DewaD
DewaD
Feb 17, 2018 · 1 min read

Lorong

Aku tidak pernah suka kucing.

Mereka seperti jahat.

Kampungan.

Bisanya hanya beranak dan mengemis makan. Kalau saja ada rampok, malah kabur duluan.

Apalagi kucing kampung di kampusku.

Oportunis, manipulatif.

Jam tiga lebih tiga aku masih harus berjalan terburu-buru lewat lorong ini.

Diujung sana tampak si kucing kampung sedang mengawasi.

Halah,

Kau pikir aku punya makanan?

Kalau punyapun apa kau pikir aku sudi memberikan?!

Aku berjalan mendekatinya.

Dipelotototinya aku seperti sedang sebal.

Mungkin dia ingat kalau aku tidak pernah hirau dengan keberadaannya selama ini.

Dih, apa liat-liat? Mau kelahi?

Dasar kampung.

Dia masih menatapi. Tidak mengeong seperti biasa minta makan.

Matanya gelap lekat tidak sabar menungguku mendekat.

Aku acuh.

Jalanku lebar ingin segera tidur.

Tinggal satu meter lagi jarak kami berdua namun kucing itu makin tampak beku tak bergerak.

Dasar garongKedinginan ya? Bye.

Aku bergerak melewatinya.

Si Kampung tidak hirau.

Aneh.

Penasaran juga aku kenapa kucing ini jadi cuek. Padahal menatap lekat-lekat seperti itu sudah pasti minta makan. Biasa pantang berhenti mengeong sampai diberi.

Iseng aku lihat arah tatapan matanya.

Lorong.

Ke arah ujung lorong aku datang.

Pada segumpal kering hitam menetes yang sedang merangkak di langit-langit.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.