Sahabat? Pikir lagi

DewaD
DewaD
Jun 16, 2017 · 12 min read

Tersebutlah seorang anak yang hidup di tengah hutan bersama keluarga kecilnya, seorang ayah, ibu, dan ia sendiri. Ayahnya adalah seorang pemburu. Berperawakan bungkuk, tulang rahang yang tegas dan luka-luka di sekujur tangannya terbentuk dari rimbunnya semak menunjukan lamanya waktu yang telah ia habiskan dalam hutan. Ia memiliki mata yang terletak jauh di dalam rongga matanya, ditambah sorot matanya yang dingin memberi kesan seorang pembunuh yang mahir. Ibunya adalah seorang wanita anggun yang sangat tekun mengerjakan segalanya disaat sang ayah pergi berburu. Tangannya cekatan sekali memindahkan piring dari rak ke meja apalagi saat memotong daging. Aroma harum lemak hewan yang meleleh akan tercium dari sudut rumah sekalipun.

Anak itu, ia tidak pernah luput dari kasih kedua orangtuanya. Setiap hari ulangtahunnya, sang ayah akan pulang setengah hari lebih cepat membawakan ular, buaya, atau kelinci sebagai hadiah. Kulit ular dan buaya akan berakhir sebagai alas kaki atau sekedar digunakan sebagai penambal atap yang bocor sementara kelinci yang gemuk dan berpipi bulat itu akan berakhir dalam sup jamur harum buatan ibu. Terkadang saat musim dingin tiba, ayah akan pulang membawa beruang untuk dikuliti dan dijadikan alas tidur keluarga. Kehidupan anak itu begitu saja berputar dalam siklus penantian ayah pulang sambil mengurus rumah. Tanpa teman dan terasing dari pergaulan. Ya sebenarnya urusan rumah tidak dapat dikatakan begitu saja. Urusan rumah bisa berarti melindungi rumah dari sekedar kecoa hingga membantu pendaki yang tersesat dan ingin ke kamar kecil. Tapi tetap saja semua dilakukannya sebagai anak yang riang dan baik.

Suatu hari ayahnya datang pada hari ulang tahunnya yang entah keberapa membawa sekantung bola berwarna hitam. Aneh sekali, digigitnya salah satu bola itu, pahit. Ayahnya hanya tertawa melihat anaknya yang telah tumbuh setinggi perapian berlari ke dapur untuk menjilat-jilat air dari mangkuk untuk membilas rasa pahit itu. Sang anak kemudian berpaling pada ayahnya bertanya mengapa hari ini tidak pulang membawa pulang kelinci atau rusa seperti biasa. Dalam diam ayahnya mengambil 3 bola hitam yang tersisa, duduk di samping anaknya yang tidak juga dapat mengendalikan gerakan bola matanya yang penasaran. Rupanya bola-bola hitam itu adalah Biji Pohon Kayu. Anaknya heran, bukankah hutan tempat mereka tinggal adalah Hutan Pinus? Darimana ayahnya mendapat Biji Pohon Kayu?

Pohon Kayu hanya tumbuh di daerah pegunungan, bukan di wilayah lembah tempat ayahnya biasa berburu. Sengaja kali ini dibawakan karena sudah saatnya sang anak untuk keluar dan melihat hutan. Langkah besar itu akan sulit untuk dikangkangi langsung oleh seorang pemula tanpa tujuan, maka dari itu ayahnya bermaksud memberikan biji ini untuk dirawat oleh sang anak di hutan. Agar petualangannya memiliki tujuan dan arah. Dengan hanya diterangi oleh api gemeretak di perapian sang anak mengangguk paham, takjub. Ayahnya kemudian menyerahkan biji itu kepada sang anak. Sang anak berusaha memandang wajah tua itu, tampaknya letih, tidak tampak jelas karena wajah ayahnya hanya timbul tenggelam bersama lidah api perapian yang memadam. Menunduk kemudian ia memandang tangan kasar ayahnya, tampak lecet ujung jari kekar itu yang tidak akan hilang walau mulai detik ini digantungkannya kapak, tombak dan panah sahabatnya berburu. Sekali lagi sang anak menegakkan kepalanya untuk melihat wajah ayah. Sungguh betapa ia menyayangi pria tua itu.

