Rencana
Menjelang 25.
“Rencanamu apa?”
“Apa rencanamu?”
Berisik sekali pengunjung tak diundang. Mereka pikir sedang berjalan di deretan ruko seenaknya keluar masuk mengambil brosur. Kalau tidak bisa membuat percakapan kecil sebaiknya bicarakan tentang cuaca saja.
“Sudah tua kok belum bekerja?”
“Kok masih numpang orang tua?”
Dipikirnya aku menawarkan pamflet rencana hidupku apa? Semua saja tuntut. Mengapa semua sudah harus tercapai sebelum 25?
“karena masa kehamilan sehat pasanganmu hanya sampai 30 tahun”.
Ya tau. Kau pikir aku tidak belajar itu? Masalahnya hidup tidak terjadi lurus saat duduk dalam kereta. Ia lebih seperti berdiri di atasnya, melaju di rel yang berpotongan dengan banyak kereta lain. Sudah begitu, berpotongan juga dengan jalur pesawat terbang.
“Sudah punya kerja?”
“Mau investasi apa?”
“Tinggal dimana?”
“Punya pacar?”
“Sudah daftar asuransi?”
“Mau punya bisnis sampingan apa?”
“Kapan kawin?”
“Kok belum lulus sih?”
“Mau ambil KPR?”
“Beli mobil bekas saja dulu.”
“Kok tidak mau lanjut Ph.D?”
“Saldo tabungan?”
“Ipk?”
Berisik. Mana bisa lulus cumlaude publikasi riset dengan tertatih belajar bahasa asing sambil kerja paruh waktu dan menabung demi mencicil KPR sembari kesana kemari ditolak kerja sungguhan dan masih punya waktu untuk mengurus pacar, diri dan pil-pil sialan yang kalau tidak diminum bisa mati. Lagipula semuanya terasa seperti mengumpulkan kerikil untuk membangun tembok Cina. Iya tau kalau memang begitu seharusnya, tapi diam saja lebih baik. Aku sudah cukup keras pada diri sendiri. Berikan saja solusi dan bantu semampunya.
Sebelum 25 tergambarkan seperti umur dimana kau tidak boleh salah. Ini adalah umur dimana keputusan besar diambil. Keputusan yang hanya bisa kau lakukan sekali.
Coba tengok lowongan pekerjaan impianmu,
“minimum of 3–5 years experience; holds master degree; maximum 28 years old”
Kuliah sprint setengah mati mengejar gelar master di kampus megah paling cepat meluluskanmu di usia 23. Punya minimum pengalaman 5 tahun akan membatasimu bekerja di pekerjaan sejenis sejak lulus hingga usia 28 tahun. Dengan itu kau harus langsung bekerja di bidang yang tepat. Satu keputusan yang salah akan mengubah jalan hidupmu. Memangnya mendapat pekerjaan yang sesuai minat itu mudah?
Mencari pekerjaan sejenis yang mau menerima fresh graduate saja susah. Belum mencari yang mau mengajukan sponsor visa, melatihmu, menyediakan kesejahteraan berupa dukungan moral dan lingkungan sosial memadai serta memfasilitasi aspirasi dan kreatifitas. Semua itu belum mencakup semua aspek subjektif. Bisa saja perusahaanmu menyediakan segala kenyamanan lahir batin namun bertempat di dalam kesepian.
Memang bisa saja kau berpindah pekerjaan hingga mendapat pencerahan, namun saat semua menuntutmu untuk sudah mapan sebelum 28? Kau bisa apa?
Misal kalau mau meminang anak orang nanti. Rencanamu sudah harus matang. Kau harus punya hidup stabil, tinggal di tempat strategis, mampu membahagiakan lewat hadir maupun lain, etc. Memang tega melihat yang terkasih bersedih? Belum lagi kalau hendak beranak. Biaya sekolah yang baik, kursus, pelesir dan lainnya bisa mencabut uangmu dari kerak bumi.
