Ujung jawaban
Tidak tahu, tapi mari menerka-nerka.
Kita semua berjalan, menangis, menikam hingga tiba-tiba sudah di perpotongan jalan menuju pilihan tak hingga. Mungkin 3/4 kemungkinan itu akan berakhir pada tali gantungan di sebuah kamar kosan terpencil ibukota.
Lucu juga kalau dilihat, di titik ini kita baru sadar kalau kita hanya didefinisikan dari mereka yang masih belum muak direcoki dan dihamburkan keluh-kesah.
Tidak banyak, dan berkurang seiring waktu. Padahal kan, waktu tidak bisa dibendung?
Hidup itu terjadi tanpa alasan. Kalau kau babak belur dipukuli hidup ya itu tanpa alasan juga. Disinilah, yang tidak kuat berjalan buta akan mulai membuat alasan hidup, menganggapnya mata padahal hanya berlari seperti ngengat pada cahaya.
Alasan itu olehmu lalu dijadikan master grand plan life goals yang penuh perencanaan dan perhitungan. Kamu yang lulus dari jurusan biologi mendadak ahli mengkalkulasikan peluang padahal makan di angkringan saja seringkali kelepasan makan telur puyuh 2 tusuk. Kamu dipaksa jadi rasional padahal lebih suka mendengar saran dari tulisan irrelevant di Medium. Bagaimanapun, makin lama menghitung makan sadar pula kalau tiap keputusan ada harganya.
Yang mengejar orang lain akan kehilangan diri sendiri, bagai rumput di tengah ilalang. Yang mengejar mimpi akan kehilangan orang lain, dengan Zuckerberg sebagai pengecualian karena ia belum cerai. Yang mencintai dengan harapan dapat menjadikan pasangan jadi lebih baik, ditanya kabar saja belum tentu. Begitupun kalau kau putar keran shower ke kiri, terlalu panas. Kalau ke kanan, terlalu dingin.
Sepanjang jalan pasti akan bertegur hirau dengan yang mengatakan “moderasi adalah solusi”. Katanya jangan terlalu cinta, terlalu benci, terlalu bersinar, terlalu redup, terlalu takut untuk menghapus Instagram padahal tau yang dipamerkan hanya kulit dan yang dilihat hanya duri. Katanya dengan moderasi niscaya hidup akan bercahaya.
Mudah memang dibilang, seperti kata dahsyat solutif sekali bisa membuat kita nyaman mengetik sambil tiduran. Kenyataannya moderasi sangat biadab, tidak ada kuantitasnya. Coba, bingung tidak kalau dimintai tali yang “tidak panjang ataupun pendek”? Kalau tidak, berarti bapakmu pelatih tim tarik tambang.
Kebingungan itu masih juga dihadapkan pada pemaksaan untuk selalu membuat pilihan tepat. Misalnya, uang harus berbelas digit, makanan tidak boleh memicu mati, gelar harus mengular, pasangan harus disetujui orang tua, wajah harus digosok sampai transparan, gaya hidup harus gaya, update harus di kedai kopi (padahal di kedai kopi malah pesan teh) dsb. Masalahnya, yang diusahakan sekarang belum tentu hasilnya sesuai, kan?
Selagi kebingungan, tertekan, kita juga harus mengayomi diri sendiri. Tugas yang terakhir mungkin lebih ringan kalau kau punya pasangan yang cukup dewasa. Kalau kau hanya punya yang “take you for granted”, yang bertanya “ngapain aja tadi?, “udah makan?”, “makan pake apa?” etc hanya untuk basa-basi tanpa berniat mengenalmu dan hadir dalam apa yang sedang kamu lalui. Selamat berusaha.
Nyatanya, pilihan-pilihan itulah yang membuat kita jadi kita, bukan apa yang diharap ada di ujung jalan. Biarlah yang di ujung sana tetap disana, persetan. Aku tidak tau mana yang benar. Yang realistis-reflektif biasanya bilang kita ini hasil perbuatan. Yang tak tau diri, macam aku, bilangnya kita ini sisa kesempatan.