Jul 3, 2018 · 1 min read
Bangkai
Empat belas hari sudah panas meninggi di kening Salem.
Sembilan bulan setelah terakhir kali ia punya Ayah.
Tujuh tahun dihabiskan berlari di dasar sumur peradaban.
Dari bawah mendongak mengamati kera-kera pemanjat dinding.
Beberapa punya tangga, lebih dari beberapa diinjak.
Hidup ini tidak adil, begitu pikir.
Perut mencengkram meng-angan lalat hinggap di piring.
Waktu berbisik menjerat agar kau terus memacul.
Padahal dari lahir sudah puas menenggak ludah.
Hidup kamu tidak lama lagi, begitu teriak angin.
Ibunya menangis.
Ia mencaci,
Ia menghardik,
Kelabang dan kalajengking berhamburan dari mulut busuknya.
TUHAN MATI!, BANGSAT!
Lalu jatuh bersimpuh
“Dia mati” katanya bergetar.
Bangkai Tuhan berserakan.
Dibunuhnya Tuhan oleh pikiran.
