Pasukan Kapal Karam
“I shout, I swear, I get angry, I get scared, I fall, I break, I’ve seen scar tissue and your blood much enough. I lost you, it killed me”
— — —
Marwan dulu adalah seorang ayah. Dulu. ia memiliki seorang anak laki-laki, terakhir kali ia ingat umur bocah itu baru 7 tahun. Istri pertama Marwan meninggal saat anaknya baru bisa meniup gelembung dari bibirnya. Sejak saat itu Marwan adalah petarung tangguh yang akan pasang badan pada apapun yang berani mendekati anaknya.
Marwan dan anaknya, Farius. Adalah ayah-anak dan juga sahabat. Suatu hari Farius yang baru berumur 6 tahun pulang ke rumahnya agak larut. Marwan memang khawatir, namun kebahagiaan anaknya malam itu menghapus semua khawatir dan gusar di wajah Marwan. Farius datang berlari dari ujung jalan timur, berteriak “Ayah! Ayah!” sambil berlari sekencang yang ia bisa. Marwan yang sudah sejak pukul 4 pulang membawakan baterai baru bagi gamebot Farius berlari bangkit tergopoh-gopoh menyusul arah datangnya suara. Dari kejauhan Farius terlihat tertawa lebar melihat ayahnya hanya mengenakan singlet dan celana pendek. Marwan tidak peduli tentu saja. Bocah kecil itu adalah alasannya pulang cepat tiap hari.
Mereka berpelukan, diangkatnya tinggi-tinggi Farius untuk melihat senyum bocah itu sekali lagi lalu memeluknya tanpa bertanya. Selama perjalanan pulang Farius menceritakan semuanya, bagaimana ia bermain bola kaki hari ini, bagaimana ia menangkap bola dan bagaimana temannya memarahinya karena membuat gol bunuh diri. Mereka tertawa-tawa sepanjang jalan sore ditemani gugur daun. Tetangga sudah maklum tentu saja.
Marwan akhirnya tidak tahan untuk bertanya, “Lalu kenapa kok seneng banget Rus?”.
“Hahahaha, iya Ayah. Aku bikin gol bunuh diri sekali tapi mencetak 3 gol jadi timku menang deh”
“OHIYA? Wah hebat anak Ayahh”. Jawab Marwan sambil menggelitiki pinggang Farius.
“Trus, trus gimana lagi?”
“Nah itu dia Yah. Mereka ngajakin main sepeda minggu depan. Katanya mau ke Kota Bawah. Boleh gak Yah? Katanya seru naik sepeda disitu karena naik turun kayak gelombang sinus”
“Ohiya! Anak Ayah minggu depan ulang tahun kan? Boleh dong. Tapi nanti mintain kontaknya temen-temen kamu yah. Atau orangtuanya biar Ayah gak khawatir”
“YES! Siap Ayah. Tapi-tapi pinjam sepeda yang rodanya dua ya. Masa roda tiga sih.” Rayu Farius sambil menunjukan dua jari tangan gempalnya dekat-dekat wajah Marwan.
“Yaudah iya boleh .. jangan sampe rusak tapi ya sepeda Ayah.”
“Gampanglah, kan aku udah jago.”
“Dih udah bisa gitu ya sekarang. Udah sekarang ambil dog food di dapur sana bantuin Ayah ngasi makan Chokky.”
“Oke.” Kata Farius sambil berlari masuk ke dalam rumah. Marwan hanya berdiri dan tersenyum disitu. Melihat pintu yang tidak tertutup sempurna dan jejak kaki kecil dari kaki Farius yang kotor.
— — —
Selama seminggu itu Marwan tidak bisa terpejam. Ia sudah mempersiapkan tabungan untuk Farius kelak, namun tetap saja menghitung momen hingga sepeda itu sampai adalah hal bahagia. Marwan membayangkan bagaimana bocah yang kini tidur berselimut di sampingnya melompat bahagia saat sebungkus kardus besar berisi sepeda roda dua baru yang khusus dipesan bermerk mengilap diserahkan padanya. Marwan merasa hidup untuk momen itu. Baru setelah lewat tengah malam ia bisa tidur.
Di kantor, yang selalu Marwan ceritakan adalah Farius. Tentang bagaimana ia bisa memakai baju kemeja sendiri, bagaimana ia menolong temannya yang beybladenya rusak. Bagaimana ia bilang, “udah Yah gausah ditemenin di sekolah. Aku kan udah gede”. Bagaimana anak itu membawakannya eskrim coklat sepulang dari tamasya Taman Kanak-Kanak karena katanya, “Ayah kan suka, siapa tau Ayah seneng aku bawain”. Tiap perintilan kecil hidup mereka di rumah dan rasa bangga Marwan pada anaknya.
Teman-teman kantor sudah hapal betul topik pembicaraan Marwan. Beberapa dari mereka sampai bosan dengan kalimat pembuka, “Tau gak, Farius kemarin ……..”. Bahkan ada yang sampai menghindari makan bareng Marwan di kantin karena topiknya selalu berulang. Bukan apa-apa, Marwan adalah teman baik yang bersedia mendengar dan berpikiran terbuka sehingga enak curhat dengannya. Namun topik monoton dan berulang kadang membosankan bagi sebagian orang.
