Tidak Mencintai Apa Adanya
Aku paham kalau body shaming adalah masalah besar, dan hey, aku juga tidak suka. Kamu pikir kenapa aku tidak mau punya Instagram?
Manusia secara alami dan refleks akan melakukan quick judgement. Bisa jadi hasilnya positif maupun negatif atau keduanya. Tidak perlu mengelak karena memang tidak bisa. Lagipula itulah yang membuat manusia menjadi pengambil keputusan yang baik. Sekarang tinggal bagaimana mengontrol kecepatan serta jenis dan jumlah data yang dipertimbangkan untuk melakukan quick judgement itu.
Aku bukan takut pada hasil quick judgement negatif, hanya malas, hehe. Makanya tidak mau punya Instagram.
Sekarang, penyesuaian penampilan yang kamu lakukan saat kita bertemu jangan dilihat sebagai produk body shaming lingkungan sosial yang memaksamu mengikutinya. Aku hanya suka kamu berpenampilan sedikit lebih terawat, dan itu harusnya cukup.
Alasanmu merubah penampilan agar aku suka, sama dengan alasanku mau memaparkan diri di bawah terik matahari padahal aku benci setengah mati. Jadi mari kita lakukan peran kita masing-masing tanpa berat hati ya?
Menurutku, hubungan itu terjadi saat satu sama lain saling membaca isi pikiran, cara berpikir, isi hati dan cara merasa. Darisana kita bisa saling membahagiakan. Cara termudah ya dengan memberi apa yang pasangan kita mau. Lalu naik level sedikit jadi apa yang mereka butuh. Lalu naik lagi jadi apa yang kita berdua mau dan butuh.
Kalau aku suka melihat kamu terurus, atau aku suka kamu paham lelucon receh yang seringkali memerlukan logika, ya aku akan sangat bahagia saat kamu bisa melakukan itu. Sama seperti bagaimana kamu bahagia saat kita pergi ke tempat berbau alam dan matahari laknat. Sederhana, kan?
