritas diragukan. Kita butuh untuk menyimpan ulang suatu visi lain, yang kuncinya adalah kemungkinan yang nyata untuk menerima perbedaan kita sebagai realitas.
Para pemikir sudah tak lagi tertarik untuk membayangkan dunia akan menjadi seperti apa. Di US, negara yang terdapat begitu banyak kemakmuran, orang berpikir bahwa segalanya oke dan akan bertahan pada jalannya. Menurutmu, apakah kemunduran pemahaman tentang utopia sedang terjadi pada kita?
Langsung menuju kelumpuhan. Ada sebuah kisah utopia yang bagi saya sangat menyadarkan — itu terjadi di negaramu, Kolombia, yang telah menderita kekerasan selama beberapa tahun. Setelah kuliah di universitas di Cartagena de Indias bersama Fernando Birri, seorang sutradara film, salah satu murid, bertanya pada Fernando tentang utopia. Dia berkata, “Utopia berada di horizon dan saya tidak akan pernah mencapainya. Karena, jika saya berjalan 10 langkah mendekati horizon, maka horizon menjauh 10 langkah, dan jika saya berjalan 20 langkah mendekati horizon, saya akan 20 langkah lebih jauh dari horizon. Alasan kita percaya ada utopia, karena ia membuat kita melangkah.” Itulah cara yang paling indah untuk mendefinisikan utopia. Hari ini, utopia mempunyai wajah yang buruk, karena ia tidak mendatangkan keuntungan. Saya teringat Antonio Machado, penyair masyhur dari Spanyol. Sekitar 80 tahun yang lalu dia menulis, “sekarang, orang bodoh bingung bedanya nilai dan harga.” Utopia tidak memiliki sebuah harga, kamu tidak dapat menghasilkan uang dengan itu, Utopia inefisien, dan oleh sebab itu ia tak patut hidup.
Hari-hari ini, saya berpikir tentang “pajak pertambahan nilai”. Kamu punya itu di Kolombia, dan di Uruguay kami juga melakukannya. Selalu ada pajak tak terlihat yang kita bayar setiap hari bahkan bila kita tidak memperhatikan itu, sesuatu yang dapat disebut sebagai “pajak pertambahan rasa sakit”. Ada beberapa rasa sakit yang tidak dapat kamu hentikan, sakit yang tak terhindarkan dalam hidup yang tak seorangpun dapat bertahan, yaitu rasa sakit dari nafsu manusia, waktu, dan kematian. Namun, ada beberapa tambahan rasa sakit yang datang dari kekuatan sistem dunia yang menyebarkan kelaparan, kekerasan, ketakutan, dan kesunyian. Membaca laporan resmi dari Bank Dunia dan US, kamu akan sadar bahwa uang yang dihabiskan untuk membeli senjata selama 12 hari akan cukup untuk memberikan makanan, membangun sekolah, dan perawatan medis pada semua anak-anak miskin di dunia. Hanya 12 hari. Mungkin utopia adalah jalan untuk melangkah di dunia tanpa “pajak pertambahan rasa sakit”, dengan menggunakan uang untuk menyelamatkan hidup alih-alih menambah kematian.
Sebuah pengetahuan menunjukkan padamu bahwa hari-hari yang lain adalah suara dari proses baru di Amerika Latin di abad ke-21. Pergerakan orang-orang Indian, orang-orang hitam, homoseksual, para wanita, semua minoritas.
Wanita tidak benar-benar minoritas; mereka lebih setengah dari jumlah manusia. Namun, hak-hak perempuan memang diabaikan di seluruh dunia. Ini juga terjadi di Amerika Latin, tentu saja, bahkan jika situasinya membaik dari hasil pengaturan dan pertarungan.
Dan masyarakat pribumi?
