DewaD
DewaD
Aug 18, 2018 · 3 min read

Etika Berpakaian Informal

Banyak aspek yang harus ditinjau mengnai pakaian macam apa yang “pantas” dikenakan di ruang publik baik oleh wanita maupun pria. Kebanyakan kasus mungkin wanita selalu menjadi objek pengaturan. Dalihnya terutama karena berpakaian “minim” itu tidak sopan. Harga diri wanita mudah sekali direndahkan karena luas permukaan kain yang menutupi tubuhnya dianggap tidak cukup.

Apabila pengaturan tersebut dilandasi agama, ya, saya tak bisa berkomentar. Lebih ke takut sebenarnya apabila harus didemo habis-habisan di tanggal-tanggal cantik. Apalagi saya sangat mungkin bisa dipersekusi. Dihadang di jalan lalu digebuk ramai-ramai.

Tapi ingat, agama berlaku bagi pemeluknya. Jadi mari anggap wanita yang saya bicarakan disini tidak punya urusan dengan agama yang mengharuskan tubuh dibalut dari ujung ke ujung.

Berpakaian seharusnya menjadi hak yang diatur oleh individu itu sendiri. Berpakaian bisa jadi sarana ekspresi, refleksi dst dst. Apabila ia hendak berpakaian berlapis, selapis, bahkan tidak berpakaianpun harusnya tidak masalah. Berpakaian, baik sedikit maupun banyak juga dapat digunakan untuk berbagai kepentingan fungsional. Misalkan saja berpakaian banyak dapat menjadi fungsional dan stylish saat dihadapkan pada cuaca dingin. Sementara itu, bikini dapat mengundang kekaguman dan percaya diri kepada penggunanya saat digunakan di pool party. Hell bahkan pasanganpun dapat berbangga hati membawa anda bertemu keluarga/sahabat karena anda tau cara berpenampilan.

Masalah yang seringkali membuat saya terhina sebagai pria adalah saat argumen “pakaian kamu terbuka yyy?!!” digunakan saat mendengar kabar bahwa seseorang habis diperkosa atau digoda. Benar bahwa saya mengatakan menggunakan bikini dapat mengundang “kekaguman” namun seharusnya para pengagum, terutama pria, tau diri bahwa mereka bukan binatang tolol, mesum, tidak punya otak yang hidup dan bernafas hanya untuk memikirkan selangkangan.

Pria seharusnya menjadi pelindung, well, saya tidak mau bilang karena disuruh Tuhan, tapi lebih karena pria secara alami punya kemampuan lebih untuk membentuk massa otot dibanding wanita seukurannya. Lagipula pria juga suka mengundang rasa kagum dari sesama maupun lawan jenis kok. Katakan saja ia punya perawakan bagus yang kalau diajak ke pantai akan bersinar-sinar ditabur ombak lalu berniat menggunakannya untuk membuat diri sendiri merasa bahagia, punya tempat, punya identitas, jati diri dan alasan emosional lainnya.

Parahnya, para wanita seringkali ikut mengecam pakaian wanita lain yang luas permukaannya tidak selebar mereka. Alasannya karena itu tidak sopan, hina, dst karena dapat memprovokasi perilaku jalang pria nafsuan, seolah semua pria adalah bangsat pemerkosa yang selalu menerkam tiap lihat betis dikit.

Tentu saja kenyataannya tidak demikian. Kasus pemerkosaan sangat rendah berdasarkan proporsi wanita berpakaian terbuka dibanding jumlah pemerkosaan selalu dihuni wilayah yang para pria-nya tau diri, katakan saja Bali. Jadi masalah disini hanyalah otak mesum yang sudah didoktrinkan sejak dini dan selalu dijustifikasi oleh satu sama lain.

Hal ini akan berimplikasi pada pembiaran perilaku masyarakat yang terus membudayakan perspektif bahwa wanita hanyalah objek seksual semata. Akan sangat sulit bagi pria untuk berubah apabila bahkan wanita lain ikut membenarkan perilaku mereka. Kemudian ironisnya, para “wanita lain” ini menuntut kesetaraan gender? Bagaimana bisa menuntut hal tersebut apabila mereka bahkan tidak mengajari bagaimana caranya menghormati wanita secara umum.

Sekarang, bagaimana kalau kita sama-sama menutup stigma tersebut. Dorong batas “sopan” agak jauh sedikit. Tolong tanyakan pada diri sendiri,

“Mengapa saya menganggap ini tidak sopan?”

Apabila tempat, waktu sudah sesuai dan “etika” yang anda maksud hanyalah “provokasi birahi”, tolong tutup mulut anda dan edukasikan diri sendiri bahwa itu hak mereka dan anda tidak berhak memiliki niat memperkosa.

Hidup ini masih punya banyak masalah lain untuk diributkan, orang korupsi saja anda tidak protes selebar mulut anda saat ceramah tentang hot pants. Tolong mulai gunakan tenaga anda memperbaiki tempat yang tepat.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.