Ruang Dilema

Di seberang jalan itu aku melihat pemuda dengan eskpresi wajah yang lusuh dan tak bersemangat untuk melintasi jalan itu, akupun hendak menghampirinya, begitu canggung pada saat aku mencoba membuka komunikasi dengan nya. Pemuda ini mengacuhkan ku disaat beberapa pertanyaan ku yang tertuju padanya. Tak sedikitpun dia memperhatikanku. Tapi, pada saat aku bertanya soal “cinta” iya dengan cepat berbalik dengan wajah yang sinis dan begitu ber amarah, seakan ada hal yang begitu berat telah di alaminya.

akupun memulai bertanya kembali, walaupun aku ragu akan hal ini.

kenapa saudaraku, apakah ada hal yang membuatmu sontak kaget dengan kata cinta.?

kau, iya kau! jangan berbicara soal cinta denganku, hal itu hanya membuatmu sakit nantinya. Kenapa bisa.? Oke. aku akan ceritakan kisah ku kepadamu.

sore itupun aku dengan pemuda ini bergegas mencari tempat untuk bercerita, dan kami pun tiba di pinggiran jalan tempat para pemuda biasanya melepaskan cerita” tentang dirinya atau kenangan.

kami pun memesan kopi hitam dan sebungkus rokok. iya pun mengambil sebatang rokok dan memetik korek apinya, dengan menghembus kan satu tarikan dan iya mulai bercerita.

ada seorang wanita yang begitu cantik dan manis di setiap senyumnya. kami bertemu dalam satu kegiatan organisasi kemahasiswaan, satu bulannya kami sering bertemu, walaupun hanya bertatapan wajah, dan hal itu aku sangat menyukainya.

sepulang dari kegiatan itu, aku pun Memberanikan diri untuk mendekatinya. enam bulan lamanya aku dekati gadis manis ini yang biasanya anak muda sekarang bilang “pdkt”. aku membuktikan keseriusanku kepadanya, begitu banyak hal yang terjadi selama pendekatan itu. Dan akhirnya kami pun menyekapati untuk berpacaran.

Tapi, entah kenapa hubungan kami tak seindah yang saya kira, penuh dengan cekcok, saling menyalahkan, dan selalu terselip masa lalu yang se olah - olah itu adalah penyakit yang selalu menghantui. aku bingung dengan gadis manis ini, begitu banyak hal yang absurd pada dirinya. aku mencoba menerima tapi hal itu sangat sulit bagiku.

aku tahu, dia masih ingin kembali ke masa lalunya, tapi Gadisku ini takut akan pandangan orang-orang ketika kembali dengan masa lalunya. Ada seorang laki” yang sampai saat ini masih terus” menghubunginya dan iyapun masih meladeni hal itu. sempat aku mendapatinya, tapi malah mengelak. bukan aku melarangnya untuk bersilaturahmi, tapi untuk apa seorang yg sudah di kategorikan mantan kekasih mengajak kekasihmu untuk ke rumah dan hal itupun di iyakan oleh Gadisku.

aku cemburu. wajar jika aku cemburu dan berpikiran yang tidak”. menerima alasan darinya tak bisa aku mempercayainya. hari demi hari pun kami sering cekcok dengan hal” yang kecil dan itu membuat hatiku terluka, tak seperti apa yang ku harapkan ketika akan berhubungan dengan nya.

sifat feminimku pun memuncak dan meneteskan air mata, menandai begitu terluka hati ini. seperti benih” yang kutanamkan setiap harinya adalah luka.

akupun berfikir akan meninggalkannya, walaupun ku tau begitu besar cinta dan rasa sayangku kepadanya. tapi untuk apa jika rasa itu hanya membuatku terpenjara dan menyisahkan luka.

tak terasa sudah malam. lantas hubunganmu dengannya sekarang seperti apa.?

hari ini, kami masih bersama. aku hanya menunggu moment dimana akan mengakhiri kisah ini.

aku hanya menginginkan dia bahagia tanpa aku, mungkin ada yang lebih layak untuk bersamanya tapi itu bukan aku.

Aku baru sadar ternyata Cinta dan Kasih sayang tak harus memiliki.!

Selamat tinggal Gadisku.!

Dayat Hanna

05, November 2016