Refreshing Knowledge and What I’ve learned in Sekolah Muslim Negarawan Angk. Khalid Bin Walid

This complicated world is just so amazing for only one reason, yes it’s God

Hi, yesterday I’ve just finish my participation in SMN event, Sekolah Muslim Negarawan. It is like a kind of leadership training for Muslim/ah to be some who care about their society and country. There were a lot of hikmah there. One of my favorite topic is “Syahadatayn”

I didn’t join the class, but it is my favorite topic, it refresh my brain.

Syahadatayn

I believe Asy-Syahadatayn is the foundation to build ideal muslim society.

Based on what I’ve read, to make sincere muslim society that is free, clean, refined, proactive, governed by justice, love, sincerity, mutual support, selflessnesss,

A society thatis free from oppression, hatred, deceit, se;fishness and arrogance.

This society is united by one thing, which is the bond of faith, which break down the barriers of race, nationality, language and color, and other factors which have no bearing on the essence of man.

We, as muslims need to make Qur’an and Sunnah formed the minds of us, and build our familiy and society, from the strongest foundation. Asy-Syahadatayn

Syahadatayn

What is syahadat? Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadurrosullulllaah.

This is a statement. The holy statement in Islam. The declaration that there is no God, except Allah.

Syahadat is taken from Asy-Syahadu, which it means:

1. Statement

2. Vow

3. Promise to be loyal (Q.S: 3:81, 5:7, 2:26–27)

Syahadat is a statement/vow/promise that needed to be:

1. Trusted by Heart

2. State by Words

3. Proven by Action

If we just do the point number 2 and 3, we might end up with called as munafiq.

May Allah help us to be true muslims, Aamiin

***

Now, I am going to write in Bahasa

***

2 hari bersama KAMMI, Pertama Kali Mengenal KAMMI dari Dalam

KAMMI, organisasi tersebut sudah lama kudengar sejak tahun pertama masuk.

Kulihat banyak sekali kakak-kakak tingkat yang berkarakter bagai malaikat bergabung dengan KAMMI

Namun, entah mengapa terdapat banyak hambatan dan sedikit keraguan bagiku untuk mengikuti salah satu event mereka, Sekolah Muslim Negarawan

Di sisi lain, aku penasaran, dan sebenarnya tertarik ingin ikut sejak tahun pertama

Kebanyakan jadwalku teryata bertabrakan dengan agenda SMN sebelumnya, bahkan tahun ini pun.

Perbedaannya ialah, tahun ini diriku kekeh untuk mengikuti SMN

Ntah kenapa, aku rasa aku akan mendapatkan ilmu baru dan kesempatan merefresh pengetahuan di otakku lagi, dan aku inginkan itu.

Sebagai mahasiswa yang telah semester 7, kesempatan mengikuti SMN tahun ini, boleh jadi kesempatan terakhirku. Setelah berkonsultasi dengan berbagai pihak, akhirnya kuputuskan untuk mendaftar.

Acaranya sebenarny 3 hari dua malam, 13–15 Oktober 2017, namun terdapat waktu dimana aku terpaksa tak bergabung dikarenakan ada kewajiban sebagai teacher untuk mengisi kelas di suatu lembaga bahasa inggris, Briton. Dan sungguh, diriku sempat ditakuti dgn status tidak lulus, namun tak apa. “Tak apa yang penting dapat ilmu” Ujar hati menegarkan, wkkwk.

Namun, sejujurnya aku sangat bahagia karena setiap sebelum sesi baru dimulai, materi sebelumnya direview sedikit baik oleh MC, maupun pemateri materi yang baru. Selain itu aku juga diberikan tugas meresume, yang membuatku mendapat asupan materi yang dipaparkan saat diriku meninggalkan lokasi, Alhamdulillaah. Jikapun aku tak lulus, ilmu dan ukhuwah yang terjalin sungguh berharga bagiku.

Tulisan ini kubuat untuk berbagi apa yang kupelajari selama 2 hari dalam event SMN

Mengenal KAMMI dari dalam.

“Kupikir KAMMI itu sangat eksklusif, dan tak terbuka untuk umum.

Hanya untuk orang-orang trtentu

Hanya untuk orang-orang yang sudah ngaji, jabatan tinggi, dan jilbabnya sangat besar2”

Pendapat itu coba kukaji kembali, jika memang tertutup, mengapa mereka gencarkan publikasi untuk mengajak siapapun mengikuti event SMN (Sekolah Muslim Negarawan)?

Maka pendapat ku diatas sebelumnya, tumbang.

Ternyata dihari pertama aku bergabung dengan event tersebut, setelah berbaur dengan peserta perempuan. Kudapatkan bahwa diantara mereka belum memilii kelompok kajian pekanan, namun memiliki tujuan yang indah, ingin memiliki kelompok kajian rutin (liqo).

Senang sekali mendengarnya, aku yakin mereka datang ketempat yang tepat dan percaya bahwa panitia pasti membuatkan kelompok liqo yang sustainable untuk para peserta. Dan ternyata benar.

Intinya SMN tak hanya menerima orang-orang tertentu, namun terbuka bagi siapa saja yang ingin menhuntut ilmu dan menjadi lebih baik.