Kicau pertama burung esoknya adalah saat paling bersejarah bagi sang anak, segera ia berpamitan kapada ibu dan ayahnya untuk pergi menanam ketiga biji itu di puncak gunung. Keputusan bodoh, rupanya gunung sangat dingin sebelum matahari terbit, ia menggigil kemudian kembali lagi ke rumah. Baru kemudian setelah sarapan dan ciuman di kening dari ibunya sang anak pergi lagi. Kali ini matahari telah terbit bersama tirai kabut. Ini adalah pertama kalinya sang anak berjalan sendiri di hutan, sebelumnya ia hanya diajak ayahnya untuk mengambil buruan-buruan besar dari dalam hutan. Pernah sekali ia diajak mengambil bangkai gajah. Kata ayahnya gajah itu sudah terluka parah sejak awal ditemukan, maka ayahnya memutuskan untuk mengakhiri nafas gajah itu sebagai hasil buruan daripada hewan anggun itu dibiarkan sekarat dalam penderitaan. Anak itu berlari-lari mendaki tanjakan demi tanjakan diiringi dengan kicauan burung, entah tanah seperti apa yang ia cari. Ditemukannya rawa-rawa, terlalu basah pikirnya. Ditemukannya savana, terlalu banyak bangkai herbivora menurutnya. Hingga pilihannya jatuh pada sebuah tebing tinggi yang tanahnya cukup subur, “kalau pohon ini sudah tinggi, pemandangan disini akan sangat bagus” pikirnya.

**********

Matahari timbul tenggelam seiring kasih yang anak itu berikan kepada Biji Pohon Kayu hingga akhirnya tiba pada suatu senja, kotiledon pertama muncul. Bahagia sekali tampaknya sang anak di detik ia pertama kali melihat dua keping daun hijau muda berbentuk kotak bersih tanpa dosa tersebut. Walaupun dari 3 biji yang ia tanam hanya tumbuh satu, tetap tidak apa-apa baginya. Mulai senja itu, makin rajinlah sang anak memupuk, menyiram, membersihkan gulma, dan meniup-niup daun muda yang baru tumbuh. Baginya itu lucu sekali melihat bagaimana daun dapat bergoyang-goyang kemudian tenang kembali. Pernah suatu siang yang panas sang anak datang mengunjungi sahabatnya itu. Ia awalnya berjalan ongkang-ongkang kaki dibawah bayang-bayang hutan, namun tiba-tiba terbirit-birit menuju tebing. Sampai di tebing ia langsung tiarap meniup-niup sahabatnya, kali ini bukan karena lucu, tapi karena ia takut matahari terik akan membuat sahabatnya kepanasan. Hari berlanjut lagi, tiap hari sang anak datang mengunjungi sahabatnya. Kadang dibawakannya sup kelinci kesukannya. Kadang juga sang anak menangkap tupai untuk diberikan kepada sahabatnya. Setelah semua itu, sang anak merasa masih ada yang kurang dalam persahabatan mereka. Ohiya! Sebuah nama. Akhirnya sang anak memutuskan untuk memanggil batang bercabang keriput itu “Hijau Putih”. Tidak tau juga maknanya, sesuka anak itu sajalah.

Persahabatan anak itu dengan Hijau Putih makin gila saja. Sang anak selalu datang dan bercerita segalanya kepada Hijau Putih, tentang musim gugur, tentang bagaimana ia bahagia berguling-guling bersama burung kolibri, tentang betapa membosankannya menunggu pisang dan jambu sampai matang, atau tentang bagaimana ia kaget melihat kecoa mampu melebarkan sayapnya untuk melompat ke ketiadaan. Di sisi lain, Hijau Putih hanya bergeming tidak membalas satu katapun ucapan anak itu, namun rupanya pertumbuhan pohon mungil itu pesat sekali. Batangnya yang makin keriput dan coklat telah tampak cukup kokoh seolah mengundang sang anak untuk memanjat dan bermain. Dahan-dahan mulai tumbuh, daun mulai rimbun dan buahpun bersemi. Pada tahun ketiga sang anak sudah dapat bergelantungan dari dahan ke dahan, kadang memetik buah untuk dibawa pulang atau sekedar bermain merangkai daun sambil bernyanyi dan tertawa bersama berbagai jenis burung yang bersarang di pohon itu. Tidak hanya burung, kadang ia berputar-putar bersama kupu-kupu. Melompat bersama belalang. Menggonggongi ngengat dan jangkrik atau berlomba makan dengan tupai. Semua itu ia lakukan bersama Hijau Putih. Tidak pernah sekalipun sang anak takut jatuh saat memanjat ke puncak pohon karena ia percaya bahwa sahabatnya tidak akan pernah membiarkannya jatuh.

