Motor Bersih
Kemarin aku pergi ke gunung. Malas sebenarnya, tapi ya bagaimana, temanku pada ingin jus strobilus, aku kan jadi pengen juga. Jadilah kami beramai-ramai memanjat gunung bersama tunggangan masing-masing. Jalan kesana tanjak menanjak tak karuan. Belum lagi tidak ratanya itu, duh Gusti, narik gas sudah poll tapi masih terasa akan menggelincir. Belum ditambah muter-muter di jalan. Walhasil pulang-pulang aku harus memeriksakan kesehatan motor ini ke bengkel.
Sampai di bengkel pukul 9 pagi. Seperti biasa aku langsung mendaftarkan Si Motor untuk full check up. Sebagai tambahan aku minta dicek power-nya saat ngegas, gak asik dong kalau lagi nge-godew tarikannya gak mulus. Nanti mbak yang dibonceng kasian bisa enjot-enjotan.
Aku langganan bengkel ini. Hal pertama yang membuat kepincut adalah pelayanan yang jujur, efektif dan ramah. Selain karena pengecekan performa yang menyeluruh oleh montir, juga karena ada program servis 9 kali gratis 1. Lokasinya di pinggir jalan raya sehingga cukup mudah ditemukan. Resepsionisnya juga manis, jadi betah juga lama-lama disini.
Pak Rusdi si pemilik bengkel sudah nongkrong di depan sejak buka. Memang kebiasaannya begitu. Sebagai pemilik ia menolak hanya duduk-duduk di belakang kursi sambil merintah. Katanya dia lebih suka berjalan-jalan sambil mengontrol pekerjaan pegawainya. Katanya loh ya. Tidak tau kalau sebenarnya dia punya ambeien atau tidak.
Si Rusdi menyambutku sambil memelintiri kumis abunya. Di tangannya ada papan jalan dengan kertas registrasi, di saku kiri seragamnya ada pulpen untuk mencatat. Sebelum turun menyapa, aku menyempatkan untuk mencari parkir yang proporsional sebentar agar kelak mudah bagi montir memasukan Si Motor ke ruang servis.
“Oi bang, itu jenggot makin sehat aja.”
“Ini kumis dodol. Mana ada jenggot di atas bibir.”
“Oh, kupikir itu bulu hidung.”
Pak Rusdi menatapku garing.
“Yak sudah ya. Mau serpis?”
“Iya bang. Ini habis dibawa touring jadi rada mampet. Cekin gasnya dong.”
“Oh itu … anu, tarikannya?”
“Iya itu.”
“Ganti oli juga gak?”
“Gausah, kan baru kemaren.”
“Oke ….. ini tanda tangan dulu.” Katanya sambil berjalan ke dalam. Aku entah kenapa mengikuti.
“Dah.”
“Antri berapa bang?”
“Dua motor doang paling.”
“Ok”
“Eh ini kuncinya.”
“Ya taroh sono noh.”
Aku kemudian meletakkan kunci di meja kasir kemudian berjalan ke ruang tunggu. Ruang tunggu itu sederhana dengan TV kabel, sofa, kursi pijat dan wifi gratis. Orang-orang yang datangpun juga ramah. Tidak jarang mereka membawa tiga motor sekaligus untuk diservis agar dapat berleha-leha di sofa. Padahal kan kalau mau leha-leha tinggal jual satu motornya lalu pinang istri. Ada satu om-om yang betah sekali disana, tiap hari sabtu dan minggu pagi pasti ada tampangnya merem-melek di kursi pijat. Namanya Toni. Dia sengaja membawa banyak motor sekaligus. Kadang aku curiga dia sengaja nyewa motor hanya untuk kesini. Saat kutanya kenapa, dia bilang karena “ingin beramal doang kok hehe”.
Bohong.
Dari gelagatnya jelas ketauan kalau dia mengincar mbak Nita si kasir itu, tapi dia malu-malu mengutarakan. Hah dasar cinta. Ya gimana mau jadian kalau mengajak kenalan aja tengsin. Perut doang gede. Dompet juga sih.
Yasudah.
Sejam berikutnya aku sibuk tenggelam dalam ruang chatting di sosmed, mengirim email dan membaca berita. Aku punya kekasih yang sedang pergi jauh ke pulau Bangke. Katanya sebulan, padahal sehari saja sudah rindu. Jadi ruang chatting penuh dihiasi dengan “hati-hati di jalan”, “ sehat-sehat ya”, “awas kalau pulang jumlahnya nambah”, “pulang dengan organ lengkap ya, jangan dijual” dan hal-hal begitulah lainnya.
Tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang montirnya Pak Rusdi.
“Nganu … punten ….”
“Nganunya siapa mas?” Potong Toni.
“Eh bukan nganu itu mas hehe, anu, Mas Dewa yang mana nyak?”
“Iya saya. kenapa ya?” Kataku sambil mengacung sedikit.
“Dipanggil pak bos, mari ikut.” lalu dia ngacir saja pergi. Aku bangkit dan mengikutinya sambil membawa ranselku.
Kami berjalan melewati ruang administrasi masuk ke ruang bengkel. Pak Rusdi sudah menanti disitu.
“Ini terakhir bongkar koplingnya kapan ya?” Tanya Pak Rusdi.
“Kapan yak. Gapernah sih harusnya.”
“Wah kayaknya emang udah harus ganti sih mas. Biasa motor begini 5 tahun udah harus dibongkar. Kalau matic kayak sebelah sih bisa lebih cepet bahkan.”
