Rakhsya
Jauh dahulu kala, di negeri yang jauh. Seorang gadis lahir dengan kemampuan istimewa. Ayahnya seorang petualang, bertugas memetakan dan menemukan wilayah baru sesuai pesanan. Ibunya seorang petani ubi. Mereka tinggal di .. sebuah kota, yang juga tampak seperti desa. Sebenarnya satu-satunya kota di pulau itu.
Untuk ukuran negeri yang baru berdamai dari perang, anak itu adalah sebuah kebahagiaan kecil di pinggiran hutan. Adnan dan istrinya, Suci, begitu bahagia dengan kelahiran putri pertama mereka setelah menempuh banyak kesulitan selama ini, terutama ketidakjelasan Adnan dan pekerjaannya.
Adnan dan Suci adalah kisah cinta tidak jelas. Mereka bertemu tidak sengaja saat Suci sedang lewat di bawah pohon mangga disaat yang sama Adnan sedang melempari buahnya. Salah satu mangga yang jatuh tepat mengenai jidat Suci, Suci ambruk, Adnan panik. Adnan mendekat, Suci menengok, Adnan minta maaf lalu mereka jatuh cinta. Selesai.
Tantangan berikutnya baru muncul saat “kawin” disebut-sebut. Kata dalam tanda kutip itu memang begitu sakti hingga dapat membuat seorang pria petualang dan wanita ansos ingin punya tempat pulang.
Masalahnya adalah Adnan disana hanya singgah sebentar dari misinya memetakan kontur di sebuah pulau penuh bebek di sebelah selatan pulau tempat Suci tinggal. Adnan tidak bisa tinggal bersama Suci. Ia harus segera melapor pada kontraktornya tentang hasil pemetaan. Sayangnya mereka sama-sama ngotot dan keras kepala. Suci mengancam akan membakar kapal Adnan kalau sampai tidak kembali lagi. Adnan juga mengancam akan mencuri semua pakaian Suci kalau berani macam-macam saat ia pergi. Jadilah Adnan akhirnya berhasil mendapat dua tahun libur untuk menggaet bunga desa pujaannya setelah melapor pada kontraktor.
Hasil perkawinan mereka menghasilkan makhluk merah menangis bernama Rakhsya. Adnan dan Suci sangat bahagia. Mereka bantu membantu menanam ubi bahkan mengembangkan produk bernama Lapis Talas Bogor. Produk ini menjadi ikon baru di tengah-tengah gersangnya dunia pertanian saat itu. Lapis Talas Bogor berkembang dengan cepat.
Kebahagiaan itu ternyata tidak tahan lama. Segera setelah Rakhsya lahir, Adnan harus segera pergi. Misi yang ia terima kali ini adalah pemetaan benua Atlantik. Sebuah misi ambisius yang sedang berlomba-lomba dilakukan banyak negara. Suci bersedih, belum genap setahun putrinya lahir sudah harus ditinggal pergi. Tapi Adnan bergeming, mereka butuh uang untuk produksi Lapis Talas mereka dan mendidik putrinya menjadi apapun yang ia inginkan nantinya.
Terang saja Suci mengambek. Dengan beragam cara Adnan sudah mencoba membujuknya. Mulai dari dibuatkan sop kepala ular hingga buket bunga mawar sudah diberikan namun Suci masih abai padanya. Waktu keberangkatan makin dekat. Gubuk mereka makin sepikarena dua orang dewasa yang sedang dilema. Paling hanya terdengar suara bayi menangis sekali-sekali.
Hari keberangkatan tiba, subuh-subuh Adnan sudah membereskan semua barangnya kemudian duduk untuk ngopi di ruang tengah. Suci sejak semalam sebelumnya tidak bisa tidur. Air matanya terus menetes seiring suara Adnan membereskan barang-barangnya. Saat Adnan sudah selesai dan mulai ngopi, Suci baru berani bangkit dan bergerak ke ruang tengah. Lalu Suci hanya diam disitu, di pucuk pintu yang membatasi ruang kamar dan ruang tengah. Diam, berdiri, bernafas perlahan sambil mengamati tiap gerakan Adnan. Merekam tiap detiknya sebagai kenangan yang akan ia ingat seumur hidup. Lalu pada tegakan kopi terakhir Adnan, Suci berhamburan memeluknya.
Adnan berpamitan di peron kereta dengan keluarganya, mencium bibir istrinya dan kening anaknya. Tidak ada suara, hanya kabut dan suara peluit kereta. Adnan menghilang bersama jalannya kereta.
...
