Marwan

DewaD
DewaD
Draft · 5 min read

Untuk bercerita tentang Marwan pertama harus kembali pada masa kecilnya. Marwan adalah seorang anak penuh rasa ingin tahu yang jarang menemukan kedua orang tuanya di rumah. Dulu padahal selama sekolah dasar Babehnya selalu ada dan mengajarinya perhitungan matematika. Tidak tanggung-tanggung sejak baru masuk Sekolah Dasar, Marwan sudah juara kelas. Sampai Marwan bosan juara kelas lalu memilih menggelandang bersepeda lintas kota. Untung masih ada Babeh yang super gaul dan mengenalkan Marwan pada toko buku. Bau buku baru hingga kini masih menjadi pengingat Marwan pada Babehnya. Sempat sekali ia kehilangan gelar juara kelasnya. Tahun berikutnya Marwan kembali belajar namun masih tidak juara. Sejak itu kombinasi bau buku baru dan ujian selalu membuatnya ingat bahwa kesombongan itu tak ada artinya.

Babeh adalah Humanoid terpintar di rumah. Kemudian ibunya Marwan adalah nyonya besar paling jago masak dan hobi jalan-jalan. Petaka baru terjadi saat kerusuhan 1998. Keluarga mereka porak-poranda. Ekonomi runtuh, begitu juga masa kecil Marwan.

Babeh harus pontang-panting bekerja serabutan untuk mencari uang, padahal Babeh baru saja diterima menjadi dosen honorer sebuah kampus. Sayang sekali karena pendidikannya baru S1, ia didepak demi memangkas anggaran. Nyonya besar berbeda lagi. Nyonya dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan elektronik besar sebagai sekeretaris. Setelah melahirkan Marwan akhirnya ia resign. Berbekal perpisahan baik-baiknya dari perusahaan terdahulu, Nyonya kembali melamar dan berhasil. Hanya saja perusahaan itu terletak di seberang lautan. Segera setelah melahirkan Murni, adiknya Marwan, Nyonya berangkat ke pulau seberang bersama anaknya baru lahir.

Tinggallah Marwan sendiri di rumah. Anak 11 tahun harus belajar mengurus seluruh rumah dari menyapu lantai, halaman, mencuci pakaian dan lain-lain. Ada konflik batin dalam diri Marwan, dulu sebelum krisis moneter ia dapat hidup berkecukupan, punya seorang pembantu yang membuat Marwan bebas bertualang ke pelosok kota dan desa. Pulang bertualang dengan sejuta pertanyaan ia akan mendekam bersama buku mencari jawaban atas semua pertanyaan itu. Kini tidak bisa lagi. Marwan merasakan dirinya berada dalam tahanan. Memang dasar jiwa pemberontak turunan kakeknya yang seorang letnan.

Walaupun demikian semua tugas rumah Marwan lakukan dengan baik. Sesekali ia menyelinap keluar untuk bermain playstation dan menghabiskan hidupnya di atas sadel sepeda bernyanyi lagu yang ia dengar dari radio. Malam hari masih ia gunakan untuk belajar, kadang sih, ia ingin terus belajar karena egonya cukup tinggi untuk mau dikalahkan orang lain.

Di jalan itu pula ia bertemu banyak teman. Teman yang ia sudah lupa namanya sekarang. Kadang mereka bermain bola, kasti atau sekedar naik sepeda bersama. Kadang juga Marwan dikhinati. Pernah suatu ketika Marwan ditawari ikut bermain sebagai pemain bertahan samping melawan SD sebelah yang merupakan musuh bebuyutan SDnya. Permainan dijanjikan pukul 4 sore di Lapangan Banteng. Jelas Marwan sangat bersemangat, ia datang tepat waktu menggunakan kaos kaki baru dan sepatu pinjaman tetangganya. Sampai disana tidak ada apapun selain debu. Duduklah Marwan menunggu,

10 menit,

30 menit,

1 jam

Kemudian Marwan mulai menangis. Ia tidak tau mengapa, tapi hatinya sesak. bagaimana mungkin teman yang ia percayai tidak datang hari itu. Mungkin lupa pikir Marwan. Jadi menit pertama ia langsung bangkit dan berjalan pulang ke rumah. Tidak lagi pernah mengungkit masalah itu tapi diam-diam ia berjanji tidak akan percaya pada siapapun lebih dari pada dirinya sendiri. Membuka diri menjadi kelemahan baginya.

Lulus Sekolah Dasar Marwan melanjutkan ke SMP terbaik di kecamatan. Ego Marwan terpupuk makin subur disini. Ia belajar dengan rajin hingga disegani, tidak ada seorangpun yang boleh tidak hormat padanya. Tidak juga ia percaya pada siapapun lebih dari dirinya. Lomba demi lomba ia menangi, namanya menjadi harum dan kepada Babeh dan Nyonya, Marwan hanya menunjukan sisi baiknya saja. Iya walaupun mereka berdua jarang ada di rumah, kedua manusia itu tetaplah orang yang paling ia sayangi melebihi apapun.

Belajar menghargai perasaan orang lain baru Marwan dapatkan menginjak bangku kuliah. Dengan semua pergunjingan yang terjadi di punggungnya, Marwan merasa dikhianati. Marwan insyaf bahwa beginilah sebenarnya dunia itu. Setidaknya cobalah mengerti perasaan orang lain, bukan soal memakai topeng, tapi soal bagaimana menjadi orang baik.

