DewaD
DewaD
Jun 4, 2017 · 2 min read

Roti

“ayaaahhhhhhhhh.” Rengek Ocha pagi-pagi sekali.

“Mau mamm ayahhhhhhhhhh”

“Iya itu sabar dek, nasinya masih dimasakk”

“uuu gamaauuu mau mammmmmmmmmmm”.

Aku terbangun mendengar lolongan panjang itu. Berguling sebentar. Menepuk-nepuk nyamuk di kaki. Menghalau nyamuk di kepala. Lalu mencoba tidur lagi.

“Yaudah nih ayah bikinin roti yah.”

“Mau pake selai blubeliiiii”

“Iya-iya.”

Percuma. Aku tidak bisa tidur lagi. Baru jam 5 subuh padahal. Hah, tau begini aku tidak tidur larut semalam. Aku keluar sajalah. Si Ocha sedang nonton TV juga, mayan bisa nimbrung. Lagian ini nyamuk gak puasa apa.

“Bangun pagi banget om?”

“Iya nih, emang biasa gini.”

“Bu le’ masih tidur?”

“Iya.”

“Ada gelas gak om?”

“Nih.”

Aku minum air segelas. Selesai, lalu duduk di sebelah Ocha. Gila nyamuk banyak sekali ya. Aku duduk tidak bisa tenang. Baru keluar kamar dikit sudah dikerubungi nyamuk sampai anemia. Pantas Ocha kurus begitu.

“Nih cha.” Kata om sambil menyodorkan piring berisi dua tumpuk roti.

“Udah tuh pake meses coklat juga.”

Om lalu beranjak mengambil sapu. Aku masih duduk saja mau bantu tapi ya orang cuma menyapu lantai segitu. Malah ngerecokin nanti.

TV sedang menyiarkan liputan sepakbola. Liga premier berbagai negara sudah pada berakhir musim ini, jadi yang diberitakan cuma sekedar siapa liburan kemana pacaran dengan siapa selingkuh dengan spesies mana. Mirip infotaintment.

Sesekali Ocha mengganti channel TVnya. Bosan mungkin. Acara TV jam 5 pagi tidak semenarik itu.

“Loh dek. Itu roti udah dipotongin pinggirnya tapi yang dimakan kok malah yang itu (menunjuk roti yang masih berpinggiran).”

“Ehehehe .. Kan gak sengaja kemakann” jawabnya sambil nyengir.

“Gimanasih kamu. Repot aja pagi-pagi.”

Ocha cuma ber haha hehe lalu kembali menonton.

Beberapa nyamuk tiba-tiba melintas di ujung mataku. Tidak akan lepas mereka. Kukejar keempatnya. Kutepuk dengan berbagai manuver. Dapat tiga tapi lepas satu. Kurang ajar, mentang-mentang bisa terbang dia kabur ke langit-langit. Kupandangi dia lekat-lekat.

Awas saja. Kusumpahi dimakan laba-laba.

Lama aku menunggu, tidak kunjung turun.

Yasudah.

Bosan menengadah aku duduk lagi di depan TV. Sudah lama juga tidak menonton. Masa sekarang acara yang ditayangkan cuma rekaman orang-orang yang sedang main perosotan? Ya tau untuk tujuan promosi. Tapi SELAMA SATU JAM?. Banyak wahana yang diulang-ulang juga. Yasudah.

“Eh chaa .. Itu kenapa yang kamu makan pinggirannya doang?” Kata omku tiba-tiba. Aku refleks menoleh.

“Minta roti dikupasin tapi yang dimakan tetep pinggirnya”

Ocha membela diri, “ihh kan ini yang gaenak diabisin duluuuuu”.

“Abis ya tapi Cha.” Kataku nimbrung.

“Kenyang akak. Nih abisin.”

Kupasang wajah heran yang maklum.

“Hehe.” Ocha cuma nyengir.

“Maunya apasih hmm”

Dia ketawa saat kucubit tangannya lembut.

Gimana nanti kalo melihara sendiri coba. Aku membatin.

Akhirnya roti itu aku juga yang menghabiskan. Nyamuk-nyamuk tampaknya senang, pendonornya dapat nutrisi lagi.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.