DewaD
DewaD
Jan 15 · 2 min read

Kanker

Dongeng dari mitos, mitos dari fakta, tak ada yang bilang dia tiba.
"Sudah di kulitmu, kelenjarmu, organmu", katanya.
Bola matanya naik turun menilai, "duh masih kecil udah mau mati".
Umpan dilempar, kabar disebar, tanpa perlu kubuka mulut.
Datanglah para senyum palsu, karangan buah dan pocari sweat.
Gembira sekali memasuki ruangan bau tengik.
Duduk prihatin di sebelah ranjang bekas 10 juta penyakit.
Bicara ceria seperti aku tak akan mati.
Harusnya mereka bawa baygon saja untuk kuminum.

Klik-klik remote TV tiap hari.
Sisanya hanya memandang langit dan menghirup karbol.
Terus begitu, hingga otakku tak terima.
Maka kuputuskanlah, dengan sisa nafasku, untuk menggali.
Aku terpompa bak punya harapan.
Belum saja aku tau sia-sia.
Walau menggali sudah jauh, Tuhan tidak murah.
Hingga hancur ujung jariku, hingga tampak batok kepalaku, tak kudapat satu penjelasanpun.
Lalu aku duduk melipat kaki.
Dalam ruang tanpa sudut.

Gelayut-gelayut ujung rambut terakhir.
Entah berapa pil sudah kutenggak.
Muntah, nanah, merah, darah dan jeroan semua berebut keluar.
Berdesak layaknya KRL jam pulang kantor.
Sisa nyawa hanya terasa di picing mata.
Tiap memejam aku berdoa.
Semoga besok ruang putih ini berubah jadi hitam.

Sudah kucoba mencuri karbol itu, sudah.
Tapi hanya muntah yang kudapat.
Sudah juga kucoba berbaur dengan listrik.
Tapi tak mampu ia menggapai jemariku.
Sayang sekali jendela rumah sakit ini berjeruji.
Aku pikir sekarang aku hanya bisa menanti.

Kanker itu baru mengerikan saat ia sudah datang.
Semacam pendahulu rektor di wisudaan.
Mahasiswa yang sebentar lagi resmi pengangguran hanya tau memikirkan hidup.
Padahal rektor datang membawa kematian.

Hidup ini katanya perjalanan.
Ada yang bilang peperangan.
Dalam bangsal ini, bagiku hidup itu balapan.
Siapa yang mati duluan menang.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.