“Kerjaannya Demo Melulu”

Wah, salah besar, ternyata KAMMI tak hanya melulu Demo

Dan ternyata demo itu penting, dan itu salah satu cara melaksanakan fungsi mahasiswa atau pemuda sebagai social control.

Para pemimpin perlu dikontrol, dan ada hak yang butuh di bela.

Dan ternyata sebelum demo, akivitas seperti lobbying sebenarnya sudah dilakukan, namun dead lock, maka terpaksalah demo.

Itu salah satu cara untuk menyalurkan aspirasi dan dilindungi oleh undang-undang.

“Kalo ikut SMN pasti dipaksa Demo”

Ternyata tidak, namun di akhir acara memang seluruh peserta diarahkan untuk melakukan aksi demo. Semacam pencerdasan terkait pilgub yang akan diadakan di tahun 2018.

Terdapat beberapa yang curhat denganku perihal perasaaanya itu. “Kalo tahu ujungnya begini aku tak daftar acara ini.” Ujarnya. Kucoba membujuknya untuk berbicara dari hati ke hati kepada panitia, lagipula salah satu pemateri telah menyatakan, tidak ada paksaan untuk turun berdemo. Ternyata mereka diizinkan untuk tidak turut berdemo. Alhamdulillaah, maka statement pasti dipaksa demo itu pun tumbang.

“Materinya berat dan mungkin mungkin susah dicerna atau bikin ngantuk”

Ternyata tidak, setiap materi disusun sedemikian rupa oleh pemateri agar mudah dicerna dan tak membuat gampang ngantuk.

Permainan intonasi dan total physical respon pun dilakukan agar kami tak tumbang.

Tak melulu teori, dibuatkan juga semacam gambaran.

Tak hanya menggunakan layar, ada juga yang sambil menulis di atas karton yang seolah menjadi papan tulis.

Kalau kulihat kembali catatan ku tentang materi-materi di SMN, kurasa materi nya tak seberat yang kubayangkan, dan aku percaya seluruh peserta dapat menangkap hikmah yang ingin disampaikan oleh para panitia maupun instruktur.

Terus materinya tentang apa?

Intisari dari apa yang aku pelajari adalah:

Islam adalah solusi, problematika ummat adalah hal yang perlu dibereskan, pemuda adalah panji terdepan yang seharusnya bergerak, begerak itu enaknya bareng-bareng.
Untuk memahami bahwa islam itu solusi dan meyakinkan kita agar bergerak, fondasi syahadatayn perlu dikokohkan lagi.
Untuk memahami bahwa islam benar-benar solusi maka diberikan pemahaman lahi tentang keuniversalan islam.
Untuk menyadarkan bahwa kita punya banyak masalah, dihadirkan materi problematika ummat.
Untuk menyadarkan bahwa kita butuh turut mengmbil peran dalam perbaikan ummat, disajikan topik, Islam, Pemuda dan Perubahan Sosial.
Diujung akhirnya kami dikenalkan dengan KAMMI yang sebenarnya dan diberi materi tentang manajemen aksi dan diarahkan untuk mempraktekkannnya.

Sepetinya hanya itu dahulu yang bisa kusampaikan saat ini.

“Kita dipertemukan untuk suatu tujuan, yang pasti tujuan itu baik”

Terimakasih yang telah menyelenggarakan dan menyukseskan acara yang membuka kesempatan menambah pengalaman , pengetahuan dan banyak kenalan untuk siapa saja dalam indahnya ukhuwah

Terimakasih para panitia hebat, yang telah memeras keringat

Terimakasih para instruktur, yang telah mentransfer ilmunya kepada kami

Terimakasih teman-teman seangkatan Khalid Bin Walid (akhwat), yang telah ikut mewarnai pengalaman ini dengan warna-warni kebahagiaan dan indahnya ukhuwah islamiyah.

Banyak diantara kalian lebih muda dariku, namun aku tetap dapat melihat banyak hikmah dan kagum pada kalian, nice to know you all.

Maaf sempat tak membersamai di hari jumat, karena ada kelas untuk diisi sedari sore hingga malam.

Maaf karena setibaku di hari sabtu pukul 08.00, aku harus pergi lagi untuk mengisi kelas persiapan cambridge international test dan balik lagi selepas ashar.

Maaf karena terlebih dahulu pergi ke al ma’ruf untuk memenuhi panggilan agenda syar’i, lalu pergi ke al-ishlah untuk mennyelesaikan suatu urusan. Namun, Alhamdulillaah, aku menemukan kalian masih melakukan aksi, dan diriku pun dapat melaksanakan peran dibidang dokumentasi. Aku senang dapat mengambil beberapa gambar, dan take 1 video. Meski aku yakin hasil pengambilan gambar dariku pasti jauh dari kata sempurna.

Akhir kata, “ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”
Semoga ilmu yang telah kita dapatkan, mampu membekas dihati dan kita amalkan.
  • written in dhuha time
  • find me on ig/twitter/medium : @DeHoukiBoshi

-DeHoukiBoshi-

Like what you read? Give Herawati a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.