Sehari sebelum ulang tahun Farius, hari dimana sepeda pesanan Marwan datang. Marwan berceloteh gila-gilaan. Dia sengaja mendatangkan sepeda ke kantor agar tidak merusak kejutan. Marwan dibantu teman-temannya untuk membungkus sepeda itu menjadi bentuk robot yang dibentuk dari kardus. Marwan menawarkan teman-temannya untuk datang memberi kejutan malam ini, tapi mereka menolak dengan sopan karena besok baru hari Selasa, banyak kerjaan. Marwan tidak ambil pusing, Bungkusan besar itu ia masukkan ke dalam mobil dan kembali bekerja dengan sangat tidak fokus menanti jam 5.
— — —
Jam 5 sore datang lebih lama dari yang ia bayangkan, tangannya berkeringat dan matanya tidak mampu melepaskan pandangan dari jarum detik yang berputar begitu lambat. Begitu jarum detik menunjukan pukul 05.00 WIB tepat tidak kurang, Marwan menyambar jasnya lalu berlari menuju mobil. Tangannya gemetar menahan bahagia.
Kebut-kebutan dengan kemacetan ia lalui dengan gemash. Setengah jam kemudian Marwan sampai di pintu depan, 5 menit yang lalu ia menelepon rumah menyuruh Farius untuk mandi. Jadi harusnya ia sedang mandi sekarang, memberi waktu bagi Marwan menyiapkan segalanya. Seperti dugaan Farius tidak datang berhamburan untuk menyaliminya dan membawakan tas kerja. Berarti ia sedang mandi. Marwan mengeluarkan kotak besar itu ke pintu depan lalu memencet bel beberapa kali. Terdengar teriakan Farius dari dalam, “iya sebenataaaarrr”.
“Oke. siap-siap ..” Batin Marwan.
Tiga menit dua detik Marwan menunggu hingga suara gerendel pintu dibuka. Ia bersembunyi di belakang kotak besar berbentuk robot untuk melompat mengejutkan Farius. Farius membuka pintu dengan cepat, dengan wajah bingung ia memanggil “Ayah”. Dua kali dihitung Marwan panggilan itu sebelum ia melompat dari belakang kotak kado.
“BAAAAAAA”. Kejut Marwan sambil melebarkan tangan untuk memeluk Farius. Farius terkejut lalu melompat ke pelukan Marwan. Tidak basa-basi Farius bertanya, “itu apaaa Ayahhhhhh??”. Marwan tentu dengan sombong menjawab, “Apa coba tebak”.
“GODZILLA? ATAU KINGKONG?!”
Marwan tertawa sejadinya, suspense yang ia rasakan seharian ini terbebas lepas mendengar kelucuan anaknya. Farius makin mendesak, “kok ketawa, apa Ayah isinya apaa”. Marwan menurunkan Farius menyuruhnya membuka sendiri hadiahnya. Farius-yang-baru-dimasukkan-kelas beladiri berlagak kungfu lalu menendang kotak berbentuk robot itu hingga jatuh. Farius melompat ke atasnya lalu menginjak-injaknya hingga berlubang. Dari lubang itu terkuak sedikit demi sedikit chasis sepeda barunya.
“SEPEDAAAA”
“Liat Ayah, ada sepedanya!”
“Iya-iya sepeda hadiah ulangtahunmu besok”
“Asik! Makasi Ayah”
Farius terus bernafsu membuka bungkusannya. Berantakan, dibantu Chokky yang dengan senang hati menggigiti busa pembungkus sepeda dan membuat semuanya berantakan. Farius dan Chokky seperti kesatria dan tunggangannya yang sedang melawan monster jahat.
Akhirnya sepeda itu terkuak, lepas dari semua pembungkus busa dan bubble wrap. Sepeda berwarna merah-gelap mengilap berukuran sedang untuk bocah 6 tahun. Farius merengek ingin memainkannya hari itu juga. Marwan tentu saja melarangnya. “Besok saja, kan mau pergi subuh”. Farius tampak kecewa namun tetap senang namun tidak sabar. Marwan masuk lebih dulu ke dalam membawa sepeda baru itu agar Farius tidak coba-coba kabur. Marwan menyuruh Farius dan Chokky membereskan kekacauan bungkus kado tadi agar mendapat akses TV malam ini. Ia lalu menutup pintu dan mandi. Mandi dengan perasaan bahagia mendatangkan banyak lagu cinta dari bibir Marwan.
Malamnya Farius mengerjakan semua PR dan belajar lebih tekun dari biasanya. Ia bilang ingin tidur cepat agar bisa bangun lebih cepat besok subuh. Teman-temannya menunggu di lapangan pukul 5.30 pagi. Semua PR dan soal latihan berhasil diselesaikan Farius pukul 8 malam dengan nilai sempurna. Marwan bahagia-bahagia saja melihat anaknya seperti itu. Ia sedang menonton TV saat Farius bilang pamit tidur. Marwan menebak Farius tidak akan bisa tidur sampai pagi.