Untungnya, ada kebangkitan dari pergerakan pribumi di Amerika, dari Alaska hingga Tierra del Fuego. Penaklukan berlanjut di bawah nama-nama lain, dan perlawanan berlanjut. Masyarakat pribumi bertahan pada tradisi dengan keajaiban dan belum kalah, saya tidak tahu kenapa, setelah lima abad mengalami perlakuan buruk, pembantaian, dan penghinaan. Mereka menderita tujuh Tulah Mesir, dan masih banyak lagi. Tapi mereka mengabadikan tradisi yang datang dari masa lampau mereka; dan suara-suara ini datang dari masa lalu ke masa depan generasi selanjutnya. Sebagai contoh, tradisi komunitas, sebuah cara hidup dan bekerja yang menghindari kerakusan. Contohnya, tradisi bersahabat dengan alam: kita semua seharusnya menyebarkan kepercayaan ini sebelum terlambat. Organisasi ekologi menunjukkan bahwa dunia telah kehilangan sepertiga dari sumberdaya alamnya selama 30 tahun terakhir. Dapatkah kita menerima sebuah sistem yang meracuni udara, tanah, air, dan jiwa? Sebagian besar orang masih melihat alam seperti kamu melihat sebuah kartu pos atau kebun.
Mereka tidak melihat manusia sebagai bagian dari alam.
Tapi dari tradisi tertua di Amerika, warisan budaya, mengajari kita bahwa kita adalah saudara dari segala yang berkaki, bercakar, bersayap, atau berakar. Apa yang disebut “Peradaban” telah bertarung melawan pesan ini sejak “Penemuan Amerika”. Awalnya atas nama Tuhan, selanjutnya atas nama kemajuan. Siapa yang tahu berapa banyak Indian dianiaya atau dibunuh untuk pemujaan? Dewasa ini, setiap orang berbicara tentang melindungi alam. Akan tetapi alam terus berlanjut menjadi sesuatu yang ganjil bagi kita, sesuatu yang terlihat seperti sebuah lanskap. Kita tidak menjadi milik alam, dan kita gagal menyadari bahwa segala penjahat yang melawannya berarti bunuh diri. Kita masih menderita dengan budaya perpecahan ini.
Setelah membaca halaman terakhir dari Upside Down, tentang utopia, saya berkata pada diri saya sendiri, “Saya rasa Galeano tidak telalu optimis.”
Rasa optimis saya menjadi ragu-raga saat sarapan. Saya menyangsikan optimisme yang terus-terusan. Tapi ada gerakan yang berbeda-beda di dunia yang menjawab pesan dari kekuatan universal — pergerakan yang berdasarkan solidaritas dan kepedulian yang bertimbal-balik: pergerakan berbasis ekologi, gerakan hak-hak homoseksual, HAM, kepedulian pada perbedaan, gerakan feminis yang kadang-kadang melakukan hal-hal barbar seperti seksisme, namun secara umum, saya ingin berkata bahwa ini adalah kabar baik bagi dunia. Pergerakan dari kekuatan lokal — kadang-kadang mereka di desa yang kecil atau para tetangga. Sehingga, bagi saya ada banyak alasan untuk optimis. Jadi , kita tidak harus menatap di tanah dan merasa seakan semuanya telah berakhir. Ada banyak energi indah yang mengubah dunia. Saya bukan, tentu saja, penafsir dari semua gerakan ini. Tapi itu memberikan saya kebahagiaan untuk merasa seakan saya berkontrbusi pada berbagai perubahan ini.
Setiap orang berbicara tentang sosialisme bahwa, sebagai sebuah pemikiran, ia telah mati. Apakah menurutmu akan ada sosialisme di masa depan dengan wujud yang berbeda? Yang membuat saya khawatir, kegagalan dari komunisme dan bahkan sosialisme adalah karena mereka bergantung pada patriarki. Patriarki mendikte apa yang harus dipikirkan dan dikerjakan orang.
Ini pemisahan yang lainnya. Keadilan dan kebebasan telah dipisahkan, seperti pemisahan manusia dari alam, jiwa dari badan, masa lalu dari masa sekarang, dan perasaan dari alasan. Sistem kapitalis, yang disebut sebagai “ekonomi pasar”, telah mengorbankan keadilan atas nama kebebasan, dan yang disebut sebagai “Sosialisme yang sebenarnya” telah mengorbankan kebebasan atas nama keadilan. Permulaan dari milineum baru, inilah tantangannya: kita menginginkan keadilan dan kebebasan, si Kembar Siamese, hidup dan melangkah bersama.