“Waduh, mahal gak pak?”
“Ya ini sama ganti-ganti yang lain jadi 600rb.”
“Elah, udah kayak modal kawin. Kalo gapake bongkar kopling jadi berapa?”
“400an kali. Ya terserah masnya sih. Mau kawin muda atau mati muda.”
Sialan.
“Iya-iya pak ini ganti aja dulu lain-lainnya. Tapi bongkar-bongkar itu nanti ajalah ya. Bensin masih gabisa dibeli pake senyum.”
“Yaudah jadi ganti roda depan, gear set sama setel kendali dikit ya.”
“Ya ….”
“Oke, nih tanda tangan lagi.”
“Sip.”
Maka jadilah motorku keluar dari bengkel dalam keadaan bergelembung oleh harapan dan cita-cita meminang Raisa yang menguap. Kesal sih. Tapi wajar juga ini motor sudah tujuh tahun umurnya jadi yasudah cuma bisa sabar. Mahal sekali perawatan kendaraan dua roda ini. Apalagi nanti roda emp, atau yang berkaki dua. Mati aku.
Pemberhentian berikutnya adalah tempat cuci motor. Sudah satu semester motor ini tidak mandi. Katanya dia kegerahan ingin cepat-cepat disiram. Katanya lagi, tidak adil masa cuma aku yang mandi minimal satu minggu sekali, kan dia juga mau. Aku abaikan saja seperti biasa. Dia malah mengancam,
“Kalau tidak dimandikan nanti dia akan membuat perhitungan saat malam.”
Eh benar saja, kemarin malam dia melindas kelingking kakiku dalam mimpi. Aku lari. Dia mengejar. Aku terjatuh, lalu tiba-tiba jari kakiku berubah jadi kelingking semua. Lalu dilindas sama dia.
Sakit gila!
Seperti kepentok lemari kuadrat.
Tidak biasanya sih dia rewel begini, wong update spareparts nagih mulu tiap servis. Tapi yasudah, hitung-hitung sudah berjasa menjadi tunggangan setia mengojek selama ini. Jadi kubiarkan dia mandi hari ini.
Kubawa si motor ke salon terbaik yang termurah. Dia tampak bahagia sekali saat naik ke pencucian, girang sekali saat disabuni dan tersedak sekali-sekali saat dibilas dengan semprotan. Perlahan mulai tampak bodi mulus mengilap licin menggiurkan saat tetes-tetes air selesai dikeringkan. Lekuknya begitu artistik. Kaki-kakinya kokoh mencengkeram kedua roda. Warna dasarnya hitam kelam dipadukan warna merah gelap memberikan kesan misterius yang sedikit agresif. Dengan dua spion aerodinamis dan lampu depan sebening kristal menambah keanggunannya. Dia adalah lengan kokoh yang penuh misteri, anggun dan berani.
Sudah lama sekali sejak terakhir aku melihatnya secantik ini. Aku sudah tenggelam dalam semua rutinitas hingga lupa merawat kecantikan absolut nan-rapuh ini. Aku terpana.
Setelah selesai membayar, aku perlahan mendekatinya. Pertama mengelus kepalanya lalu mengecek rangkanya untuk memastikan tidak ada kotoran yang terlewat. Puas dengan segala inspeksi, aku kemudian mengajaknya pulang. Terbersit juga pikiran untuk mengajaknya kencan makan malam. Tapi kupikir lebih baik dia istirahat saja karena akan melakukan perjalanan jauh lagi dalam waktu dekat.
Di perjalanan Si Motor diam saja. Aku juga diam saja. Kami diam-diaman sampai akhirnya dia buka suara.
“Ehem”
“Paan”
“Gua kan udah mandi nih.”,
“Trus?”
“Mbak-mbak yang suka nempel menunggang belakangan ini mana ya.”
“Mbak-mbak yang mana?”
“Emang ada berapa mbak-mbak?”
“Yang bisa dipegang satu sih, gatau yang halus.”
“Itu yang senyumnya menggigit.”
“Oh yang pipinya aduhai?”
“Iya.”
“Kenapa emang?”
Kan aku pengen pamer ban depan baru.”
Lah. Jadi ini maksud dan tujuannya dia minta mandi. Udang dibalik batu. Uang dibalik saku. Bagaimana ya, harus kujawab apa.
“Itu si mbak-mbakcantik itu lagi berpetualang ke neraka. Panas. Gamau ikut kan?”
“Gamau sih ….. Ngapain tapi?”
“Katanya mau mencari sebongkah berlian.”
“Kapan balik?”
“Seabad kurang kembalian dikit.”
“Kampret lo.”
“Y”
“Kenapa gabilang-bilang sih?”
“Enak aja. Sape lu.”
“Ywd ….. Ntar kalo udah pulang gua bakal jemput.”
“Gua dulu.”
“Lo lari ama gua ngebut cepetan gua kali.”
*Aku mengangguk*
“Bener juga.”
“Yaudah bareng.”
“Yaudah.”
“Kirimin puisi jangan?”
“Percakapan ini aja udah.”
“Semoga sampai.”
— — — — —
Semoga Sampai
Iya, dia sudah tau itu.
Biarkan saja dulu.
Nanti kalau dia sudah pulang.
Mari rentangkan tangan lebar-lebar untuk tempatnya beristirahat.
Lalu biarkan gunungan rindu itu mencair.
