Gadis Cappucino

DewaD
DewaD
Mar 19, 2018 · 5 min read

Bangun dari tidur hari ini sudah siang. Ada banyak pekerjaan di kepalaku tapi rasanya mau berguling saja malas. Tau-tau aku tidur lagi saja.

Bangun menjelang jam tiga sore mataku berat sekali. Kepalaku lebih berat dan aku tambah tidak ingin melakukan apapun. Astaga aku pemalas sekali!

Aku meraih hp. Menggeser-geser menunya sambil berpikir apa yang bisa kulakukan. Dulu di rumah, ibu selalu ngomel kalau baru bangun tidur seperti ini aku langsung main hp, bukannya mandi. Ibu juga suka ngomel kalau adikku berperilaku macam-macam. Katanya aku ngajarin yang bukan-bukan.

Aku protes tentu saja. Bagaimana aku mau mengajari pergaulan tidak baik, aku saja tidak punya teman.

Karena itu juga saat ini aku berusaha memikirkan apa yang bisa aku lakukan dengan hp ini. Aplikasi hpku ringkas sekali. Tidak ada media sosial seperti yang lain. Akhirnya aku buka youtube, melihat trending local, lalu tersadar kalau aku harus rajin belajar agar tidak menjadi salah satu penonton video trending itu.

Selesai mandi aku segera berangkat ke kedai kopi. Tenang, aku bukan manusia melankolis yang suka minum kopi di senja hari sambil makan bubuknya kok. Aku kesana karena memang kamar kos tidak didesain untuk hal selain tidur dan nonton film, plus kopi memberikan efek fokus.

Sampai disana rupanya sudah ramai. Padahal masih sore, dasar manusia gabut. Ada sebuah kursi panjang yang diisi enam orang dan semuanya merokok.

Bukan aku ingin melarang orang untuk merokok di sebuah ruangan tertutup ber-AC. Tapi kalau misalnya aku adalah teman dekat mereka, sudah kuhampiri lalu menyapa, “Haloooo … Yaampun masih ngerokok aja. Cepet mati ya guys, tapi jangan ngajak-ngajak.”

Aku memilih untuk pindah ke kedai lain, agak jauh memang namun akhirnya aku temukan suasana yang pas untuk nugas. Kedainya masih sepi. Kopinya baru digiling.

Aku hanya memesan satu latte panas, meminta gula dan air putih lalu duduk. Ya terserahlah kalian mau menghakimi,

“Manusia macam apa kamu minum latte pakai gula? Kamu ini pasti makan bubur diaduk ya?”

Tidak akan kujawab. Kan sudah kubilang aku minum kopi tidak untuk jadi anak indie introvert.

Selanjutnya mataku sibuk membuat tugas. Sebuah essay tentang capung prasejarah. Mencari data tentang fossilnya ternyata cukup intensif. Sumber yang kutemukanpun umumnya sudah tua. Mungkin kakeknya buyutmu belum lahir.

Pelan-pelan suasana kedai makin ramai. Aku tidak begitu peduli sampai tidak sengaja mataku melihat menara eifel berdiri di depan kasir.

Alamak,

Kalau bukan karena suara tertawanya aku tak akan menoleh. Kalau suara klakson bajai disuarakan olehnya, akan berubah jadi merdu.

Sepertinya dia sedang memesan sesuatu, kalau tidak salah, Cappucino?

Eh dia berbalik.

Kepalaku menunduk tidak berani.

Siapalah aku berani menatapnya. Kedai ini berada jauh dari tempat tinggalku. Sengaja kupilih agar tenang tidak ada yang mengenali, tapi jadi minder kan kalau ketemu penampakan begini.

Sayup-sayup aku dengar suaranya berbincang dengan temannya. Tidak bergerak dari arah depanku. Kucoba sedikit mengintip dan ternyata dia duduk di meja DEPANKU.

Bahaya ini.

Mataku offside sedikit saja pasti sudah kena target. Aku berusaha keras mengembalikan fokus kepada tugas. Punggungku dibungkukkan sedikit agar gadis itu tertutupi layar laptop.

Aku ini bodoh memang. Mataku mengerjakan tugas tapi telingaku bak radar mencari sinyal. Aku menguping tiap pembicaraan si gadis Cappucino.

“Eh Mel,” Kata gadis Cappucino itu pada temannya, kalau tidak salah namanya Mellody.

“Kamu itu orangnya melankolis ya?”

Si Mellody hanya bertanya, “Hah?” sambil mengelap karburator. Tidak ada tampang-tampang bisa bikin puisinya.

“Iya, Mellody. Mellow disana, mellow disini. hahahahaha” Jawab si gadis Cappucino sambil tertawa.

