DewaD
DewaD
Dec 20, 2016 · 2 min read

Kalau Ditunggu Bertemu

Menunggu tidak pernah terasa nyaman. Urat perut ditarik ke ulu hati hingga panas telinga. Jantung berdebar tapi kabar tak kunjung datang. Pikiran juga sulit dialihkan karena sangat sulit berpaling dari madu. Candu.

Tubuh bisa saja sedang bergerak, menyetir misal. Tapi tetap saja tidak nyaman jika menyetir sambil menahan sembelit di perut. Bukan sembelit berbayar, bukan. Tapi sembelit yang molekul demi molekulnya bererupsi jadi senyum-senyum.

Duduk terpisah sejauh apapun kalian. Bila bergerak mendekat perlahan pasti akan terbayang bagaimana ia duduk bosan menanti kabar. Dia pasti kesal padamu. Kesal yang kau tau adalah tanda rindu.

Pihak yang ditunggu uring-uringan menyusun kata-kata maaf dan menyusun semua skenario agar pertemuan nanti berkesan dalam 7x mimpi ke depan. Rencana A mungkin datang dengan wajah polos lalu minta maaf dan dimaafkan. Jika tidak, masuk ke rencana B. Rencana B melibatkan kelihaian untuk menilai situasi. Jika target membawa banyak barang, bawakanlah sebagian. Jika dia lapar, traktirlah makan. Atau janjikan es krim kalau dia sedang diet, agar tidak jadi habis uangmu.

Pihak yang menunggupun demikian. Sibuk menyusun kata-kata sarkas yang membuat tertunggu serba salah. Jika penunggu itu wanita. Ah tamat sudah kau. Apapun rencanamu akan habis rontok seperti uban koala. Kesimpulannya adalah pria selalu salah.

Tapi dibalik semua itu. Pertemuan yang dinanti akan menguapkan terlambat selama apapun -kecuali terlambat melamar- sehingga kalian bisa jalan-jalan dengan khidmat. Kalau pertemuan itu dinanti, hujan air akan terasa salju, salah jalan akan menjadi tambahan waktu sewa dan hujan batu akan terasa sakit-tapi disyukuri karena berdua.

Nanti mungkin, jika kalian benar-benar bertemu melepas rindu. Di akhir akan ada bagian hari ini yang kalian syukuri. Bagian dimana tertunggu meminta maaf sebaik-baiknya penunggu memaafkan.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.