Pak Presiden

Hari Senin pagi, hari super membosankan bagi sebagian orang dan sebagian besarnya lagi suka mencaci hari ini termasuk aku.

“Senin sialan”.

Umpatku sambil menarik nafas dalam-dalam di atas tempat tidur pukul 8 pagi. Hari ini kuliah mulai jam 7 pagi, tepat seperti semester kemarin, dan kemarin, dan kemarinnya lagi. Rasanya aku masih seperti mahasiswa baru saja harus kuliah jam subuh begitu. Itu juga baru kuliah. Belum kegiatan mahasiswa lain yang dijalani terus hingga tenar. Lalu?

“Gak papa, biar lo awet muda terus” kata salah seorang teman yang segera kutelepon untuk menanyakan kabar dosen. “Mana ada. Lo pikir itu tugas kemarin ngerjain dirinya sendiri apa?” balasku. “Kalem dong, dosennya baik-baik aja kok. Itu dia udah nongol jam 7 kurang 15 menit”. “Demn, boloslah yaudah. Tar kabarin kalo ada tugas ya?” “Yakin? Ga takut ada kuis lo?” “Baru juga Jumat lalu kuis, masa kuis lagi” “Yaudah sih serah lo aja. Tar gw kabarin” “Kay, tenks”. Lalu sambungannya putus.

Maaf sebelumnya aku tidak terbangun pukul 8 pagi seperti pencitraan yang disebutkan di atas, aku bangun pukul 8.47. Ceritanya supaya tidak terlihat malas-malas amatlah kutulis pukul 8 pagi saja. Padahal kalau bisa inginnya terus-terusan tidur tapi sudah sesiang ini sekarang, mau olahraga tanggung, mau berangkat kuliah udah telat, mau tidur lagi juga tanggung. Rencananya nanti mau mengerjakan sisa tugas dan ujian untuk minggu ini saja di kamar. Lumayan ada waktu seharian.

Kuletakkan hp di bawah bantal kemudian berdiri menuju jendela. Membuka tirai, jendela kemudian pintu. Seketika ruangan lembab tempatku hidup dan merangkak selama berbulan-bulan terisi kembali oleh cahaya. Aku kemudian berjalan menuju toilet untuk minum air. Berjalan melalui tumpukan kertas slide, jurnal, materi ujian, laporan, dan berbagai laporan yang berserakan di lantai. Nanti akhir semester mau kupel saja lantai kemar dengan kertas-kertas itu. Keluar dari kamar mandi, aku baru sadar kalau cahaya matahari tajam sekali.

“Panas sekali ini hari, apa gw tidur lagi aja ya? Tugasnya bisa nanti kan jika suhu udah lebih manusia. Toh bukan salah gw juga kan suhu panas begini”.

Sepanjang langkah menuju tempat tidur kubulatkan niat itu. Baru setelah baringan hendak bermain hp aku sadar kalau aku lapar. Sayangnya perut dan sendi –sendi ini tidak lagi bekerja sama. Perutku lapar minta maka sementara sendi ini mogok kerja minta naik gaji. Bangkrut aku kalau sendi-sendi ini mogok kerja minata naik gaji terus. Untungnya sendi jari-jari ini masih bisa bergerak. Menyebalkan sekali ulah sendi yang lain padahal perut sudah lapar sekali. Aku mau duduk rasanya pinggul mati rasa, mau geleng-geleng kepala leher rasanya berjamur. Untuk berdiri apalagi, harus ada deadline tugas yang harus dikumpulkan satu jam lagi di kampus mungkin baru bisa berdiri. Akhirnya aku berdiri juga. Menang rasa lapar melawan malas. Lapar karena semalam belum makan. Aku kemudian berjalan menuju dapur, membuka kulkas. Sayang yang tersisa hanya wortel dan dan batang seledri. “Ewh, sejak kapan gw jadi marmot”. Kututup pintu kulkas, melihat ke sekeliling dapur mencari apapun yang bisa dimakan. Aku lihat ada bubuk lada, merica, piring, teflon, bak cuci, kursi, meja, barbel, dan bola kasti. Tidak ada yang bisa dimakan. Tapi untungnya ibu kos punya warteg yang bisa dipalak kapanpun.

Aku berjalan menuruni tangga ke warteg di belakang kosan. Kosan ini punya 2 akses. Akses gerbang depan dan gang sempit gelap menakutkan pada pukul 2 pagi dari belakang. Warteg Ibu kos ini sederhana saja, ada 1 meja dan 1 bangku panjang untuk pengunjung dan 1 meja untuk etalase aneka lauk pauk. Warteg ini punya sebuah televisi. Kadang menayangkan acara berita namun lebih sering si Bapak menyetel VCD sinden yang sudah mampet sehingga lebih mirip musik DJ daripada sinden. Dapur masak warteg ada di belakang warungnya, berbeda dengan dapur kosan yang lebih kecil. Harga makanan disini cukup murah dibandingkan makanan anggota DPR. Tidak ada lobster atau kucing goreng memang. Lauk paling mahal disini paling-paling ayam goreng sebesar paha balita seharga 5000 Rupiah. Nasi 1 porsipun hanya 3000 Rupiah. Masalah rasa jangan ditanya. Kami anak kosan makan hanya dengan pertimbangan harga dan kuantitas.

Hari ini adalah setahun setelah kepemimpinan Presiden baru kita. Bapak Jokowi. Sejak awal pemilu, aku tau Ibu kosan sekeluarga memang telah menunjukan dukungannya pada Bapak Presiden kita ini. Aku sendiri waktu itu masih tidak bisa memutuskan hingga detik pemilihan. Jadi akhirnya pada hari pemilihan aku malah bermain ke taman rekreasi sendirian. Mumpung sepi. Sempat aku bertanya kenapa si Bapak mau mendukung beliau. Bapak cuman menjawab dengan gayanya yang canggung. “Gak kenapa-napa sih dik. Dari dua calon bapak lihat ya beliau ini yang wajahnya mirip bapak hahahaha”. Saya berdehem garing. “Sederhana sekali ya pak. Bapak gak nonton debat-debat gitu di TV? Atau berita? Kan seru bisa liatin orang-orang saling sikut”. “Debat apa toh dik? Mana sempet bapak nonton begituan. Kan tiap malem jualan nasi goreng”. “Hm, Iyaya”. Si Bapak kosan ini memang merangkap jabatan. Dia pagi harinya adalah bapak kumisan tipikal suami takut istri yang setia mengantarkan anaknya ke sekolah. Pulang dari mengantar anak, dia akan mampir ke pasar mencari kebutuhan warteg dan gerobak nasi gorengnya untuk dimasak sang istri. Siang harinya ia akan menjaga warteg bersama istrinya. Kemudian setelah maghrib ia akan mulai mempersiapkan gerbak nasi gorengnya untuk berjualan di depan gang, masih ditemani istrinya. Begitu terus tiap hari. Sederhana sekali hidup keluarga ini.

Ingat sekali dulu sebelum pemilihan si Bapak pernah cerita padaku. Katanya kalau Jokowi menang dan harga barang turun setengah harga, nanti warungnya akan menyediakan udang goreng gratis selama sehari penuh sebagai perayaan. Aku sih senang saja, lumayan kalau makan seharian cukup membeli nasi. Bapak juga sempat cerita kalau temannya tukang ojek mungkin akan menurunkan harga jika Prabowo menang dan BBM benar-benar turun. Tukang ojek teman si Bapak ingin memilih Prabowo karena mirip wajah bapak mertuanya. Entah karena ngefans atau karena takut. Tampaknya semua orang sedang penuh harapan saat itu. Presiden selalu dibicarakan di tiap warung kopi, di warung indomi, di parkiran, dan adalah topik yang sangat hangat untuk didiskusikan bersama tukang ojek dalam perjalanan ke kampus. Bapak kos dan teman-teman di lingkungannya bergaul tidak terpengaruh sama sekali dengan proganda masing-masing calon. Tidak peduli mereka dengan bahasa politisi, busuk. Tidak terdengar perdebatan mengenai calon mana yang paling baik. Tidak ada taruhan. Semua orang punya alasan masing-masing dan semuanya saling menghormati pilihan itu.

Nasi setengah porsi, tempe mendoan dan sayur sop kuhabiskan setelah acara Reality Show tentang orang katrok yang dibayar untuk akting saling putus di televisi. Mungkin Indonesia perlu menggunakan TV kabel agar anak-anak (dan juga mahasiswa) bisa menonton spongebob tanpa perlu disensor KPI. Tapi tidak apalah, aku juga akan menerima tawaran akting berbayar hanya untuk jadi figuran kok. Supaya bisa makan di warteg ini lagi. Ternyata setelah makan penuh juga perut ini diisi kacang kedelai dan padi.

“Enak nih pak mendoannya”, kataku “Woiya dong dik, buatan si Ibu”. “Ah sombong ya si bapak. Tadi saya beli juga karena lagi gaada duit aja haha”. “Loh memang kalo ada duit diknya gamau beli mendoan?”. “Kalo laper ya saya belilah, mana mau saya buang-buang duit”. Kami berdua tertawa

Pertanyaan lain kemudian muncul di kepalaku. “Pak, sekarang kan harga gak turun-turun nih. Udangnya gajadi dong?” kataku sambil senyum-senyum ada udang di balik batu.

“Haha, engga kayaknya. Bapak mah bersyukur aja harga bahan makanan gak naik terlalu jauh. Kan BBM harganya udah naik sekarang”. “Kecewa dong pak?” “Hahaha gimana ya, bapak kan taunya cuman jualan nasi sama ngurus kosan. Mana tau bapak rasanya jadi Presiden” kata si Bapak. “Jadi pasrah aja nih?”. “Engga sih dik”, Bapak melanjutkan, “Bapak ini boro-boro mau ngenilai Presiden, ngurus barang belanjaan si Ibu aja kadang suka bikin botak” jawab si Bapak masih sambil tertawa.

Kebetulan Ibu kos yang sedang memasak di dapur belakang mendengar. Buru-buru si Ibu menimpali.

“Eh enak aja si Bapak, kan memang udah botak sejak ngelamar dulu. Awas kalo lupa!”. Dengan nada mengancam dan spatula diangkat. Sekarang saya yang tertawa “Lah saya jadi penasaran nih pak, dulu nikah sama si Ibu gimana ceritanya?”. “Oh, hahaha. Nikah aja. Dulu sukanya sama ibu ya karena tempe mendoannya ini paling enak se-kota kabupaten. Ibu dulu itu biar masak mendoan enak banget cuman Bapak yang bisa menaklukan hatinya. Pemuda lain mah digalakin sama dia. Paling galak se-Provinsi Jawa Barat malah hahaha”.

Si Ibu kemudian muncul dari dapur membawa sebaskom tempe mendoan lagi sambil menimpali.

“Jangan percaya dik, dulu mah Ibu ramah banget orangnya. Kalo gak ramah mana bisa mendoannya laku dan banyak pemuda yang naksir hahaha. Dulu tuh cuman Ibu yang mau sama si Bapak nih”.

Bapak yang disikut oleh si Ibu cuman mesem aja malu-malu. Hidung dan kumisnya makin canggung.

“Loh, memang ibu mau nikah sama bapak kenapa?”. Tanyaku lagi. “Ya karena perutnya si Bapak ini”. “Kenapa bu perutnya Bapak?”. “Subur”. Katanya sambil nyubit perut buncitnya si Bapak. Bapak yang dicubit hanya bisa tertawa pasrah sedih begitu.

Kami bertiga kemudian tertawa hingga aku lupa bayar.