DewaD
DewaD
Draft · 2 min read

Matahari

Kalau boleh, mari kuceritakan tentang seseorang.

Ringkasnya, ia adalah matahari musim semi. Ia membawa hidup bagi bening dan mengalirkan yang beku. Tidak ada puas baginya selain melihat senyum orang yang ia sayang menghijau.

Lelah ia pikul membungkuk. Robek hati akibat pendapat sekitar membuatnya membenci diri sendiri. Tiap hari ia tergelincir diantara gelap yang mengambil lebih dari yang mampu ia beri. Kalau pernah ia keras kepala, pasti saat ia menolak meminta bantuan padahal memar mengular di sekujur.

Ia tidak sempurna, namun selalu mencoba. Sering ia takut akan terlambat mengerti, namun tidak mau berhenti. Tepat seperti kataku tadi, ia matahari yang selalu terbit berharap membawa bahagia. Bola pijar yang tak urung meski kecewa.

Berbicara dan bertemu orang banyak adalah obat baginya. Ia ingin merasa membantu dunia jadi sedikit lebih baik. Sayangnya ia tidak dapat banyak berbicara di semua situasi. Walau hatinya hancur menatap kepergian, jiwanya tidak mampu untuk menyulut tengkar. Bibirnya hanya bisa terkunci menelan gelombang yang tak dapat dibagi. Pikirnya, mengungkit hanya akan menambah beban orang yang tersisa. Biarlah yang pergi selamanya menjadi api.

Sinarnya lembut menjangkau semua hidup; mampu merawat tanpa membuat merasa lemah. Namun dibaliknya, ia keras pada dirinya sendiri. Reaksi fusi dan fisi meledak memaksanya terus berbenah. Berdarah ia berlari mempersembahkan bangga sang rupaka, juga dari yang mencintainya.

Ia adalah hangat, senyum, kebingungan, sedikit berantakan namun selalu belajar jadi lebih kuat. Semua itu bercampur dalam satu tarian manis. Gerakan mengalir melebur dalam tungku batu bara bergemeretak kemerduan mozaik ukulele, piano dan nyanyian di kamar mandi. Setelah matang, adonan itu akan menghasilkan pelukan yang dapat membuatmu merasakan seribu musim sekaligus.

Menghabiskan waktu dengannya adalah candu. Mustahil memang memiliki matahari sendiri, ia begitu sibuk dengan hidup hari ini. Terkadang aku dibuatnya merasa jadi musim dingin yang hanya bisa menanti ujung tahun.

Ada satu waktu yang ingin kupunyai. Saat ia menangis dikerubungi awan, aku ingin duduk saja di sebelahnya.

Bukan, bukan iba.

Menjadi matahari mengharuskannya memilliki geyser perasaan. Sumber mata air itu tidak hanya menyemburkan perasaan bahagia, namun juga lainnya. Mungkin dengan duduk di sebelahnya, sebagian beban itu bisa terbagi. Matahari-pun butuh tersenyum, kan? Mudah-mudahan ia takkan bosan dengan recehan.

Sebenarnya, walau demikian, aku tidak suka terpapar UV. Bisa cepat mati kena kanker kulit. Maka dari itu, kalau nona matahari berkenan, kupanggil bulan saja ya?

Bulan hidup saat yang lain redup. Bulan takkan mati. Takkan kubiarkan dia mati.