Lima tahun berlalu. Seperti yang dijanjikan Adnan, ia akan pulang setahun lagi. Hari ini Rakhsya terlihat sudah mahir bicara, berlari bahkan memasak. Namun dibalik itu, Rakhsya adalah gadis pemurung dan penyendiri. Memang ia rindu ayahnya, namun lebih dari itu. Keistimewaan yang ia miliki memaksanya untuk tidak dapat hadir pada kondisi sekarang. Mata kirinya hanya dapat melihat sisi jahat dan mata kanannya hanya dapat melihat sisi baik siapapun yang berada di dekatnya. Tidak pernah dua momen itu beririsan membentuk momen masa kini yang dijalani semua orang normal.
Rakhsya sudah berusia enam tahun dan ia selalu menangis. Ibu yang selalu hadir menenangkannya terlihat bagai malaikat dari mata kanan, namun kejam dan tak kenal ampun mengurung ayahnya agar tidak pernah lagi bisa pergi dari mata kiri. Kakeknya yang datang menolongpun terlihat begitu. Mata kanannya melihat kakeknya sebagai pria tua bijaksana yang tutur katanya lembut namun tegas. Namun mata kirinya melihat kakek sebagai prajurit perang haus darah yang tidak pantang membunuh apapun. Rakshya takut juga tenang, percaya namun ragu, ia bingung harus melihat sisi mana dari siapapun. Semua orang seperti itu; ibu, kakek, nenek dan semua teman-temannya.
Semua upaya medis dan guna-guna sudah dilakukan. Secara medis tidak ada yang bisa dilakukan. Lensa, retina, iris, semua bagian matanya didiagnosa normal. Hipotesis yang tersisa adalah kesalahan pada jalur saraf dan persepsi pada otaknya. Dokter tidak tau pasti dimana letak kesalahannya. Bisa jadi pada reseptor optik atau di tempat lainnya. Untuk mengetahui itu dibutuhkan pembedahan yang membunuh objeknya. Yang berarti membunuh Rakhsya pada prosesnya.
Kemudian secara guna-guna/dedukunan juga tidak berefek apapun pada Rakhsya. Terapi dipatok ayam, bersemedi di puncak tower radio dan mencintai orang yang tidak bisa dimiliki sudah dilakukan, namun tetap saja gagal. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Kemampuan ini membantu dan merusaknya. Mata kanannya membantu Rakhsya melihat semua kejadian sedih dari sudut pandang kebaikan. Pernah ia menyaksikan tabrakan beruntun, tepat di depan matanya, empat motor dan dua mobil menjadi korban. Lima orang tewas di tempat dengan hancurnya beberapa bagian tubuh. Rakhsya ketakutan, refleks ia menutup mata kirinya. Kejadian mengerikan itu serta-merta berubah. Jalanan itu menjadi lengang dan hijau. Melintas beberapa kendaraan dengan hati-hati dan mobil pertama yang menginisiasi kecelakaan beruntun. Entah bagaimana Rakhsya dapat mengetahui alasan mengebutnya mobil tersebut adalah untuk membawa istrinya yang akan melahirkan segera ke rumah sakit. Ngebut yang lancar-lancar saja hingga istrinya selamat bersalin.
Terlena dengan gambaran itu, Rakhsya membuka mata kirinya. Kejadian sebenarnya kembali mencekat. Suami dan istrinya yang hamil meninggal di tempat bersama dengan tiga orang lainnya. Dari kolam darah yang ada di tempat kejadian, kuat dugaan kalau janin dalam kandungannya juga gugur. Mobil yang mereka gunakan berada dalam kondisi terbalik dan tidak bisa dikenali lagi bentuknya.
Mual dan muak Rakhsya berlari pulang secepat mungkin. Usianya sudah delapan tahun dan masih belum ada kabar dari Adnan. Tiap hari selama dua tahun terakhir Rakhsya selalu menanyakan pertanyaan yang sama, yang tidak bisa dijawab oleh ibunya. Mereka ditinggal pergi tanpa tau harus menghubungi siapa atau mengadu pada siapa akan ketidakpastian kabar Adnan.
Rakhsya kini berumur 15 tahun. Ia sudah memutuskan untuk melupakan ayahnya sejak 10 tahun lalu. Jadi saat utusan Negara datang mengabarkan kalau ekspedisi yang dilakukan Adnan gagal, ia tidak kaget atau bersedih. Kapalnya ditemukan karam setahun yang lalu bersama seluruh awaknya kecuali Adnan. Tubuh Adnan belum ditemukan.
