Kenyinyiran 1

DPR kalo kumpul bahas batas membatasi KPK, padahal KPK kalo kumpul mau membatasi koruptor. Takut ketangkep gitu.

Pengamat politik kalau kumpul bahas politik dilucu-lucuin. Padahal hidupnya sendiri lucu.

Pengamat bola kalau kumpul bahas pemain bola, gapernah bahas bolanya.

Penikmat kopi kalo kumpul bahas filosofi ngopi. Biar faedah gitu kafein yang masuk.

Anak biologi kalo kumpul bahas bagaimana evolusi lubang hidung kodok.

Atheist kalo kumpul ngomongin krisis eksistensi dan bagaimana mendapatkan THR berbagai agama.

Ukhti anyonghaseo kumpul ngomongin plastik.

Anak kosan kalo kumpul bahas resep olahan Indomie.

Grup sastra dan Medium bahasnya kalo gak puisi, hujan, semesta, kopi ya senja.

Sosoan bahas semesta tapi opini masih komunal.

Trus.

Biar apa senja.

Bagus pagi. Setan-setan keusir semua.

Kenapa setan keusir semua kalau pagi; kalau korban masuk ke dalam selimut; kalau korban ngidupin lampu; kalau korban meluk teddy bear.

Yakali setan takut selimut.

Biar apa minum kopi dan baca puisi senja-senja hujan.

Biar ….. biur kalo keujanan?

Kalo mandi senja nanti malam bau lagi, apalagi pagi.

Mending gausah mandi.

Mandi hanya untuk yang krisis percaya diri.

Kecuali ada kekasih.

Beda itu.

Mandi untuk direkam ingatan.

Siapa tau kan dia pergi jauh-jauh.

Aku mandi maka aku eksis.

Kalo pengamat Medium kumpul, gabut, biasanya nyinyirin pengguna Medium lain dan senja.

Sama komunalnya.

Hipokrit.

Tapi padahal sebenarnya iri.

Kapan lagi dia bisa bersenja gurau bersama “dia”?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Dewa D’s story.