Menyalahkan Prasangka
Kata prasangkaku nanti, di ujung jalan, kita akan dipisahkan mimpi masing-masing
Tidak lama
Puluhan kali terbitnya matahari
Ratusan lembar essay
Ribuan nama binatang
Dan jutaan kaleng kopi lagi.
Kenapa kupikir begitu? Tidak tau, padahal waktu sehari bersamamu tidak terasa. Modal bagus untuk seumur hidup. Supaya tau-tau sudah mati saja.
Pasti salah prasangka
Dia memang jahat
Dia berbisik, “cie cinta monyet”
Apapula itu cinta monyet, kalau “cinta Homo sapiens” aku terima.
Lalu lagi, “visioner sedikitlah, waktu gelut sisa 1 tahun setengah lagi. Yakin mau menunda kecewa?”
Iya,
Tidak.
Tidak mau kuterima kenyataan itu.
Biarlah nanti jalan bercabang, sibuk mengejar mimpi masing-masing dulu. Kalau nanti jalan itu berpotongan lagi, berarti harus segera disahkan
Kalau tidak-pun, itu pasti salah prasangka.
Tidak mau tau.
Pokoknya kita jodoh.
