Heartbreak Hotel

For thoose who wonder

Aku adalah seorang pegawai hotel biasa. Menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Menggemari sepak bola dan hobi menjelek-jelekan pemerintah, layaknya orang biasa. Aku bukan bekerja di hotel sebesar yang kau bayangkan. Hanya sebuah penginapan kecil di tengah kota.

Pemilik penginapan ini adalah orang yang sederhana. Seorang pria tua yang ditinggalkan kedua anaknya untuk pergi menimba ilmu dan bekerja di pulau lain. Tiap kali membahas kedua putranya, ia tampak begitu bangga dan bahagia. Ia mengelola penginapan ini dengan jujur. Selalu berusaha menyediakan semua yang dibutuhkan pengunjung dan harga kamar agar tidak terlalu tinggi. Ia tahu bahwa tidak semua pengunjung adalah orang kaya. Pria baik ini suka sekali mengobrol dan aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik. Saat tidak mengobrol aku kerap melihatnya duduk sendiri, entah melamun atau sekedar berpikir. Terlihat kesepian. Semua pegawai penginapan memanggilnya Ayah.

Aku pribadi menyukai penginapan ini karena murah, hangat, dan terbebas dari kebisingan. Ayah memang kebetulan memiliki tempat yang strategis. Cukup dekat dengan pantai, mall, dan bandara. Bangunan ini bergaya minimalis dan sebisa mungkin terlihat luas pada lahan yang sempit. Warna hijau dari dedaunan dominan menggradasi warna putih tembok. Tumbuhan menjalar diberikan tempat untuk tumbuh dan menjalar di tudung kanopi di depan lobi penginapan. Tangga menuju lantai atas dibuat landai agar pengunjung tidak kesulitan. Juga disediakan kopi dan teh gratis tanpa batas bagi pengunjung yang datang.

Untuk dapat menjangkau penginapan ini kau harus berbelok ke kiri dari jalan utama kota. Berbelok kiri saat menemukan persimpangan dengan patung naga di tengahnya. Temukanlah sebuah jalan yang lebih kecil dengan pasar di ujungnya. Telusuri jalan itu lurus saja, kemudian akan kau temukan penunjuk jalan pudar yang berisi nama penginapan ini. Penunjuk itu akan mengarahkanmu ke dalam sebuah gang tempat penginapan ini berada.

Aku bekerja disini untuk mengisi waktu liburanku. Tiga bulan kurang lebih aku akan bekerja disini, dan saat kutulis ini, tinggal seminggu lagi masa kerjaku akan berakhir.

Disini aku tidak sendiri. Sudah ada tiga pegawai lainnya yang lebih dulu bekerja dan permanen. Laki-laki pertama adalah seorang bapak yang sudah bekerja pada Ayah selama 14 tahun, namanya Pak Komar. Anaknya pertamanya baru masuk SMK, namanya Wayang, juga diajak bekerja bersama di penginapan ini. Satu orang lagi adalah seorang laki-laki tambun yang senyumnya selalu mengundang tip dari pengunjung. Dia memiliki pipi bulat yang terlihat semakin oval saat tersenyum, ditambah dengan lesung pipi dan gigi gingsul membuatnya terlihat lucu saat tersenyum. kami semua memanggilnya Dek.

Ada satu hal yang menarik dari hotel ini selain kesederahanannya. Hotel ini seringkali menjadi tempat pelarian orang patah hati. Tidak melulu melarikan diri sih. Tapi tempat ini telah menyaksikan bagaimana para jiwa yang malang itu menghadapi perasaannya. Ada yang menghadapinya di atas ring dengan saling bertinju hingga hancur, ada yang lari menyongsong, ada yang tidak bergerak, ada yang terus memeluk, ada yang berlari melompatinya, juga ada yang berlari menghindarinya.

Aku telah bertemu dan mengobrol dengan banyak orang disini. Beberapa diantaranya hanya membicarakan hal remeh seperti rematik dan pandemi flu burung, namun ada beberapa pembicaraan yang menurutku paling menarik. Orang-orang ini rupanya lebih mudah membagikan cerita hidupnya pada orang asing. Mungkin menurut mereka berbagi dengan orang asing begitu tidak akan akan menyakitinya lebih jauh. Orang asing tidak akan bersikap sentimen, sekelam apapun hidupmu, dan jikapun mereka melakukan itu, tetap tidak akan berpengaruh pada hidupmu. Bagaimanapun, untuk mendengar kisah patah hati dari pengunjung setidaknya kau harus bersikap ramah, penasaran, empatis, terbuka dan sesekali mau mencoba memberi saran pada kadar yang tepat.

*****

Minggu pertama disini aku bertemu dengan seorang pengunjung yang berasal dari Colorado, Amerika. Ia adalah seorang pria berumur 65 tahun yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya. Perawakannya tinggi besar dengan beberapa luka jahitan yang memanjang di sekujur tubuh. Rambutnya telah memutih dan perutnya sangat buncit, awalnya kupikir ia sedang mengandung 7 bulan.

Dia memperkenalkan dirinya sebagai Dan, maka aku memanggilnya Mr. Dan. Dia datang bersama istri, teman, dan istri temannya. Tampaknya sedang berbulan madu, atau bertukar istri?. Hal tidak aku tau adalah ia dan istrinya baru menikah tahun lalu, berarti ia baru menikah saat umurnya 64 tahun.

Penginapan ini menyediakan sarapan bagi seluruh tamu yang disajikan pukul 7 hingga 8 pagi. Sarapan biasanya diantar ke kamar, namun Mr. Dan saat itu memilih untuk makan di ruang makan, tepat di depan meja resepsionis. Dia datang mengambil kursi di sebelahku. Mengawali pembicaraan tentang cuaca, bagaimana tidurnya semalam, bagaimana kopi membantunya pulih dari hangover, kemudian tempat asalnya. Mr. Dan berasal dari Kota Aspen di kaki Pegunungan Rocky. Saat muda ia adalah seorang pesepeda motor jalanan yang mencari uang dari balapan. Pekerjaan yang seringkali hampir merenggut nyawanya. Sayangnya hingga kini ia masih hidup, seluruh kecelakaan yang telah ia alami hanya berakhir sebagai luka jahitan yang panjang.

_

Musim panas di tepi Danau Maroon (Maroon Lake) adalah puncak musim balapan yang telah dimulai sejak musim semi. Tinggal dua pertandingan lagi hingga Mr. Dan mendapat hadiah juara. Hari itu cerah sekali, matahari tampak bersembunyi di balik gunung, malu-malu. Bau aspal dan mesin 4tak membangkitkan semangat tiap pengendara yang akan bertanding. Begitu juga dengan bau busi sepeda motor yang baru dibersihkan.

Mr. Dan akan bertanding pada giliran pertama. Begitu bendera dijatuhkan, ia memacu motornya secepat mungkin. jarum penunjuk speedometer melesat ke angka 100km/jam dalam hitungan detik Jalanan kering dan suhu yang sejuk menambah cengkraman ban pada aspal yang berdecit. Matahari yang terpantul sepanjang danau seolah memberkati pertarungannya. Ia yakin akan menang. Saat itu tidak ada yang bisa menandingi Mr. Dan di tikungan, dan setelah melewat beberapa tikungan panjang, Mr. Dan akhirnya memimpin.

Mr. Dan yang telah membalap sejak muda bukanlah seorang amatir yang akan kehilangan fokus begitu saja saat memimpin. Namun hari itu berbeda. Saat bersiap akan berbelok, dari belokan di depannya tiba-tiba muncul sebuah truk pembawa kayu tebang. Mr. Dan berusaha menghindarinya dengan cara membanting stang ke kiri. Gerakan reflek itu menyelamatkannya dari menabrak truk. Sayang motornya sudah tidak bisa lagi dikendalikan lagi lalu melayang menabrak tebing. Mr. Dan terpental, begitu juga motornya. Berguling beberapa kali di udara sebelum ia jatuh terseret aspal. Ia jatuh menabrak motornya tepat pada batang besi yang mencuat, entah di bagian mana. Batang besi itu menantang, menembus mata kanannya.

Mr. Dan menceritakan bola mata itu dengan ringan saja sambil tersenyum. Ia bertanya padaku apakah aku pernah melihat bola mata manusia pecah di rongganya. Tentu kujawab tidak. Lalu dengan sombong seperempat bercanda ia bilang, “You should. I felt it myself and i have never surprised like that before.” Kubalas dalam hati, “Ogah sih.”

Saat itu aku masih tidak percaya karena kedua matanya masih terlihat utuh. Melihat ketidakpercayaan itu, ia mencongkel bola mata kanannya dengan tangan dan meletakannya di meja. Aku bergidik. Kuperhatikan mata palsu itu. Benda itu terlihat sangat mirip dengan mata asli. Ia mengaku sengaja membuat mata itu untuk sekedar mengisi rongga yang kosong. Minimal agar dia tidak perlu terlihat seperti bajak laut apabila menggunakan penutup mata. Aku memandangi rongga kosong di sebelah kanan wajahnya dengan takjub. Bagaimana ia menghadapi semua luka itu sendiri?

Semasa muda dulu ia memang terbiasa sendiri, tidak pernah berniat menjalani komitmen dengan siapapun, bahkan komitmen pada hidupnya. Menurutnya urusan cinta-cinta begitu tidak butuh keseriusan. Ia selalu ingin orang lain berubah untuknya tanpa ia berusaha memahami siapapun atau apapun yang orang lain rasakan. Sikap seperti itu membuatnya ditinggalkan oleh semua orang. Waktu itu ia tidak peduli. Dia menjalani hidupnya berfikir bahwa suatu saat akan ada satu orang yang dapat melengkapi dan mencintainya tanpa ia perlu memantaskan diri. Akan ada satu orang yang terus menerus mampu memahaminya. Tapi orang itu tidak pernah datang.

Di masa senjanya saat ia berumur hampir 40 tahun akhirnya ia menemukan seseorang. Wanita itu datang dengan kasih sayang yang mengubah dirinya. Wanita itu entah bagaimana menunjukan bagian dirinya yang terbaik, bagian dirinya yang tidak pernah ia lihat. Detik itu juga ia memutuskan untuk mengubah hidupnya. Dia mulai belajar reparasi mesin, misalnya mesin cuci, AC dan televisi. Belajar merangkai kelistrikan dan ledeng. Kemudian bersama dengan wanita itu ia bekerja di sebuah hotel. Mr. Dan bekerja sebagai teknisi sementara wanita itu bekerja sebagai juru tulis. Keromantisan mereka sungguh membuat iri seisi hotel. Waktu itu Mr. Dan masih memiliki badan ideal. Tipikal lelaki maskulin yang diharuskan masyarakat.

Hubungan itu berlangsung 4 tahun hingga akhirnya datang malam natal yang tidak bisa ia lupakan. Seperti biasa mereka berjanji jalan bareng menikmati suasana natal. Malam itu mereka sedang berjalan menyusuri sebuah jalan di kaki gunung. Berdua membicarakan banyak hal; tentang lampu-lampu natal sepanjang jalan dan hadiah apa yang pernah mereka dapatkan. Mereka terus berbicara sepanjang jalan hingga akhirnya Mr. Dan memutuskan untuk memberi tahu wanita itu segalanya.

Tepat seperti yang ia lakukan di hadapanku. Mr. Dan mencongkel bola mata kanannya dengan tangan, kemudian meletakkannya di depan wanita itu. Dengan melakukan itu ia telah menyerahkan dirinya dengan segala ketidaksempurnaan. Berharap diterima.

Tapi bukan itu yang terjadi. Wanita itu sangat terkejut, namun ia berhasil mengendalikan diri untuk tidak berteriak. Malah wanita itu mampu mengatakan dengan lembut, “I will still love you, nothing change.” Mr. Dan percaya kalimat itu dengan seluruh hatinya. Namun percaya kadang berkhianat.

_

Aspen di musim dingin sangat berbeda dengan Aspen di musim semi, dimana seluruh kota menjadi hidup. Aspen yang berada di kaki gunung membuatnya begitu dingin saat bulan Desember. Salju menutupi sebagian besar jalan, rumah dan langit. Suhu udara dapat turun hingga minus derajat membunuh mamalia manapun yang berani berkeliaran. Namun tidak berlaku bagi Mr. Dan. Selama musim dingin itu ia malah pergi berkeliaran, berharap angim musim dingin mencekiknya. Angin gunung dapat memberinya pulmonary edema, atau setidaknya mimisan.

Wanita itu perlahan meninggalkannya. Perlahan-lahan selama musim dingin yang biasa dilalui oleh mereka berdua berpelukan, kecuali jika salah satunya belum mandi. Tiap hari Mr. Dan akan terus bekerja hingga lelah. Bekerja seperti itu agar saat pulang nanti ia dapat langsung tertidur. Ia tidak mau memberikan kesempatan pikirannya tersiksa memikirkan mengapa sangat mudah bagi wanita itu menyerah. Berminggu-minggu melakukan hal yang sama, di kamar gelap yang sama. Terkadang mengambil jalan memutar yang lebih jauh saat ia merasa belum cukup lelah dari pekerjaannya. Ia bahkan takut menghidupkan lampu kamar karena semua hal di kamar itu akan membuatnya lebih buruk.

Musim semi akhirnya tiba. Matahari pertama yang muncul menjadi sebuah titik balik. Setelah melewati musim dingin seorang diri berusaha menjadi dirinya yang utuh. Mr. Dan sampai pada kesimpulan bahwa akan lebih baik jika seseorang dapat mencintainya sebaik ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu juga akan berlaku sebaliknya. Sayang, orang yang dicintainya dulu tidak mengerti itu. Tidak mengerti bahwa hubungan bukan tentang dua orang saling meng-utuh-kan, tapi tentang dua orang yang sudah utuh saling menerima dunia baru satu sama lain.

*****

Pekerjaanku sebagai resepsionis disini sebetulnya sekaligus merangkap sebagai front office manager. Berhubung Ayah tidak punya uang untuk mempekerjakan terlalu banyak pegawai, maka Ayahlah yang akan mengurus sebagian besar hal. Karyawan Ayah hanya perlu bekerja membersihkan kamar, lingkungan penginapan dan mengantar tamu ke bandara. Sebagai resepsionis tugasku umumnya hanya duduk diam di meja lobi melayani tamu yang akan atau selesai menginap.

Meja tempatku duduk cukup gelap karena di meja itu dibuat semacam dinding di bagian depan meja agar siapapun yang duduk disana tidak terlihat. Sayang sekali aku diciptakan untuk tidak terlihat. Takdirku untuk menjadi kece memaksaku untuk lebih banyak duduk di ruang tunggu. Tidak percaya? Lihat saja nyamuk-nyamuk yang awalnya berkerumun dibalik meja resepsionis itu ikut pindah kemanapun aku duduk. Baru sebulan pertama aku bekerja beberapa ekor nyamuk itu sudah bisa tumbuh sebesar lalat. Mereka harus belajar kepemimpinan rupanya, supaya tidak mengikutiku terus.

Sebagai front office manager tugasku sulit sekali. Aku harus menunjuk-nunjuk seharian memberitahu apa yang harus dikerjakan. Aku juga sering menunggu lama saat aku minta Dek membelikanku bola kasti. Terkadang punggungku pegal duduk di sofa ruang tunggu seharian, sering kehilangan remote TV, Wifi tidak menyala dan radio yang tidak menangkap sinyal. Seringkali hidungku gatal namun tidak bisa kugaruk karena kedua tanganku sedang makan es buah. Yang paling menyebalkan adalah saat tokoh TV series kesukaanku tidak tau kalau pembunuhnya bersembunyi di balik lemari. Pekerjaan manager itu memang sangat melelahkan.

Hari Senin awal bulan Juli aku sedang bersandar di sofa mencari posisi yang paling nyaman untuk menonton acara masak. Seorang pangunjung masuk. Ia bertubuh sangat tinggi, rambut merah kecoklatan, kurus, agak bau, pakaian lusuh, membawa banyak barang dan sendirian.

Namanya Berg, Hemming Berg. Usianya 19 tahun dan berjenggot. Sudah 4 hari ini ia menyewa motor milik penginapan dan belum membayar. Katanya ia akan kembali ke negaranya hari ini.

Dia datang terlihat sedikit kebingungan melihatku, mendekat perlahan dengan kacamata hitam tetap terpasang mengatakan hendak membayar sisa sewa motor itu. Kalau saja ia tidak menggunakan kaca mata hitam itu mungkin ia sudah terlihat seperti gelandangan.

Aku memintanya membayar sejumlah uang dan langsung dibayar lunas. Setelah segala dokumen dan kunci motor diserahkan ia menanyakan papan seluncurnya padaku. Sudah satu minggu ia menitipkan papan seluncurnya disini, kusimpan di lantai 2. Ditambah papan seluncur itu barang bawannya menjadi berkali lipat karena besarnya papan itu lebih tinggi dan lebar darinya.

*Ceritanya berbahasa inggris*

“Halo, boleh tau namamu?”, tanyaku sok ramah

“Tentu, namaku Hemming. Hemming Berg.”

“Oh, berasal darimana?”

“Dari Belanda, Kota Dusseldorf. Tempat yang bagus.”

Aku mengajaknya duduk di ruang tunggu. Ia terlihat lelah sekali. Sepatu yang ia bawa tampak sudah rusak.

“Hey, dimana aku bisa membuang sepatu ini?”

“Serius? Kenapa dibuang?”

“Sudah rusak, aku dapat memakai sendal.”

“Lihat tempat sampah kuning itu?”Aku menunjuk sebuah bak besar.

“Bisa dibuang disitu saja.”

“Okay.”

Dia pergi membuang sepatunya sebentar kemudian duduk kembali.

“Um, aku sedikit penasaran. Apa kau benar-benar berusia 19 tahun seperti di kartu identitasmu? Karena kamu tidak terlihat seperti itu.”

“Maksudku, tidak dengan jenggot dan tinggi bada seperti itu.” Kataku.

“Oh, haha. Iya aku benar-benar 19 tahun dan kau tau? Aku kenal beberapa orang yang memiliki facial hair lebih lebat dari ini.”

“Benarkah? Aku juga 19 dan bahkan tidak memiliki sedikitpun facial hair”,

“Wow, keren. Umur kita sama.”

“Ya, dan aku bahkan tidak setengah brewokmu.”

“Jangan khawatir, mungkin orang-orang disini tumbuh lebih lambat.”

“Kuharap demikian.”

“Ohiya, kau baru 19 tahun dan sudah berani bepergian sendirian kesini. Sudah ke tempat mana saja?”

“Well, beberapa bulan yang lalu aku pergi ke Australia, bekerja sebentar disana lalu kemari. Disini aku hanya berjalan-jalan. Melihat sesuatu di internet dan mengunjunginya.”

“Keren. Tapi kenapa tidak bersama teman atau keluarga? Maksudku bukankah akan lebih menyenangkan berpetualang bersama?”

“Well, yeah. Aku tau akan lebih menyenangkan mungkin bepergian bersama seorang teman atau siapapun, tapi kau tau? Kau tidak bisa sangat percaya pada siapapun. Kau mengerti? Terutama yang mereka sebut wanita itu.”

Dia melanjutkan, “Pergi sendiri akan memaksamu lebih mandiri, terbiasa untuk merencanakan semuanya, dan secara khusus memaksaku untuk mampu berbicara bahasa inggris. Dengan bepergian sendiri kau juga dapat berlatih menjaga dirimu dan membuat beberapa teman baru lebih cepat. Maksudku, ada beberapa orang-orang baik disini di Asia dan yah .. adalah sebuah pengalaman menantang.”

Man, kurasa itu keputusan yang sulit. Kau harus benar-benar memikirkan segalanya sendiri ya?” Tanyaku.

“Iya tapi tidak semua hal dapat kau pikirkan. Ada banyak sekali hal yang baru kuputuskan saat sudah di perjalanan.”

“Kalau begitu, kenapa sejak awal kau pergi? Akan membutuhkan banyak sekali keberanian untuk pergi hanya karena alasan itu.”

“Hm, hahaha. Kau mendapatkanku disana man.” Katanya bercanda.

Dia melanjutkan, “Ya itu pertanyaan yang sulit. Aku pergi karena memang ingin, dan um .. seorang gadis.”

_

Hemming Berg dulunya adalah seorang anak SMA biasa. Sekali pernah berpacaran saat SMP, hanya sebagai percobaan pertama kali. Saat berpisahpun ia tidak terlalu merasakan apapun hingga akhirnya mereka berdua berpisah ke SMA yang berbeda.

Di sekolah barunya Hemming menjalani semua hal dengan bersemangat. Bertemu orang-orang baru, guru, tugas, dan ujian ia jalani dengan senang. Ia melakukan itu sepanjang musim panas di tahun pertamanya, dan semua berjalan dengan baik. Akhirnya rutinitas membuatnya jenuh juga, ia menginginkan hal baru untuk dicoba. Awal musim gugur ia memutuskan untuk bergabung ke sebuah klub debat berbahasa inggris. Tujuannya sederhana saja, agar suatu saat nanti ia bisa bepergian keluar dari negaranya seorang diri. Untuk tujuan itu maka ia perlu memahami bahasa umum yang diketahui semua orang. Bahasa inggris.

Awal musim gugur adalah masa dimana banyak daun pohon berkambium menguning dan menjadi coklat. Jika kau mampir ke rumah milik Hemming di jalan Angermunder (Angermunder st.), kau akan lihat terkadang dedaunan di pohon tepi jalan lepas dan terbang mengikuti angin. Memutar sebentar di udara kemudian jatuh ke jalanan. Tiap langkah yang kau ambil akan bersuara gemerisik dan matahari seakan-akan hanya memiliki cahaya kuning kemerahan. Di musim gugur, tiap hari adalah senja.

Awal musim itu juga Hemming berkenalan dengan teman-teman baru di klubnya. Semua senior dan teman seangkatannya terlihat menyenangkan. Klub ini biasa mengadakan semacam perlombaan berbahasa inggris bagi siswa SMP di sekitarnya dengan seluruh anggota klub menjadi panitianya. Perlombaan itu biasa dilakukan di akhir tahun ajaran agar panitia dan peserta dapat fokus pada kegiatan ini.

Suatu hari mereka sedang berdikusi di bawah sebuah pohon. Diskusi mereka jarang bersifat formal, lebih banyak bercanda ketimbang menggunakan kata baku. Disanalah Hemming pertama kalinya jatuh cinta. Setelah melihat sebuah senyum yang begitu menawan. Milik seorang gadis, seorang teman biasa yang sebelumnya tidak pernah ia pedulikan lebih dari orang lain.

Sejak hari itu itu ia baru sadar bahwa senyum itulah yang ia cari. Bersama gadis itu ia merasa mampu menjadi apapun. Gadis itu mampu mengerti seluruh pikirannya seperti halnya gadis itu mampu membuatnya menemukan tempat pulang. Sebelum saat itu Hemming memang sudah mengenal gadis itu. Hanya kenal, bahkan ia tidak memiliki apapun untuk melakukan kontak pribadi dengannya. Setelah diskusi berakhir, Hemming segera mencegat gadis itu untuk meminta nomor teleponnya, dan berhasil.

Pendekatan dilakukan secara perlahan, berkirim pesan satu persatu, berbalas senyum saat bertemu dan saat lirikan mata itu tidak tertahan lagi, Hemming memutuskan untuk mengajak gadis itu berkencan. Kencan yang sederhana sekali. Mereka memutuskan untuk pergi ke suatu tempat bersama, hanya duduk berdua, membicarakan hal-hal tidak penting seperti pensil yang patah, guru yang bersin dan pemanasan global. Mereka saling mencuri tatapan, melirik dan bertukar senyum dari dekat. Mereka duduk bersebelahan di sebuah bangku berwarna hijau muda dihiasi ornamen rumput dan daun. Gadis itu datang dengan rambut digerai panjang nan anggun, tas selempang, kaos longgar, bercelana jins gelap, menggunakan sedikit bedak dan lipstik tipis hanya agar bibirnya tidak kering. Hemming datang dengan mengenakan baju baru yang diberikan tantenya. Berwarna merah, berkerah putih, celana panjang gelap, juga bersepatu. Rambutnya disisir rapi, terlihat culun dan malu-malu saat itu. Hemming datang dengan dada berdegup kencang sekali saat menunggu wanita dambaannya keluar dari gerbang hitam besar di hadapannya. Dan saat senyum itu terbit dari balik pagar, ia hampir mimisan.

Kencan itu berlangsung canggung namun candu. Hemming tidak dapat merasa cukup melihat mata gadis itu. Mata yang terlihat berbeda saat menatapnya dan senyum manis yang diberikan hanya untuknya. Tatapan dan senyum itu, Hemming tau tidak pernah diberikan pada orang lain selain dirinya. Ia tau gadis itu menginginkannya, begitu juga dia.

Mereka pulang saat matahari hampir menghilang. Berjalan kaki berdua diantara lampu jalanan, bulan dan malam yang gelap. Momen seperti itu sangat langka. Hemming berhenti sebentar, menarik nafas. Gadis itu juga berhenti dan mereka bertatapan. Dengan sangat hati-hati Hemming menggenggam salah satu tangan gadis itu, tersenyum sebentar, kemudian mereka berjalan kembali dalam diam. Sepanjang jalan setapak.

Sepanjang perjalanan Hemming kesulitan bernafas. Ia berusaha menyembunyikan senyum yang terus menerus memaksa hadir. Ia memikirkan tiap cara dan kemungkinan yang dapat ia lakukan untuk menyampaikan perasaannya. Terlalu sulit. Dadanya terasa mau meledak.

Waktu cepat sekali berlalu sampai mereka sampai di dekat rumah sang gadis. Sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir, tidak ada kesempatan lain lagi baginya untuk menyampaikan sengatan listrik yang berkeliaran di pikirannya. Hemming meminta gadis itu menunggu sebentar sementara Hemming menuliskan sesuatu di ponselnya.

“Will you be my queen?”

Ia menyerahkan tulisan itu pada sang gadis yang menerimanya dengan hati-hati. Hemming hanya bisa memperhatikan seluruh reaksi itu dalam gerak lambat. Pertama gadis itu terlihat penasaran dan khawatir, kemudian tersenyum sedikit, manis sekali. Ia melirik Hemming sebentar sambil tetap menunduk menggenggam ponsel, kemudian mengetik jawabannya.

“Sure, my king” dengan emoticon tersenyum.

Bisa bayangkan itu? Emotikon senyum.

Hemming membacanya berulang-ulang sambil tersenyum lebar. Keduanya bertatapan sebentar canggung, kemudian berpegangan tangan lagi hingga depan gerbang hitam tempat semuanya berawal.

Sepanjang sisa perjalanan Hemming tidak dapat memikirkan apapun untuk mengakhiri pertemuan hari itu. Lidahnya terasa kaku dan kelu. Namun sebelum Hemming sempat berbicara, gadis itu lebih dulu mencium pipi kanannya sangat cepat, kemudian tanpa basa-basi berlari masuk ke dalam rumahnya. Kejadian itu begitu cepat. Saat Hemming sudah dapat mengendalikan lidahnya lagi, ia sudah sendirian disana.

*****

Satu persatu teman mereka mengetahui hubungan itu seiring minggu berganti. Hubungan mereka biasa saja. Mereka tidak selalu berada dalam satu kelas, maka dari itu mereka bergantian saling mengunjungi. Tidak ada adegan penuh emosi seperti dalam kebanyakan film romansa. Mereka hanya akan duduk bersebelahan, membicarakan apapun, menceritakan isi pikiran masing-masing, saling mendukung, memuji, mengkritik, bertukar hadiah, dan tersenyum.

Bagi keduanya, bagian terbaik tiap harinya adalah saat mereka bertemu di suatu tempat di sekolah yang hanya milik mereka, duduk sebentar kemudian pulang bersama. Apabila mereka kebetulan memiliki kegiatan bersama di sekolah, dan jika sekolah sepi, mereka akan berjalan kemanapun berpegangan tangan. Tidak pernah bosan begitu walaupun tangan sudah berkeringat. Mereka sangat menikmati setiap momen bahkan bercandaan teman-teman mereka terutama dari klub debat. Terkadang mereka menemani satu sama lain melakukan hobi masing-masing. Pergi ke pertunjukan musik bersama, bersenandung bergantian. Namun baru sekali pergi ke bioskop bersama.

Tidak pernah sekalipun mereka bertengkar bertahun dalam hubungan. Hemming merasa tiap kali ia melihat gadis itu, ia selalu jatuh cinta seperti pertama kalinya. Baginya, jatuh cinta adalah saat tiap hal kecil yang dilakukan bersama terasa membahagiakan.

Sayang, bahagia itu saja tampaknya tidak cukup bagi sang gadis. Kebosanan perlahan membunuh perasaannya. Kebosanan. Alasan omong kosong yang hanya dikarang oleh manusia yang tidak mampu menempatkan persahabatan bersama percintaan. Justifikasi bagi orang yang tidak mampu bertahan dalam komitmen. Alasan palsu agar seseorang dapat berganti hati. Berat bagi Hemming untuk melepaskan, namun mudah bagi gadis itu untuk menyerah. Sebahagia apapun awalnya, jika hanya satu pihak yang berniat bertahan hasilnya tidak akan baik. Merekapun berpisah.

Hemming Berg yang patah hati memutuskan pergi dari Belanda segera setelah ia lulus dari SMA. Pergi mencari dirinya sendiri dalam tiap langkahnya di negeri orang.

_

Aku menawarkannya tumpangan ke bandara menggunakan sepeda motor milik penginapan. Dia awalnya menolak namun aku memaksa. Kami pergi ke bandara dengan seluruh barang yang ia bawa. Hampir ditilang oleh polisi karena membawa papan seluncur sangat besar secara vertikal. Untunglah saat itu Pak Polisi sedang baik jadi kami dipersilahkan lewat. Berbelok dan mengerem menjadi sangat sulit karena papan yang terlalu besar menahan angin dan tidak seimbang saat belokan. Aku hanya mengantarkannya hingga gerbang bandara, mahal kalau harus masuk dan parkir. Kami kemudian berpisah setelah sebelumnya bertukar email. Aku memperhatikan Hemming berjalan menjauh. Repot sekali cara berjalannya.

*****

Cuaca sebulan belakangan ini makin panas saja. Dulu di Bandung padahal aku hanya perlu mandi satu kali sebelum ke kampus. Disini aku harus mandi sampai tiga kali hanya karena merasa gerah. Untungnya bekerja di penginapan ini lumayan menyenangkan, tiap hari kami pegawai setia Ayah mendapat jatah makanan. Kadang saat gerah aku memilih untuk makan saja, bukan mandi. Dengan terik matahari dan panas udara rasanya tidak ada orang yang cukup waras untuk berkeliaran pada siang hari. Tidak juga termasuk seorang ibu hamil yang berkeliling kota dengan sepeda motor. Ibu itu berkendara sendirian tampaknya tidak terpengaruh dengan sengatan panas. Ibu itu berhenti di depan penginapan melihat-lihat mencari sesuatu, atau seseorang. Sebentar-sebentar mengecek handphonenya, berharap ada pesan yang dibalas. Benar saja, saat ia mendekati meja kerjaku yang ia tanyakan adalah seseorang.

“Dik, suami saya ada?” Aku terkejut.

“Boleh saya tau namanya?”

“Oh maaf, namanya Shekhovtsov. Mungkin tamu disini.”

Aku mengecek sebentar daftar tamu, mencoba menghindari kemungkinan mengulang nama itu karena sulit sekali. Dibutuhkan suara tenggorokan dan gerungan agar dapat melafalkannya dengan tepat.

“Iya betul, sayangnya dia baru saja pergi.” Kataku

“Tau kemana?”

“Wah saya kurang tau bu, mungkin makan.”

Dia berpikir sebentar.

“Yasudah terimakasih, tapi boleh saya minta tolong?”

“Iya?”

“Kalau dia sudah datang tolong hubungi saya ya. Ini nomornya.”

Dia memberikan selambar kertas berisi nomor telepon.

“Baik bu, terimakasih.”

“Lagi marahan kita, maaf ya.” Katanya sambil tersenyum.

“Iya bu, tidak apa-apa. Cepat baikan ya bu.” Balasku.

“Terimakasih yaa” sambil bergerak dengan motornya.

Ibu tadi adalah orang lokal yang berperawakan kurus dan tinggi. Mengenakan jaket hitam dan helm putih. Berwajah layaknya orang kebanyakan disini. Membawa motor matic berwarna hitam dan sedang hamil muda. Sudah beberapa hari ini ia berkeliling kota mencari keberadaaan suaminya. Salah sendiri sih kenapa marahan begitu sampai mengusir dari rumah, eh tapi suaminya juga pergi dari rumah lama sekali. Keduanya keterlaluan.

Mr. Shekhovtsov yang disebutkan tadi adalah seorang pengunjung yang menginap sejak 2 hari yang lalu. Yang aku tau dia berasal dari Ukraiana, berbadan besar, hobi mengenakan kaos merah dan bicara dengan logat Rusia-Skandinavia yang menggeram-geram sehingga bahasa inggris yang ia gunakan sulit didengarkan. Ekspresi Mr. Shekhovtsov hanya ada dua, ekspresi serius-stres seperti anak kecil yang dilarang naik sepeda dan ekspresi marah-lapar. Sejauh ini belum pernah kulihat dia tersenyum, mungkin tidak terlihat karena hidung bengkoknya terlalu menyita perhatian saat aku menatap wajahnya.

Malam harinya Mr. Shekhovtsov baru pulang ke penginapan. Tidak terlihat olehku sebab aku sedang mengantuk sehingga aku tidak sempat mengabari istrinya. Keesokan pagi istrinya datang lagi, kebetulan Mr. Shekhovtsov belum terlihat sejak subuh aku berjaga, artinya dia masih berada di kamar. Langsung saja kupersilahkan istrinya pergi ke kamar 206 tempat suaminya menginap. Aku hanya berharap masalah apapun yang sedang mereka alami cepat berakhir, kasihan bayi dalam kandungannya.

