Menunggu Datang
Wanita berbaju merah itu namanya Mera, bajunya tampak seperti gaun tapi tidak semewah itu. Berdiri di bawah pohon di tepi lapangan. Rambutnya diurai lurus-panjang. Anggun sekali. Ia sedang menunggu Marwan. Biasalah, urusan anak muda.
Zaman muda adalah zamannya enak-enak. Muda-mudi itu seperti tak punya batas, tapi terbatas. Sedang bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya namun jatuhnya jarang pernah mulus.
Mau bertemu harus diam-diam. Bertemunya kadang di belakang toilet SMA, perpustakaan kampus atau diupayakan tidak sengaja papasan waktu ke toilet kantor. Cuma sekedar bertegur sapa mengucapkan “Hai” sambil nyengir atau disempatkan ngobrol panjang menceritakan apa kabar hari kemarin. Ada dua bahagia disitu. Satu saat merencanakan semua rencana hebat yang akan mempertemukan di bawah tirai, satunya lagi bahagia saat bertemu dan berindu-rindu.
Yang paling menyenangkan adalah saat berkendara ke tempat bertemu. Di atas dua roda, dengan headset berdendang lagu kasmaran dan bayangan wajah kamu. Kalau jalanan sepi, wih super sekali. Itu bebek bisa digeber pol gasnya hanya karena mendengar, “ … and iiiii willll always love youuuuuuuuu ..”-nya Mariah Carey. Kemudian tidak terasa sudah sampai, dan bahagia tumpah ruah.
Kembali ke Mera. Kasihan dia celingak-celinguk mencari seseorang.
Kasihan dia menunggu.
Iya kasihan. Bagaimana jika pertemuan masa muda itu harus menunggu? Masihkah bahagia itu tumpah? Bukan hanya menunggu dia datang pagi-pagi ke kelas, tapi harus menunggu iring-tenggelamnya purnama.
Awalnya hanya beberapa kali, kemudian
Belasan
Puluhan, dan kadang bisa sampai ratusan purnama.
Menunggu lama-lama begitu tidak ada yang suka. Diantara dua orang, tidak ada yang lebih lelah ataupun berjuang sendirian. Kedua-duanya menunggu. Hanya saja satu orang dikatakan “pergi” karena meninggalkan tempatnya besar. Sebuah pulau atau negara, untuk sekolah atau menjadi TKW. Dalam kisah ini yang pergi jadi tertunggu -Si Mera- dan yang di rumah menjadi penunggu -Si Marwan-.
Belasan purnama kemudian Mera pulang membawa harap ratusan rencana yang sudah dikhayalkan lewat kuota. Bertemu pertama, bahagia, jelas. Mereka pergi nonton layaknya pasangan remaja setengah dewasa lain, tidak puas mengobrol lalu melanjutkan ke kedai kopi sampai lewat tengah malam. Pulang-pulang dalam keadaan mabuk senyum. Sudah senyum sejak bertemu, hingga bangun esok paginya. Namun sayang, pertemuan berikutnya perlahan hanya tersisa wacana. Marwan perlahan sibuk dengan dirinya sendiri.
Mera kecewa. Tapi bagaimana ya. Kecewa pada siapa? Prasangka lagi? Atau keadaan?
Tidak
Mera tidak bisa apa-apa
Sekarang situasi jadi serba salah. Mera harus memaklumi kesibukan Marwan, walaupun ia berharap akan diprioritaskan selama dapat pulang. Mera mencoba mencari kesibukan lain. Mudah sebenarnya. Hanya saja ia takut,
Jika nanti aku sibukkan diri. Akankah aku lupa kalau aku milikmu, Marwan?
Tapi salah juga jika ia hanya merengek-rengek minta bertemu. Ingin agar sejuta ucap dapat terlaksana. Ingin agar tidak lagi ia harus pulang memakan omong kosong. Kembali ke perantauan sambil mencerna omong kosong.
Sudah satu jam Mera menunggu Marwan. Katanya dia baru pulang dari kantor setengah jam tadi.
Huft.
Iya tidak papa Wan, segera kesini ya. Aku rindu.
Oke.
Sudah? Begitu saja? Baik, mungkin Marwan sedang lelah. Mera memutuskan menunggu lagi.
Hari ini 31 Desember 2016 Mera berharap dapat menghabiskan malam bersama Marwan. Untuk sekedar main di Timezone. Atau berboncengan mencari tempat nongkrong. Apapun. Selama bersama Marwan, ia senang.
Maaf ya, aku gak suka tempat ramai, kata Marwan
Oke, tempat sepi mungkin baik untuk ngobrol.
Yasudah, kamu mau kemana?
Gak kemana-mana mungkin. Malam tahun baru inginnya aku habiskan sendiri
Are you kiding me?! Panggil aku egois, memang, kamu pikir kapan aku bisa pulang lagi? Tahun depan? Belum tentu! Aku tidak yakin bisa terus berjalan tanpa punya kenangan sama kamu, Marwan. Kamu masih asing, kamu -
Bisa tetap chatting kan?
Bisa haha, tapi nanti sore hp aku matikan ya?
Bajingan.
Kamu pulang kantor jam 5 kan? Bisa bertemu dulu? Setelah itu tidak apa-apa matikan hp
Please.
Iya, lihat nanti ya.
Jam 5 sore di lapangan sebelah taman kota. Ok?
Ok
Dan sekarang sudah 18.30. Selamat Mera. Kamu menipu dirimu sendiri. Marwan baru saja mengirim sms,
“Mer, maaf ya hari ini aku lembur. Ada deadline laporan akhir tahun yang harus beres. Aku matikan hp ya?”
“Iya Marwan, semangat ya kamu. Nanti kabarin”
Sekali lagi selamat Mera. Sekarang segeralah kembali ke perantauan dan tinggalkan dia. Ini bukan salah siapapun dari kalian. Mera memang berhak punya harapan atas ratusan rencana indah, dan Marwan punya hak untuk memilih kantor dan thesis S2-nya.
Tidak ada yang salah.
Sungguh.
Hanya mungkin mereka tidak dapat bersama lagi
Tidak akan ada rindu terobati dari sekedar telfon, atau sms, atau video call sekalipun.
Tidak mungkin menjalin hubungan kuat lewat mention mengumbar kemesraan yang sebenarnya tidak pernah bersentuh.
Tidak mau Tuhan menyatukan sebuah keadaan serba salah yang tidak diperbaiki.
**
Sudah jam 4 sore, 10 Januari 2017. Mera berdiri untuk memberikan boarding pass-nya untuk di-cek. Turun ke tangga kemudian berjalan ke pesawat. Nafasnya dalam sekali, iya terus tertunduk. Kemudian sekali lagi, memandang jauh ke pucuk radar bandara, sebelum pesawat lepas landas ia bergumam.
Memang sudah harus pergi ya, maaf.
Tidak akan ada cinta yang terbangun tanpa timbunan kenangan.
Aku pamit,
