DewaD
DewaD
Dec 29, 2018 · 2 min read

Bali membusuk salah siapa?

Sebagai yang bukan orang lokal, saya selalu melihat Bali sebagai benteng terakhir kedamaian di negara ini. Bali menjadi destinasi kaum marginal yang terancam pada berbagai kesempatan, sebut saja pembantaian Cina 98 dan kerusuhan 65. Pemerintah tau, dan menggunakan Bali sebagai citra negara harmonis dalam keberagaman padahal kantongnya mulai disesaki calon ekstrimis. Mereka menggunakan topeng budaya asri nan-indah untuk menutupi usaha pembunuhan budaya suku selain Bali demi menggantikannya dengan “keseragaman” yang dilakukan oleh para agen real estate sorga.

Semua hal dilakukan di Bali, mulai dari muker parpol, Miss World sampai KTT. Sungguh ironi saat Bali begitu dijagokan untuk menjadi pusat destinasi wisata turis mancanegara, ia malah dikafir-kafirkan, dimusrak-musrikan, dikatai pulau maksiat, penuh nista dan tidak bermoral oleh masyarakat di negaranya sendiri.

Sini kubisikan isi kepalaku, “bangsat mereka semua”.

Kalau semua orang di Bali berpikiran seperti kaum bangsatmu itu, berapa turis mancanegara yang harusnya sudah mati diperkosa? Mentang-mentang Bali tidak melarang wanita bercelana di atas mata kaki, lalu mereka pikir otak lelaki disana langsung auto-perkosa?

Tidak. Otakmu saja yang diajari jadi bangsat.

Tidak juga ada urusan antara berpakaian ekspresif (dan kelakuan lain yang dilarang oleh doktrin yang kau anut) dengan moral. Orang Eropa kafir yang turun ke jalan menuntut EU agar melindungi imigran timur tengah memangnya tidak punya moral?

Saat ini pulau Bali yang dipandang indah melebihi kepulauannya sendiri sedang sakit. Identitas Bali yang dijajakan dan diperas bagai Bali masih baik-baik saja semakin pudar. Pergilah ke Bali Utara atau Selatan, rasakan bagaimana atmosfernya tidak jauh berbeda dengan kompleks warung lalapan di Jawa. Semua orang itu dibiarkan ke Bali untuk beranak pinak seperti tikus got tanpa peduli kalau itu akan menyebabkan kepunahan topeng satu-satunya negara ini.

Mereka yang sudah lama tinggal di Bali kemudian bicara lantang tentang toleransi. Bagaimana rasanya jadi minoritas yang sangat diterima dan diayomi. Coba saja jadi minoritas di Jakarta, demo berjilid-jilid mengatai kafir darahnya halal sudah jadi ancaman rutin. Belum daerah lain yang mengalami ancaman bom Gereja, perusakan Kelenteng, Wihara dan Pura.

Sudah saatnya penduduk penguasa sorga negara ini sadar kalau bukan karena sisa topeng Bali dan Bhineka Tunggal Ika dari kitab Sutasoma, negara ini mukanya sudah sama dengan Suriah.

    DewaD

    Written by

    DewaD

    ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.