Memukul rimba
Sepuluh tahun lalu kabut membendung api, nasib dibohongi.
Api tidak kenal jurang, melalap saja hingga tepi.
Lima tahun menyusuri tepi,
Pelan,
Pelan,
Sampai ia pada hujan, apipun mati.
Ragu muncul di benaknya, akankah ia berlari lagi?
Merayap merambat mega, susah payah menguak mendung.
Turun lagi ia bersepuh kuningan, berharap menyaru emas.
Tapi tidak bisa,
Hidup ini adalah likat hitam kejam yang tak peduli setan.
Sepanas apapun apimu tak kan jua bisa kau uapkan samudra.
Sepuh yang dipikir diri, lalu berubah menjadi topeng.
Tiap sendiri tanpanya, kembali lagi si bungkuk buruk rupa yang mendamba bulan.
Tak pernah tau diri,
Tak pernah mau tau diri.
Hingga akhirnya api membakar harga diri, terbang ke seberang samudra menjadi beban orang tua.
Apa yang ia cari?
Tak tau.
Hanya berbekal petuahlah ia pergi, berusaha memenuhi hasrat sang lingga yoni.
Terasing, terabai, terisak, semua ia telan begitu.
Terbayang baginya jika gagal membawa pulang buah maja, runtuh lebur semua harapan keluarga.
Begitupun arti baranya,
Lima tahun lagi,
Redup,
Redam,
Lupa,
Hilang.
Sepuluh tahun lagi, asapnya-pun tak tercium lagi.
Tersisa abu yang duduk di pertigaan, menengadah meminta hujan.
