Kamu
Ingat senja paling jingga yang terakhir kau temui di pucuk-pucuk ilalang? Sedikit tentang kesukaanmu terhadap burung yang hinggap di pucuk konifer. Pikirkan bagaimana berupa-rupa warna burung serindit dapat bercampur dalam hijau yang ungu. Begitu juga dengan kamu. Bagaimana semua hal yang telah kau lalui membentuk warna matamu. Begitu tajam dan cerah. Tegas tapi menyayangi.
Membuatku penasaran
Berapa umur jiwamu?
***
Turun sedikit ke samudra. Pikiranmu adalah samudra terluas yang kutau. Dengan rasa garam yang berbeda tiap jengkalnya. Isi kepalamu adalah keingintahuanku pada teka-teki. Membawaku persis seperti pertama kali aku bisa membaca atau bersepeda. Keingintahuan yang tak akan bosan kukayuh. Tiap menyentuhmu membuatku kesemutan. Kesemutan kalau dirasakan semut jadi kemanusiaan.
Hidupmu telah kau habiskan untuk berlari. Mengejar mimpi dan medali hingga seringkali lupa makan dan sakit. Merangkai titik demi titik kata yang menjadi caramu menjelaskan diri pada dunia. Kurasa kau tidak percaya takdir, karena kakimu tidak mau tunduk pada nasib, kecuali satu, jam tidur.
Kau adalah seorang perencana ulung. Selalu mencari simpul yang bisa kau rangkai, seringkali terlalu banyak hingga kau lelah. Lelah yang jarang kau tunjukan. Tapi bisa kulihat jelas dari helaan nafasmu. Tapi sungguh betapapun daun pohon sekitarmu layu, kau akan selalu menjadi bunga yang mekar.
Mimpimu adalah mercusuar putih Alexandria dan bibirmu adalah jelmaan seribu kata menggoda darinya. Kilatan cahayamu berasal dari titik tertinggi, selalu, dan tidak pernah takut menerabas gelapnya masa depan. Apa yang kau lakukan kini harapmu agar dapat menjadi penerang bagi semua badan yang kau sayang. Inginmu adalah gunung yang memeluk kedua orang tua dan adik-adikmu. Awan di atas gunung itupun selalu berusaha meneduhi kawanmu. Kau adalah air yang mampu melarutkan apapun.
***
Sempit kini ruanganku berdiri. Berada di 35000 kaki di atas permukaan laut dengan kabut disekeliling pandang. Dataran yang kupijak sedikit bergetar seiring suara turbulen baling-baling. Dari belakang namamu kemudian kureka. Akankah kudapatkan namaku.