Tidak ada air mata yang menetes dari Rakhsya padahal ibunya menangis tersedu-sedu. Dari mata kanannya Rakhsya melihat bagaimana hati ibunya pecah berkeping-keping atas kepergian satu pria yang paling ia cintai. Dari mata kirinya ia juga melihat bagaimana senyum puas ibunya akan kepergian pria yang telah membuatnya menderita begitu lama. Rakhsya tidak tau harus percaya pada apa atau siapa ia harus percaya. Kesadarannya tidak pernah berada pada waktu saat ini.
Rakhsya melanjutkan hidupnya tumbuh menjadi gadis rupawan. Ia memfokuskan studinya pada ilmu sejarah dan navigasi dimana ia tidak perlu berhubungan dengan siapapun untuk menjadi yang terbaik dalam bidang ini. Perpustakaan peninggalan ayahnya sangat membantunya dalam hal ini. Buku adalah satu-satunya tempat ia dapat bebas berekspedisi dan membuatnya bisa melihat dunia seperti seharusnya. Baik dan buruk secara seimbang.
Menginjak usia keduapuluh, hampir seluruh desa membicarakan kecantikannya. Mata kanannya yang berwarna hijau dan mata kirinya yang berwarna biru hanya menambah kecantikannya. Namun dengan ketenaran itu tetap saja ia tidak berhasil menjaring pertemanan. Banyak ajakan bermain dan bergaul yang ia tolak. Seringkali Rakhsya ketakutan bahkan hanya dengan didekati seseorang. Rakhsya masih tetap menjadi gadis penyendiri.
Seiring bertambahnya usia, satu persatu pria mulai datang melamarnya. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Semua berani mencoba karena sampai saat ini belum ada siapapun yang berhasil meluluhkan hati Rakhsya. Rakhsya sendiri juga mungkin tidak tau apa mau hatinya. Semua pria itu sama saja dengan semua orang, mereka semua sebenarnya jahat.
Rakhsya perlahan tenggelam dalam kesendiriannya. Tiap malam dalam kamarnya yang gelap. Kepalsuan semua orang menghantuinya. Ia ingin hidup tenang. Lari dari kenyataan yang dilihat matanya. Ia merasa beberapa hal lebih baik tidak diketahui. Dengan begitu hidupnya mungkin bisa sedikit lebih normal.
Suatu senja ia sudah duduk di meja belajarnya. Di depan satu-satunya jendela dalam ruang benda mati dimana tidak ada yang palsu. Rakhsya menatap keluar jendela. Menimbang-nimbang bagaimana hidupnya dapat berubah dengan mengganti matanya. Dengan belati di tangan ia mengarahkan matanya pada mata kirinya. Mata kanan yang tersisa akan membiarkannya hanya melihat sisi baik semua orang. Dunia seperti itu akan penuh kebahagian dan ketenangan.
Tapi dunia seperti itu adalah dunia penuh kebohongan.
Rakhsya benci itu. Ia tidak ingin dibohongi manusia jahat yang berpura-pura baik, maka tangannya berhenti lalu bergerak ke mata kanan. Mata kiri yang tersisa akan membiarkannya hanya melihat sisi jahat semua orang. Dunia seperti akan penuh kebencian dan kehati-hatian. Tidak akan ada lagi teman bermuka dua yang hanya mendekati untuk mendapat ketenaran dari itu. Tidak juga akan ada lagi sosok dewasa yang terlihat berusaha mengerti namun dengan tujuan mendapat berita untuk dipublikasi.
Tapi di dunia seperti itu, tidak satu nafaspun dapat ia tarik tanpa kecurigaan.
Belatinya berhenti. Tangannya bergetar. Rakhsya bangkit lalu melempar belatinya ke tembok seberang ruangan dengan emosi. Wajahnya merah, matanya sembab dan segera ia melemparkan diri tertelungkup ke ranjang lalu menangis. Ia membiarkan semua emosinya meluap keluar. Ia tidak tau apa yang harus dilakukan. Andai ayahnya ada disini, sebuah pelukan akan berarti seribu fajar hangat.
Ia benar, ia butuh ayahnya.
Tubuhnya dibalik telentang.
Bagaimana kalau ayahnya belum meninggal.
Iya, memang berita duka itu dibawa rekan ayahnya bertahun lalu, tapi tubuh ayahnya kan belum pernah ditemukan.
Bagaimana kalau di luar sana ada sesuatu atau seseorang yang, entah, dapat membantunya menyeimbangkan baik dan buruk atau menunjukan padanya wilayah abu-abu antara keduanya.
Seumur hidup ia belum pernah keluar dari batas kotanya. Bagaimana kalau hidup yang ia cari ada di luar sana?
Bagaimana kalau ayahnya masih hidup?
Rakhsya bangkit.
Ia harus pergi.
Pergi ke Benua Atlantika sana, memburu jejak ayahnya. Ke ujung dunia sekalipun.
