DewaD
DewaD
Jun 1, 2017 · 2 min read

Cerita di Gunung Slamet

Sekelompok pendaki nekat mendaki Gunung Slamet hanya dengan bermodal pengalaman dua-tiga kali mendaki sebelumnya. Mereka memulai dengan penuh perhitungan. Bekal makanan lengkap, air dan alat-alat kemping semua sudah dibawa. Mulai mendaki subuh agar sampai di perkemahan sore hari. Esoknya mereka baru ingin melanjutkan ke puncak.

Malam itu perkemahan sepi sekali. Hanya mereka bertujuh yang sedang menginap disitu. Mereka membangun sebuah tenda besar untuk bersama. Lokasi dipilih diantara pepohonan untuk mengurangi tiupan angin malam masuk. Semalaman mereka memasak dan tertawa di sekeliling api unggun. Setelah menghabiskan kayu bakar yang dikumpulkan, akhirnya mereka tidur.

Alunan derak api unggun membumbung ke angkasa. Sayup-sayup gesekan ranting mengiringi tidur mereka. Lelap terjadi begitu cepat tanpa mereka sadari.

Tidak lama, salah seorang pendaki terbangun ingin pipis. Teman-teman yang daritadi ia coba bangunkan tidak bergeming. Ia putus asa. Mau berteriak tapi dingin mencekik pita suaranya. Dengan rasa kebelet dan kedinginan akhirnya ia pergi keluar sendiri.

Satu malam itu ia tidak kembali, begitupun esok paginya. Teman temannya tidak mengetahui keberadaan orang itu dimana. Pendakian ke puncak dibatalkan untuk melakukan pencarian. Pencarian dilakukan dibantu tim SAR dan beberapa relawan. Petunjuk terdekat yang didapat dekat situs kemah hanyalah sarung tangan yang berlubang tengahnya seperti tertusuk gunting. Seukuran gunting rumput.

Orang itu baru ditemukan senja hari di sekitar lereng yang tidak jauh dari jalur pendakian. Ia ditemukan terikat pada sebuah pohon dengan vena yang menonjol di sekujur tubuh. Badannya pucat menggigil seperti terkena hipotermia padahal suhu tubuhnya normal. Tali yang mengikatnya bukanlah sebuah “tali”, melainkan rambut. Rambut hitam yang tebal.

Setelah ditanya apa yang terjadi, menurut kisahnya ia diculik oleh segerombolan pasukan yang tidak diketahui asal usulnya. Ia berkata terbata-bata dengan jemari tidak berhenti bergerak.

“Pasukan apa?” Semua bergantian bertanya.

Ia hanya menjawab berulang-ulang, “seragam coklat, bayonet, guilotine, coklat, bayonet — ”

Semua berpandangan. Tidak mengerti apa yang terjadi.

Dua orang dari mereka segera melepas ikatannya. Tidak ada simpul. Jadi mereka berusaha memotong rambut itu dengan pisau.

“Gimana kemarin lo diculik?”

“Bayonet, tali, kepala — ” katanya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan ke belakang berulang kali.

“Kayaknya dia masih gabisa ditanya deh.”

“Iya, biar istirahat dulu apa.”

“Tapi kenapa diiket disini?”

Tiba-tiba terculik itu berhenti menggigil. Wajahnya diangkat, ia tersenyum. Perlahan jarinya ditunjukan ke atas.

Darah menetes.

Esoknya semua nama di tempat itu dilaporkan menghilang.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.