Paginya Marwan sudah mendengar suara air kamar mandi dihidupkan pukul 4 pagi. Marwan hanya geleng-geleng lalu tidur lagi. Farius menarik-narik selimutnya 15 menit kemudian, Farius hendak pamit pergi main sepeda baru. Marwan hanya duduk di tepi tempat tidurnya, memberikan tangannya untuk disalim lalu mengingatkan anaknya agar hati-hati di jalan dan mengunci kembali pintu. Marwan melihat bocah itu pergi seperti anak pramuka, semua peralatan lengkap menggantung di pinggangnya, mulai dari senter hingga parfum. Benar-benar mirip ibunya. Marwan tertegun sebentar, foto mantan istrinya masih tergantung menghadap jendela. Ia teringat bagaimana istrinya dulu sangat menyukai menulis menghadap jendela. Marwan mengusir jauh-jauh rindu itu dengan bergegas pergi mandi. Hari itu sekolah libur tapi kantor tidak, jadi Marwan harus tetap ke kantor.
— — —
Pukul 6.23 pagi. Marwan sudah lengkap berdasi dan sarapan, Farius lupa membawa bekal sarapan yang ia buatkan tapi tidak apa-apalah. Nanti juga bocah itu pulang. Bekal itu untuk makan siang pikirnya. Marwan kemudian berangkat dengan mobilnya.
Hari itu biasa saja, langit biru, awan seadanya, angin tidak bertiup kencang dan kemacetan biasa-biasa saja. Saat berada di lampu merah perbatasan kota bawah Marwan samar-samar melihat segerombolan sepeda mendekat dari depan. Suara tawa mereka cukup keras terdengar hingga seberang. Marwan sadar sesuatu.
Gerombolan sepeda?
Dari arah Kota Bawah?
Seumuran dengan Farius.
dan,
Tampaknya akan menyeberang jalan tanpa melihat kalau lampu lalu lintas dari arah samping sedang hijau.
Marwan melompat dari kursinya, membuka pintu mobil bersiap berteriak menyuruh gerombolan sepeda itu untuk berhenti.
Terlambat.
Dua anak paling depan tidak sempat mempedulikan sekelilingnya untuk berhenti. Marwan menyaksikan dengan teror bagaimana dua sepeda tertabrak mobil putih seukuran city car dan terpental beberapa meter.
Tidak.
Marwan menyangkal matanya sendiri. Mata itu mengkhianatinya. Marwan tidak percaya kalau salah satu sepeda yang terpental adalah sepeda yang ia hadiahkan kemarin.
Semuanya mendadak berhenti. Tidak ada burung yang berani terbang, gedung berbata merah mulai terlihat berdarah dan seluruh dunia Marwan berputar. Marwan berteriak dengan seluruh paru-parunya. Berlari sekencang-kecangnya ke tengah jalan. Meminta tolong seperti serigala meraung. Meraung ia sejadi-jadinya meminta tolong. Air mata meleleh dari matanya yang merah saat menyadari bahwa mata itu tidak khianat. Ia berdiri dia samping wajah anaknya yang sedang berjuang meraih napas dari hidung dan mulutnya yang berdarah-darah. Dipeluknya tubuh lemah itu, ia berteriak padanya agar jangan menyerah, agar jangan meninggalkan Ayahnya.
“Ayah sudah kehilangan terlalu banyak Rus, tolong tahan ya sebentar lagi. Sebentar.” lolongnya berkali-kali.
Tidak ada jawaban. Hanya senyum berwarna merah.
Marwan mulai meneriaki kerumunan yang terbentuk dengan cepat di sekitarnya untuk memanggilkan ambulans. Tidak ada yang bergerak. Mereka hanya menatap adegan itu dengan kosong, dan sebagiannya lagi malah mengambil foto.
“Bajingan! Kalian pikir ini drama hah! Tolong panggilkan ambulans!”
Tolong …
To —
Marwan menelan kata-katanya sendiri dalam air mata. Ia tidak sanggup lagi, ia kini hanya bisa memeluk erat-erat tubuh anaknya yang terpejam. Ia menangis membasahi punggung kaos anaknya. Dunia miliknya gelap, kepalanya meledak, air mata tidak berhenti mengalir, ulu hatinya tetap sesak, suara ambulans mulai mendekat.
— — —
Lima tahun kemudian dihabiskan Marwan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Teman-teman sekantornya sudah berusaha menghibur, tampaknya berhasil. Namun siapapun tau kalau senyum itu palsu. Marwan berubah menjadi dingin, kelam. Tidak lagi ia pernah bercerita tentang dirinya sendiri kepada siapapun, ia mati rasa. Kemudian saat seorang wanita yang sudah ia kenal sejak SMA, Mera, datang membukakan hatinya. Tetap ada bagian dalam hatinya yang beku, yang kini ia tanggung dengan kepergian Mera.