Bodohnya, aku tertawa. Mellody juga.

Gadis Cappucino menoleh, aku ketahuan.

syid.

Barusan mataku berpapasan dengannya. Wajahku kembali ngumpet ke balik layar laptop. Bodoh. Aku panik. Bagaimana ini? Apa aku pura-pura menelfon saja sambil lanjut tertawa? Ah ide bagus.

Kuletakkan hpku di telinga lalu duduk tegak lagi.

Gadis Cappucino itu sedang membaca buku. Seolah tidak ada yang terjadi. Acuh.

Bodoh lagi, pikirku. Kenapa aku geer. Kuakhiri penyamaranku dengan satu gerakan mulus mematikan telfon lalu memandangi layarnya sebentar seolah habis ditelfon pacar. Untuk menghilangkan kecurigaan saja. Sempat kulirik wajah mode-membaca lembut gadis itu sekali lagi sebelum kembali nugas.

Beberapa saat kondusif, lalu kudengar suara merdu lagi.

“Kalo dilihat-lihat, cowok yang mukanya serius itu cakep juga ya?” Tanya gadis Cappucino.

“Loh, sejak kapan tipe cowokmu berubah? Bukannya kamu suka yang suka bikin puisi gitu? Berkemeja? Wangi? Klimis kayak dokter koas. Yang kalo ngomong, diksinya pakai bahasa Prancis?”

“Engga ah, bosenin. Aku suka tuh yang bisa serius, nugas gitu misalnya pake laptop, tapi bisa juga asik main.

Gausah wangi yang penting sehat dan sayang.”

Hm, menarik.

“Yang rambutnya pendek berantakan, agak kumisan tapi gak tebel gitu”

Aku baru potong rambut dan shaving minggu lalu.

“Yang pakai kaus oblong.”

Lah?

“Trus kalo bisa sih, jokesnya garing.”

KOK?! Hm, Ini mencurigakan. Aku tidak boleh geer.

Aku suka,

Matanya teduh tapi memikat.

Jemari itu berkilau.

Cara rambutnya jatuh bergelombang sepunggung,

Lalu bibirnya yang menggigit sedotan kopi.

Gadis macam apa pula dia bisa minum Cappucino panas pakai sedotan.

Dia melirik lagi.

Jangan menoleh,

Fokus, fokus. Pasang wajah serius tergantengmu.

Sepertinya temannya hendak pergi, apa gadis itu akan pergi juga?

Oh, ternyata tidak, hanya mengantar.

Mata kami berpapasan lagi.

Kurang ajar. Aku sudah berapa kali ketahuan ini.

Sial lagi.

Dia mulai membaca buku, menghadapku, tiap lembar yang di balikkan terdengar seperti harga beras turun.

Tidak bisa dibiarkan.

Aku sepertinya harus segera pergi walaupun hanya butuh tiga langkah untuk semeja dengannya. Kalau saja aku nekat mungkin akan sempat menanyakan,

“Mbak tau gak kenapa mas itu dijual mahal?”

Lalu dia jawab, “tidak tau”

Lalu kujawab, “karena mbak ini sudah tidak terhitung nilainya. Tak bisa dijual.”

Lalu dia tersipu.

Lalu kami jadian.

Andai saja.

Tapi siapalah aku.

Hanya seorang aktor yang tak kunjung mendapat aktris untuk membintangi film bersama. Film yang durasinya tergantung masing-masing pihak. Film tanpa alur. Kalau saja diberi kesempatan, aku yakin bisa dibuat indah.

Aku mulai berkemas,

Bukan karena tidak berani konfrontasi dengan gadis Cappucino.

Hanya mawas diri.

Aku kan bukan orang sini. Tidak mungkin untuk tinggal. Tidak mungkin juga mengajaknya pergi. Bagaimana kalau Karma membuat anak gadisku dibawa kabur orang nanti?

Maka disinilah aku,

Sok ganteng berjalan melewati meja gadis itu.

Berusaha tidak sekalipun melirik.

Berat.

Aku tau pendirianku ini akan hancur berantakan kalau saja dia berdiri dan bilang, “Mas, aku ikut.”

Kalau sudah begitu, kulamar saja dia.

Makanya aku berharap cemas. Bingung sebenarnya perasaan ini ingin agar dia acuh atau mempertahankan.

Aku lanjut berjalan saja, sebentar lagi bisa keluar.

Saat pintu keluar hendak kubuka, ada yang menahan lenganku.

Aku gugup.

Bagaimana kalau si gadis Cappucino mau ikut?

Aku berbalik.

“Mas, bayar dulu.” Kata mbak-mbak penjaga kasir.

Aku salting, gadis Cappucino tertawa.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade