Ilalang dan Padi
Aku terbangun lagi. Deru laju kereta api ribut juga malam ini padahal aku harusnya sudah terbiasa. Ah … leherku sakit. Aku rebahan sajalah.
Langit-langit peron stasiun itu masih sama. Hijau lumut dengan kerak hitam. Pasti ulah sihir jahat pikirku.
Kereta sudah lewat. Akhirnya peron itu tenang lagi. Aku memiringkan tubuhku menghadap kanan dengan tangan kanan menyiku menjadi bantalan. Dingin sekali malam ini. Tak apalah, kalau dingin begini satpampun tidak akan sanggup patroli. Jadi aku bisa tidur dengan tenang.
….
Brr. Dingin. Sekali. Jam berapa ini? Sial. Tanganku mati rasa. Oke perlahan .. jam 3 pagi. Sial. Mataku berembun, aku harus mencari tempat lebih hangat. Tapi dimana? Tubuhku kaku. Kakiku lemah. Baiklah akan kucoba menggeliat. Tapi kemana?
Ah.
Itu bak sampah.
Paling tidak ada sedikit hangat dari proses dekomposisi. Aku hanya harus berbaring dekat dasar bak.
Oke. Aku coba menggeliat ke depan dengan tumpuan tangan. Tidak bisa, kaku. Coba kepala, susah juga. Sial sial sial, ayo pikir.
Oh.
Menggelinding saja.
Iya ide bagus. Aku kalau sekolah pasti bisa profesor. Oke coba aku bergerak menyamping.
…..
Nggghhhhhhh
…..
Sedikit lagi simetris.
Oke bisa.
Sekarang tinggal berguling.
…..
Sampai.
Huh hangaaattttt … kenapa tidak dari tadi, kalau begini kan aku bisa tidur nyee .. zzzzzzzzz
— — —
Itu apa? Suara ketukan pintu? Suara drum? Suara … kaki?
Aku mengintip sedikit dari mataku. Iya benar kaki. Ada banyak. Sudah pagi!
Jam berapa ini? Kalau kesiangan nanti aku tidak bisa sembunyi-sembunyi mandi si toilet stasiun. Jam 5.45! Oke masih bisa. Mandi 10 menit cukup.
Aku melipat potongan kain tenda yang kupakai tidur masuk ke dalam tas ransel lalu berlari menuju toilet. Kalau lebih sedikit saja dari jam 6 pagi, maka toilet akan penuh oleh makhluk pekerja yang lalu lalang. Gelandangan kan juga butuh mandi.
Airnya dingin seperti biasa. Namun tidak sedingin yang diharapkan karena lebih hangat daripada udara di luar. Apakah ini bekas pipis orang?
Selesai mandi aku kenakan kembali baju kebesaranku. Sebuah kemeja berwarna hijau navy dengan banyak saku. Lalu celana -entah model apa ini- tapi warnanya coklat tua, keras anti sobek dan banyak juga sakunya. Lalu sepasang sepatu boots. Yang kanan berwarna pink, yang kiri berwarna kuning. Semua benda yang menempel di tubuhku sekarang aku sudah luoa dapat darimana. Yang aku ingat boots kananku berwarna pink ini aku dapat dari berebutan dengan kucing.
Hari ini aku ingin makan roti. Jadi Kota Bandang Bawah adalah tujuanku. Minggu lalu aku disapa bocah SMP culun ingusan yang masih polos. Aku lupa namanya.
Sap,
S …
Sa,
Si,
Sapi?
Sarang?
Saranghaeyo?
Ah Sapardi!
Bocah itu bahagia sekali, mukanya culun. Pasti belum pernah pacaran. Anak kampung dasar. Sepertinya baru pernah ke kota.
Yasudah biar. Untuk ke toko roti yang pelanggannya suka buang-buang roti favoritku itu, aku harus lewat jalur kemarin. Kalau bertemu Sapardi akan kuajari dia caranya memulung.
Langit hari ini mendung tapi kenapa silau sekali ya. Hari ini biasa saja. Trotoar biasa, burung biasa, orang mau lompat bunuh diri biasa, kambing berkaki dua biasa, burung terbang terbalik biasa. Biasa saja. Lima belas menit kemudian aku sampai ke jalan tempat si Sapardi menyapaku minggu lalu. Tidak ada tanda-tanda bocah itu. Jadi aku lanjutkan saja berjalan mengabaikan keramaian dengan tangan dalam saku celana.
Tiba-tiba dari sudut mataku aku lihat Sapardi. Cemberut. Lah, kenapa dia cemberut. Baru juga kemarin dia sok-sokan menjabat tanganku sambil lompat-lompat. Apa dia sedih? Bocah SMP bisa sedih kenapa sih tapi? Topinya hilang? Pensilnya patah? Cemen. Belum juga mengurusi bangsa.
Aku ingin menyapanya tapi takut dikira penculikan. Iyalah, secara badanku besar, bau, lusuh dengan wajah berambut tidak teratur dan ekspresi wajah ganteng butuh uang, siapa yang tidak curiga? Tapi kasian juga dia kalau murung begitu. Baiklah biar kuajak mulung roti.
Sapardi berada di seberang jalan, jadi aku harus menyeberang. Jangan salah, aku jago nih menyeberang. Sayang saja tidak ada gadis yang mau meminta bantuan padaku. Paling terkadang aku menyeberangkan ayam.
Sampai di seberang aku berlari kecil mengejar Sapardi, tapi jalanku dihadang seseorang. Bukan, sesuatu. Jalanku dihadang si Kambing berkaki dua tadi.
“heh, mau apa kamu?”
“mau mandi. Eh bukan itusih. Mau minta bantuan”.
“Hm?”
“pleasee ..” rengeknya sambil mengelus jenggot.
“tak ada urusan. Aku sibuk”.
“Ayolah bang, atas nama solidaritas gelandangan”.
“HAH! Apapula itu? Partai? Tidak tertarik aku!”
“Ini penting bang. Biar kau bukan anggota geng tapi ini menyangkut harkat dan martabat penggelandang”.
“Tak punya martabat aku ini. Tidur saja di bak sampah. Mau pakai martabat segala. Kalau martabak aku mau! Sudah sana out!”
“Eh eh iya bang bentar iya nanti kutraktir martabak manis. Tapi bantu dulu ya?”
“Kau pikir aku bisa disuap? Nanti kalau kau suruh aku berbuat kriminal — —”
“dua bungkus tambah uang saku”. Katanya memotong.
“oke deal”.
“hehe”.
“butuh bantuan apa kau?”
“jangan disini bang. Mending langsung di tempat saja”.
“wah jangan kau bawa aku ke tempat konstitusi ya!”
“prostitusi”
“iya apalah sama saja”.
“lewat sini bang”.
Lalu si Kambing berhasil membuatku jadi congek mengikuti dia kemana-mana. Aku tau ini bagian pusat Kota Bawah agak ke pinggir. Ke daerah pertamanan. Meliuk sedikit, berhenti di air mancur untuk minum, lalu berjalan kembali menembus semak-semak.
Kurang ajar benar si Kambing ini. Aku mau dia bawa kemana.
“sudah bang. Disini”.
“kau mau aku jadi kuli angkut wortel?”
Si Kambing mengajakku ke sebuah bagian dari padang rumput yang dipenuhi wortel. Mual perutku melihat sayuran. Aku heran kenapa ada yang sanggup jadi vegetarian. Mana mau aku makan makanan yang dimakan makananku.
“bukan bang. Sebenarnya penduduk asli disini butuh bantuan abang”.
“untuk?”
“mengusir penjajah”
“Kau pikir nenek moyangku seorang pelaut?! Mengusir lapar saja kususah, mau mengusir penjajah lagi. Kujitak juga kau. Sekarang seriuslah, mau bantuan apa kau?”
“aku serius bang”.
“yasudah, mana penjajah yang mau kau usir”.
“itu bang di taman”. Katanya sambil gestur mengajak aku mengendap ke belakang semak.
“itu kelinci”.
“tepat”.
“lah, penjajah darimananya?”.
“dia mengambil makanan pribumi disini bang”.
“ini kan memang padang rumput, dibuat untuk menumbuhkan tanaman pakan. Kalau dia makan yang tumbuh, itu penjajah darimananya hei Kambing!”
“gak bisa begitu bang. Coba liat anak-anak kambing dan sapi dan domba dan lain-lain, lahan merumputnya jadi berkurang. Kami tidak sudi berbagi lahan dengan pemakan wortel. Padang ini hanya untuk ditumbuhkan rumput”.
“tak kena aku sama logika kau. Kau mau padang seluas ini untukmu sendiri? Egoislah kau!”
“Bukan begitu bang. Mereka kan pendatang disini. Jadi harus nurut sama empunya. Mereka baru boleh makan kalau kami memberi ijin”.
“Ndasmu. Memang kau bukan pendatang hei. Ini Bumi Pertiwi. Tak bisa seenak telinga lambingmu kau perkarakan. Lagipula siapa pula kau berhak memberi ijin orang untuk makan, emaknya?”.
Si Kambing terdiam sebentar. Dia menunduk saja saat kumarahi. Beberapa lama kutunggu hingga dia bersuara.
“ah sudahlah bang. Ini martabaknya, makanlah dulu. Nanti kuberi tau kerjanya”.
Disuguhi begitu laparku meledak juga, kemarin cuman sarapan nasi bungkus dan cabe rawit. Jarang-jarang dapat makanan begini. Jadi habis dalam hitungan menit. Makanan sehat-makanan sehat.
“enak bang?”
“ya mayanlah. Et tapi ingat kau tidak melibatkanku pada kriminalitas ya”
“tenang bang. Abang sekarang hanya perlu bernyanyi”.
“bernyanyi?”
“iya”.
“kau pikir aku Iwan fals? Kau belum tau kalau aku bernyanyi bisa dikira suara mesin diesel”
“nah maka dari itu bang. Sebenarnya aku ingin abang menyanyikan lagu untuk istri dan anak-anakku”.
“hah, tidak salah? Yasudah, mau lagu apa kau?”.
“Abang cukup menyanyikan lagu ‘Sate Kelinci’ keras-keras. Istriku lagi ngidam”.
Kepalaku pusing. Apa maksudnya si Kambing ini. Tadi dia mau mengusir penjajah. Sekarang minta aku menyanyi buat istrinya yang ngidam. Plin-plan betul.
Dia kemudian menuntunku ke salah satu sisi padang rumput yang agak curam tempat istri dan anaknya berleha-leha.
“ini tidak ada hubungannya dengan hukum kan?” tanyaku memastikan.
“yaampun. Tidak ada bang. ayolah, atas nama saudara sepenggelandangan”.
Aku masih curiga.
“tunggu biar aku berpikir”.
“silahkan bang”.
……
“sudah?”
“belum”.
“sudah?”
“bawel”.
“martabaknya sebungkus lagi keburu dingin”.
“iya ya .. baiklah aku nyanyikan
…….
…….
(Males buat liriknya ehe)
…….
…….”
“oke bang cukup. Gila keren sekali suara abang. Liat istriku sampai terharu”.
“Ndasmu. Kalau bagus kenapa kau sumbat itu telinga kau?”
“oh ini antiseptik”.
“terserahlah. Udah kan ini?”
“sudah bang”.
“mana bayaran?”
“oke ini 300rb dan sebungkus martabak”
“oke terimakasih ya. Aku pulang”
“hati-hati bang!” seru si Kambing diakhiri tertawa jahat.
Aku senanglah ya, ketebak. Gelandangan begini dapat uang dan makan, cuman modal suara pula. Apakah aku harus ikut Indonesian Idol?
Perjalananku ke atas cukup terjal. Aku sampai harus membungkuk agar tidak jatuh ke belakang. Namun akhirnya sampai juga. Aku memilih untuk pulang menembus tengah padang daripada harus memutar. Padang itu indah sekali. Banyak bunga beragam warna, beragam burung ribut, kataku sih itu semua walet. Kemudian ada beragam serangga, semak, perdu dan tidak lupa permadani hijau luas membentang. Rumputnya agak lembab saat aku sentuhkan tangan, namun lembut. Aku ingin berguling-guling sampai horizon tapi takut ranjau feses.
Saat hampir sampai ke seberang aku merasa ada sesuatu yang aneh. Kepalaku celingak-celinguk.
Kenapa tidak ada kelinci?
Sebentar …..
OH KURANG AJAR!
Si Kambing mebuatku menyanyikan lagu “sate kelinci” itu supaya para kelinci takut lalu pergi!
Jadi aku seperti meneriakkan ancaman begitu. Yaampun maafkan aku tidak tau apa-apa.
Si Kambing harus kuberi pelajaran berhubung aku tidak tau sekarang para kelinci lari kemana. Nanti saja minta maaf setelah aku buat perhitungan.
Karena aku pintar, maka aku akan mencari bukti kuat dulu. Jadi aku bersembunyi di semak-semak dekat kebun wortel.
Baru setengah jam kunanti, si Kambing sekawanan datang membawa tikar dan payung. Mereka sepeetinya mau piknik. Kuperhatikan lekat-lekat lalu ternyata mereka piknik dengan memakan wortel itu!
MUNAFIQUE!
Oh jadi begitu, mereka ingin mengusir kelinci agar dapat memonopoli wortel. Dasar jenggot serakah. Bisa-bisanya memanipulasi aku untuk tujuan begitu. Baiklah tunggu pembalasanku.
— — —
Kukumpulkan batu kerikil besar-besar sebanyak mungkin. Lalu aku kembali ke belakang semak-semak. Mereka masih disitu, asik bersenda gurau seperti sudah memenangkan piala dunia. Padahal Indonesia menang AFC saja tidak pernah. Bahkan ada yang bercanda masih ingin membunuhi para kelinci padahal para kelinci sudah terusir. Kurang ajar betul.
Kutarik nafas dalam-dalam …..
“BWAHAHAHAHAHAHAHA, AKU ADALAH DEWA BATU. HAI KALIAN PARA KAMBING. KALIAN SUDAH DURHAKA PADA KELINCI. SEKARANG KALIAN AKAN KUKUTUK JADI BATU”. Kataku berteriak meniru suara badai sambil menggerak-gerakkan sederet semak-semak dan bergoyang membentuk gempa ringan.
Para Kambing ketakutan. Aku semakin bersemangat.
“RASAKANLAH HUJAN METEOR INI AKAN MENGUBAH KALIAN JADI BATU JIKA KALIAN TIDAK SEGERA ANGKAT KAKI DARI KOTA INI !!!!!”
Batu-batu yang tadi kukumpulkan mulai berterbangan ke arah mereka. Para Kambing itu lalu berhamburan, jatuh, bangkit, tersandung lagi, ada yang bertubrukan dan berlari handstand saking paniknya. Aku melempari mereka sambil tertawa-tawa keren. Lalu saat kehabisan batu dan jarak mereka berlari sudah cukup jauh, batu terbesar terakhir kulempar,
Agak berat. Batu terakhir ini seukuran dengan Honda Supra X pgm fi.
Dengan sedikit otot perut akhirnya berhasil kuangkat. Kutarik lagi nafas dalam-dalam ….
“RASAKAN INI, JURUS GIGA METEOR IMPACTTTTTT”
*sound effect: blurgghhhhhhvsiwnssjskdhdisnssodhdeusu
*tuingggggggggggggggggg
*debummmmmmmmmmm
Batunya berdebum tepat di titik cantik dimana ketakutan mereka dirangsang keluar paling efektif. Hal itu membuat setengah lebih dari mereka mulai berlari sambil menangis, setengah lagi sambil tertawa dan pipis.
Aku puas.
Para Kambing itu sepertinya berlari cepat sekali meninggalkan bekal makan siangnya. Saat kupikir sudah aman, aku baru berani muncul. Aku berjalan keluar semak lalu berkacak pinggang.
“Hmm, jadi begini rasanya jadi pahlawan”.
Rasanya seperti Bumi adalah panggung, matahari adalah spotlight, kamera dimana-mana dan ada musik klasik di latar belakang. Ciamik!
Untuk meninggalkan jejak bagi kelinci aku titipkan surat ke penghuni padang lainnya. Mereka tampak bahagia juga atas kepergian bandot-bandot pembuat onar itu. Syukurlah dengan ini padang rumput bisa damai lagi.
Aku berjalan pulang dengan sangat ringan. Tidak pulang sih, sebenarnya aku tidak tau mau kemana, mungkin ke toko roti tadi pagi. Atau menunggu Sapardi pulang. Aku ingin menceritakan ini pada dia. Bocah itu pasti senang.
Yah, aku sedih juga sih bisa-bisanya dihasut dan diperdaya hanya oleh bayaran. Apakah idealitasku pada perdamaian hanya setumpuk martabak?
Entahlah,
Mungkin nanti akan ada saatnya manusia tidak bisa lagi membedakan mana padi dan mana ilalang.
Kalau saat itu tiba. Daripada aku harus jadi penjahatnya. Lebih baik aku terbang ke Mars.
Update: aku menemukan pisau cukur dan foamnya di temoat sampah saat aku berjalan ke toko kue. Keduanya masih baru. Yah sepertinya bahagia memang tidak harus mahal.