Keputusan-keputusan yang kau ambil sekarang akan menjadi pondasi kerangka rumah tersebut. Retak sedikit saja akan melimbungkan semua yang kau pupuk. Rumah yang ambyar akan melukai jiwamu dan semua orang di dalamnya. Bahkan seringkali, perceraian hanyalah awal sesuatu yang lebih buruk.
Untuk itu kau harus memilih banyak hal. Kau harus meletakkan waktumu di tempat yang tepat tanpa buku panduan. Berputar meraba jendela di tengah malam dalam hutan tidak terdengar begitu mudah.
Kau harus memilih mau membuang waktu dengan riset tanpa kepastian guna atau menghamburkan daya pelesir ke luar negeri dalam embel-embel exchange. Ataukah ingin melakukan magang? Volunteer? Boleh, semua akan memakan waktumu yang menyempit mencekik sendi memaksamu bergerak makin terbatas keharusan.
Sekarang kau sudah bebas memilih mau melakukan apa dalam hidupmu. Tidak lagi kau dilarang jungkir balik seperti di rumah dulu. Pilihan-pilihan yang ada harus dipikirkan antara mencari kerja, pengalaman, gemerlap, kesehatan, uang, teman, kekasih, keluarga, moral, kewarasan dan mimpi tolol ingin menerbitkan buku. Semakin kau pikirkan akan makin banyak pilihan yang bermunculan. Mereka akan membuatmu tertanam dalam pertimbangan tanpa berani bergerak. Dalam hati kau bertanya,
“Apa yang kupilih sudah tepat?”
Lama pertanyaan itu mengambang di sudut mata tanpa terjawab. Tahun berganti dan kau mulai lelah mencari. Otakmu pingsan dan menumpuknya di bawah pertanyaan baru,
“Apa yang sedang kupertahankan kelak menjelma sesal?”
—
Sialnya, pilihanmu saat ini tidak hanya menentukan rumah yang akan kau bangun, tapi juga jati dirimu sendiri. Menghabiskan waktu dengan kawan yang mengerti akan membantumu tumbuh. Dihantam kegagalanpun akan membentuk siapa. Orang-orang yang hadir di saat ini akan menjadi patokanmu melihat ke depan nanti. Sialnya lagi, tidak ada yang pasti dengan manusia.
Untuk mengambil keputusan, kau harus punya data yang solid. Data yang dibutuhkan termasuk siapa yang hendak kau pertimbangkan dalam hidup. Keraguan akan melemparmu lebih jauh ke pusaran inkonsistensi. Dalam semua dilema ini, tidak mampu mengambil keputusan dengan tegas berarti terbangun tiap malam ketakutan akan waktu yang terbuang percuma.
Dalam cekat itu kau akan bertanya,
“Apa yang sebenarnya penting?”
Kalau aku yang menjawab, tidak ada. Akhirnya arti akan disematkan sendiri pada apapun yang diinginkan. Persetan itu membenci kafir, membela hak tikus lab, membuat ramen terenak, operasi ataupun jadi berarti bagi seseorang.
Kemudian kau berpikir bahwa jawabannya ada di ujung diri,
“Apa yang membuatku bahagia?”
Masuk akal sekali namun pertanyaan yang lebih penting harusnya adalah, “Apakah itu penting?”. Kau pikir hal pembuat bahagia sama dengan penting namun kenyataannya tidak.
Kau tau kalau pada dasarnya uang bersifat sangat penting. Uang selalu menjadi salah satu lokomotif penggerak kakimu tiap hari. Akan tetapi entah mengapa kau tak mampu menjadikan uang sebagai tujuan hidup. Kita umumnya tau hendak melakukan apa dalam hidup. Mimpi-mimpi itu mengerubungi tiap malam bak kupu-kupu mencium nektar. Menelanmu ke beliung orange yang membutakan akan realita. Kau bermimpi indah tiap siang, yang tidak kau tahu, apakah mereka cukup? Saat bercermin 5 tahun lagi aku akan bangga pada diri sendiri?