Gravitasi Gagal
Suatu hari saya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah lelang di Gondwana, Bumi. Barang yang dilelangkan tidak tanggung-tanggung. Ada otak udang, usus kadal, ginjal monyet, gading gajah dan lain-lain. Semua peserta yang mendaftar dan diundang adalah kolektor, pengguna dan kurator organ-organ tubuh lintas spesies di Bumi. Mereka terutama sangat menyukai kompleksitasnya.
Beberapa pihak lain juga hadir. Wartawan lintas galaksi diundang, panitia hadir lengkap beserta kacamata hitam dan headset ala-ala film Matrix. Semuanya ada disana, laki-laki, perempuan, hemaprodit, tua, muda, immortal, makhluk flouresent hingga mikropipet bicara. Lelang tersebut diadakan di gedung paling megah di Gondwana. Seluruhnya dirancang dengan gaya lighthouse kuno jaman Yunani lengkap dengan penangkal petir berbentuk petir (?) Zeus dan trident poseidon. Bagian meja lelang adalah hal paling menarik. Bentuknya seperti punggung Cerberus yang garang berwarna emas dengan mata merah dari batu ruby.
Pelelangan itu ramai sekali. Saya diundang sebagai perwakilan koloni muda Mars untuk mendokumentasikan sisa-sisa peradaban kuno Bumi yang masih ada. Ada banyak yang harus saya foto. Untungnya saya punya empat tangan jadi gampanglah kalau harus memfoto sesuatu tapi harus menggaruk hidung gatal juga.
Acara itu dibagi menjadi dua kegiatan. Satunya pameran benda yang akan di lelang dan kaitannya dengan sejarah Bumi dan kegiatan lelang itu sendiri. Saat baru memasuki gedung dahi saya berkenyit sebentar karena merasa tak berdaya dengan luasnya gedung ini. Terlalu megah dan luas dan indah dan keren dan hebatnya lagi di langit-langit ada semacam hiasan lubang hitam yang berputar pelan bersama bintang-bintang di sekitarnya.
Saya bingung mau mulai darimana tapi hajarlah, akhirnya saya mulai dari jaman prasejarah. Agak bosan kalau mulai dari masa awal Bumi melakukan terraformasi. Toh di Mars juga kami sudah punya dokumentasi lengkap tentang itu sehingga kami berhasil memunculkan hujan pertama hampir 1000 tahun lalu.
Pada masa-masa awal Bumi banyak sekali terfosilkan alat pertanian, perkebunan, ladang dan peternakan. Kemudian berlanjut ke bagian budaya dimana saya temukan baju khas dari seluruh Dunia, yang paling menarik adalah satu negara ini, namanya Nusantara. Aneh sekali bagaimana satu negara pada suatu jaman punya banyak warna dalam satu kain tanpa terlalu ngotot satu sama lainnya. Tercampur dalam satu motif dengan gradasi yang indah. Secara biodiversitas juga. Dengan itu saya pikir negara ini punya potensi menjadi pelopor perdamaian Bumi. Nusantara seakan punya segalanya. Tapi kenapa dengan semua itu kehidupan sosial dan teknologinya tidak begitu maju?
Lanjut ke bagian berikutnya di negara Nusantara. Saya mulai masuk ke bagian arsip. Membosankan sekali. Ada arsip perubahan kurikulum yang tiap menteri sekali diganti. Lalu banyaknya tipe soal yang dibuat untuk satu kali ujian nasional. Absen para mahasiswa yang tanda tangannya tidak identik. Coretan-coretan galau akun sosial media. Laporan pertanggungjawaban perusahaan yang -kenapa tidak softcopy saja gitu lo- boros kertas. Dokumen skripsi dan penelitian dosen yang berdebu di perpustakaan tanpa teraplikasikan ke masyarakat dan buku-buku sastra tua yang kalah saing dengan buku lucu-lucuan dan cocoklogi.
Mata saya cepat saja melewati semua tumpukan kertas itu hingga tercegat di satu ruangan. Saya penasaran. Ruangan itu pintunya dicat merah dan gelap. Saya melangkah maju lalu memutar kenop pintu. Terbukalah ruangan lebih besar lagi penuh dengan kertas. Saya ambil satu lalu membacanya,
“ .. penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi ..”
Hm.
Penyelidikan korupsi sebanyak ini?
Saya makin tertarik. Saya mencoba kembali lagi ke tumpukan berkas yang saya lewatkan. Saya mencoba mencari daftar koruptor yang berhasil ditangkap dan sekira saya dihukum dengan pantas.
Cuma 10%
Hm.
Baiklah. Aparat ini dengan kewenangan yang dibatasi Legislatif saat itu memang akan sulit memberantas mafia. Untungnya kini manusia modern, Homo machina, telah mengimplementasikan serum toleransi yang mencegah kami berperilaku seperti binatang egois dan berpikiran kolot. Diskusi jadi lebih mudah karena semua orang mau mencoba memahami masalah semua orang. Mau melihat lewat semua sudut pandang untuk kepentingan bersama.