— — —

Marwan sudah berhubungan dengan Mera selama 3 tahun lebih, baru ada romansa diantaranya sejak 4 bulan terakhir. Marwan sudah bekerja, ia memilih langsung mencari uang agar adiknya, Murni, bisa kuliah dengan baik tanpa khawatir biaya selain karena ia memang senang memiliki uang. Marwan menyayangi kedua gadis itu. Tidak bisa kalau harus memilih satu.

Mera adalah teman sekelasnya Sapardi dulu saat SMA. Marwan yang adalah kakak tingkat dikenalkan pada Mera oleh Sapardi di suatu fajar yang teduh. Mera adalah gadis dengan watak sekeras dirinya. Perceraian kedua orangtuanya membuat Mera begitu benci pada lelaki dan romansa yang dibawanya.

Mereka terlibat beberapa kegiatan bersama namun tidak ada apapun yang membuat mereka berani melangkah lebih jauh. Hal itu bertahan hingga sebuah pesan salah kirim dari Marwan kemudian,

“Di, PR besok sudah selesai?”

Mera memandangi layar ponselnya. Mukanya berkerut. Manusia macam apa yang memanggil dia “Di”. Memangnya ia bernama Budi?

“Salah sambung.” Balasnya.

Marwan ikut menatapi layar ponselnya. Manusia macam apa ini tidak ada basa-basi sungguh keterlaluan menjadi manusia jutek abis.

“Ye, santai dong. Lagi panas dalam?”

Tidak lama kemudian, ia mendapat balasan, “Global warming.”

Marwan malah tertawa padahal tidak lucu. “Nomor siapa pula ini” pikirnya. “Sapardi kurang ajar betul sampai memberinya nomor salah sambung.”

Tak disangka olehnya percakapan mengenai global warming merembet ke perkenalan, kemudian pada topik kebakaran hutan Amazon lalu dampaknya pada cuaca. Topik berlanjut pada tugas sekolah, bertukar playlist dan rencana liburan. Belum lama membahas hal normal, topik sudah kembali lagi pada pengaruh equinox pada perubahan panjang musim lalu ke fluktuasi cuaca Indonesia kemudian ke musim hujan yang diakhiri dengan modus najis berupa, “Tau tidak kenapa mendung sering datang belakangan ini?”

“Karena sedang musim hujan (?)” Balas Mera penuh keseriusan.

Marwan senyum-senyum. Mera telah jatuh pada perangkap, hatinya bersorak sorai. “Yes! Rasakan jurusku!” Teriaknya dalam hati. Sekarang tinggal jarinya harus bergerak dengan gesit mengetikkan balasan paling bergula-gula di dunia.

“Salah. Itu terjadi karena matahari takut kalah dengan senyummu.”

…..

………..

Senyum Marwan perlahan mengendur. Balasan yang ia tunggu tak kunjung datang. Jemarinya layu. Menit berlalu jam, ia merasa trisula sedang mengorek isi perutnya. Marwan merasa kehilangan padahal ia tidak pernah memiliki apapun. Beliung mengaduk ulu hatinya hingga ia mematikan ponselnya untuk berangkat sekolah setelah menunggui balasan sejak jumat sore.

Pikirannya kosong, lelah sudah dengan segala kecamuk pikiran dalam benaknya. Berbagai prasangka dan kemungkinan yang berujung pada satu kesimpulan bahwa Mera tidak suka. Sepele memang, namun penolakan dalam bentuk apapun sangat terasa bagi lelaki melankolis macam Marwan yang berusaha menjaga perasaan orang lain sebagaimana ia ingin perasaaannya dijaga. Mungkin yang hilang dari Marwan adalah hatinya. Kepercayaan yang telah diberikan agar ia bisa terbuka pada orang lain.

Usai sekolah hari senin itu, Marwan menarik nafas panjang, “Mungkin aku harus minta maaf” pikirnya.

Saat itulah, si tengik biang keladi yang bernama Sapardi muncul di ambang pintu kelas. Marwan sudah memarahinya tadi pagi dan seperti biasa si tengik itu hanya cengar-cengir. Cengiran itulah yang persis tampak di wajah Sapardi sekarang.

“Ai, jangan buru-buru. Ada yang mau ketemu.”

“Apasih, minggir aku mau pulang.” Jawab Marwan ketus.

Tiba-tiba dari belakang si tengik itu muncul seorang gadis. Tidak lain tidak bukan, satu-satunya gadis yang ada di benak Marwan, Mera.

Marwan melotot ke Sapardi tapi mendadak tersenyum ganteng saat melihat Mera. Dengan penyakit kepribadian ganda begitu, Marwan seharusnya jadi artis.

“Ditinggal dulu ya”, cengir Sapardi sambil menepuk bahu Marwan.

Marwan mengangguk diiringi dengan ayunan langkah yang menjauh. Dua manusia itu kembali berpandangan, “Wan, maaf ya kemarin aku tidak membalas. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi aku senang.”

Jantung Marwan mencelos, copot. Ia megap-megap kehabisan udara tapi berusaha tetap tenang. Lega yang ia rasakan merajam tulang dahinya sampai meleleh.

“Serius? Wah aku jadi ikut senang.” Balasnya sok tenang.

Mera menunduk, suara merdunya terseret, “Sebagai balasan …. bagaimana kalau kita makan bareng di tukang sate ayam di depan?”

Marwan meledak.

Kali ini senyumnya tidak tertahankan.

Kepalanya mengangguk seperti hiasan dashboard.

Merekapun berlalu.