Ibu itu turun lagi dengan kecewa, katanya tidak ada jawaban sama sekali setelah berkali-kali ia mengetuk. Pintunya juga terkunci. Mungkin sedang tidur katanya. Dia kemudian duduk sebentar di ruang tunggu. Tampak kelelahan. Basa-basi aku tanyakan apa yang terjadi, apakah ada pesan yang mau dititipkan? Dia tersenyum sambil mengatakan tidak ada pesan, dia baik-baik saja.

_

Mr. Shekhovtsov bertemu dengannya di sebuah kedai kopi. Berkenalan selayaknya yang terjadi. Perkenalan itu berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Saat masih belum mengerti apapun tentang hubungan, mereka memutuskan berpacaran.

Awalnya hanya jalan-jalan biasa, kemudian dengan cepat orientasi pacaran mereka berubah menjadi kedekatan fisik. Mereka berpelukan, bergandengan tangan dan berciuman cukup sering hingga suatu malam mendapat kesempatan menyendiri berdua. Malam itu mereka menyerah pada keinginan, nafsu, bercampur dorongan hasrat yang tidak terbendung yang akhirnya mengalahkan akal sehat mereka untuk tidak berhubungan badan. Tidak ada lagi martabat yang harus dijaga, tidak ada juga angan-angan muluk untuk menyimpan hadiah bagi orang yang tepat. Malam itu yang terpikir hanyalah bagaimana menyenangkan pasangannya masing-masing. Bagaimanapun caranya, dengan menyerahkan segalanya sekalipun. Malam itu, mereka berdua berhubungan badan untuk pertama kalinya.

Sejak saat itu orientasi hubungan mereka bukan lagi tentang bagaimana menjaga dan mendukung satu sama lain. Orientasi itu kini berubah menjadi hubungan mutualisme untuk memuaskan nafsu. Tidak lagi ada kedekatan atau keterikatan emosi diantara mereka berdua. Tidak ada lagi rencana-rencana masa depan yang dibangun bersama. Sepanjang tahun yang mereka berdua pikirkan hanya bagaimana mendapat kesempatan berhubungan badan sesempat dan sesering mungkin.

Hubungan seperti itu berbahaya sekali. Dengan memandang pasangan hanya sebagai objek pemuas kebutuhan, tidak akan ada pihak manapun yang mau menghargai perasaan siapapun. Bayangan kekasih tidak lagi muncul dalam kebersamaan kecil bersama. Kini saat bayangan kekasih itu lewat, selalu saja bersama kelebat fantasi seksual. Tidak lagi mereka dapat bermimpi tentang sepasang kekasih yang berjalan bersama ke taman. Tiap kali memimpikan kekasih, pasti hanya kepuasan sesaat bersama dalam ruang tertutup. Jika sudah seperti itu, siapa yang akan disalahkan saat semuanya dingin pelan-pelan?

“Aku bentar lagi jadi orangtua. Baru kebayang gimana khawatirnya orangtua dulu dengan pergaulan disini. Orangtua yang udah sebaik mungkin jagain aku, malah kukecewain. Aku pesen aja ya ke kamu dik. Jangan mau lakuin itu sebelum nikah. Supaya kebukti dulu dia sanggup jaga kamu dan dirinya sendiri.” Kata ibu itu. Aku cuma manggut-manggut.

Tidak ada yang bisa disalahkan sebenarnya. Kedua pihak telah sama-sama menyerah dan harus siap menanggung konsekuensinya. Ibu itu hamil di luar nikah.

Pernikahan mereka dilangsungkan secepatnya. Mereka yang belum mengenal satu sama lain terlalu dekat. Mereka yang belum paham isi hati dan pikiran masing-masing terpaksa menjalani ikatan yang menjemukan. Kedua pihak tidak ada yang mau mengalah, tidak pula ada upaya untuk saling memahami. Introspeksi hanya menjadi angin lalu bagi mereka. Tidak satupun pernah mengerti bagaimana menempatkan orang lain di atas diri sendiri, apalagi jika anak itu lahir. Bayangkan betapa berat nanti untuk menempatkan dua orang sekaligus dia atas ego sendiri.

Selama pernikahan itu tidak ada pembicaraan yang terjadi. Berbagi cerita menjadi sulit karena masing-masing orang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Merasa diri paling butuh dikejar dan dimengerti padahal dirinya sendiri tidak mau mengerti. Tidak ada rencana yang disusun karena masing-masing memiliki keinginan yang harus dipatuhi.

Ketidakcocokan itu berimplikasi pada banyaknya pertengkaran yang terjadi. Dengan sedikit tertawa ia berkisah bahwa tiap kali bertengkar mereka selalu menggunakan campuran 4 bahasa; bahasa indonesia, rusia, inggris, dan terkadang umpatan dalam bahasa daerah. Seiring membesarnya usia kandungan ibu itu, pertengkaran malah makin sering terjadi. Masalah kecil seperti kaos kaki yang hilang sebelah saja dapat mengubah piring makan menjadi piring terbang.

Pertengkaran seperti itu seharusnya diselesaikan dengan duduk bersama mencari solusi yang baik bagi keduanya, namun itu tidak berlaku bagi mereka. Tiap pertengakaran selalu berakhir dengan perang dingin dimana tidak seorangpun dari mereka mau meminta maaf lebih dulu. Gencatan senjata baru dapat terjadi saat ada pihak ketiga yang mau menengahi. Belakangan ini masalah diantara keduanya terasa semakin berat saja sehingga pada sebuah kesempatan secara tidak sadar ibu itu mengusir suaminya dari rumah. Diusir begitu suaminya benar-benar pergi, namun kembali esoknya dengan meminta maaf. Pengusiran itu terus berulang hingga 2 minggu lalu. Pertengkaran terakhir menyebabkan Mr. Shekhovtsov pergi dari rumah meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda.