********

Akhir tahun ke lima, musim dingin Salju turun menutupi sebagian hingga tepian gunung, termasuk tebing tempat Hijau Putih tumbuh. Para herbivor biasanya dapat bertahan melalui musim dingin salju sekalipun. Namun kali ini berbeda, salju turun sangat dalam sebulan lamanya. Para herbivor tersebut mati, bunga matahari mati, dan karnivor telah berubah menjadi segorombolan berandalan yang berjalan terseok dalam salju menggali bangkai yang dapat dimakan.

Seisi hutan diam,

Sunyi,

Lapar.

Didera musim dingin begitu, beruntung keluarga kecil itu sempat mengumpulkan cadangan makanan yang mungkin cukup selama 2 bulan lebih. Tidak begitu tampak kerisauan dalam benak ibunda sang anak, paling hanya memikirkan bagaimana membersihkan salju di atap sebelum rumah itu roboh. Namun berbeda dengan ibunda, sang anak yang dilarang menjenguk sahabatnya si Hijau Putih selama musim dingin ini membuatnya senewen. Tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan tidak bisa bersin telah membuat sang ayah khawatir pada kondisi sang anak. Akhirnya dengan syarat sang anak harus sudah kembali ke rumah sebelum senja, ia diperbolehkan untuk menjenguk Hijau Putih keesokan paginya. isi

Hutan pinus tampak sangat mati, tidak tampak hijau dan kuning seperti biasanya. Angin semilir menggoyangkan puncak-puncak salju di ujung pohon, berguguran sedikit seperti hujan garam. Tidak ada hewan apapun, tidak ada gerak apapun, hanya ada angin dan kesendirian. Sang anak berjalan diantara salju selutut memeluk dirinya sendiri. Pelan dan berat tiap langkah dilalui demi sebatang sahabat, demi ingin tau kabar sahabatnya yang telah lama berada dalam kesepian dan cekaman dingin berhari-hari. Dalam benaknya ia berkali-kali berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah membiarkan sahabatnya sendirian lagi. Seluruh indera anak itu kini sedang berfokus untuk melihat jalan dengan mata terpicing ke depan, telinga awas yang hanya mampu mendengar suara angin, begitupun kulit dan sistem sarafnya berjuang menghapus rasa dingin dari tubuh walaupun telah dikenakannya mantel domba buatan ibunda. Dalam pencariannya, anak itu tidak sadar dengan bahaya yang sedang mengintai.

Sekelompok serigala sedang mengintai perjalanan mantel domba berjalan itu dari kejauhan. Serigala adalah pemburu yang sangat kompak. Saat berhadapan dengan mangsa, secara otomatis mereka akan saling bahu-membahu mengatur siasat untuk menjatuhkan mangsa kuat sekalipun dibawah kepemimpinan pejantan alfa. Kelompok serigala itu terdiri dari empat ekor. Dua ekor telah pergi mengendap-endap dari belakang anak siap menerkam sementara dua ekor lainnya mengambil jalan memutar untuk menghadang dari depan. Sang anak kini terkepung.

