20an
Selamat datang saudara, di umur dimana anda akan mulai mempertanyakan untuk apa saya tetap hidup. Mari saya tunjukkan beberapa hal. Perhatikan langkah jangan sampai jatuh ke lubang depresi.
Hal pertama yang harus anda tau adalah anda hidup sendiri, tapi entah bagaimana tugas anda adalah untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Anda akan mengalami episode-episode dimana anda merasa lebih baik tidak bertemu siapapun yang anda kenal selama mungkin karena deep down youre a piece of shit namun anda juga rindu berinteraksi manusia lain karena anda makhluk sosial.
Sayangnya, society suck ass kan? Banyak orang-orang tak punya otak hidup untuk membenci manusia/makhluk hidup lain, bahkan rela membunuh&mati karenanya. Lebih banyak lagi manusia judgemental asshole yang lebih suka menyalahkan korban pelecehan daripada pelakunya. Belum lagi stigma-stigma yang dilekatkan pada orang yang bahkan tidak pernah mereka coba untuk kenal. Akibatnya jadi bebal, terlalu banyak makan doktrin.
Sementara itu, disisi lain anda hanya ingin hidup damai dan harmonis. Anda merasa harus ikut mengubah paradigma masyarakat melalui medsos. Menjelmalah anda menjadi keyboard warrior yang hobi berteriak-teriak tentang keadilan dan ketebelence hingga akhirnya anda sulit membedakan diri anda dan tukang propaganda yang opininya sempit terbatas pada keuntungan kaum sendiri saja. Padahal anda kan hanya ingin hidup damai.
Belum lagi life outside yang sangat kelam penuh dengan sikut menyikut persaingan kerja dan nominal gaji. Tiap detik kriminal bisa saja menghambur ke ruangan anda lalu menikam leher terus ke diafragma. Anda yang sudah merasa terlalu aman tidak sempat melawan karena tidak tau harus apa. Ke toilet sendiri saja anda takut apalagi hand combat melawan rampok.
Tiap hari mulai terasa seperti lingkaran setan. Pagi hari biasanya adalah waktu paling buruk karena akan sulit untuk “tetap hidup hari ini” apabila anda tak punya tujuan. Tujuan itupun tampaknya mudah dicari namun sulit dikonfirmasi. Apakah menurut anda tujuan itu sudah cukup?
Tujuan demi tujuan tidak pernah cukup. Hasil demi hasil tak pernah puas. Lalu anda lihat ke kaca. Lihat diri anda. Jerawat disana, lemak disini, muka tidak simetris, tangan panjang sebelah, terlalu kurus, terlalu pendek, terlalu tolol, terlalu banyak berpikir ….. Mulailah anda menghakimi para artis dan orang-orang yang tidak anda kenal atas mereka yang sok-sokan mengajari anda untuk bersyukur padahal YAIYALAH ANJING LU BERSYUKUR LU TINGGI GANTENG KAYA PINTER IDUP LU UDAH BERES TINGGAL JADI ARTIS.
Anda tidak habis pikir mengapa orang yang diberikan kemudahan seperti itu masih menyia-nyiakan hidup dengan cara menjadi sombong, drug party dan arogan melebihi Firaun (katanya). Anda beralih membaca Medium karena berfikir bahwa orang-orang disini masih ada yang waras. Satu dua artikel mulai anda baca tentang “berdamailah dengan diri sendiri”. Anda mulai merasa tenang.
Apakah anda pikir sudah bisa merasa lebih baik tentang diri anda?
Hohoho tidak semudah itu Pulgoso.
Besok anda bangun dan menyadari bahwa anda masih bangun di tubuh yang sama, dunia kejam yang sama dan lubang jarum yang sama. Anda meringkuk sebentar mencoba mencari lagu yang dapat membantu perasaan anda tapi tidak ketemu. Kalau suka rokok, andapun merokok, begitupun kalau suka alkohol, atau kopi atau puisi atau menelfon mantan.
Pada akhir hari semua penyesalan datang lagi. Lampu sudah mati, tubuh terbaring, sisa berisik-berisik bangsat kamar sebelah yang tak tahu diri masih ribut jam 1 pagi. Pikiran anda melayang mencari alasan mengapa terlahir kurang. Tidak adil, pikir anda. Tapi semakin lama mencari, semakin tidak ketemu. Lalu besok berulang kembali.
Bingung.
Terlebih kalau anda karena suatu hal, terisolir, apalagi pengangguran. Menenggelamkan diri dalam keramaian menjadi terapi bagi anda. Memperhatikan semua orang lain itu, membaca bagaimana semua orang sebenarnya adalah sebuah planet yang berjarak ribuan tahun cahaya antar satu sama lain membuat anda merasa tidak terlalu sendiri.
Sekarang coba periksa jiwa anda, apakah anda menemukannya kosong? Bagus, selamat mencoba mengisinya dengan hobi, gemerlap, pengakuan, pencapaian, sex, keramaian, alkohol, kopi, hujan, senja, agama ……….., apapunlah. Semoga paling tidak jika anda mati besok, anda tidak akan mati kosong.
Terakhir, jangan pikir hidup akan memberi anda “jalan setapak” karena hidup lebih seperti diceburkan dalam samudra tanpa arah mata angin dan anda diminta terbang. Ya, paling tidak anda tau dimana “atas”. Baiklah, cukup sudah intro dari saya. Selamat menjalani hidup, selamat menderita ☺