_

Menjelang siang akhirnya ibu itu pergi karena suaminya tak kunjung turun. Matahari pagi bersinar lembut diselingi hujan rintik-rintik seperti ikut bersedih. Mr Shekhovtsov baru turun menjelang siang menanyakan apakah ada orang yang mengetuk pintu kamarnya. Saat itu ia sedang tidur dan malas membuka pintu. Kukatakan jujur bahwa tadi istrinya datang mencari. Dia terkejut dan tampak tidak percaya. Kukatakan lagi bahwa sudah dua kali istrinya kesini namun tidak pernah dapat bertemu. Raut wajahnya mendadak berubah sedih. Raut marah juga sedikit tergambar disana. Ia berpikir cukup lama. Hidung putih besarnya terlihat sedikit memerah.

Kupersilahkan dia duduk menawarkan apakah ada yang bisa kubantu. Dia bilang tidak apa-apa, tidak ada. Ayah yang diam-diam mendengar semua cerita tadi membisikan padaku untuk menawarkannya minuman dingin gratis. Saat kutawarkan dia hanya meng-iya-kan, tidak tampak lebih senang. Dia kemudian memutuskan untuk memperpanjang masa tinggalnya sehari lagi, hingga besok.

Malam harinya saat Mr. Shekhovtsov baru kembali, aku bergegas menelepon istrinya untuk mengabarkan. Istrinya datang segera. Ia datang masih dengan jaket, helm dan motor yang sama. Menghampiriku dengan senyum ragu-ragu, berbicara sebentar dengan, kemudian naik ke kamar suaminya di lantai 3.

Lama rasanya aku menunggu di bawah mengantisipasi pertengkaran yang mungkin terdengar, tapi tidak terjadi apapun. Mungkin mereka bertengkar dengan berbisik, cubit-cubitan atau sudah baikan lagi. Aku mereka-reka adegan yang mungkin kusaksikan. Mungkinkah ada orang kelima dalam kisah mereka?

Shiftku berakhir 2 jam kemudian. Pukul 10 malam. Masih tidak terjadi apapun yang menarik perhatian. Jadi kuputuskan untuk pulang saja dan tidur. Memimpikan sepasang manusia itu mau merendahkan egonya masing-masing untuk saling mengenal dan menerima.

*****

Ada satu orang lagi yang ingin kuceritakan padamu. Sempat ragu karena adanya streotipe buruk yang sudah terbentuk di masyarakat tentang orang-orang ini. Kuceritakan saja ya?

*****

Bekerja selama 14 jam sehari sebenarnya tidak selalu seru dan menyenangkan. Aku harus bangun sebelum jam 8 pagi dan tetap bekerja hingga jam 10 malam. Tentu tidak setiap saat aku mengurus kamar yang rusak, mengantar, dan melayani pengunjung. Hampir setengah waktu kerja kuhabiskan untuk menonton kartun dan mendengar radio dari ruang tunggu. Tidak terlalu santai juga. Aku harus berjuang tidak tertidur karena harus mengawasi apa yang terjadi di lobi. Jadi merangkap satpam juga sih.

Suatu sore yang ramai saat aku sedang melayani pengunjung yang hendak check in, datanglah laki-laki ini. Dia memakai setelan necis dengan kemeja panjang putih yang agak melebar di lengan bawahnya. Dia memiliki rambut hitam panjang dan kaca mata hitam. Berkulit coklat kebanyakan berjemur dan mengenakan pantofel. Mirip penggabungan artis dangdut, santri, dan rocker.

Belum sempat aku menanyakan tujuannya dia sudah bertanya lebih dulu.

“Kamar 207 ada?”

“Oh, ada.” Kataku sambil memberikan kuncinya.

Setelah itu dia pergi membawa kunci kamar 207 meninggalkanku kebingungan. Aku hampir mencegatnya saat Dek menghampiriku. Dek bilang kalau orang itu adalah langganan disini, dan memang selalu seenaknya begitu. Katanya nanti juga pasti akan membayar.

“Iya? Memang seenaknya begitu ya?”

“Memang begitu, sudah hampir setahun dia selalu kesini. Minimal seminggu sekali.”

“Kenapa sering sekali?”

“Entah, tapi tiap kemari selalu ada yang diajak.”

“Diajak?”

“Biasanya teman wanitanya akan datang menjelang malam. Berganti-ganti begitu.”

“Ohiya? Identitasnya tau?”

“Hanya nama. Sisanya tidak pernah bertanya.”

“Ayah tau?”

“Tau. Dibiarkan saja seperti itu. Kata Ayah tiap orang punya masalahnya sendiri. Tidak boleh menilai seseorang hanya dari yang kita lihat.”

Menurutku benar juga apa yang Dek bilang. Dari orang-orang yang telah kutemui, kupikir akan sangat bijaksana untuk selalu menyediakan telinga dan pikiran terbuka untuk mendengar ceritanya lebih dahulu. Coba saja jika aku sudah menilai dulu sebelum mendengar cerita istri Mr. Shekhovtsov. Mungkin aku hanya akan menjelek-jelekan mereka dalam hati. Misalnya, “Suami macam apa meninggalkan istri hamil muda begitu.”

Sayangnya kesempatan itu tidak pernah datang. Laki-laki itu sudah pergi sebelum matahari terbit. Sebelum aku bangun pagi. Walau begitu aku masih tidak mau menilai apapun dari satu perilakunya. Tidak sebelum aku mendengar ceritanya. Dalam kasus ini, mungkin saja patah hati juga turut andil.

*****

Well, kalau cerita cinta mungkin aku tidak punya. Maksudku .. Ya pernah berpacaran, dan biasa-biasa saja. Tapi kurasa pelajaran berharga bisa diambil darimana saja. Tidak harus terluka dulu untuk merasakan sakit kan?