Rumah sakit
—
Pada pandangan pertama, rumah ini bersih.
Malaikat bercahaya lalu-lalang.
Senyum haru terusap di ujung brankar.
Putih di sekeliling tampak berteman dengan musik tentang tali pusar.
Tanpa sadar semua penghuninya jadi berperilaku suci.
Seolah itu akan menghapus dosa kami.
—
Pada pandangan kedua, tidak ada yang saling kenal di rumah ini.
Tidak juga mereka peduli,
Kalaupun ada, paling karena kena jerat yang sama.
Pondasi rumah ini kupikir hanya ada enam: karbol, tabiat asli masing-masing, terik nasib, sesal dan pelotot mata orang di kasir.
—
Pada pandangan ketiga, rumah macam apa ini.
Dingin menusuk melawan busuk
Sisa angan malas merasuk
Kulit-kulit menggantung lelah membesuk
Ribuan kamar, tapi semua mati
Ribuan orang, tapi semua sembunyi
—
Pada pandangan keempat, nada kamarku meninggi
Mesin EKG makin meracau, vas makin sering pecah, rambut makin sering diacak, kursi makin sering rebah, telunjuk makin sering berasah.
Aku pikir tidak salah jika menghardik semua orang agar menjauh.
Atau mungkin salah, sebuah produk ego yang di saat mau matipun menolak dikasihani.
Setelah bising itu, 2 hari ayahku tidak menjenguk.
Di hari ketiga aku terbangun tengah malam melihatnya menangis menelungkupkan wajahnya di tangan kananku.
Seketika aku merasa bodoh, pernah membuang waktu, usaha dan emosi berusaha membahagiakan perempuan asing hanya untuk mendapat “maaf” dan “makasih ya ☺”.
Padahal seharusnya yang kubahagiakan adalah mereka yang tidak pernah beranjak.
—
Pada pandangan kelima, teman sekamarku sekarat.
Saban hari ia putarkan lagu gembira untukku.
Aku dengarkan saja, barangkali inilah yang dilakukan orang sekarat, berusaha menimbun laut.
Katanya,
“Kalau aku bisa menggambar dunia, tidak akan ada aku di dalamnya. Aku mau melayang di angkasa saja bersama Tuhan, menertawakan nasib buruk.”
Aku terkekeh.
Sebenarnya baru saja ia ketemukan tujuan hidup,
Sayang, ia tak yakin akan hidup sampai itu.