Sang anak yang adalah keturunan pemburu terlatih baru menyadari bahaya saat geraman pertama terdengar dari belakang. Tanpa sempat menengok, detik itu juga ia langsung berlari dengan seluruh sendi yang ada menerobos salju ke arah tebing tempat Hijau Putih berada. Dua serigala yang awalnya akan memotong langkah sang anak dari depan kemudian ikut mengejar bersama dua serigala sisanya namun terhambat oleh salju. Terseok-seok akibat tersandung rintangan yang tenggelam dalam salju. Puluhan pohon telah anak itu lewati namun tidak terbersit keinginannya memanjat salah satu dari puluhan pohon tersebut untuk menyelamatkan dirinya. Satu-satunya yang terlintas adalah kanyataan bahwa menurutnya ia memiliki Hijau Putih sebagai sahabat yang akan selalu melindunginya. Serigala-serigala itu telah tertinggal jauh saat sang anak sampai di tebing tempat sahabatnya berada. Syukurlah Hijau Putih masih tampak kokoh walaupun telah berada sendirian selama musim dingin ini. Tak terbayang leganya sang anak melihat sahabatnya itu, begitupun Hijau Putih yang tak kalah senang bertemu sang anak, daunnya tampak bergoyang meriah sekali. Dengan mata berair dan tergesa-gesa akibat adrenalin yang terpacu hingga ujung jari sang anak memanjat batang Hijau Putih. Masih tanpa melihat kebawah ia terus memanjat dahan demi dahan hingga ia sadar pemandangan seluruh lembah sudah tersaji di hadapannya. Takjub, dipeluknya batang Hijau Putih sahabatnya, saat itu ia merasa sangat aman.

Keempat serigala itu sampai di bawah pohon. Berkali-kali mereka berusaha memanjat namun gagal. Gagalpun tidak menyebabkan kawanan itu mundur. Keempat serigala kemudian berjaga di bawah pohon menunggu mangsanya cepat atau lambat untuk turun karena lapar. Perkiraan mereka tentu saja salah, Hijau Putih walaupun telah sebulan berada dalam musim dingin mencekam rupanya masih memiliki buah-buahan segar yang dapat dimakan sang anak. Serigala kembali berpikir, mereka memutuskan untuk menggali lubang di sekitar akar utama Hijau Putih untuk menghilangkan tanah yang digunakan sebagai media cengkeraman akar. Dengan angin musim dingin sekuat ini, saat lubang sudah cukup dalam, akar yang telanjang seperti itu pasti akan patah karena tidak mampu lagi menopang terpaan angin. Hijau Putih akan tumbang dan anak itu akan dapat disantap.

Awalnya Hijau Putih tetap bergeming, ia tidak percaya bahwa dirinya yang perkasa dapat ditumbangkan semudah itu. Hijau Putih merasa mampu melindungi sang anak dari ancaman apapun termasuk begundal serigala itu. Siang berganti malam, angin musim dingin semakin kuat dan terpaan angin terakhir sempat membuat beberapa bagian cabang akar Hijau Putih patah dan terangkat. Kini hanya tersisa sedikit dari cabang akar utama yang mampu mendukung cengkeraman akar utama sementara lubang yang digali oleh para serigala makin dalam. Dalam keadaan demikian rapuh, serigala dalam bahasa yang tidak dimengerti sang anak menawarkan kesepakatan jika Hijau Putih menyerahkan sang anak, lubang itu akan ditambal lagi sehingga Hijau Putih tidak akan tumbang. Mendengar itu tentu Hijau Putih menolak mentah-mentah tawaran serigala, namun terpaan angin berikutnya ternyata begitu saja merusak semua cabang akar yang tersisa meruntuhkan semua idealisme persahabatan klise milik Hijau Putih. Hijau Putih kini mulai memikirkan apakah hidupnya setimpal dengan dengan hidup anak kecil itu. Serigala tetap membuka penawaran sampai kapanpun karena mereka tau pada akhirnya setuju atau tidak Hijau Putih akan tumbang juga. Hanya masalah waktu bagi serigala untuk memperoleh apa yang mereka mau.

