DewaD
DewaD
Jan 4 · 3 min read

KAMU yang memilih punya anak

Sudah lama saya berpikir mengenai akan punya anak atau tidak. Kebanyakan diskusi berakhir tidak memuaskan karena argumennya diturunkan dari ego orang tua yang merasa anak adalah “hasil cinta ayah bunda”, “sumber kebahagiaan”, “investasi” dan “anugerah”. Kok saya tidak merasa pas ya?

Hasil cinta ayah bunda

Dunia ini isinya teramat kejam dan seringkali datang dari tempat yang tidak punya otak. Mengapa harus mendatangkan jiwa bersih tidak berdosa untuk jadi “hasil cinta”, kenapa tidak membuat tembikar saja berdua jadi start up tembikar pasir pantai. Jadi menurutmu anak itu semacam trofi? Sadarkah kamu sedang membicarakan sebuah jiwa yang akan dipaksa menjalani derita hidup?

Sumber kebahagiaan

Anak yang dibuat itu tidak pernah minta dilahirkan. Kalian yang memilih untuk punya. Terserah karena alasan tertentu atau hanya karena “pengen aja”. Anak yang dilahirkan itu manusia seutuhnya yang punya kebebasan memilih. Kewajiban darimana baginya untuk membahagiakanmu? Yang ada, kamulah yang punya kewajiban membesarkannya. Kalau mereka merasa berhutang budi ya bolehlah, tapi memaksa mereka mengikuti semua kehendakmu mencerminkan motivasi beranak pinak yang egois.

Investasi

Lalu anak yang dilahirkan tanpa persetujuan itu diharuskan mengurusmu saat merasa sepi dan tua? Mana ada. Masa tuamu, kesepianmu, urusanmu sendiri. Anak akan tumbuh besar dan hidup di hidupnya sendiri. Kemauan anak untuk mengurusmu hanya bonus.

Anugerah

Pertama, saya harus bertanya, anugerah bagi siapa? Memang anakmu akan merasa teranugerahi kehidupan begitu? Siapa yang akan kamu salahkan saat anakmu mengalami nasib buruk, badan pendek, muka jelek dan kecacatan seumur hidup? Anugerah matamu.

Otakmu sekarang pasti dibanjiri dengan, “TAPIKAN AKU SUDAH RESIGN DARI KERJA, MENGHABISKAN WAKTU DAN UANG DEMI MENGHIDUPI DIA. TAU TIDAK RASANYA MENGANDUNG SEMBILAN BULAN LALU BERSALIN DALAM RASA SAKIT MEREGANG TULANG BERJAM-JAM? DIA HARUSNYA BERTERIMAKASIH DENGAN BERBAKTI PADAKU!!!!”

Ya …….

Kamu yang memilih untuk punya anak. Kamu yang memilih untuk melahirkan. Kamu yang memilih mengambil tanggung jawab untuk mendukung anakmu secara finansial.

Saat kamu mengambil keputusan itu, kamu harusnya tau kalau membesarkan anak adalah sebuah judi. Kamu harusnya tau kalau kamu mungkin “gagal”, tidak peduli berapa keras mencoba. Memiliki anak adalah sebuah resiko yang kamu ambil karena kamu pikir resikonya “pantas”. Menjadi orang tua tanpa menyetujui dua hal yaitu:

  1. Kamu yang memilih mengadakan, kemudian, bertanggung jawab membesarkannya tanpa peduli ia akan merasa hutang budi atau tidak.
  2. Anak adalah manusia bebas yang tidak harus terikat padamu.

akan membuatmu menjadi macam orang tua yang beranak berpikir bahwa anak adalah robot yang bisa diprogram seenak jidat.

Anakmu mungkin akan terlahir dengan sindrom berbahaya, kesulitan belajar dan tidak dapat lulus dari sekolah rata-rata ke atas. Masa remajanya dipenuhi episode-episode ter-bully, manicdepressive, schizophrenic, obssesive-compulsive atau delusi. Selama masa itu, anakmu mungkin memiliki temperamen yang tidak bisa dikontrol dan mempermalukanmu di depan teman-temanmu. Setelah beranjak dewasa, ia mungkin akan bergaul dengan teroris, bergabung dengan ISIS, menggunakan narkoba kemudian menjadi prostitut, tinggal di Nicaragua, bercerai 9 kali dan berakhir dihukum mati. Semua itu bisa terjadi terlepas dari usaha maksimal untuk membesarkannya sesuai maumu.

Makanya, lain kali saat kamu sedang mengelap tainya yang berceceran, menyuapinya makan dan terbangun 10 kali dalam satu jam selama 8 jam tiap malam berpikir bahwa semua ini “pantas” karena ia anakmu yang bisa joget dan tersenyum bak malaikat, jangan lupa kalau ia akan tumbuh besar.

Saat bayi besar itu mulai melawan, mengambil keputusan yang tidak kamu setujui dan menjadi atheist, jangan pernah berpikir bahwa ia berhutang budi padamu. Anak itu tidak pernah minta dilahirkan, kamu yang memaksanya masuk ke lubang setan ini. Kalau kamu merasa ingin punya anak hanya karena pamrih, lebih baik jangan.

Lalu kapan sebaiknya aku punya momongan?

Aku sendiri tak tahu.

Ada yang bilang, milikilah anak saat kamu sudah siap mencintai tanpa kembali.

Atau, seseorang baru bisa menjadi orang tua saat ia bisa menjawab pertanyaan, “kenapa aku dipaksa lahir ke dunia yang tidak adil ini?” dari anaknya tanpa memberikan alasan egois macam yang sudah saya bahas di asal tadi.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.