Kaki saya lanjut bergerak ke bagian ruang yang lebih gelap. Disini hanya darah dan penderitaan yang terlihat. Suram sekali. Semua arsip memberitakan tentang perang. Tentang bagaimana adu domba berhasil dilakukan. Keanekaragaman Nusantara yang awalnya saya pikir indah ternyata adalah teror saat semuanya mengerdilkan diri menutup mata pada perbedaan.
Saya mengambil dua langkah mundur lalu berpikir …. Apa tadi semboyan mereka?
Ohiya, Bhineka Tunggal Ika. Diambil dari Kitab Sutasoma tulisan Mpu Prapanca.
Hebat sekali satu kalimat itu dapat menjadi simbol persatuan selama beberapa puluh tahun. Ya sayangnya hanya segitu. Saat semua dikembalikan pada ego manusia,
Semboyan itu mati.
Jaman Majapahit saat Kitab Sutasoma ditulis dulu mungkin semuanya stabil. Dharma (kewajiban) dan Karma (hasil perbuatan) menjadi kesadaran semua orang. Tidak ada yang berniat buruk pada siapapun. Oleh Hukum Karma mereka diajarkan bahwa pikiran jahat setitik apapun akan berakibat fatal bagi diri sendiri dan alam semesta. Kalau kamu berani membuat alam semesta marah, bantal tempat tidurmupun bisa jadi sarana pembayaran Karma buruk yang fatal.
Saya berjalan melewati album foto saat masa-masa perpecahan itu terjadi. Saya tidak sedih, atau marah, atau merasakan emosi apapun. Saya hanya menyesalkan mengapa manusia-manusia yang terlihat berdebat dan berkelahi dalam foto tidak duduk tenang saja lalu mulai berpikir dengan logika. Cukuplah dengan sumber argumen irasional yang mengajak mendiskreditkan, mengkotak-kotakkan bahkan membunuhi orang lain yang tidak sepemahaman. Apakah jaman itu emosi sedemikian hebatnya hingga para Homo sapiens berlomba-lomba berlari menyongsong kehancurannya?
Mungkin.
Tapi saya toh (tenang, logat Jawa jadi favorit budaya di Mars) masih bisa merasakan emosi; senang, sedih, cinta, marah .. tapi kenapa tidak ada keinginan membunuhi siapapun yang tidak sepemikiran?
Hm.
Saya melangkah pergi dari bagian negara Nusantara. Saya kemudian memasuki sejarah Bumi bagian lain yang ternyata sama saja. Homo sapiens sulit sekali mentoleransi keberadaan perspektif lain yang bukan miliknya. Semua hanya tentang dirinya sendiri. Egois.
Saya bosan. Diakhir cerita peperangan berteknologi tinggi itu akhirnya membunuh pihak yang berpikir dirinya menang. Pihak terakhir yang masih bernafas di Bumi. Di saat-saat sekaratnya mereka baru sadar kalau lebih baik merawat Bumi bersama-sama daripada berperang. Kalau bisa begitu paling tidak mereka tidak harus menjilati keringat sendiri sekarang. Air hilang entah kemana.
Sayang sekali. Tapi bagus juga, karena dengan demikian Bumi bisa punya cukup waktu memulihkan dirinya sendiri untuk dapat dijaga oleh spesies lain penghuni alam semesta ini. Kami yakin bisa menjaga planet ini lebih baik daripada mereka. Asalkan pelajaran sejarah diajarkan tidak untuk dihafal, tapi diajarkan untuk diambil pelajarannya.
Ya, mungkin beberapa pikiran positif akan membantu saya mengembalikan mood. Melihat-lihat pertikaian membuat mood saya tidak enak.
….
Foto-foto dari seluruh bagian sejarah sudah saya kumpulkan. Selanjutnya tinggal dicetak lalu dibuatkan timeline di museum Planetial Mars. Saya tidak sabar menjelaskan semua pertanyaan anak-anak yang penasaran.
Saya memutuskan untuk beristirahat di tengah aula. Rupanya di depan sedang ada lelang beberapa organ awetan milik spesies Bumi. Organ yang sedang dilelang adalah bagian hati. Disana ada hati jerapah, gorilla, kancil, kelinci, paus dan beberapa mamalia lain. Lelang berlangsung alot di kisaran harga tinggi. Semua ingin mendapat hati eksklusif yang masih utuh. Saya duduk saja sambil memperhatikan. Hingga saat hati Manusia yang ditawarkan, ternyata tidak ada yang menawar!
Penawaran pertama ditutup … lalu juru lelang membuka penawaran kedua.
Masih tidak ada.
Penawaran ketiga!
Juga tidak ada.
Juru lelang akhirnya mengganti barang tersebut. Namun sebelum barang berikutnya ditawarkan, ia bertanya.
(Ceritanya sudah diterjemahkan ke bahasa Manusia)
“Sebelum dilanjutkan, boleh saya tau mengapa tidak ada yang menawar?”
Hening sejenak.
Lalu seorang peserta menjawab.
“Saya tidak mau membeli hati atau otak yang tidak pernah digunakan”.