Sang anak yang malah asik bermain dan melempari serigala dengan biji dari buah yang habis dimakannya tidak tau menahu tentang pergolakan yang dialami Hijau Putih. Mengenai guncangan pada batang yang ia alami akibat terpaan angin, sang anak menilai itu adalah hal yang wajar sehingga terus saja ia berlompatan dari cabang ke cabang seperti monyet. Tidak sekalipun takut terlintas karena ia yakin sahabatnya akan selalu melindungi termasuk ada disana untuk menangkapnya saat ia jatuh. Sang anak selama pengepungan menghabiskan sebagian besar waktunya di puncak pohon, takjub dengan pemandangan lembah dan rumahnya sendiri. Seperti karpet putih bercorak hijau. Sesekali ia turun ke bawah untuk makan buah kemudian kembali lagi ke atas, telah lupa dengan kepungan serigala di bawah.

Malam semakin larut, sang anak merasa lapar sekali lagi. Kali ini buah terdekat yang terlihat ada pada dahan yang terlihat cukup kokoh. Tanpa ragu sang anak melompat dari puncak pohon ke dahan tersebut. Awalnya ia mendarat dengan mulus, hanya sedikit getaran wajar. Namun tiba-tiba dahan itu patah! Sang anak terkejut, matanya menatap bintang-bintang tampak tak percaya. Adrenalin sekali lagi bereaksi, ia yakin sahabatnya Hijau Putih akan menangkapnya dengan dahan yang lain. Tidak mungkin seorang sahabat membiarkannya terjatuh untuk dibunuh. Untungnya berkat adrenalin sang anak secara refleks mampu memegang satu dahan lain dengan kedua tangannya. Sambil bergelantungan begitu, ia sangat senang akan perlindungan sahabatnya. Senyum itu ternyata sementara, dahan yang digelantungi kali ini ternyata patah. Dahan yang ia pikir akan menjadi penyelamat hidupnya. Bukti bahwa sahabatnya akan selalu melindunginya adalah sebuah keyakinan palsu. Kali ini tidak ada dahan lain yang memisahkannya dengan maut. Sang anak jatuh dalam kondisi telungkup, patah tulang radius di tangan dan lehernya. Sakit sekali. Ia tidak dapat merasakan ujung jari tangan kirinya, juga tidak dapat menggerakkan pinggangnya untuk sekedar berputar melihat keadaan atau untuk sekedar melihat posisi calon pencabut nyawanya agar dapat melarikan diri. Tidak ada lagi teman, ia harus bergantung pada dirinya sendiri.

Dengan leher yang patah dan kondisi jatuh tertelungkup, susah payah ia gerakkan wajahnya agar tidak menghirup debu. Upaya yang menimbulkan rasa sakit luar biasa berhasil membuat wajahnya berpaling ke kanan, lepas dari debu tanah kini ia berhasil menghirup salju. Anak itu masih bisa bernafas, untuk sekarang. Geraman kedua menyadarkan pilihan hidupnya hanya tinggal bangun dan lari atau tewas sebagai bangkai. Semua kesadaran yang tersisa dikumpulkannya ke bagian tubuh yang masih bisa digerakkan, sayangnya bagian tubuh itu berarti hanya tangan kirinya. Anak itu berusaha merayap hanya menggunakan satu tangan. Tangan kiri itu mengerahkan seluruh otot dan energi yang tersisa untuk menarik tubuh sisanya untuk bergerak menjauhi maut. Serigala-serigala itu semakin mendekat. Kepala sang anak dengan tatapan horor memandang senyum taring para serigala yang meneteskan air liur ke salju yang membeku. Sang anak berusaha memalingkan wajahnya sekali lagi namun apa daya yang dimiliki sebuah leher yang patah?

Tangan kiri itu masih saja berusaha menarik sisa tubuh menjauhi kematian, kini kedua kaki yang awalnya mati rasa telah dapat digunakan. Segera saja sang anak bangkit dan berlari terbungkuk-bungkuk. Mata sang anak yang hanya dapat melihat kebawah tidak menyadari jika tiba-tiba saja ada dahan yang patah jatuh menghalangi jalannya. Dalam upaya terakhirnya melarikan diri, sang anak justru tersandung sekali lagi oleh dahan milik sahabatnya. Sang anak terjatuh dalam posisi telentang. Tidak lagi ia merasakan tangan kiri maupun kakinya. Bagian yang masih berfungsi hanyalah nafas dan matanya yang menatap lurus kosong ke arah bintang-bintang dan ujung pohon Hijau Putih. Bencikah ia? Tidak. Baginya kini tidak ada ruang yang tersisa bagi dendam. Ia memejamkan mata, menghirup salju sekali lagi hingga paru-parunya membeku. Terlintas sekali lagi wajah ibunya, betapa ibunya sungguh penyayang. Terlintas wajah ayahnya, betapa pria tua itu adalah seorang pekerja keras. Betapa kedua orang tuanya selalu saling mencintai. Ia ingin menangis telah mengecewakan kedua orangtuanya, tapi bagaimana ia akan menangis jika kantung air matanya telah mati rasa.

Melihat mangsanya telah terkapar, serigala pejantan alfa melompat maju, meggigit leher sang anak yang meronta-ronta berusaha memukul dengan apapun bagian tubuh yang dapat digerakkan namun sayang tidak cukup kuat. Perlawanan terakhirnya pada maut berakhir dengan ringisan dan lolongan panjang tanpa suara dari pita suara yang putus. Teriakan kematian anak itu kini tidak lagi bersuara. Sang anak akhirnya mati dengan leher terkoyak bersimbah darah.

Saat pejantan alfa itu mulai menggigit daging pertamanya, serigala lain melompat maju berebut ingin makan. Pejantan alfa itu merasa terusik, anggota kelompok lain haruslah makan setelah pejantan alfa selesai makan. Tampaknya tidak kali ini. Kelaparan berhari-hari telah membutakan sistem organisasi alami tersebut. Tidak ada lagi pejantan alfa, tidak ada lagi anggota, tidak ada sistem imajiner. Kali ini siapapun dapat makan apabila berhasil mengalahkan yang lain. Perkelahian antar serigala itu terjadi begitu saja. Saling cakar, gigit, tubruk, hingga salah satu anggota tewas tercabik oleh taring pejantan alfa tadi. Melihat kekuatan itu, 2 ekor serigala sisanya kembali patuh dan menunggu giliran makan setelah pejantan alfa. Betapa kuasa sebenarnya adalah kekuatan. Pejantan alfa akhirnya dapat makan dengan tenang. Ia mulai menggigit daging pertamanya dari bagian perut karena masih terlihat sedikit nafas pada rusuk anak itu menyebabkannya sempat naik turun mengejutkan si serigala. Salju yang putih berubah menjadi merah gelap dihiasi oleh bercak darah dari jantung anak itu. Setelah setengah kenyang mengoyak jantung dan aorta sang anak, pejantan alfa kemudian memanggil kedua serigala lainnya untuk ikut makan bersama. Dengan sangat cepat tentu saja kedua serigala itu bergabung untuk makan malam. Malam itu dingin sekali, tanpa awan, seolah bintang-bintang ikut menonton kekejian ini.

Angin musim dingin telah datang berulang-ulang sejak kematian sang anak merusak sebagian besar struktur akar utama Hijau Putih. Bagaimanapun Hijau Putih masih harus menunggu para serigala selesai makan untuk menambal lubang yang mereka buat sambil was-was dengan angin yang berhembus. Hidupnyalah yang ia khwatirkan malam ini. Sayangnya angin kali ini sangat besar. Bertiup dari tenggara seolah tau para serigala sedang makan lahap di arah mata angin berlawanan. Akhirnya akar utama Hijau Putih patah. Tumbanglah pohon itu berderak perlahan-lahan jatuh menimpa para serigala dan bangkai sang anak. Kejadian itu terjadi begitu saja. Sebuah pohon besar di tepi tebing yang dapat dilihat seluruh lembah termasuk dari rumah anak itu.

***********

Di rumah, ayah dan ibu sang anak yang cemas dengan datangnya badai salju dan mengenai anaknya yang belum pulang terus menerus memandangi jendela, ke arah pegunungan. Melihat pohon itu tumbang menjadi sedikit penghiburan bagi mereka. Setidaknya esok tidak perlu menebang pohon untuk pasokan kayu bakar. Biarlah esok baru mulai mencari anaknya sambil memotong pohon tumbang itu, terus berharap anaknya baik-baik saja.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade